Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 66. Shopping berdua.


__ADS_3

Laras memperhatikan Vim masih meringkuk di bawah cover bed padahal sudah bangun dari tidurnya tadi pagi. Sebuah kecupan mendarat lembut tak ingin si pemilik pipi terbangun karenanya.


Lalu beringsut perlahan-lahan agar Vim tidak terganggu olehnya.


Tapi tidak sesuai harapan Laras, Vim menyapa Laras dengan suara berat khas bangun tidur miliknya.


"Hoaaamm..kau pergi setelah membangunkanku." Vim menggeliatkan tubuhnya.


Laras menoleh dan seulas senyuman manis mengembang di wajahnya yang cantik.


"Maaf sayang kalau membangunkanmu tapi bukan


itu maksudku."


Laras menyibakkan tirai jendela yang sengaja ia biarkan tertutup sejak bangun tidur. Hamparan rumput hijau menyejukkan mata yang memandang.


"Kau sudah rapi. Mau ke mana?" Tanya Vim lagi dengan posisi tubuh ke samping. Tangan kanannya menopang kepala


"Aku mau belanja. Stok di dapur banyak yang habis. Aku pergi dulu ya mas." Pamit Laras sembari menggapai kunci mobil yang tergantung dan mengambil clutch


kesukaannya. Dia hanya menggunakan celana jeans dan kaos berkerah sebatas pinggang.


Bokongnya yang penuh menyita perhatian Vim.


"Pergi dengan siapa?" Tanya Vim.


"Sendiri. Mas mau ikut?" Tanya Laras ingin tahu.


"Yap aku ikut. Tunggu aku selesai mandi."


"Buruan mas sudah siang. Belanjaku banyak." Pinta Laras.


"Oke ini bangun tapi kiss dulu."


"Iidiiih..tadi sudah." Laras mengelak.


"Tadi aku belum bangun sayang."


"Huuum..baiklah."


Dan kiss pagi telah diberikan. Vim bersemangat bangkit dari tidurnya. Mengguyur tubuhnya dengan air yang menyegarkan di kamar mandi. Kelesuan hilang dan pikirannya ikut segar.


Mengenakan OOTD yang simpel mereka menuju ke mal terlengkap di kota mereka. Sejak menikah Vim terbiasa belanja di mall tersebut untuk mengantar Laras.


Saat dirinya lajang ia memerintahkan Joel untuk berbelanja kebutuhannya yang telah habis. Vim tersenyum bila mengingat itu. Tanggung jawab dan rasa cintalah yang membuatnya bisa berubah lebih perduli pada sosok bernama wanita.


"Mas kok senyum sendiri sih. Aku jadi takut looh."


"Emmm..aku tersenyum?" Vim bertanya untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Iyaa, sedang mengingat apa?"


"Enggak ada. Mengingat malam itu kamu berjalan keluar kamar dengan mata terpejam." Seloroh Vim.


"Haaa masa sih???" Laras meyakinkan pendengarannya. Tidak percaya dengan ucapan Vim barusan. Artinya malam itu ia sedang bermimpi.


"Hahaah lucu bukan berjalan saat tidur? hahaah." Vim tertawa terbahak-bahak.


"Katakan itu bohong." Laras merajuk. Laras tidak melihat keseriusan di wajah Vim.


"Menurutmu gimana? Hahahaahaa.."


"Boohooong! Iidiiih.." Laras mencubit lengan Vim melampiaskan rasa gemas dan kesal.


"Wadaaaw..sakit Laras."


"Bohong. Nggak sakit. Tanganku yang menjadi sakit uuuhh."


Laras mengibaskan tangannya. Bibirnya maju beberapa senti karena kesal. Di depan Vim dia tetap seperti gadis remaja yang manja.


"Oke tidak. Kau tidak seperti itu hahah. Berhentilah mencubit atau mobil ini akan menabrak."

__ADS_1


"Karena mas senyum-senyum sendiri seperti, ehmm.. seperti apa ya." Laras pura-pura berpikir.


Ia tak tega mengucapkan apa yang ada di pikirannya.


"Seperti apa?" Tanya Vim. Mobil berhenti di perempatan lampu merah.


"Tidak.Tidak jadi."


"Hayooo seperti apa?"


Gantian Laras tertawa lepas.


"Eee itu seperti orang tidak war.."


"Apa itu? Tidak waras? Kau bilang suamimu ini tidak waras?"


"Yaa begitulah." ucap Laras dengan suara pelan tanpa merasa berdosa. Ia memalingkan wajah ke samping kiri menyimpan tawa di dalam hati.


"Siapa suruh mas tersenyum sendiri dan berbohong padaku." Laras membela diri.


"Kok mau ya sama orang tidak waras." Vim tetap saja menggoda Laras. Mereka telah melewati traffic light. Jalan raya lumayan padat.


"Siapa sih sebenarnya yang suka duluan?" Tanya Laras tidak mau kalah. Ia sadar Vim sedang bercanda.


"Aku." Vim menjawab dengan jujur. Vim tidak pernah sungkan berbicara hal yang sebenarnya. Kepedeannya tingkat tinggi.


"Terus mengapa kau mau menerimaku?" Tanya Vim.


"Karena..karena.."


"Apa??" Vim sangat tidak sabar menanti jawaban Laras.


Lama sekali kau menjawabku Laras. Aku semakin gemas.


"Yaa karena aku suka."


"Suka siapa? Yang jelas dong."


Namun jawaban Laras belum memuaskan Vim.


"Hanya itu saja jawabanmu."


"Iya lalu jawaban yang gimana?"


"Katakan yang spesial." Vim menuntut lebih.


Laras berpikir kemudian berkata,


"Spesial seperti apa itu mas."


Ooh Laras sungguh aku gregetan. Kau tidak mengerti apa yang kumaksud atau sengaja tidak mau mengerti.


"Spesial. Tentang perasaan juga. Tentu dari hatimu yang paling dalam. Aahh kita sudah sampai."


Vim kecewa mereka telah tiba di mal yang dituju. Cepat sekali pikirnya. Obrolan kosong terpaksa terhenti.


"Kita bicara perasaan di rumah ya. Kita sudah di sini. Saatnya berbelanja." Laras menyentuh pipi Vim dan memasang kaca mata berwarna pink semu, senada dengan kaos berkerah yang menutup tubuhnya. Penampilannya lebih chic.


Vim melakukan hal yang sama. Kaca mata coklat muda transparan yang dikenakan berubah gelap bila terkena matahari, menjadikan penampilannya lebih menawan. Tubuhnya tinggi bak model lelaki menambah nilai plus bagi dirinya.


Vim mendorong keranjang belanja sedangkan Laras berjalan di depannya sembari memperhatikan barang dagangan yang dipajang. Memilah-milah mana yang akan dibeli. Satu persatu belanjaan masuk ke keranjang belanja.


"Mas mau beli apa?" Tanya Laras.


"Tidak ada."


"Baiklah sekarang kita pindah ke sana." Laras menunjuk ke arah depan mereka.


"Waah mas lihat kelambu bayi ini cantik sekali." Mata Laras berbinar indah melihat kelambu lipat yang biasanya digunakan untuk melindungi bayi saat tidur. Bentuknya yang persegi panjang mirip tudung saji penutup makanan.


"Mau? Ambil saja buat persiapan."

__ADS_1


"Ehh?? Nggak aku hanya tertarik saja. Lihatlah imut semuanya mas." Laras memegang semua produk keperluan bayi yang menarik perhatiannya. Belum saatnya membeli semua keperluan bayi batinnya.


"Tuan! Tuan di sini?" Panggilan seseorang mengejutkan Laras dan Vim. Ternyata Joel yang menyapa mereka. Joel menghampiri mereka.


"Joel kau di sini. Kau mencari sesuatu di sini?"


"Benar tuan." Jawab Joel


"Haah? Kau mencari keperluan bayi? Katakan apa kau sudah memiliki bayi. Kapan kau menikah?" Pertanyaan Vim membuat Joel hampir tersedak. Laras tersenyum melihat ekspresi Joel.


"Buk..bukan Tuan. Saya memang di mal ini dan saya numpang lewat di sini."


"Aku sangka kau membeli kebutuhan calon anakmu."


"Anak dari mana tuan. Menikah saja belum. Tuan di sini?"


"Aku mengantar istriku. Dia tertarik dengan perlengkapan bayi di sini."


"Oo semoga secepatnya diberi baby tuan sehingga bisa memborong semua keperluan bayi."


"Aamiin. Terima kasih Joel." Ucap Vim dan Laras bersamaan.


"Sama-sama. Kalau begitu selamat berbelanja tuan dan nyonya. Saya permisi."


"Sampai jumpa Joel." Laras dan Vim melepas Joel.


Akhirnya beberapa camilan telah dipilih. Keranjang belanja telah penuh. Camilan, sayuran, buah-buahan, susu dan juga kepiting permintaan Vim.


Mereka telah sampai di bagian yang memajang ikan segar beserta kawan-kawannya.


Laras merasa geli melihat kepiting. Selama ini ia tidak pernah mengerjakan kepiting untuk dimasak. Bahu Laras bergidik. Vim menatap heran.


"Mas yakin beli kepiting? Bukankah kita akan mampir ke rumah kak Anggia."


"Beli saja tidak apa-apa. Dia tidak akan menggigit mu. Tiba di rumah bibi yang akan memasak."


"Sudah. Ini cukup mas."


"Ada lagi yang mau kau beli?"


"Ehm..tidak."


Mereka menuju kasir. Membayar semua dan memasukkan barang ke bagian belakang mobil.


"Ambil HP ku. Tanya Anggia apa kah mereka di rumah." Perintah Vim.


Laras menelpon Anggia lalu meletakkan kembali ponsel Vim ke kotak di sebelahnya.


"Mereka di rumah mas."


"Bagus."


Teriknya matahari tak mereka rasakan karena AC cukup mendinginkan ruangan mobil. Laras menyandarkan kepalanya pada bantalan di kursi mobil. Kepalanya sedikit berdenyut. Ia memejamkan mata sejenak.


"Kau baik-baik saja?" Vim bertanya khawatir.


"Aku baik-baik saja." Jawab Laras masih tetap terpejam.


"Kita pulang saja hmm."


"Jangan mas. Aku kangen sama kak Anggia dan Devan."


Vim melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Tak ingin Laras merasakan guncangan lalu tersentak kaget.


💕💕💕


Bersambung...


Readers..ditunggu ya kelanjutanyaa..


Jangan lupa tinggalkan jejak di sini. Suka, komen, hadiah, vote dan bintang lima.🌹

__ADS_1


Trims 💕


__ADS_2