
"Kau di sini Ed?" Vim menyapa Edo." Sahabatnya itu lebih dulu berada di bar langganan mereka.
"Aku disini sejak tadi dan kau?"
" Aku baru datang setelah makan di luar."
"Kau makan di luar Vim? Mengapa tidak pulang ke rumah?"
"Ada pekerjaan harus selesai. Lanjut kemari." Vim memberikan alasan.
"Hei tunggu. Mengapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Vim serius.
"Wajar bukan? Kau sudah memiliki istri. Harusnya lebih sering di rumah. Sering kemari tapi tak mengajak kami."
"Bukannya kalian sibuk urusan kerja. Ngajak juga percuma bro."
Vim duduk di sebelah Edo.
"No alcohol." Kata Edo
"Baik. Aku tidak minum itu meskipun setiap hari kemari."
"Nah betul kan kau sering kemari."
"Kepalaku sering pusing. Santai dikitlah." Vim menepuk lengan Edo.
"Edo kau berada di sini."
Suara wanita terdengar gemulai memanggil mereka. Edo dan Vim melihat wanita itu mendekati mereka. Vim mengacuhkan si wanita. Teman wanita Edo banyak jumlahnya tapi tak satu pun menjadi kekasih.
"Karin. Kau sama siapa?"
"Aku sama Leoni. Dia sedang ke sana. Siapa dia?" Mata Karin mengarah ke Vim. Vim masa bodoh.
"Sahabatku. Kenalkan. Vim kenalkan ini Karin."
"Hai Karin."
"Hai Vim."
Vim kembali acuh. Tak ada yang menarik di dunia ini selain Laras. Bentuk tubuhnya, wajah, senyumnya yang menawan dan tutur katanya yang sopan. Dia membiarkan Edo berbicara dengan Karin.
"Jangan ganggu dia. Dia bukan single." Edo mengingatkan.
"Kenapa memangnya?"
"Kau berhadapan denganku dulu."
"Kubayar gimana. Berapa yang kau mau?"
Edo tahu Karin tidak serius dengan ucapannya.
"Kau bayar? Hhhh dibayarpun aku tidak mau. Sudah sana menjauh. Percuma. Sudah ada yang mengikat hatinya."
"Beruntung sekali istrinya."
Karin berlalu. Edo merasa puas. Tidak sia-sia ia menemani Vim. Karin hampir menggoda Vim. Ah tapi mengapa ia harus perduli. Biarkan saja Vim dengan keasyikannya ini. Kemudian digoda wanita cantik lalu Laras mengetahui dan perang dalam rumah tangga mereka terjadi. Edo bisa mengambil keuntungan. Gila kotor amat pikiranku batinnya.
"Vim kita pulang." Edo mengajak Vim.
"Baru jam sepuluh."
"Baru? Sudah malam ini. Kau bukan lajang lagi. Ada yang menunggumu di rumah." Paksa Edo.
"Laras sudah tidur."
"Vim harusnya kau menemani Laras di rumah. Menggendong Vian dan apa saja yang bisa kalian lakukan bersama."
"Bising kau Ed. Aku suntuk. Tinggalkan aku."
"Sekali lagi begadang setiap hari tidak baik Vim. Lihat penampilanmu."
Edo tidak melihat Vim yang rapi dan bersih. Yang ada Vim lusuh dan tak terurus sekarang.
"Setengah jam lagi Vim." Edo mengingatkan lagi.
"Suka-suka aku. Bising amat."
"Kau mulai bermain-main Vim. Jika kau menyakiti Laras, aku mengambilnya." Edo mengancam.
Vim seperti berpikir. Kemudian berdiri.
"Aku mau pulang."
"Sama. Kau nyetir sendiri?"
Vim mengangguk. Keduanya keluar bersamaan dan berpisah di parkiran.
Laras belum tidur malam ini. Ia masih menunggu kepulangan Vim. Setelah hafal Vim tidak pulang lebih awal dari kantor, Laras membiarkan dirinya tidur setelah Vian tertidur. Kini ia terjaga menanti Vim pulang.
Ceklek. Bunyi handle pintu pertanda seseorang mau masuk. Benar saja. Vim muncul dari sana dan ia melihat Laras duduk di sofa sendiri. Pintu kamar Vian tertutup.
"Kau belum tidur?" Tanya Vim.
"Belum. Mas dari mana selarut ini?"
"Dari luar."
Vim membuka pintu kamar Vian dan terkunci. Berarti mami tidak bisa masuk.
"Mas menjauhiku."
Sunyi senyap merayap. Laras menunggu kalimat Vim. Vim membiarkan Laras menunggu. Dia ke kamar mandi. Keluar hanya mengenakan ****** ***** sebab pakaiannya kotor.
Vim tak menyangka Laras telah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Mari kita tidur."
Laras menurut. Ia menghalangi jalan Vim.
"Mas kemana saja berapa malam ini?" Akhirnya Laras ingin tahu. Laras mengalungkan kedua lengannya di pundak Vim. Posisi Laras meruntuhkan keteguhan hati Vim. Tampang dinginnya berubah lembut dan hangat.
"Aku ada kerja."
"Selarut ini. Kerja dengan seorang wanita?"
"Laras aku ngantuk."
"Baru pukul sebelas. Kemarin dan kemarin lagi mas pulang di atas jam dua belas malam. Mas nggak sayang sama aku lagi?" Suara Laras berubah sumbang.
"Laras...."
Vim menyingkirkan tangan Laras dari pundaknya namun tak berhasil. Laras mengaitkan jemari di belakang leher Vim.
"Laras kau jangan menggodaku."
__ADS_1
"Sudah lama aku tak menggoda mas kan? Apa di luar sana ada yang menggodamu?"
"Laras...."
Laras semakin menempelkan bagian depan tubuhnya pada Vim. Degup jantung keduanya berpacu. Vim berusaha menguasai diri.
"Laras kau nakal. Ini sudah malam."
"Tega mas membiarkan aku mengurus Vian di rumah dan mas Vim bersenang-senang di luar.
"Bukan begitu Laras."
Vim mengangkat Laras tiba-tiba. Membawanya ke atas ranjang. Keduanya tak mampu membendung hasrat yang terpendam. Vim mulai aktif dan Laras mengimbangi. Begitu cepat dan Vim tersadar dia telah berbuat terlalu jauh.
"Astaga apa yang kulakukan. Laras aku hampir kelewatan." Sesal Vim.
"Ma'afkan aku mas. Kita menjauh akhir-akhir ini. Aku rindu padamu."
"Aku juga Laras. Kau tahu susah payah aku mengekang rasa ini. Kapan ini berakhir Laras?" Vim menatap langit kamar.
"Tidak lama lagi sayang. Bertahanlah tetap setia."
"Aku tidak berbuat apapun di luar sana. Mengisi waktu saja. Tidurlah sekarang."
Laras memejamkan mata. Vim memeluk Laras dari belakang memberikan ketenangan. Cintanya pada Laras takkan pernah berubah.
...•°•°•°•°...
Acara syukuran kehadiran penerus keluarga Dewantara kembali di gelar. Kali ini mengundang kerabat dan teman-teman dekat keluarga.
Beberapa tamu datang membawa bingkisan kado buat baby Vian. Termasuk Dion dan Edo.
Vim memeluk Laras dari belakang. Vian tidur di dalam ranjang bayi di belakang mereka.
"Kau tambah cantik."
"Aku sudah punya anak satu mas dan tubuhku gemuk."
Vim membalikkan Laras menghadap dirinya. Menunjukkan sesuatu dari tangan kanan.
"Penampilan bisa dikembalikan semula Laras. Terimalah ini. Semoga suka."
"Mas ... ini dalam rangka apa?"
Heran tiba-tiba saja Vim memberikannya kalung emas.
"Terima kasih sudah memberikan Vian untukku."
"Oh mas harga emas sekarang kan mahal sekali." Laras menimang kalung di tangan. Beratnya terasa untuk ukuran perhiasan emas.
"Tidak seberapa dibandingkan pengorbananmu. Mengandung dan melahirkan Vian sama dengan sebuah perjuangan."
"Dipakai sekarang ya?"
"Oiya boleh mas. Kalung yang lama kusimpan ketika mau melahirkan Vian."
"Tambah cantik." Vim selesai mengalungkan perhiasan di leher Laras.
"Terima kasih mas."
Laras memeluk Vim. Memberikan hadiah kecupan. Vim tak pernah menyia-nyiakan kesempatan saat bersama Laras. Dia memagut bibir Laras.
Ooeeek ... ooeeeeek.
"Vian menangis mas." Laras merenggangkan jarak mereka.
"Uuuuluuu anak mami nangis ya. Mau minum sayang?"
"Laras, Vim! Mami mau masuk!"
"Masuk mih!" seru Vim. Suara Vim membuat Vian menangis lagi.
Laras menenangkan Vian.
"Cucu eyang mengapa menangis? Papi, mami membiarkanmu ya hmmm?"
"Nggak dong mih." Laras menjawab.
Laras meletakkan Vian ke ranjangnya. Mami Maharani duduk di sebelah Laras.
"Laras, Mami berterima kasih karena kamu sudah memberikan Mami cucu. Terima ini dan simpan buat Vian cucu Mami ya."
Laras terkesima dan berkata," Mami ini terlalu mahal."
Mami menjawab, "Tidak Laras. Vian anak lelaki jadi Mami tidak memberinya kalung atau gelang."
Laras mengamati emas batangan
di tangannya dan berkata," Ini sangat berharga mami. Laras tidak menjualnya. Sebaliknya Laras simpan untuk Vian."
"Iya nak. Semoga bermanfaat," kata mami.
"Sangat bermanfaat Mami. Terima kasih ya Mi." Laras memeluk mami Maharani.
Vim muncul dan bertanya, "Ada apa kok berpelukan?"
Mami dan Laras tersenyum. Laras memanggil Vim.
"Mas lihatlah ini mami berikan buat Vian." Vim tidak merasa heran dengan mami.
"Itu rezeki Vian. Simpanlah. Terima kasih ya mih," kata Vim.
"Iya sama-sama. Kalau sudah selesai, kalian cepat keluar. Acara dimulai sebentar lagi."
Laras menggendong Vian. Vim menunggu kemudian mereka bertiga turun ke lantai bawah.
Acara utama berlangsung lancar. Vian sangat baik tidak menangis sekejap pun.
Edo dan Dion baru tiba. Membawa bingkisan besar yang diletakkan di serambi. Hadiah untuk Vian.
"Hei boy ... uncle bawakan kereta dorong buatmu ya. Pergunakan saat bepergian dengan papi mamimu." Edo mencolek pelan pipi baby Vian.
"Ini baby Walker untukmu sayang. Cepat besar dan bermainlah dengan Devan ya." Anggia tak ketinggalan datang membawakan kado. Ia mengecup pipi Vian dengan lembut. Bayi selalu menggemaskan.
"Terima kasih oom-oom dan Tante. Hai Devan kau sehat sayang?" Tanya Laras yang mencolek pipi Devan.
"Sehat Tante," balas Anggia.
Di mata Edo, Laras dan Vim adalah pasangan serasi. Mereka selalu berdampingan di acara tersebut. Senyum tak berhenti menghiasi wajah mereka dan terlihat sangat bahagia. Ditambah Vian kebahagiaan mereka lengkap sudah.
"Waah cucu oma! Besok sudah besar mau jadi apa?"
Ibu Laras datang memangku Vian. Sangat takjub dengan cucunya. Kepala Vian bergerak. Matanya sedikit mengintip seolah ingin tahu siapa yang sedang mengajaknya berbicara.
Laras mendekati ibunya lalu berkata, "Bu ... Ibu belum makan. Ibu makan dulu ya?"
__ADS_1
"Ibu sudah makan di rumah Laras. Ibu ingin melihat cucu Ibu," jawab ibu.
"Nanti Vian bisa ibu gendong lagi. Ibu coba makanannya. Enak loh Bu," pujuk Laras sedikit memaksa.
"Oh baiklah Laras. Kau ini...."
"Kami memesan makanan agar mami tidak repot menyediakan semuanya. Mami sudah sangat perhatian pada kami."
"Ya yang mana baiknya saja," kata ibu.
Acara berlangsung hingga menjelang senja. Dengan dibantu oleh asisten rumah tangga dari rumah mami, rumah Laras dan Vim kembali di tata seperti semula. Sofa dan meja tamu kembali pada tempatnya. Begitupun perkakas makan semua telah berada di dapur dalam keadaan bersih.
Laras sedang menyusui Vian ketika mami datang menghampiri. Vim memperhatikan televisi yang menyala.
"Vim, Laras ... Mami pulang ke rumah besok. Tolong jaga cucu mami dengan hati-hati."
"Besok mi? Kenapa besok?" Vim segera menoleh demi mendengar kalimat mami.
"Mami sudah sebulan lebih di sini. Laras sudah cukup kuat untuk mengurus Vian dan papi membutuhkan perhatian," papar mami.
"Mendadak sih mih. Lusa ya mih?" Laras keberatan.
"Mami sudah lama di sini, Laras."
Laras berpikir mereka belum membelikan apapun buat mami bawa pulang esok.
"Iya mih lusa saja pulangnya," timpal Vim.
"Kalian ini ... apa kalian tidak terganggu, mami berlama-lama di sini?" Tanya mami.
"Ya enggaklah mih. Dibantuin mami senang aja sih."
"Mami harus pulang besok, Vim." Mami bersikeras ingin pulang.
"Oke mih tapi sore ya," ujar Vim.
Mami berpikir sesaat lalu berkata, "Baiklah mami pulang sore."
"Siiiip mih." Vim girang memeluk mami.
Kini Laras dan Vim berada di dalam kamar. Vian tidur tenang di ranjang bayi. Laras dan Vim bersisian di atas ranjang.
"Apa sempat kita membeli oleh-oleh untuk mami, mas?"
"Aku tidak bisa mengantarmu belanja," ucap Vim.
"Kalau begitu kita pesan saja mas," saran Laras.
"Boleh. Beli apa?"
Laras membuka ponselnya. Mencari-cari beberapa produk makanan jadi di aplikasi jasa pengantaran. Ragamnya yang banyak membuat Laras bingung. Semua makanan dikemas dengan apik. Dari harga yang murah hingga paling mahal.
Vim melihat Laras bingung. Kemudian Vim berkata, " Jangan bingung. Klik saja apa yang menarik menurutmu."
"Semuanya menarik. Kelihatannya enak."
"Ya sudah. Tentukan saja yang mana."
"Aku memilih ini mas, ini dan ini," tunjuk Laras.
"Ya pesan saja. Minta dikirim ke sini."
"Iya."
Pemesanan selesai. Laras tersenyum lega. Mengingat jerih payah mami membantu mereka, sudah sepantasnya mereka memberikan oleh-oleh.
Vim bertanya," Sudah?"
"Sudah. Segini totalnya."
Laras menunjukkan jumlah yang harus dibayarkan.
"Sedikit itu," ucap Vim.
"Mau dibelikan apa lagi?"
"Cukup itu saja. Mami kuberi uang besok." Vim merapatkan posisinya ke Laras.
"Yakin mami terima mas?"
"Kalau banyak kenapa tidak?"
"Hehehe...." Laras tertawa akhirnya.
"Kalau lelah kau boleh tidur sekarang selagi Vian tidur. Saat Vian menangis minta minum, kau harus menyusui. Tidurlah."
"Aku belum mengantuk."
Vim senang mendengar ucapan Laras. Setelah berapa lama jarang mengisi waktu berdua, Vim menghargai saat ini.
"Kau sudah sehat sekarang. Apa aku boleh..."
"Boleh apa mas? Waah aku belum menggosok gigi. Sebentar ya mas."
"Huuuu ... cepatan sana." Vim menimpuk pelan Laras dengan bantal.
"Hahaha keenakan mengobrol. Mas sih...."
"Loh kok aku."
"Iya ... hahahaha."
Laras muncul lagi. Laras mengganti pakaian tidurnya. Baju tersebut lebih memudahkan Laras menyusui Vian. Namun buat Vim baju tidur Laras cukup menggodanya. Dua tali di bagian kanan dan kiri pundaknya memperlihatkan bahu dan lengan Laras. Kulit bersihnya menarik perhatian Vim.
"Ras ayo tidur. Sudah malam."
"Iya aku datang "
Laras mengambil tempatnya.
"Kemari lebih dekat." Vim menggapai lengan Laras.
"Aku kangen," kata Vim. Vim jujur.
"Apakah malam ini?"
Laras menangkap maksud Vim. Bahasa tubuh Vim mengatakan itu.
"Tahun depan!"
"Mas jangan teriak dong. Vian bangun."
"Kamu sih...."
"Baik aku mendekat." Laras merapatkan tubuhnya pada Vim.
__ADS_1
"Kurang dekat," kata Vim.
Laras mendekat lagi. Vim tak menunggu lama. Laras menjadi sasaran empuk luapan perasaan Vim. Vim memuja dan mendamba Laras. Laras tak menolak setelah sekian lama mereka dipisahkan jarak yang tak kelihatan. Dekat namun tak bisa berbuat lebih sebagai pasangan. Kini tiada lagi penghalang. Mereka sepasang kekasih yang utuh tanpa ada batasan. Memadu kasih adalah keharusan bagi keduanya karena di situ cinta dipupuk agar tumbuh subur.