
Jum'at pagi yang cerah..
Laras Pov.
Hari ini adalah hari yang penuh arti bagi diriku sepanjang hidup. Aku harus siap menghadapi kenyataan hidup bersamanya. Pahit atau manis. Suka dan duka. Vim lelaki yang Tuhan kirim untukku. Walaupun hatiku selalu cenderung menganggap Vim sebagai abangku tapi aku harus bisa menganggapnya lebih dari seorang abang. Perlahan nama Vano harus kuhapus dari hatiku meskipun aku tak tahu kapan benar-benar terhapus. Harus kuganti dengan nama Vim dalam setiap hembusan nafasku. Kucoba memulai langkahku yang baru dengan melupakan Vano agar tidak menjadi bayang-bayang pernikahan kami sampai kebahagiaan kami sempurna terwujud.
Author Pov.
Akhirnya hari H tiba, saatnya Laras dan Vim duduk bersanding untuk melangsungkan pernikahan. Acara tidak terlalu mewah tapi tidak bisa dibilang sederhana. Di halaman depan rumah orang tua Laras telah didirikan satu set tenda dengan dekorasi indah. Di bagian depan tenda utama disusun bunga-bunga hidup sedemikian rupa menjadi hiasan yang sedap dipandang mata. Begitupun dengan pelaminan tempat kedua pengantin dipajang dan menerima ucapan selamat dari para tamu.
Sesuai permintaan keluarga Laras, pernikahan berlangsung di rumah Laras mengundang para tetangga dan keluarga terdekat. Sedangkan besok malam acara resepsi bertempat di hotel yang mengundang kenalan jauh dan kenalan bisnis keluarga Pak Dewantara.
Laras yang anggun dalam balutan kebaya rancangan perancang busana dan Vim yang tambah gagah dalam pakaian lelaki yang warnanya sama dengan kebaya Laras berdiri berdampingan menyalami satu persatu tamu yang memberi restu.
Seluruh keluarga besar berkumpul di acara tersebut termasuk sahabat Vim, Edo dan Dion.
"Dasar Vim, diambil sendiri olehnya. Si Laras." Celetuk Edo pada Dion.
"Kau menyukainya huh?"
"Betul."
"Masih banyak perempuan lain man."
"Salah atau tidak, seleraku mirip Vim. Type seperti Laras."
Edo terus memandangi Vim dan Laras dari kejauhan. Dia tidak mungkin merusak kebahagiaan sahabatnya itu.
"Bukan salah kau man. Masih banyak perempuan seperti Laras. Ayolah semangat."
"Kau lihat dia cantik sekali."
"Ya.Ya. Simpan kekagumanmu di depan Vim, oke."
Dion menepuk pundak Edo. Bersamaan mereka melangkah menuju ke arah Vim dan Laras berada. Di sana mereka mengucapkan selamat dan berangkulan satu sama lain layaknya seorang sahabat kecuali Laras.
"Aku tunggu berita baik dari kau. Seperti ini." Ucap Vim pada Edo.
"Doakan aku." Balas Edo.
Di antara mereka bertiga hanya Edo yang belum mempunyai istri. Dion sudah memiliki seorang anak berumur dua tahun. Kemudian mereka mengambil poto bersama. Edo memilih berdiri di sebelah Laras sedangkan Dion berdiri di sebelah Vim.
"Oke..smile. One, two, three..!"
Fotografer memberi arahan. Senyuman mereka mengembang sempurna. Ceklek. Ceklek.
"Nice.''
Setelahnya Edo dan Laras pamit pulang. Para tamu masih belum seluruhnya pulang. Menjelang sore baru tempat acara telah sepi menandakan acara hari ini telah berakhir.
Tenda dan semua perlengkapan yang berhubungan dengan acara sedang dibenahi. Laras dan Vim berada di dalam kamar. Vim membaringkan tubuhnya di atas
Springbed besar yang masih baru.
Setengah dari isi ranjang adalah hantaran-hantaran atau seserahan yang dibawa saat mengiringi Vim ke rumah Laras tadi pagi.
Sebulan lalu perlengkapan kamar itu dikirim Ibu Maharani ke rumah Laras. Untungnya kamar Laras yang tidak terlalu besar cukup muat menampung kasur modern nan empuk itu beserta lemari tiga pintu dan meja rias.
Di depan meja rias, Laras sedang membersihkan make up. Bagian atas dahi diberi bandana. Rambut
nya dibiarkan tergerai jatuh.
Vim menelungkupkan tubuhnya. Aliran udara dari kipas angin tak mampu melenakan Vim. Masih terasa udara panas karena tidak ada AC di rumah Laras.
"Aku akan memanggil tukang AC. Bagaimana aku bisa tidur Ras?"
Dengan tidak merubah posisi, Vim mengajak Laras bicara. Laras mengerti maksud Vim. Kamar Laras memang sempit dan panas buat Vim.
"Kau dengar apa yang kukatakan? Laras.." Panggil Vim.
"Dengar mas."
"Aku mau pipis Laras."
"Mas tahu kan rumahku. Ke kamar mandi melewati dapur dulu."
"Ayolah."
Laras menolehkan wajah ke tempat Vim berada.
"Apa aku harus menemani mas ke toilet?"
"Maksudku tunjukkan aku toiletnya Laras."
__ADS_1
Vim mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Di depan masih ada halaman yang bisa diambil untuk menambah besar ruangan ini.
"Aku akan meminta ayah membesarkan ruangan ini. Lalu membangun kamar mandi di dalamnya. Kelak anak-anak leluasa berkumpul di sini."
Anak-anak? Dia sudah memikirkan anak-anak.
"Katanya mau ke toilet."
"Ya. Aku menunggumu. Bawakan handukku Ras"
Laras pun berdiri, mengambil handuk Vim lalu mengantar Vim ke belakang. Di depan kamar mandi Laras menyerahkan handuk yang dipegang.
Masih ada sanak keluarga Laras yang berada di rumah itu. Saling bertukar cerita diselingi senda gurau. Keluarga Pak Dewantara juga masih berada di sana termasuk Vadli dan Viky beserta keluarga kecil mereka.
Selesai membersihkan diri, Laras dan Vim berkumpul bersama, duduk di atas bentangan karpet yang resik.
"Tante.. Arika boleh duduk di sini ya tante."
Arika anak dari Viky mendekati Laras dan duduk di pangkuannya. Kata-katanya belum terucap sempurna. Umurnya baru tiga tahun.
"Boleh sayang. Sini."
"Tante tantik."
"Arika juga cantik. Sudah makan belum?"
"Sudah."
Arika bernyanyi cicak-cicak di dinding. Lalu bangkit dari pangkuan Laras dan berpindah ke pangkuan Vim. Menyandar manja pada Vim.
"Oom kapan kita beli es klim."
"Arika mau es krim?"
Arika mengangguk. Rambut yang diikat dua dengan hiasan pita
menjadikannya semakin imut.
"Arika sini sayang. Oom capek nak."
Arika mengabaikan panggilan sang mama. Dia memainkan hp Vim. Kedua sepupu Arika, anak dari Vadli sedang duduk manis di samping mamanya. Usianya sudah lebih banyak dari Arika.
"Di rumah eyang banyak es krim tuh."
"Arika..'' Panggil sang mama lagi.
"Es klim dulu Oom."
"Iya kapan-kapan kita beli sama tante ya."
"Hole..hole..oom baik deh!"
Arika bangun dari duduknya dan menghampiri sang mama dengan riang. Disambut mamanya dengan kecupan di pipi.
Malam semakin merangkak naik. Pak Dewantara mewakili keluarga berpamitan pulang. Ayah, Ibu, Vim dan Laras mengantarkan sampai ke depan.
"Tinggal ya Vim."
"Ya mi. Dekat saja kok mi."
Vim mencium tangan Ibu Maharani dan memeluknya.
"Mami istirahat ya. Jangan sampai tensi Mami tinggi karena kecapean."
"Kamu juga. Besok masih ada acara."
"Hmmm."
Gantian Laras mencium tangan dan pipi Ibu Maharani yang sekarang menjadi Ibu mertuanya.
"Mami istirahat."
"Kamu juga sayang. Kalau Vim rewel, jewer saja telinga ya."
Canda Mami disambut senyum yang lebar oleh Laras. Mereka semua masuk ke dalam rumah. Lampu-lampu ruangan telah dipadamkan kecuali kamar tidur.
Bersiap ngaso.
Semua seserahan di atas ranjang, di turunkan Vim, diletakkan tepat di bawah jendela. Ada sembilan keranjang. Laras yang memilih keranjang-keranjang anyaman itu.
Sekarang tempat tidur menjadi lapang.
Vim menghempaskan tubuhnya. Laras tak ada pilihan lain selain tidur di samping Vim setelah memakai piyama yang sama dengan punya Vim.
__ADS_1
"Siapa yang memilih piyama ini?"
"Aku. Kenapa?"
Klasik seperti yang memilih.Vim bertanya begitu Laras baru saja merebahkan badan di samping
nya. Baginya piyama itu terlalu klasik untuk pengantin baru seperti mereka. Tubuh mereka tertutup rapat terutama Laras.
"Kapan kau membelinya?"
"Maaf mas aku lupa mencatat piyama ini waktu kita belanja. Jadi aku membelinya sendiri waktu menemani Ibu belanja."
Tentu saja Vim tidak akan memilihkan piyama untuk Laras tapi gaun tidur nan indah lagi sexy yang akan dibelikan.
"Mari tidur. Sudah larut malam."
Vim tidak serta merta mengiya
kan. Matanya belum mau diajak tidur.
"Kau tidurlah. Apa perlu kiss malam?"
Laras merasa jengah mendengar penuturan Vim. Pipinya memerah semu tanda malu.Dia membalik
kan badan membelakangi Vim.
Vim masih kaku malam ini. Tadi pagi sebelum ijab kabul, bayangan Aurora sering hadir berkelebat di depan matanya. Begitu tiba-tiba. Dia masih sering mengganggu.
Untungnya saat ijab kabul bayangan itu tidak mengganggu Vim hingga ijab kabul diucapkan Vim dengan lancar.
Jauhi aku Aurora. Kau telah bahagia di sana dan aku baru mulai meraih kebahagiaan itu.
Aku ingin cintaku utuh untuk Laras, jangan membayang-
bayangiku lagi.
Vim sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ras."
Hening tanpa jawaban.
"Laras. Aku lapar."
Tetap hening tanpa suara balasan. Vim mendekati istrinya yang tidur menyamping. Cepat sekali dia tertidur. Matanya terpejam bibirnya yang tipis mengatup rapat. Tanpa ragu Vim mengecup pipi Laras di hadapannya.
Vim menahan rasa laparnya dan memilih tidur. Entah bisa atau tidak. Mulai mengosongkan pikirannya dan sedikit meditasi dengan memejamkan mata. Tak berapa lama Vim sudah terlena dalam tidurnya.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima pagi kala Vim terbangun dari tidur. Tempat mandi di rumah ini tidak bisa membuat Vim memilih air hangat dengan segera sebab kamar mandi tidak didesain dengan peralatan pemanas air. Harus menjerang air dulu di atas kompor. Selain itu kamar mandi berada jauh di belakang.
Vim melangkah ke dapur. Ia mengira belum ada pergerakan di dapur. Tetapi Vim keliru sebab Ibu sudah beraktivitas di sana.
"Pagi bu." Sapa Vim pelan.
"Eee Vim. Sudah bangun."
Vim menuju kamar mandi dan membasuh muka serta menggosong gigi.
"Bu ada mi nggak?"
"Maksudnya mi instan? Vim mau?"
"Kalau ada."
"Ini loh banyak makanan. Ibu mau panaskan dulu."
"Nggak apa bu. Mi instan saja. Saya buat sendiri."
"Laras belum bangun ya?"
"Belum. Biarkan saja Laras istirahat bu."
"Ya sudah kalau begitu. Ini mi dan telor. Di kulkas ada sedikit sayuran buat tambahan ya."
"Baik. Terima kasih bu."
Vim mulai memasak sambil membuat teh tawar. Makanan tidak dimakan di situ tetapi di kamar menggunakan nampan.
Di depan meja rias Vim menyuap makanannya.
Sesudahnya Vim berjalan ke luar rumah. Di pagi yang masih hening Vim menghirup segarnya udara pagi. Sendirian mengelilingi halaman rumah itu yang luasnya melebih rumah itu sendiri.
Saat mereka kecil Vim dan Vano sering bermain bersama Laras di rumah itu hingga mereka dewasa. Dibenak Vim muncul sebuah ide untuk menjadikan rumah itu lebih besar lagi. Ia akan meminta ijin pada ayah.
__ADS_1