Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 119. Pilihan.


__ADS_3

"Maafkan Nyonya, Larasati tidak bisa diganggu. Nyonya bisa tunggu di luar."


Risa mencegah Aurora menemui Laras. Mukanya yang memerah menyiratkan gelagat tidak baik.


"Hhhhh siapa dia tidak bisa diganggu!?" Bentak Aurora. Dia memaksa masuk ke ruangan kerja Laras.


Aurora sangat cantik tapi kecantikan itu hilang karena matanya menatap Risa dengan garang. Ditambah bentakannya kuat seperti suara petir.


"Dia kepercayaan Tuan Roni."


Ucapan Risa bukan membuat Aurora takut. Sebaliknya dia menerobos masuk. Laras sontak terkejut.


"Oh jadi ini salah satu cara mendekati Roni?! Kemarin Vim kau kuasai. Sekarang Vim cacat, kau dekati Roni. Bagus ya!!"


Aurora memandang Laras penuh kebencian.


Braaaaaakkkkk.


"Heh jaga mulutmu! Ngomong sembarangan! Siapa mendekati siapa!?" Laras menggebrak meja. Makhluk di depannya ini membuat emosi Laras terpancing. Memang dari awal Laras terlanjur tidak suka dengan Aurora. Apapun alasannya tetap saja tidak suka. Takkan pernah berubah perasaannya itu.


"Belum tau diri juga hhhh? Sesudah Vim bankrut, kau tinggalkan dia. Dasar wanita murahan."


"Vim sanggup memberikan banyak perhiasan dan itu artinya aku perempuan mahal. Kau dapat apa dari Vim??!"


"Sombong! Kau hanya mendapatkan bekas. Jangan kau pikir kau bisa memikat Roni."


"Hei aku tidak perlu menarik perhatian lelakimu itu. Dia mendekat tanpa kurayu, tahu!"


"Ciiiiiiih. Dasar murahan."


"Jaga mulutmu dan tinggalkan tempat ini!" Perintah Laras.


"Kau yang harus pergi dari sini."


"Kenapa jika aku tetap di sini? Kau takut lakimu berpaling?"


Rasa cemburu menguasai diri Aurora.


"Karena kau suka merebut milik orang lain."


"Oya? Hahaa...aku tidak pernah merebut Vim darimu. Kau sendiri yang meninggalkan Vim. Sekarang keluar dari sini!" Usir Laras.


Aurora tidak mundur begitu saja. Ia mengancam Laras, "Aku beri waktu kau pergi dari sini. Jika tidak...."


"Jika tidak, kenapa? Jangan harap kau mendapatkan Vim lagi. Urus saja lakimu!"


"Wanita ******!"


"Aura berhenti! Mengapa kau di sini?"


Roni datang tiba-tiba. Keheranan dengan kemunculan Aurora


"Aku... Aku mencarimu."


"Mengapa kau mencariku? Sudah, jangan banyak alasan. Tinggalkan tempat ini."


"Aku pergi dari sini? Seharusnya kau yang pergi dari sini sebelum perempuan ini menggodamu."


"Tutup mulutmu!!" Bentak Laras.


Roni angkat suara, "Apa pedulimu? Bukankah selama ini kau tidak pernah mengurusku. Apa pentingnya kau mengurusku? Surat kita sedang diurus."


"Huuuuhh kau pasti termakan rayuannya. Kau ke sini karena dia kan??!" Aurora menuding Laras. Matanya berapi-api seolah akan menerkam Laras.


"Kalau iya kenapa? Kau takkan rugi sebab uang untuk anakku tetap mengalir. Hitungan yang tak masuk akal." Roni mencebik.


"Kau tetap ayahnya, kau bertanggung jawab untuk itu. Entahlah jika perempuan ini menguasaimu nanti." Aurora terus memfitnah Laras.


"Selesaikan urusan kalian di luar. Jangan di ruanganku. Pak Roni, tolonglah,"pinta Laras.


"Pergi Aurora. Aku tak mau tahu urusanmu dan jangan ikut campur urusanku lagi,"kata Roni.


"Dasar wanita ******,"umpat Aurora.


Lalu Aurora pergi dengan wajah cemberut dan kata-kata makian.


"Saya ingin sendiri Pak Roni."


"Aku tidak akan mengganggumu." Roni justru duduk di ruangan itu. Laras mengatupkan kelopak mata. Makhluk satu ini kapan menghilang dari hadapannya.


"Anda sering di kota ini Pak?"


"Kota yang istimewa. Hatiku tertambat di sini."


"Maaf Pak, pekerjaan saya belum selesai."


"Selesaikan saja. Laras, bagaimana keadaan Vim?" Inilah yang tak diinginkan Laras. Roni mengajaknya berbincang meskipun Laras tak ingin berbicara banyak apalagi tentang hal pribadi.


"Dia baik-baik saja."

__ADS_1


"Titip salamku padanya. Sampaikan kau sangat dekat denganku. Apa dia tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali?" Laras muak mendengar ucapan Roni. Sangat pintar melecehkan.


"Bapak bilang aja sendiri." Laras berkata sambil menulis. Diacuhkan Laras saja si Roni masih bertahan di ruangan Laras.


"Aku nggak punya nomor handphonenya."


"Ya sudah Pak."


"Sudah saatnya ke pameran lukisan dengan Pak Bowo. Kau mau ikut?"


"Tidak Pak. Terima kasih."


Laras mengambil tas kerja dan hendak keluar ketika Roni mencegatnya.


"Kau cantik. Sayang suamimu tak berdaya. Aku bisa memenuhi kebutuhanmu."


"Maaf Pak. Itu bukan tujuan saya sekarang. Permisi."


Laras melenggang pergi. Roni membiarkan Laras keluar. Sikap Laras yang acuh dan sulit digapai membuat Roni kian tertarik.


...ΩΩΩ...


Laras baru saja menginjak kaki di pelataran parkir. Edo setengah berteriak memanggil Laras.


"Ada apa kakak di sini? Kenapa berada di sini?"


"Jutek amat sih. Bukannya diajak masuk, atau diajak makan. Ketus amat."


"Sudah tahu jutek masih kemari juga." Laras mencebik.


"Ya aku kan kangen sama kamu."


"Aku sudah dengar. Aku mau pulang."


"Nah kan aku baru tiba di sini dan kau mau pulang."


"Sudah waktunya pulang kakak. Please deh...kalau nggak ada yang penting aku pulang nih."


Edo melihat kesedihan di mata Laras. Laras berusaha menutupi tetapi pancaran di netranya tidak bisa berbohong. Benar memang fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.


"Ada apa? Katakan padaku."


"Tidak ada." Laras mengelak. Fitnah Aurora masih terngiang di telinga Laras. Kejam dan menusuk hati.


"Laras mommy kangen padamu. Katanya ingin bertemu. Kau mau?"


Laras menimbang. Lebih baik keluar sebentar menghilangkan gusar hati. Bertemu Tante Morina supaya terhibur.


"Masuklah. Aku panggilkan mommy."


Edo masuk ke ruangan belakang dan muncul dengan Morina ibunya.


"Hai sayang...gimana kabarmu. Cantik, Tante kangen sekali!" Morina memeluk Laras.


"Baik Tante. Tante gimana? Sehat kan?"


"Ya ya Tante sehat. Kau tidak pernah kemari. Tante kesepian sekali. Rumah ini tidak ada anak ceweknya."


"Laras bekerja sekarang Tante. Pagi sampai sore." Tidak bekerja pun ia sibuk mengurus keluarga kecilnya.


"Bagaimana keadaan Vim?"


"Vim masih sakit mom. Dia terapi." Edo yang menjawab.


"Begitu. Duduklah. Tante ke dalam dulu."


Morina ke dalam. Keluar lagi dengan kudapan di tangan.


"Kamu pasti lapar. Ini dimakan."


"Ya Tante. Makasih."


"Laras, kamu bisa bekerja di tempat oom jika mau. Tante bisa sampaikan pada oom."


"Bukan Laras tidak mau Tante tapi Laras sudah terbiasa di situ." Dan bayarannya lumayan besar, tambah Laras dalam hati.


"Terbiasa melihat Roni," timpal Edo. Laras bersungut mendengarnya.


"Yang jelas uangnya, kak."


"Oh besar ya gajinya. Di tempat oom bisa disesuaikan Laras. Tante bisa ngomong sama oom."


"Nggak usah Tante. Makasih."


Merepotkan tante Morina saja nantinya dan Laras berhutang budi. Laras menolak.


"Mau ditolong kok nggak mau. Laras...Laras." Edo menggeleng.


Triit... triit... triit...triit.

__ADS_1


"Handphone Tante. Sebentar ya Laras."


"Baik Tante."


"Habiskan Ras. Sama mami makanan yang diberikan harus habis." Senyum Edo mengembang.


"Bantu kak. Banyak nih."


"Aku tidak suka itu."


Laras menarik nafas mendengar ucapan Edo. Sesungguhnya Edo hanya bercanda.


"Yaaah ya udah. Aku kenyang kok."


"Ya sudahlah." Edo tertawa lepas.


"Kan bercanda kan?" Laras mendelik.


"Hahaaa hidup terasa hidup denganmu. Kau lucu. Eh Ras...mengapa kau bertahan dengan Vim. Tidak niat menikah lagi?"


"Apaan sih kak. Satu saja seumur hidup," jawab Laras.


"Yakin? Belum tahu Vim sembuhnya kapan, masih mau menunggu?"


"Ya dong. Kan setia."


"Kau muda Laras. Masih bisa dapat yang lebih kaya dari Vim. Vim sekarang bukan Vim yang dulu."


Laras menatap Edo tanpa kedip. Memberi peringatan pada Edo atas ucapannya.


"Memang benar kan. Tinggalkan Vim. Kau bisa bahagia denganku."


"Apa? Jadi ini maksud kak Edo membawaku kemari? Teganya Kakak. Kalian bersahabat."


"Aku tak tega melihatmu seperti ini. Menjaga diri dari Roni dan berjuang keras mempertahankan hidup."


"Berarti bukan cinta kan? Sudahlah lupakan kak?"


"Laras aku menyukaimu. Menyayangimu."


"Tidak pada tempatnya kak karena aku sudah berkeluarga." Laras berdiri. Mulai gerah berada di dekat Edo. Omongan Edo ngelantur.


"Aku tidak butuh belas kasihan. Terima kasih atas perhatian Kak Edo. Pamitku pada tante."


"Kau salah Laras. Bukan belas kasihan. Aku menyintaimu."


Laras tak mampu menatap Edo. Yang ada di pikirannya hanyalah pulang dan menjauh dari Edo. Keadaan ini tak boleh dibiarkan berlanjut. Edo serius berkata-kata. Laras tidak mau berpaling dari Vim. Bagaimana perasaan Vim jika Laras meninggalkannya, pergi dengan lelaki lain dan lelaki itu adalah Edo, sahabatnya. Laras tak sanggup membayangkan. Hal ini akan menjadi pengkhianatan paling besar buat Vim.


"Aku tidak bisa kak. Maaf. Aku mau pulang."


"Sebentar lagi." Edo menahan Laras.


"Tidak bisa Kak. Vian menungguku."


"Menginaplah satu malam di sini." Laras menoleh. Mana mungkin?


"Dengar Kak, mas Vim sakit. Menjadi fitnah jika aku terlalu bebas berkeliaran di luar apalagi di rumah seorang lelaki lain. Bukan saudara lagi. Aku tak mau keluargaku menanggung malu mendengar fitnah yang menyebar. "


"Jangan terlalu dipedulikan. Orang hanya mampu melihat apa yang terlihat, Laras. Yang penting tidak melakukan seperti yang mereka pikirkan."


"Makasih nasehatnya Kak. Jaga tante baik-baik dan berikan Tante, menantu yang baik. Aku ikut senang juga," kata Laras.


"Aku tahu. Aku antar ya. Tinggalkan saja mobilmu nanti kubawa ke rumahmu."


"Jangan kak dan tolong Kak Edo lupakan aku."


"Kejam sekali. Mana bisa Laras."


"Bisa aja. Jangan datang ke tempatku lagi sampai mas Vim pulang." Mereka berjalan ke luar rumah.


"Tega sekali ckk."


"Harus! Tidak boleh ada apa-apa antara kita. Buang aja rasa yang ada. Kak Edo adalah kakak bagiku." Laras tegas.


"Hhhh buang ke laut."


"Benar. Bye kak. Semoga kakak menemukan yang lebih baik dari aku."


"Dengan wajah berbeda." Edo menelan Saliva. Kecewa hadir lagi. Gagal mengalihkan hati Laras. Laras teguh pada pendiriannya.


"Tentu saja karena aku tidak punya kembaran. Jaga diri ya kak."


"Jaga diri Laras."


Entah kapan kita bertemu lagi. Kau terlalu sulit kujangkau. Kesetiaanmu terlalu dalam.


Edo tak ingin mengalihkan pandangannya hingga Laras pergi. Tangan keduanya melambai. Merelakan lebih baik daripada terus berharap dan bertepuk sebelah tangan. Edo masuk ke rumah dengan gontai.


πŸƒπŸŒΎπŸƒπŸŒΎ

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan Like, fav, komen, gift, vote dan bintang lima. Terima kasih readers.πŸ’πŸŒ·πŸ’ž


__ADS_2