
"Tidak apa saya bisa mengambil sendiri. Kamu yang tadi di luar ya. Kamu orang baru bekerja disini." Laras menatap Vim.
Posisi yang dekat dan lembutnya suara Laras menghadirkan getaran di hati Vim. Betapa ia merindukan semua hal pada diri Laras.
Aku merindukanmu Laras. Tidakkah kau merasakan hal itu? Aku ingin memeluk dirimu.
Vim memandang Laras sepuasnya sebelum Laras berlalu dari dapur. Hanya itu yang bisa dilakukan sementara ini.
"Oh ini jus anda. Ma'afkan saya membuat Anda menunggu. Anda mengingatkan saya pada seseorang Nyonya." Vim memberikan jus yang ia keluarkan dari kulkas.
"Oh ya? siapa itu? Pacarmu, tunanganmu atau istrimu ya?" Laras tersenyum ramah. Tidak kelihatan gusar di wajahnya padahal ia sedang menjadi tawanan Roni. Vim tersenyum menanggapi.
"Arik jangan terlalu dekat dengan nyonya. Bisa celaka kau. Cepat minggir."
"Iya Ben. Nyonya ini cantik sekali sih."
"Jangan macam-macam kau. Ingat tujuanmu kemari."
"Pasti Ben. Aku mencari uang untuk keperluan ibuku dan_" Vim berhenti bicara. Ia hampir kelepasan bicara.
"Siapkan meja makan dan bawa semua hidangan ini ke sana. Sebentar lagi makan siang."
"Aku makan siang di kamar saja Ben," ucap Laras.
"Nyonya...Tuan Roni tidak akan mengijinkan anda atau anda tetap harus di ruang makan menemani Tuan Roni."
Jleb. Vim menelan ludah. Begitu rupanya.
"Huuuh kenapa dia lama sekali di sini? Ben aku bosan." Air bening mengambang di pelupuk mata Laras. Vim melihatnya iba.
Jangan menangis sayang. Air matamu bukan untuk dia. Hentikan tangismu.
"Masuklah ke kamar Nyonya. Bersiap makan siang," kata Ben lagi.
"Aku di sini saja Ben."
"Ben betul Nyonya. Anda ke kamar saja supaya lebih tenang. Kami bisa dimarahi kalau Nyonya berada di sini. Tetapi bukankah membahagiakan berada di samping suami?" Vim bertanya konyol.
"Saat ini aku tidak suka!" Nada bicara Laras ketus.
"Arik antar salad ini ke meja. Cepatlah!"
"Oke Ben. Ini ya?"
"Apa kau tidak tahu salad? Itu, sayuran itu Arik."
"Salad sayuran Ben. Bilang Ben, ini aku juga tahu."
"Ben...sabar ya. Arik masih baru. Kalian jangan bertengkar ya." Laras menengahi.
Laras meninggalkan Arik dan Ben. Menunggu di ruang makan. Laras merasa tak perlu memperbaiki penampilan. Begitu saja sudah cukup. Roni tidak suka padanya itu lebih baik. Dengan begitu Roni akan membebaskan dirinya.
Vim datang meletakkan salad sayuran. Kembali lagi ke dapur mengambil olahan ikan dan mengantar ke ruang makan. Hati Vim berbunga-bunga melihat Laras berada di ruang makan.
"Anda sudah di sini Nyonya. Makanan selesai dihidangkan. Apakah Saya memanggil Tuan Roni saja Nyonya?"
"Tidak Arik, tidak perlu. Biarkan saja dia kesini sendiri atau mungkin dia mau makan di luar."
__ADS_1
Beeuhh. Mana mau dia makan di luar. Ini saat yang ditunggu Roni agar bisa berdekatanmu Laras.
Derai tawa terdengar dalam ruangan sebelah. Roni dan pesuruhnya datang untuk makan siang. Wajah Roni ceria, gembira dan percaya diri.
"Hai sayang kau sudah di sini. Kau menunggu dari tadi ya?"
Ciiiih. Vim merasakan perutnya mual tiba-tiba demi mendengarkan ucapan Roni. Sayang darimana? Sejak kapan Roni memiliki Laras. Siapa Roni berani mengatakan sayang kepada Laras.
"Hei kau Arik, apa yang kau tunggu?"
"Oh iya Tuan saya ke belakang dulu."
"Kau tak perlu minta ijin. Arik!!"
"Ya Tuan." Vim atau Arik datang lagi.
"Dalam tiga hari kau berbuat kesalahan, kau akan ku pecat. Piring makanku mana?"
"Astaga! Sebentar saya ambilkan. Ma'afkan saya Tuan."
Vim lalu datang lagi dengan sebuah piring makan di tangan. Tentu saja ia tidak teliti dengan pekerjaan itu. Semua pekerjaan semacam itu dilakukan oleh bibi Am di rumah Vim dan Laras.
"Saya ambilkan nasi tuan."
"Tidak usah, berikan saja piringnya pada Laras. Dia yang akan melayaniku."
Tidak ada hal yang paling menyakitkan selain melihat Laras melayani orang lain meskipun hanya menyendokkan nasi ke piring. Vim sadar bukan ini saja yang akan menjadi pemandangan sehari-hari.
Keparat Roni. Itu hakku. Laras hanya melayaniku.
"Sekarang kau makanlah. Makan yang banyak supaya kau sehat. Pilih yang mana yang kau sukai," ucap Roni kepada Laras.
"Ma'af saya belum lapar," balas Laras.
"Kau sarapan terlalu banyak ya. Sudah waktunya makan siang tapi belum lapar lagi."
"Sarapan porsi biasa saja."
"Baiklah. Makanan akan diantar ke kamarmu. Bila kau selesai makan Arik akan mengambil poto bekas makanmu dan mengirimkan padaku. Untuk siang ini saja. Nanti malam kau harus makan di sini."
"Makanlah nyonya."
"Arik kau jangan ikut campur."
"Ba-baik Tuan. Salah lagi saya...."
"Mana ini makanan penutup."
"Oooh iya Tuan...saya terlupa."
Vim yang menjadi Arik bergegas ke dapur.
Ben menggelengkan kepala menyaksikan kesibukan Vim.
"Nasib baik baru pertama kali kau bekerja berbuat kesalahan. Besok jangan kau ulangi Rik."
"Aku tak pernah melakukannya Ben. Ini pengalaman pertamaku."
__ADS_1
"Hahahaa kau harus melalui ini untuk ibumu. Kau makan dulu, setelah itu antarkan makan siang Nyonya. Nyonya selalu menolak makan siang tetapi makanan tetap diantar ke kamarnya."
"Ya begitulah karena ibu. Kamar nyonya yang mana? Kelihatannya hubungan mereka aneh. Nyonya seperti terpaksa melayani Tuan Roni."
"Huuusss kau ini, jaga bicaramu. Tuan Roni tidak boleh mendengarkan ucapanmu yang aneh. Simpan saja pertanyaanmu. Kau akan tahu sendiri nanti."
Tidak ada lagi suara denting peralatan makan di ruang makan. Mereka usai makan siang. Masing-masing ke kamar untuk istirahat siang.
Vim melewati ruangan besar yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Sebuah kesempatan lagi bisa berada di dekat Laras walaupun sebentar.
"Beberapa hari lagi aku disini. Masih mengurus hal yang butuh perhatian. Ya...ya aturlah sebaik mungkin. Tidak perlu tamu yang banyak."
Deg. Jantung Vim berdesir. Sebuah rencana sedang disiapkan Roni. Roni sedang menelpon seseorang ketika Vim melewati ruangan besar tersebut. Tamu?
Vim mengetuk pintu tiga kali dan Laras membukakan pintu.
"Kamu Rik? Letakkan saja di meja," ucap Laras dengan lesu.
"Ini dimakan Nyonya. Harus Nyonya makan supaya nggak sakit."
Laras menatap makanan tanpa nafsu. Ia ingin pulang ke rumah bukan makan.
"Kamu mau membantuku Rik?"
"Laras eh Nyonya, cepatlah makan sebelum tuan Roni masuk ke sini dan marah." Vim menoleh ke belakang waspada jika Roni tiba-tiba muncul.
"Bantu aku habiskan makanan ini Rik."
"Apa?? Saya baru selesai makan Nyonya. Lihatlah perut saya, besar bukan?
"Tolong aku Arik. Aku takut Roni marah. Habiskan yang tiga piring itu. Aku tidak suka menunya. Sayur dan nasi aku makan."
"Ehm ...saya bantu menghabiskan. Saya bawa ke dapur saja."
"Eeiiits jangan. Makan di sini saja. Aku kunci pintunya. Aku takut kau berpapasan dengan Roni di luar apalagi nampan masih berisi makanan."
"Kemarin siapa yang menghabiskan makan siang Nyonya?"
"Ben. Cepat dimakan Arik."
"Ya Nyonya."
Vim tersenyum senang. Makan bersama Laras kenapa tidak? Dunia tetap milik mereka berdua. Sungguh cara makan yang rapi tanpa bunyi alat makan sedikitpun. Hal ini Vim lakukan agar tidak terdengar alat makan lebih dari satu yang digunakan. Vim terbiasa melakukannya.
Situasi belum memungkinkan untuk Vim memberitahukan Laras yang sebenarnya. Vim menunggu waktu yang tepat dan aman untuk bertindak. Dia belum mempelajari keadaan sekitar rumah besar ini.
Vim tidak bisa tidur tenang di malam hari. Dalam pikirannya adalah Laras. Sulit dibayangkan perasaan Vim malam itu. Gelisah mendera batinnya. Was-was jika Roni diam-diam masuk masuk kedalam kamar Laras dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
Vim terbangun dari pembaringan. Melihat keadaan di ruangan besar rumah itu yang dikelilingi oleh kamar-kamar termasuk kamar Laras salah satunya. Sepi tidak ada orang di sana. Tidak ada tanda-tanda satu orang pun keluar dari kamar. Tidak ada suara-suara yang mencurigakan. Vim kembali lagi ke kamarnya.
Laras belum juga memejamkan mata. Seminggu lebih di rumah ini sangat membosankan baginya. Malam-malam yang sunyi membuat Laras hanyut akan rasa rindu pada Vian si buah hati. Juga pada Vim. Laras kesal. Dia menunduk Dimana Vim tak jua datang membebaskannya?
Tuhan tolong kirim Vim ke rumah ini. Berikan jalan untuk membawaku keluar dari sini.
Vim terbatuk kecil di kamar. Bangun dan meraih botol minuman di meja kamar. Kemudian berusaha tidur. Ia harus bangun pagi esok hari.
...Terima kasih sudah membaca novel ini, besok lagi ya. Like, komen atau gift dan favorite nya jangan lupa..🌹...
__ADS_1