
"Kau benar hujan telah turun. Ayo berjalan lebih cepat lagi. Kita belum mendapatkan hotel."
Vim menggandeng tangan Laras dan menariknya sehingga Laras menjadi setengah berlari mengikuti langkah kaki Vim yang lebar. Dalam sekejap rintik hujan berubah menjadi air hujan yang deras. Gelegar petir dan kilat mengiringi. Rambut dan tubuh mereka menjadi basah karena harus menghampiri mobil dahulu lalu mencari hotel terdekat.
"Ahhh basah."
Vim dan Laras mengusap wajah masing-masing.
"Bagaimana ini masuk ke hotel basah kuyup begini."
Sedikit kegelisahan terpancar dari wajah Laras. Pakaian yang hanya satu-satunya dipakai dan dibawa telah basah. Laras merasakan hawa dingin lobi hotel mulai menerpa kulitnya.
"Tenang saja. Tidak ada larangan orang basah tidak boleh masuk.
Kalau ada aku ajukan protes keberatan dengan hal itu "
Sampai di hadapan resepsionis Vim memesan dua kamar tapi mereka harus kecewa karena semua kamar penuh dan tinggal satu yang belum terisi oleh tamu.
"Yaah gimana ini mas."
"Jangan panik. Kalau terpaksa harus satu kamar, kau saja yang tidur di kasur dan aku di sofa."
"Aku tidak mau tidur sekamar. Haa..hhaa..ciiiimm..!!"
Laras memalingkan wajah dari Vim dan resepsionis demi melindungi mereka dari bersinnya. Hidung Laras mulai terasa gatal karena udara yang dingin.
"Maaf mbak boleh minta nomor telepon butik di depan sana?"
"Boleh tuan."
"Terima kasih."
Resepsionis memberikan Vim selembar kartu nama. Laras mengikuti Vim melangkahkan kaki ke arah lift. Vim menekan tombol lift.
Dia sangat menarik meskipun hanya memakai atasan kaos. Tubuhnya tinggi semampai kontras dengan aku yang pendek. Hei mengapa aku mengagumi ya.
Seketika Laras memalingkan wajah mengetahui Vim telah berdiri di sampingnya menanti pintu lift terbuka.
"Kau kedinginannya ya?"
"Tidak, aku biasa saja." Jawab Laras.
"Pergilah mandi agar kepalamu tidak menjadi pusing karena air hujan."
Laras mengikuti perintah Vim. Sebenarnya ia merasa asing berada di kamar berdua saja dengan Vim. Jarak usia mereka terpaut jauh sehingga Laras cenderung merasa segan.
Di dalam kamar mandi Laras menikmati air hangat yang menyirami tubuhnya. Wanginya sabun membuat Laras semakin betah di dalam, bermain air dan sabun. Dia berlama-lama di kamar mandi tidak ingin keluar. Ada Vim yang sedang menunggu Laras. Entah mengapa jantung Laras selalu berdebar jika berada di dekat Vim.
"Laras kau baik-baik saja?!"
"Ya. Aku selesai."
"Cepat aku mau mandi juga. Hitungan lima kau tidak muncul, aku akan masuk. Satu, dua.."
"Sebentar. Aku sudah ini. Tahan hitunganmu."
Laras bergegas membuka pintu.
Di situ Vim sudah menunggu dengan mimik wajah yang siap menerkamnya. Wajah Vim menahan kesal sebab Laras baru selesai mandi sedari tadi.
"Lama sekali mandimu. Kau tidur di dalam ya atau menampung air dari shower ke bathtub?'
"Di rumahku tidak ada bathtub jadi aku berlama-lama." Jawab Laras asal saja.
Aroma sabun mandi menerpa penciuman Vim. Niat Vim ke kamar mandi batal dan menghidu aroma Laras di sisi kirinya.
"Kenapa??" Laras bertanya heran.
__ADS_1
"Kau harum sekali. Boleh aku menciummu?"
"Apa?? Tidak. Tidak boleh. Sebaiknya kau mandi sebelum air hujan membuat kepalamu sakit."
"Ayolah. Sekali saja Laras."
Mata Laras membola dan menggelengkan kepala. Menjadi semakin takut kalau-kalau Vim benar-benar menuruti keinginan dirinya.
"Hahahahaha..aku bercanda Laras."
"Huuhh.. Mandi sana.Brrrr.."
Tangan Laras bersidekap di depan dadanya. Angin dan hujan membuat cuaca menjadi dingin akan tetapi AC ruangan tetap menyala.
Laras menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menarik selimut. Seluruh tubuhnya telah tertutup selimut termasuk telinga. Ia mengharapkan kehangatan dibalik selimut tebal. Bathrobe masih menempel di tubuh. Tiada lagi pakaian ganti. Hanya ada bathrobe. Laras benar-benar menggigil kedinginan.
"Laras jangan tidur dulu. Aku sudah memesan makanan."
Vim muncul kembali dengan bathrobe yang berwarna sama dengan Laras.
"Aku masih kenyang."
Suara pintu diketuk seseorang. Vim membukakan pintu dan makanan yang dipesan sudah datang.
"Terima kasih." Ucap Vim kepada pelayan.
Pelayan selesai melaksanakan tugasnya mengantarkan pesanan dan pamit.
"Hmm kau suka tengkleng kan. Ayo ke sini. Atau kau mau minum wedang ronde dulu?"
Laras tidak bersuara lagi. Vim datang mendekati dan membawa wedang ronde ke hadapan Laras.
"Minumlah agar tubuhmu tidak terlalu kedinginan."
Laras pun menyembul dari balik selimut. Meraih wedang ronde yang diberikan Vim. Menyeruput
dan menyendokkan wedang ronde sedikit demi sedikit ke mulutnya.
Perlahan Laras bangkit meng
hampiri Vim yang menikmati
kopi miliknya.
"Makan lagi supaya perutmu kenyang dan tidak masuk angin."
"Ya..Hmmm. Aku mau."
"Makanlah."
"Mas tidak makan?"
"Sebentar lagi."
"Aku makan sendiri? Tidak mau..."
"Makan saja dulu."
"Aku akan makan jika mas Vim juga makan."
Aah Laras manis sekali sikapmu.
Jika engkau begitu terus kepadaku, hatiku akan lumer karenamu.
"Ya sudah mari kita makan."
Vim memperhatikan Laras makan dan menyunggingkan senyum
__ADS_1
karena Laras makan dengan lahap. Menyuapkan makanan ke mulut sendiri kemudian memper hatikan Laras lagi.
"Enak mas. Lihat nasiku bisa habis, hahaa.."
"Mau lagi makan nasiku? Ini masih biar kau kenyang."
Vim menyodorkan nasinya yang masih separoh namun Laras menggelengkan kepala.
Masing-masing selesai mencuci tangan mereka saat pintu kamar diketuk kembali. Laras membuka
kan pintu.
"Selamat malam nona. Ini pesanan Tuan."
"Baik. Terima kasih ya."
"Terima kasih kembali nona."
Pintu ditutup kembali. Laras meletakkan paper bag ke atas ranjang.
"Ada baju buatmu di dalamnya. Bisa digunakan sekarang atau besok pagi. Terserah padamu.
Pakaian yang tadi kita pakai kita bawa pulang saja besok."
"Aku ganti baju sekarang saja."
Laras mencari baju di dalam paper bag. Lebih baik mengganti sekarang daripada harus tetap menggunakan bathrobe di saat tidur. Vim sangat teliti sampai-
sampai pakaian dalam juga dibelikan buat Laras. Laras tersenyum geli.
"Terima kasih ya mas baju barunya."
Laras membentangkan pakaian itu di atas tempat tidur. Tidak terlalu jelek.Sackdress dengan lapisan lace di bagian luarnya berwarna baby yellow.Bukan sweater seperti bayangan Laras. Ya lumayanlah daripada tidak ada ganti.
Vim menjelingkan mata ke arah Laras yang sedang mematutkan tubuh di depan cermin. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum. Laras seperti ABG bagi Vim.
"Hujan terlalu betah berlama-lama membasahi bumi."
"Seperti aku betah berada di dekatmu." Vim menyeletuk.
"Apa mas. Kau membisikkan sesuatu? Suaramu kecil, aku tidak mendengarnya."
"Itu namanya rezeki. Hujan itu juga rezeki jadi nikmati saja."
Laras memandangi rintik hujan. Ada ritme yang teratur yang dihasilkan dari butir-butir air yang turun ke bumi.
"Katakan kau pernah bersama Vano di kamar seperti ini?"
"Dia sudah tenang mas." Sela Laras cepat.
"Sedikit pertanyaan saja."
"Menurut mas pernah atau tidak?"
"Pernah. Apalagi jarak kalian sangat dekat saat kau berada di rumahku."
"Ya sudah kalau mas meyakini itu. Kenapa mas bertanya?"
"Jadi benar begitu??"
Vim bertanya dengan memicing
kan mata. Tidak ada yang salah karena Vano dan Laras memang
pernah berpacaran."
"Kok mas bertanya lagi. Padahal aku dan Vano tidak pernah berdua di dalam kamar seperti saat ini."
__ADS_1
Ada binar bahagia di mata Vim mendengarkan penuturan Laras.
Sesungguhnya Vim mulai menyukai Laras.