
"Kau baik-baik saja Vim?" Aurora menyapa saat mereka bertemu di pintu ruang rapat di kantor Vim.
"Yeaah tentu saja. Laras selalu mengurusku."
Aurora melirik kesal mendengar nama Laras. Vim mengambil posisinya. Begitupun Aurora. Tidak banyak yang mereka ucapkan karena peserta rapat telah berdatangan.
Karena pak Arison berhalangan hadir dan diwakili oleh Aurora, Vim memimpin rapat. Mempersilahkan produsen produk berbicara terlebih dahulu. Lalu Vim menyampaikan sasaran yang akan dicapai. Memberikan waktu kepada peserta rapat untuk bertanya dan terakhir mengakhiri rapat. Selesai rapat Vim mengajak tamunya makan siang bersama.
"Kau sekarang telah berubah Vim. Tidak lagi ramah." Aurora berkata setelah para tamu pulang. Ia menunggu kesempatan berbicara dengan Vim.
"Aku bukan Vim yang dulu."
"Laras membuatmu berubah."
"Laras membuatku berdiri kokoh. Tidak seperti kau membuatku hancur."
Aurora tertunduk menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Kau tidak tahu bagaimana keadaanku setelah kau pergi. Kau ingin aku mati kan?" Wajah Vim mulai menegang. Guratan kecewa dan sakit hati terpancar di wajahnya. Luka kembali perih saat berhadapan dengan Aurora.
"Vim aku merindukanmu."
"Omong kosong. Terlambat semua Aurora.
"Aku tak pernah melupakanmu. Aku pernah hidup bersamanya tapi aku selalu memikirkanmu."
Tapi Vim bukanlah orang yang mudah dibujuk rayu. Sekali saja hatinya patah ia takkan bisa menerima seperti semula. Rasa di hati akan berbeda. Tidak sama dengan rasa di awal kebersamaan. Aurora mencoba menyentuh hati Vim. Momen ini sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja. Ia akan sering bertemu dengan Vim tapi bukan Vim jika menerima dengan mudah apalagi Aurora sudah pernah bersama Rony.
"Jangan berharap lagi Aurora. Besarkanlah Rafli dengan baik. Dia amanah dari Tuhan."
"Aku tidak tahu diri ya masih mengharapkanmu."
"Kalau gitu alihkan hatimu pada orang lain demi masa depan Rafli."
"Aku tidak bisa." Aurora menyanggah.
"Kau bisa. Kau bisa melupakanku, kenyataannya ada Rafli. Bukti cinta kalian. Pekerjaanku menungguku Aurora."
"Viimm..!!"
Vim berlalu begitu saja. Tiba-tiba ia merindukan Laras. Ingin menjemput Laras dan mengajaknya pulang tetapi sayangnya pekerjaan menunggu untuk diselesaikan.
Waktu berlalu terlalu lambat dan mulai membosankan. Joel masuk membawa setumpuk map lagi.
"Masih ada??"
"Hanya ini tuan."
"Oh Joel bantu tanda tangan."
"Andai saja tanda tangan saya berlaku tuan, dengan senang hati karena gaji akan menambah isi dompet saya."
"Dasar kau."
"Tuan mau dibelikan apa. Saya mau ke sebelah." Maksud Joel ke lokasi penjual berbagai makanan di sebelah kantor.
"Joel semangkuk printilan jagung direbus campur keju, susu dan coklat."
"Baik tuan."
"Ambil uangnya ini."
__ADS_1
Joel menerima uang dari Vim. Tidak mengerti mengapa bos nya ini tidak suka minuman manis tapi sangat suka printilan jagung rebus yang diberi topping keju, susu dan coklat. Bukankah susu pun rasanya manis. Joel mengedikkan bahu.
"Joel."
"Aurora kau belum pulang?"
"Sebentar lagi Joel. Aku betah di sini. Entah apa salahku sehingga dipindahkan ke perusahaan Dion."
Itu karena kau mendekati tuan Vim, ucap Joel pada dirinya sendiri.
"Di sana posisimu juga bagus bukan?"
Aurora menganggukkan kepala.
Tetapi di perusahaan Dion ia tidak bisa menemui Vim lagi. Lelaki di masa lalunya
"Vim sedang apa?" Tanya Aurora kemudian.
"Sedang banyak kerjaan. Sebaiknya tidak didekati. Moodnya sedang tidak bagus dan banyak kerjaan."
"Begitu. Kau mau ke mana Joel." Laras mengikuti langkah Joel.
"Membeli makanan."
"Aku boleh titip sesuatu Joel?"
"Buat siapa?"
"Bosmu itu."
"Vim?? Bukankah kalian sudah makan siang bersama. Itu berarti ia sudah kenyang. Dia tidak membutuhkan makanan lagi."
Joel sengaja menutup celah untuk Aurora agar tidak bisa mendekati Vim lagi. Bagaimanapun Joel menginginkan rumah tangga bos nya itu aman tentram tanpa gangguan pihak ketiga.
"Tidak bisa Aurora. Tanganku sedang tidak bisa menenteng barang." Joel beralasan.
"Ya sudah kalau kau tidak bersedia." Aurora meninggalkan Joel dengan wajah cemberut.
"Pesanannya tuan. Ini kembaliannya." Joel sudah sampai di ruangan Vim lagi.
"Ambil buatmu."
"Terima kasih tuan." Senang rasa hati Joel. Tidak menolak jika diminta untuk membelikan lagi jika sisa uang menjadi miliknya.
"Kau membeli apa?"
"Rujak tuan."
"Rujak??? Ehm enak sekali di cuaca panas begini. Mana_.."
"Rujaknya banyak cabe tuan. Tuan kan tahu saya sangat suka pedas." Joel memotong kalimat Vim. Ia sangat tahu Vim tidak menyukai makanan yang terlalu pedas sedangkan Joel memesan rujak dengan tingkat pedas level satu.
"Dasar kau. Bilang saja tidak boleh diminta." Vim mencibir.
"Tuan berkenan saya belikan?"
"Tidak usah. Perutku sudah mulai penuh tapi kalau icip bolehlah."
"Saya ambilkan tuan."
Joel mengambilkan Vim rujak sepiring kecil. Sedikit sekali. Terlintas dalam benaknya istri tuannya sedang hamil muda lalu Vim yang mengidam apa saja. Siapa tahu.
__ADS_1
"Busyet! Ini terlalu pedas. Ambilkan teh manis Joel."
Joel setengah bingung melihat Vim kepedasan. Keringatnya membasahi tepian rambut di wajah. Padahal rujak itu enak menurut Joel.
"Teh manis. Sa saya buat dulu tuan."
"Akh tidak usah..huuhh haahh huuuhh haaahh."
Vim diam untuk berapa saat sampai bisa mengendalikan rasa pedas yang menusuk-nusuk di lidah.
"Enak kan tuan."
"Tidak sama sekali. Berkasnya sudah selesai semua Joel."
"Baik tuan saya ambil. Tadi saya bertemu Aurora Tuan."
"Terus kenapa?"
"Mau nitip makanan katanya."
"Tidak perlu. Jangan diterima."
"Tidak tuan."
"Bagus."
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tokonya Laras mempersiapkan diri mengantarkan pesanan kain kepada seorang Ibu. Alamat yang diberikan lumayan jauh.
"Aku pergi ya Rin." Pamitnya.
"Hati-hati Ras."
Laras berangkat sendiri. Temannya hanya sepeda motor.
Tibalah ia di alamat yang dituju.
Sebuah gedung bertingkat lumayan tinggi dan megah.Laras menenangkan jantungnya yang mendadak berpacu.
Bertanya pada petugas kantor bagian depan dan menyebut sebuah nama. Ibu Roseli.
"Selamat siang. Saya ingin berjumpa dengan ibu Roseli." Sapa Laras hangat.
"Selamat siang. Ibu Roseli di lantai empat." Kata pegawai wanita dengan penampilan yang menarik dan sempurna. Laras menjadi kagum pada wanita itu. Tidak menyadari bahwa dirinya sendiri pun sangat cantik.
Laras memasuki lift. Ditepisnya rasa malu dan gengsi. Istri seorang pimpinan mengantarkan pesanan. Ia justru merasa bangga pada dirinya sendiri. Menjalankan usaha meskipun jauh dari kata besar seperti milik sang suami.
Tiba-tiba ia menjadi sangat rindu akan Vim. Sedang apa ia di ruangannya. Mungkinkah Vim sedang memikirkannya juga. Laras sangat ingin bermanja pada lelaki itu. Vim pasti tidak setuju mengetahui Laras pergi sejauh ini.
Vim pasti akan melarangnya meskipun Vim mengerti semua itu kehendak Laras.
Di ruangan nan dingin itu Laras menemukan-sekali lagi-wanita cantik. Setelah berbasa-basi sang wanita mengantarkan Laras masuki sebuah ruangan kerja.
Si pemilik ruangan menyambut ramah. Wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang masih memiliki tubuh yang bugar.
Laras menganggukkan kepala tanda menghormati wanita yang telah membeli barang dagangannya. Merekapun saling memperkenalkan diri. Tersenyum ramah dan seketika akrab.
Maaf up sangat lambat..karena disambi kerjaan.
Terima kasih yang sudah suka..
__ADS_1
Like, Comment, Fav, gift & vote lagi yaa..😚💕💕🌹