Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 100. Empat bulan.


__ADS_3

Waktu dua hari saja terasa sangat lama. Berbeda saat ada Vim. Waktu cepat berlalu. Vim baru pulang esok hari. Laras berdiam diri sendiri di kamarnya. Ibu sedang istirahat di kamar. Ayah dengan urusannya sendiri setiap hari.Tak mungkin ia hanya tidur dan makan saja. Membosankan.


Rumah itu selalu tampak sepi sesuai dengan penghuninya yang hanya tiga orang. Laras beserta kedua orang tuanya. Tangannya bergerak gemulai memainkan benang dan jarum kait. Dia terlalu asyik dengan hobinya itu.


Triiit. Triiit.


Notifikasi ponsel memberikan info pesan masuk. Laras membuka dan membaca.


'Ada sesuatu di luar. Pergilah ke luar dan jangan berlari.' Begitu pesan tertera. Laras menahan nafas. Vim mengirimkan pesan pada Laras. Mungkinkah Vim mengirimkannya sesuatu?


"Laras ada bubur kacang hijau untukmu. Dimakan nak." Rupanya ibu telah bangun tidur.


"Sebentar Bu." Sekilas menoleh. Dia penasaran atas apa yang Vim katakan di ponsel.


"Ada apa? Hati-hati Laras. Bergerak pelan-pelan!"


Laras mengabaikan ibu dan dia mendadak berhenti ketika dilihatnya Vim telah berdiri di hadapannya.


"Aku pulang." Senyum kharismatik itu takkan terlupakan bagi Laras. Ia pun mendekati Vim dengan perasaan berbunga-bunga.


"Katakan saja kau pulang mas."


"Aku tidak berbohong. Akulah sesuatu itu." Alasan Vim.


"Mengapa pulang lebih cepat?" Tanya Laras.


"Semua pekerjaan selesai lebih cepat dari perkiraan. Kau baik-baik saja?"


"Ya aku baik-baik saja mas. Ayo masuk. Aku ambilkan burjo untukmu. Ibu membuatkan untukku padahal aku tidak suka."


"Burjo bagus untuk baby Ras."


"Nah ini dimakan ya." Laras menyuguhkan kepada Vim.


"Tidak mau jika kau tidak makan."


"Ya sudah biarkan saja di sini." Bubur diletakkan Laras. Vim menarik nafas melihat Laras.


"Kau mengambil banyak bubur, bantu aku menghabiskan. Buka mulutmu." Vim sedikit memaksa.


"Ayoo atau aku tidur di ruang tv nanti." Ancam Vim.


Mulut Laras menganga siap menerima bubur dari Vim. Bergantian Vim menyuapkan bubur untuk dirinya sendiri.


*****


Dua bulan berlalu. Sekarang kandungan Laras memasuki usia empat bulan dan minggu lalu ibu dan mami bersemangat mengadakan selamatan empat bulan kandungan Laras.


"Kembalilah ke sini. Kita akan mengadakan selamatan untuk baby." Perintah mami.


Ibu juga tidak ketinggalan ingin mengadakan acara baca doa selamat untuk kandungan Laras yang memasuki usia empat bulan.


"Ibu akan mengirim makanan


ke panti asuhan. Di sana mereka akan membacakan doa untukmu." Kata ibu waktu itu.


"Gimana baiknya saja bu. Waktunya bersamaan pula. Malam hari ibu bisa datang kaan?" Tanya Laras memastikan.


"Ibu datang. Makanan akan dikirim sore hari. Malam hari ibu bisa ke sana."


"Terima kasih Bu."


Persiapan acara terlihat di rumah orangtua Vim. Mami dan bibi pulang dari belanja segala sesuatu keperluan hajatan. Vim memandang heran. Mami mau bersusah payah untuk ini.


"Mih kenapa tidak pesan makanan saja?" Vim bertanya ketika mami baru pulang dari supermarket. Mami rela bersusah-susah seperti ini. Sungguh repot.


"Mami ingin menyiapkan sendiri untuk cucu mami. Kenapa? Tidak boleh?" Mami terlihat galak.


"Bukan begitu. Repot mih dan lagi nanti mami cape looh."


"Repot sesaat saja. Ini demi cucu mami. Sin bawa ini ke dapur!" mami memanggil ART.


Dua orang wanita separuh baya datang ke rumah tak lama kemudian.


"Pagi bu. ada yang bisa kami bantu?" Sapa keduanya ramah.


"Pagi. Yaa maafkan sudah merepotkan kalian. Ini sudah bisa dikerjakan."


Semua bahan belanjaan di bawa ke bagian paling belakang di rumah itu. Kedua ibu yang sengaja diundang mami agar datang mempersiapkan konsumsi acara selamatan.


"Biar Laras kupas bawang merah ini bu." Laras menawarkan diri.


"Biarkan kami saja nak Laras."


"Baiklah. Saya yang lain saja."


"Sin tahunya di mana?!" Mami berteriak dari belakang.


"Di baskom sedang Bu. Tertutup!"


"Oya ya..ini."


Laras berpikir apalagi yang bisa ia perbuat di antara sekian pekerjaan yang bisa dikerjakan. Membantu bi Sin lebih baik.


"Bi..saya bantu." Bi Sin sedang memanggang kue di atas tungku.


"Noon..jangan ya. Nanti tangan non melepuh terkena bara." Bibi sangat takut. Ia tidak tahu jika Laras sudah biasa turun ke dapur.


"Tidak apa bi. Saya yang menuang adonannya. Bibi yang angkat."


"Hati-hati non. Aduuh gimana ini jika den Vim tahu."


"Tidak apa. Dia mengerti kok."


Satu persatu kue carabikang tercetak. Laras teramat senang. Hingga keringat mulai membasahi wajahnya Laras belum mau berhenti. Pipinya merona merah karena uap panas dari tungku.


"Sudah non bibi lanjutkan. Jangan sampai non capek."


"Tanggung bi. Adonan sedikit lagi."


"Coba non rasa kuenya. Enak nggak adonan kue bibi."


Laras mengambil satu kue berwarna hijau dan putih tersebut.

__ADS_1


"Enak bi. Boleh lagi nggak?"


"Ambil saja non. Bikinnya lebih."


Laras manggut-manggut. Menikmati kue hingga tiga biji.


Baskom menjadi kosong. Laras tersenyum puas. Dia bangkit perlahan.


"Sudah non Laras ke dalam saja ya. Bibi buatkan jus dulu."


"Mau ambil air putih bi."


"Ingat.. non nggak boleh minum dingin kata den Vim."


"Bibi sedikit saja boleh."


"Diiih non, den Vim ada di rumah."


"Bibi ini baby yang ingin bukan Laras. Bibi jangan omong mas Vim ya."


Semua menjadi lebih sibuk dari biasanya. Kursi tamu telah dikeluarkan. Berganti dengan karpet yang di bentang di ruangan.


Makanan si dalam kotak dan terbungkus plastik siap dibagikan kepada tamu-tamu nanti malam.


Kue-kue dan minumah telah berada di tempatnya menunggu untuk dihidangkan. Semuanya dibuat sendiri sehingga persiapan acara lebih terasa ribet. Di mata Vim persiapan ini merepotkan semua orang di rumah itu.


"Sudah selesai semuanya?" Vim bertanya saat ia baru bangun dari tidur siang.


"Sudah. Lihat mas mami sangat bersemangat dan ibu telah mengantar makanan ke panti asuhan." Laras berdecak.


"Mami sudah lama tidak mengadakan acara seperti ini. Terima saja. Ini semua karenamu sayang." Vim mengelus perut Laras.


"Vim, Laras apa kalian membawa pakaian utk acara?" Seru mami yang melihat Vim dan Laras di ruangan depan.


"Bawa mi tapi kalau mami mau belikan kami juga bersyukur."


"Dasar. Mami lebih suka memberi si Sin."


"Laaah mami nanya kan. Aku nggak nolak kalau mami beri." Vim menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mami jangan terlalu didengarkan ucapan mas Vim. Pakaiannya sudah lebih dari cukup."


"Nah itu. Yang tidak terpakai berikan kepada orang yang membutuhkan. Pakaian yang layak tentunya."


"Mami tidak pernah salah." Vim berlalu ke belakang.


"Hmm bau yang sedap. Boleh diicip bi?"


Semua masakan matang dalam jumlah banyak membuat perut menjadi lapar.


"Maaf den. Di meja makan sudah bibi sediakan."


"Oke terima kasih bi. Itu buat siapa?"


Vim melihat bibi mbawa jus berikut kue yang dicetak tadi pagi.


"Non Laras den."


"Oh mas di sini. Kok nggak ngomong mau makan. Maafkan aku." Laras datang meletakkan gelas jus yang telah ia minum. Duduk menemani Vim di ruang makan.


"Tidak apa. Aku bisa sendiri. Makan?"


"Ya sedikit saja."


"Yang banyak."


"Perutku tidak mau banyak. Mas nambah ya, temani aku." Laras mengambil sop ayam dan sambal terasi.


"Aku sudah kenyang. Jangan kebanyakan sambal Ras." Vim mengingatkan.


"Enak. Mas aku ingin mi ayam di Raya City Walk?"


Permintaan yang sama seperti kehamilan Laras yang pertama. Vim mengingat itu tetapi ia tidak mengerti jika Laras sedang hamil saat itu.


"Kau suka mi ayam itu?"


"Hmm." Laras mengangguk.


"Hari ini kita selamatan sayang. Besok saja membelinya. Terserah mau makan berapa banyak." Kata Vim.


"Ayam dan kuahnya hmm..sedap. Rasanya tidak pernah berubah." Ujar Laras.


"Kami bertiga nongkrong di sana setiap malam Sabtu saat masih sekolah." Vim memutar memori.


"Ayah tidak mengijinkanku keluar. Jadi aku hanya di rumah aja."


"Dan...kau dikunjungi almarhum." Maksud Vim adalah adiknya si Vano.


"Kau berdua Aurora mas."


Dan aku menyimpan lara walaupun ada Aurora di sampingku. Dirimu selalu bermain dibenakku.


"Kehadirannya tidak bisa mengalihkan pikiranku tentangmu. Aku tidak bisa membohongi hatiku."


Tiba-tiba Vim bicara sangat terbuka. Mereka berdua sama-sama berusaha menepis rasa sakit yang menyelinap di hati mengingat dua nama itu. Aurora bagi Laras dan Vano bagi Vim.


"Tidak baik mengingat itu. Lupakan apa yang kukatakan.


Sekarang kita berdua dan fokus mengurus anak-anak." Ujar Vim tidak berniat meneruskan pembicaraan.


Vim membuka kaos. Tidak dengan celana pendeknya. Lima menit kemudian ia telah berada di dalam kolam renang. Kepalanya muncul ke permukaan. Dia mengibaskan kepala. Lalu menyelam dan berenang.


Selalunya Laras membawakan handuk kecil dan bathrobe milik Vim. Menunggunya dengan sabar di tepian kolam. Wajah basah Vim semakin mempertegas tulang pipi. Dia paling tampan diantara saudara kandungnya. Apakah Laras harus merasa beruntung? Entahlah. Toh ganteng bukan ukuran mutlak menurut Laras.


"Hei kau melamun ya. Aku tidak ingin bayi kita murung Laras." Vim mengusap rambut ke belakang.


"Ah tidak mas. Aku teringat belum menyetrika pakaian untuk nanti malam."


"Tinggalkan aku. Pergilah ke dalam."


"Aku tinggal ya."


Malam hari acara berjalan lancar dan religius. Vim bertambah tampan menggunakan pekaian koko dan kopiah di kepala. Warna putih gading sama dengan pakaian Laras. Wajah keduanya berseri. Doa dipanjatkan dan semua yang hadir mengaminkan.

__ADS_1


"Semoga selamat dan lancar hingga hari persalinan. Saya permisi pulang." Itu kata Ustad kepada Vim setelah acara selesai.


"Aamiin. Terima kasih ustad."


Mereka bersalaman. Para tamu pamit pulang. Ibu dan ayah Laras juga. Sepi kembali.


"Mas aku lapar lagi." Laras memegang perutnya.


"Makan lagi. Ooh ya..kau ingin mi ayam?"


"Tidak jangan sekarang. Sudah malam." Laras melarang.


"Di sini malam tapi di luar sana kendaraan lalu lalang dan mi ayam masih ada. Aku pergi dulu ya."


Vim meluncur membeli mi ayam di pusat jajan serba ada yang selalu ramai di kotanya itu. Dia duduk menunggu ketika tanpa sengaja matanya melihat Aurora dengan anaknya jauh di depan sana. Vim tidak salah lihat di bawah pencahayaan terang. Aurora sedang berbicara dengan Rony mantan suami sekaligus rival Vim.


Si anak yang pernah ditemui Vim di kawasan wisata berada dalam gendongan papanya. Vim mengalihkan pandangan dan duduknya ketika melihat mereka berjalan ke arahnya.


"Vim! Sedang apa?!" Seru Aurora. Rony memegang tangn Aurora.


"Membeli ini." Vim menunjuk mi ayam. Ia bisa melihat tatapan tidak suka Rony.


"Maaf aku mau ke toilet." Vim berdiri.


Vim meninggalkan dua orang itu. Lebih baik menghindari mereka daripada terlibat pembicaraan dan melihat wajah mereka berdua. Wajah-wajah pendusta dan pengkhianat. Ia keluar dari toilet setelah yakin Aurora dan Rony telah pergi.


"Mas saya kira tidak jadi membeli ini. Saya kira sudah pulang." Penjual mi ayam tersenyum lebar.


"Jadi pak. Saya ke belakang saja. Ini uangnya."


"Vim!!"


"Hai bro kau di sini??"


"Yeahh. Ini buat kalian." Edo menyerahkan sebuah bungkusan cendol.


"Kau membeli ini?"


"Iya. Mommy minta." Edo mengangkat bungkusan di tangannya.


"Oh oke. Aku pulang dulu. Laras menungguku."


"Sebentar. Aurora kembali sama Rony?" Tanya Edo.


"Persetan! Mengapa harus ketemu mereka di sini?" Nada Vim meninggi.


"Kau marah tandanya_"


"Diam. Aku muak melihat mereka. Aku pulang. Ed kapan tenis bersama?!" Vim menoleh.


"Cari waktu!" Edo menautkan jari ujung jempol dan telunjuk. Dibalas hal yang sama oleh Vim.


"Sayang mi ayamnya.." Vim tertegun melihat Laras terbaring dengan mata terpejam. Mungkin dia kelelahan.


"Ras..sayang.."


"Ehmm."


"Katanya minta mi ayam. Bangun ya."


Laras pun duduk di atas bed. Aroma mi ayam tercium. Matanya membuka. Seleranya bangkit. Ia makan dengan lahap.


Selesai sudah. Laras menekuni rajutannya. Netranya tidak mau diajak tidur lagi sedangkan Vim tergolek di atas bed.


"Ras tidur."


Dari ranjang Vim bisa melihat Laras sangat tekun merajut. Ia senang Laras terampil merajut tetapi tidak dikerjakan malam hari seperti ini.


"Belum mengantuk mas." Tangan Laras meliuk merangkai benang.


Vim turun dari ranjang dan mematikan lampu. Salah satu cara menghentikan Laras.


"Duuuh mas gimana ini. Gelap."


"Kerjakan besok. Sekarang waktunya istirahat. Jangan ajarkan anakmu begadang." Vim


"Huuuh? Dia anakmu juga sayang." Laras protes.


"Aku tidak mau anakku sakit ikut begadang ibunya."


"Iya..iya. Sabar mas."


Benang-benang diletakkan pada kotaknya. Keduanya terlelap dalam pelukan malam.


Setelah Laras hamil Vim rajin menyiapkan air hangat di pagi hari, segelas susu dan roti beroles selai blueberry. Pagi ini Vim melakukan hal yang sama. Membawakan sarapan pagi untuk Laras. Roti dengan telor dan keju di dalamnya.


Bagi Vim itu sangat bagus namun Laras tidak sependapat.


"Mas aku tidak suka slice keju. Susunya aja kuminum ya." Pinta Laras memasang wajah memelas.


"Begini." Vim mengeluarkan lembaran keju dari roti.


"Boleh juga. Aku suka mas."


"Makan dan minum susunya."


"Makasih sayang."


"Sama-sama. Bibi sudah menyiapkan sarapan pagi. Kau di sini saja." Titah Vim.


"Baik tuan."


"Baik sayang."


"Ya sudah. Waktunya mandi lalu berangkat kerja." Laras mengingatkan.


Laras tak ingin berdiam diri. Menyiapkan keperluan Vim adalah kewajiban. Dia melaksanakan kewajiban mengurus Vim. Mengambilkan pakaian kerja Vim dari tempatnya.


...💞💞💞...


Antara melanjutkan dan menyudahi..author berada di persimpangan nih.🤭😊🙏


Terima kasih all yang masih hadir di sini. Sukses dan selalu...💕🌹

__ADS_1


__ADS_2