
Laras kelihatan cantik malam ini. Mengenakan dress barunya dengan make up yang semakin menonjolkan kecantikannya.
Satu persatu anggota keluarga mengucapkan selamat. Dari Ibu dan ayahnya, mami dan papi, sahabat Vim dan juga miss Sissy. Termasuk Anita adik miss Sissy yang diajak kakaknya malam itu. Tak lupa Bibi Am dan Pak Uun juga memberikan ucapan dan do'a kepada Laras. Joel asisten Vim tidak bisa hadir memenuhi undangan.
Acara sederhana namun sangat berarti untuk Laras. Semua perhatian tumpah ruah untuknya. Selesai acara potong tumpeng, berlanjut barbeque. Pak Uun dan Bibi Am di bagian menyiapkan bahan makanan untuk dipanggang.
" Bagaimana pekerjaanmu Ed?" Vim membuka obrolan antara dirinya, Dion dan Edo. Hanya mereka bertiga di situ. Laras sedang bersama miss Sissy, Anggia istri Dion dan Anita.
"Panggilan ke sana sampai akhir bulan ini saja. Tetapi aku pilih di sini." Jawab Edo.
"Kau tidak rindu Kazumi?"
"Aahh jangan sebut dia lagi!. Pengkhianat." Edo menepis pertanyaan Vim. Gadis Jepang itu tidak lebih dari Aurora. Pengkhianat menurut Edo. Vim terkekeh.
"Gadis Indonesia saja katanya." Dion buka suara. Menikmati hidangan barbeque yang sudah matang di hadapannya.
"Yeaah kecantikan wanita Indonesia seperti Laras." Edo tak mau kalah. Menunggu reaksi Vim. Sengaja memancing sahabatnya itu.
" Yang seperti Laras banyak. Asal jangan Laras." Vim mencolek Dion .
"Hei bro..tinggal pilih gadis yang mana. Kau belum ketemu juga? Aku dan Vim tidak sabar melihat kau mengucapkan akad nikah."
Edo pura-pura tidak mendengar ucapan Dion. Kedua sahabatnya ini membuat telinganya panas. Selalu mengingatkan agar ia mulai mencari calon pendamping hidup.
Namun hatinya belum terbuka untuk wanita lain setelah Kazumi meninggalkannya memilih pria lain, ia sedikit tertutup pada wanita. Belum ada yang bisa menyentuh hatinya. Jika ada itu adalah Laras. Sayangnya Laras dimiliki oleh Vim.
"Lihat di depan sana. Di antara mereka berempat. Gadis itu bernama Anita." Vim mengarahkan pandangan Edo dan Dion ke arah Anita yang sedang berbincang-
bincang.
"Ah yaa! Menarik juga . Siapa tahu Anita masih single." Timpal Dion. Ia memasukkan udang panggang yang telah matang ke mulutnya.
Edo melirik Anita. Yang menarik pandangannya justru Laras. Pandangan Edo kerap tertuju pada Laras. Dua-duanya sama menarik tapi bagi Edo Laras lebih memikat hatinya. Meskipun status Laras bukan lajang lagi.
"Sialan." Edo bergumam.
"Apaan Ed??" Tanya Vim cepat.
Edo terdengar seperti sedang mengumpat.
"Tidak. Yang kau sebut itu menarik tetapi di sebelahnya lebih menarik." Edo tersenyum penuh arti.
Kata-kata Edo membuat Vim gerah. Jelas saja Vim menatap sangar si Edo. Hendak menelan Edo bulat-bulat.
"Bro buka mata ya. Yang
kau maksud itu Laras, adalah istriku. Staff ku banyak yang cantik dan lajang semua. Kau bisa memilih salah satu. Bagaimana??"
"Aku tahu. Aku bisa menahan diri. Tenanglah. Tiba waktunya nanti aku akan menemukan. Percayalah."
"Lagian..kau.. istri orang tetap saja kau lirik. Beribu wanita di luar sana man, bisa kau tunjuk dan jadikan istri. Move on bro!"
"Oke. Oke! Cukup."
Percakapan mereka terhenti sebab Anggia menghampiri
mereka. Perbincangan cukup di antara mereka saja.
"Sayang ikut papi ya nak. Mami mau ambil makanan."
Anggia menyerahkan baby Devan kepada Dion. Dion tidak menolak. Dion mengerti. Anggia memang belum makan sedari tadi.
Edo berdiri meninggalkan dua sahabatnya. Berjalan ke meja hidangan. Di sana ia mengambil air minum yang disebut air buah. Membawa dua gelas air buah ke tempat Laras dan teman-
temannya berada.
Vim dan Dion memperhatikan pergerakan Edo . Bersamaan mereka menoleh dan berpandangan. Saling bertanya melalui tatapan.
"Mau apa dia?" Vim tak berhenti mengawasi. Sahabatnya ini selalu membuat jantungnya memompa lebih cepat jika melihat Edo berdekatan dengan Laras.
"Tenanglah. Dia tidak akan_.."
"Bisa terjadi."
"Simpan kekhawatiranmu. Edo sadar posisinya. Dia hanya mengagumi Laras."
"Aaahhh! Kalau bukan dia sudah kutonjok dari tadi. Tuhan buka hatinya untuk wanita lain." Doa Vim buat Edo. Keinginannya memberikan pelajaran kepada sahabatnya itu yang menawarkan segelas air buah kepada Laras Untung saja Laras menolaknya minuman itu. Sedikit mengurangi rasa panas di hati Vim.
"Heheheheh. Lihatlah Laras tidak menerima gelas itu. Kau jangan takut. Kulihat Laras menyintaimu dan dia type wanita setia."
"Gila dia. Kapan bisa move on. Dari pertama melihat Laras sudah kelihatan gelagatnya."
"Kau mencurigainya??" Dion bertanya memastikan.
__ADS_1
"Ya jelaslah!" Vim menjawab yakin.
"Kukira tidak mungkin. Dasar Edo!!"
"Hmmm. Apa dia pikir wanita cuma Laras di muka bumi ini?
Laras milikku. Sudah kupakai bro."
"Haha.. dia masih waras. Yakinlah. Tak akan merampas milikmu."
"Semoga."
Edo meletakkan minuman yang tadi ia tawarkan kepada Laras ke meja di sebelahnya. Tidak menawarkan kepada yang lain, Miss Sissy ataupun Anita.
"Kak Edo kenalkan. Ini guru les ku. Aku les bahasa Inggris."
Jabatan tangan terjadi antara miss Sissy dan Edo.
"Sissy."
"Edo. Senang berkenalan dengan anda."
"Saya juga senang." Balas miss Sissy.
"Kenalkan juga Kak. Ini Anita."
Edo dan Anita saling melempar
senyum.
"Silahkan berbincang lagi. Aku permisi."
Edo berlalu. Sekarang ia berjalan menghampiri papi Vim dan ayah Laras yang sedang mengobrol. Vim juga sudah berada di sana. Dion bersama istri dan baby Devan di tempat Dion semula. Keluarga kecil itu terlihat bahagia.
Sesekali baby Devan berteriak ceria khas anak bayi. Ayah Ibunya tertawa memperhatikannya.
Sementara mami Vim dan ibunya Laras mengambil tempat sendiri. Mami Maharani mengajak bibi Am ikut bergabung makan bersama. Semua bahan telah terpanggang sehingga Bibi dan Pak Uun bisa beristirahat.
"Jika Laras melahirkan, aku akan di sini mengurus Laras sampai ia sehat dan kuat. Kita bisa bergantian Wirda." Ucap mami Maharani mengutarakan rencananya.
"Monggo mbak. Diatur saja." Wirda ibunya Laras menyetujui. Bersyukur mertua Laras perduli pada anak semata wayangnya itu.
"Cuma mohon maaf mbak. Kalau nanti Laras rewel habis persalinan. Maklum agak manja."
Bibi yang mendengar percakapan dua wanita paroh baya itu merasa heran. Sudah tukar pikiran tentang persalinan nona muda sedangkan perut non Laras saja belum ada calon bayinya, pikir si Bibi.
Sampailah di ujung pertemuan. Perjamuan kecil tersebut di akhiri karena malam beranjak larut. Lambaian tangan mengiringi kepergian para tamu.
Sahabat dan teman telah pulang meninggalkan rumah Vim menyisakan bahagia bagi si empunya rumah.
Masing-masing beristirahat di dalam kamar. Laras meletakkan kepalanya di bahu kanan Vim. Tangan kanannya melingkar di perut Vim.
"Terima kasih pestanya mas."
"Bukan pesta. Pertemuan kecil saja. Hanya ucapan terima kasih? Tidak sopan."
Laras terkekeh.
"Lantas apa dong? Aku bisanya cuma bilang terima kasih. Terima kasih sayang untuk semuanya."
"Kembali kasih. Beri yang lain." Vim berkata blak-blak an.
"Apa itu??"
"Kau ini pura-pura tidak tahu ya. Yang menyangkut kegiatan di atas ranjang antara suami dan istri." Tegas Vim. Laras mengernyitkan kening.
"Ya ampun mas..bicara saja langsung kenapa. Aku harus mengira-ngira dulu."
"Sekarang kau mengerti?"
"Mengerti sih tapi.." Laras seperti menahan sakit. Ia memegang perutnya. Mungkin karena ia kebanyakan makan sambal tadi.
"Perutku mulas mas. Aku mau ke toilet." Laras memegang perutnya.
"Huuu..ya sudah pergilah ke toilet. Jangan lama!"
"Tidak."
Laras kembali lagi tapi menghampiri meja rias. Mengambil salah satu parfumnya dan mengoleskan di balik daun telinga.
"Lama banget." Vim menyadarkan Laras kalau dirinya sedang menunggu Laras.
"Mas menungguku?"
__ADS_1
"Iya mau memelukmu." Vim berkata jujur.
"Kemarilah. Sudah malam ini nggak perlu cantik sekali. Keadaanmu begitu saja aku suka." Vim menggombal dengan rayuannya. Senyuman tersungging di bibir Laras.
"Sudah. Sekarang waktunya tidur."
Ajak Laras. Menarik selimut ke seluruh tubuhnya.
"Apa kau mengantuk?"
"Belum terlalu mengantuk."
Mereka sama-sama terlentang. Hening sejenak.
"Aku ingin tahu bagaimana Edo menurutmu. Katakan dengan jujur." Suara Vim tanpa penekanan sama sekali.
"Kak Edo?? Mengapa mas menanyakannya?"
Nada bicara mereka sungguh sangat tenang. Vim bertanya tanpa emosi sedikitpun. Begitupun Laras. Keduanya tidak saling bertatapan. Akan tetapi menatap lurud ke depan.
"Aku hanya ingin tahu pendapat
mu."
"Perlukah?"
Mengapa ia hanya menanyakan Edo. Dion tidak. Apa karena Dion bukan lajang lagi?
"Sangat ingin tahu Laras."
Laras menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Kak Edo tampan tentu saja. Sama seperti mas." Laras melirik Vim dengan ekor matanya.
"Dia baik, tidak sombong dan..seperti itulah."
"Apa kau menyukainya?"
Jleb..
Pertanyaan seperti apa ini?
"Apa mas melihatku menyukainya? Sudah pernah kukatakan aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya. Cukup kan mas?"
Laras balik bertanya. Entah dirasuki apa Vim, bertanya tentang Edo padanya. Ia dan Edo tidak memiliki hubungan lain selain pertemanan. Sahabat Vim adalah temannya juga.
"Edo menyukaimu Laras."
"Lalu kenapa? Hak semua orang untuk menyukai orang lain mas." Laras berpikiran pintar.
"Aku takut jika kau tergoda olehnya."
Laras tertawa sebentar mendengar penuturan Vim. Menghadapkan tubuhnya ke samping. Melihat Vim masih menatap jauh ke depan.
"Karena itu ya, mas bertanya padaku. Soal hati yang terdalam mas. Tidak semudah membalik telapak tangan untuk meletakkannya di manapun." Laras malam ini menjadi lebih pintar. Harapannya Vim semakin mengerti tentang isi hatinya terhadap orang lain.
"Percayalah. Di hatiku cuma ada kamu." Lanjut Laras menghibur Vim.
"Bagaimana jika ia ingin mengambilmu dariku??"
Vim masih meragu. Edo telah menyita pikirannya.
"Hahaaa mana mungkin. Aku tidak istimewa sama sekali. Di luar sana banyak yang lebih baik dariku dengan status yang berbeda dariku. Aku tetap milikmu. Selamanya." Laras menegaskan.
"Benarkah? Apapun yang terjadi?
"Ya. Apapun yang terjadi. Cukup penjelasanku ya mas. Tidurlah. Sudah sangat larut."
"Terima kasih untuk cintamu Laras. Aku bahagia memilikimu."
Vim mengelus kepala Laras.
"Aku juga mas. Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi."
"Aku selalu ingin bersamamu Laras."
"Aku juga mas."
Malam adalah saksi bisu damai di antara mereka. Dua hati yang sudah menemukan kecocokan satu sama lain. Tak ingin terpisah selamanya..
🌹🌹🌹🌹🌹
Like, fav & comment.
__ADS_1