Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 67. Perdebatan.


__ADS_3

"Devan kau sudah besar sayang hmmm." Laras mengelus pipi Devan bayi Anggia dan Dion yang digendong oleh Anggia. Bayi mungil itu sekarang telah berumur dua tahun lebih. Tubuhnya gempal dan keras.


Devan mengibaskan kedua tangannya seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Laras.


"Sayang.. tante Laras takkan kuat menggendongmu nak." Ucap Anggia menenangkan Devan yang ingin menggapai Laras.


"Hahaha kau kangen tante ya. Sama sayang tante juga kangen padamu." Kata Laras lagi. Kemudian mencium pipi baby Devan nan lembut.


Devan mengeluarkan suara teriakan khas anak kecil membuat suasana menjadi ramai.


"Kalau tante sehat tante akan menggendongmu anak baik. Uuluu..uuluu pipinya." Laras serasa ingin mencolek pipi devan. yang mengembang seperti roti.


Anggia mengajak Laras masuk ke dalam rumahnya. Sebuah ruangan keluarga yang hangat menanti mereka. Devan fokus pada mainan an yang diberikan padanya.


"Dion di ruangan kerjanya, Vim. Edo ada di sana." Tunjuk Anggia pada Vim.


"Oo oke." Vim pun berjalan menuju ruang kerja Dion.


"Mbak.. badan Devan aku speechless deh." Laras masih terkagum-kagum melihat Devan. Lalu ia membayangkan memiliki anak yang sehat seperti Devan.


"Syukurnya Devan selalu enak aja selera makannya Ras. Kecuali saat sakit, Devan akan selalu menghabiskan makanannya." Cerita Anggia.


"Syukurlah. Anak baik anak pintar sehat selalu ya sayang." Cuuup. Laras menyium Devan.


Ia mengambil bola kecil milik Devan yang menggelinding lalu


mengembalikan pada Devan.


"Gimana keadaanmu Laras?" Tanya Anggia.


"Baik-baik saja mbak." Jawab Laras.


"Wajahmu sedikit pucat." Anggia mengamati wajah Laras.


"Biasa kok mbak...hanya sedikit pusing."


"Sudah periksa dan minum obat?" Tanya Anggi lagi.


"Tidak mbak."


"Looh pergi periksa ke dokter Laras. Siapa tahu kamu sedang mengisi. Maksudku hamil." Saran Anggia selanjutnya. Laras mendengarkan saran Anggia dan memberikan senyuman.


"Baiklah mbakku. Terima kasih perhatianmu padaku."


Kemudian Anggia bercerita saat pertama kali ia mengalami kehamilan.


"Saat hamil Devan, sebelumnya aku tidak mengetahui jika aku sedang hamil. Aku bodoh sekali. Dua bulan tanpa tamu bulanan, aku tidak curiga sedikitpun jika ada yang berubah dalam tubuhku. Apalagi aku tidak merasakan mual dan muntah."


Laras menelan saliva. Mirip. Apa yang terjadi pada Anggia dirasakan pula oleh Laras.


"Mbak merasa pusing nggak?"


"Kadangkala tapi jarang. Sangat enak waktu hamil Devan. Hanya di saat tertentu saja aku merasakan tubuhku lemah tapi aku masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Tentunya aku membatasi gerakku. Melakukan apapun lebih hati-hati."


Laras manggut-manggut. Ia bisa mengambil contoh dari cerita Anggia.


"Iya mbak. Aku jadi bisa mengambil pelajaran nih."


Devan mulai bosan dengan mainannya. Suara rengekan terdengar dari mulut mungil Devan. Sesekali Devan mengucek mata pertanda ia mengantuk.

__ADS_1


Anggia sudah hafal kebiasaan Devan bila sedang mengantuk.


Anggia membawa Devan ke pangkuannya. Diusapnya wajah Devan.


"Kau mengantuk sayang? Kita tidur ya. Onty..Devan bobok siang dulu ya." Ucapnya kemudian kepada Laras.


"Iya sayang." Jawab Laras.


"Aku tinggal dulu ya Ras. Makanan telah kuhidangkan di meja makan. Ajaklah mereka makan." Pesan Anggia.


"Tunggu mbak saja. Aku mau mengantarkan jajanan yang kubeli tadi kepada mereka. Mereka asyik sekali kelihatannya."


"Iya masih di dalam. Kalau sudah mengobrol bisa lupa waktu. Maklum mereka akrab sejak remaja. Aku tinggal ya..Devan rewel banget."


"Iya mbak." Laras melihat Anggia berlalu memasuki kamar.


Laras mengambil camilan yang ia beli tadi dan mengambil toples di meja makan yang kebetulan tidak ada isinya. Meletakkan potongan kek gulung ke dalam piring.


Ia pun berjalan memasuki ruangan kerja Dion. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan. Suara berisik terdengar. Sepertinya mereka beradu pendapat.


Dari kaca persegi yang menempel di pintu Laras bisa mengintip tiga orang sahabat dengan posisi berdiri berlawanan arah sedang berbicara. Dion sedang memperhatikan dua sahabatnya di dalam sana.


Tangan Laras urung mengetuk pintu. Langkahnya terasa berat untuk masuk ke dalam. Mereka bertiga terlihat serius dan ia menajamkan pendengarannya.


"Kenyataannya begitu. Kau menyimpan rasa pada Laras."


Deg. Laras merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Namanya disebut. Yang terdengar barusan adalah suara Vim.


"Rasa itu sulit dihilangkan. Hadir begitu saja tapi tidak mau pergi dengan mudah." Balas Edo beralasan.


Jantung Laras semakin berdebar. Barusan yang didengarnya adalah suara Edo. Ia mendadak pusing. Mereka membicarakan tentang dirinya.


"Harusnya kau sadari Laras bukan single dan dia milikku, sahabatmu!" Suara Vim meninggi.


"Laras sebagian jiwaku. Jika ia pergi dariku, aku akan mati Ed. Kau senang melihatku menderita??"


Laras bersandar pada pintu. Ia menguatkan hati agar tangisannya tidak pecah. Mereka berseteru karena dirinya. Dua sahabat kini beradu mulut. Laras mengusap hidungnya yang basah. Berusaha sekuat hati menahan agar air mata tidak jatuh. Baginya ini adalah sebuah pukulan palu yang menghantam dadanya.


Braaaakk. Suara meja dipukul keras. Edo terlihat marah.


"Jika aku tega padamu, Laras sudah kubawa pergi sebelum kalian menikah. Dengarkan, aku merelakan hatiku demi melihat kau bahagia! Camkan itu Vim!"


Suara Edo bergetar. Menurutnya ia telah mengorbankan hatinya untuk kebahagiaan Vim. Mengalah pada takdir.


Semoga saja suara itu tidak menyentakkan ketenangan Devan yang sedang tidur, batin Laras.


Edo mengusap hidungnya. Matanya memerah menahan air mata. Luka dan perih menganga. Itulah kenyataannya bahwa ia harus merelakan harapannya. Membuang rasa suka dan cintanya jauh-jauh.


"Dengarkan! Kau dan Laras adalah temanku. Aku tidak akan menjauhinya. Bahkan mungkin aku melindunginya karena Laras istimewa, karena hatinya terlalu lembut. Cukup Laras tidak menjadi milikku tapi jangan larang aku untuk berteman dengannya. Kau tak bisa mendikteku!" Edo bicara lagi. Masing-masing dari mereka tidak mau mengalah.


"Ed bisa kau mundur sedikit saja? Jaga jarak dengan Laras."


Dion menimpali. Dia selalu menjadi pendengar dan penengah pertengkaran mereka.


"Aku sudah membatasi hatiku. Kalian saja yang tidak mempercayaiku." Edo membela diri. Membelakangi kedua sahabatnya.


"Lantas sampai kapan kalian akan bertengkar begini?? Sejak sekolah kalian belum pernah seperti ini. Vim kendalikan emosimu. Percaya sama Edo, Vim. Kau Ed cari wanita lain." Dion berkata panjang lebar.


Kreeek. Pintu terbuka.

__ADS_1


"Jadi aku yang menyebabkan kalian seperti ini bukan?!"


Air mata yang mengambang di pelupuk mata Laras kini luruh. Bergantian mengalir. Pedih melihat kenyataan di depan matanya ini.


"Laras!"


Ketiga mereka menoleh bersamaan. Laras mengusap air mata yang turun bergantian.


"Mengapa kalian seperti ini. Mas Vim kau masih meragukanku??"


Sedu sedan Laras menyayat hati ketiganya. Baginya ini sangat menyakitkan. Pertengkaran karena kehadiran dirinya di antara mereka.


"Bukan begitu Laras." Vim mendekati Laras.


"Kalau kalian masih seperti ini, aku pergi! Hiiiks." Ancam Laras. Perkataan yang keluar saat emosi kadang di luar akal pikiran sehat.


Laras memutar badan dan keluar dari ruangan itu. Duduk di sofa ruang keluarga dan mengusap air mata berulang kali. Ia benar-benar sedih.


"Laras..kau kenapa?" Tanya Anggia dengan wajah bingung. Ia baru saja menutup pintu kamar.


"Laras.. berhentilah menangis. Cuuup." Anggia mengelus punggung Laras. Menenangkan wanita yang lebih muda darinya itu.


"Mereka.. mereka bertengkar karenaku mbak hiiiks. Kenapa mereka harus bertengkar mbak..hiiks..hiiiks."


"Vim dan Edo?? Biasa Laras. Kau tidak usah takut. Mereka akan kembali seperti biasa. Tetap bersahabat." Tatapan menyalahkan dari Anggia menghujam Vim dan Edo.


"Aku perusak hubungan mereka kan mbak?" Tanya Laras.


Dion, Edo dan Vim sudah menyusul Laras di ruangan keluarga beberapa menit tadi. Memberi kesempatan pada Anggia untuk menenangkan Laras.


"Berhentilah menangis. Kau akan pusing. Vim, kau tahu Laras sedang sakit kepala? Mengapa kau buat seperti ini?" Anggia menunggu jawaban Vim.


"Sakit kepala? Aku tidak tahu. Aku..aku tidak bermaksud apa-apa atas semua ini. Laras masuk di saat kami adu mulut."


Uraian Vim menanggapi Anggia.


"Sekarang bagaimana? Apakah kalian masih akan bertengkar saat bertemu??" Tanya Dion tegas.


"Tidak. Demi persahabatan dan Laras." Vim menjawab.


"Tidak." Edo menjawab singkat.


"Bagus. Aku tak mau melihat pertengkaran lagi. Kita bersaudara. Saling menjaga, oke?!"


Vim dan Edo hanya mengangguk.


"Kalian sudah kenyang bertengkar? Pasti lapar bukan? Ayo kita makan." Ajak Anggia selanjutnya.


Beriringan mereka menuju meja makan. Vim dan Laras masih berada di situ.


"Maafkan aku membuatmu menangis. Kita makan ya." Pujuk Vim pada Laras.


Laras menggelengkan kepala. Ia tidak berselera makan. Kesedihannya belum surut. Vim yang melihatnya merasa aneh. Melihat ia dan Edo bertengkar saja sesedih itu pikirnya.


"Menghormati Anggia dan Dion, mari kita makan Laras." Vim memegang kedua bahu Laras. Mengajaknya berdiri. Mereka menyusul ke ruangan makan. Suasana menjadi kaku tapi suatu saat ke depan akan kembali menjadi akrab seperti biasa. seolah tak pernah terjadi apa-apa


🌹🌹🌹


Haii..disempatkan up disela-sela kesibukan. Semangat menyelesaikan novel ini.🤗😊

__ADS_1


Readers..like, komen, gift dan vote menjadi penyemangat othor.❤️


Tetap hadir di sini ya..trims 💕😍


__ADS_2