Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 126. Roni mengancam


__ADS_3

"Sialan! Dia bergerak lebih cepat. Huuuuhh!!!"


Praaaangg!


Gelas di meja kerja beralas kaca nako berserakan di atas lantai. Tangan Roni menghempaskan barang tersebut. Amarahnya naik seketika. Dengan ringannya Kepala Balai Pelelangan Swasta memberikan tanggapan keberatan Roni.


"Kenapa Bapak membiarkan dia selesaikan hari itu juga? Biarkan dia melalui detik-detik proses rumahnya itu. Biar tahu rasa dia!"


"Barangkali Tuan ada masalah dengan tuan Vim, tetapi saya tidak dan kami menerima pemberitahuan dari bank."


Usaha Roni menguasai rumah Vim telah gagal. Melihat Vim sengsara adalah tujuannya. Membalaskan sakit hatinya yang tanpa obat. Vim selalu penuh keberuntungan sementara dirinya selalu dikalahkan. Hampir saja Laras berada di genggaman, kini peluang itu hilang lagi. Roni tak mau menerima kenyataan dia dan Laras tak berjodoh.


Jalan pikirannya dipenuhi akal busuk. Vim harus membayar sakit hatinya. Tangannya mulai sigap menyusun lima lembar poto di meja.


Cekliik. Lima kali jepretan kamera ponsel miliknya menyimpan poto-poto itu di galeri handphone. Dengan mudah ia mengirim gambar-gambar itu ke nomor ponsel Vim yang lama. Vim kembali menggunakan kartu SIM lamanya.


"Vim, ingat permainan belum selesai. Kau lihat gambar-gambar itu? Tak lama lagi akan tersebar di media sosial dan kau akan mengalami kejatuhan lagi bahkan lebih parah dari ini. Semua tidak terjadi jika kau memenuhi permintaanku." Tulis Roni.


Kutukupret. Apa maunya si Roni. Tak pernah berhenti mengusik kehidupanku.


Vim tak membalas pesan Roni. Sebaliknya tak gentar ia menghubungi Roni.


"Gila Lu! Tak puas melihat orang bahagia. Lu mau apa? Berikan semua poto itu!"


Terdengar tawa sumbang dari seberang sana.


"Apa??? Lu salah mengancam gua. Gua tidak akan menuruti mau lu. Catat!"


'......'


"Sebodo amat! Awas kalau lu berani ya!"


Vim menahan emosi yang meletup. Bagaimana jika ancaman Roni benar-benar dilakukan. Vim menjadi gusar.


Satu persatu benang kusut rumah tangganya terurai, masih ada saja cobaan yang datang. Vim tak ingin hal ini terjadi.


Vim menekan bel di ruangan kerja. Dari situ suara bel akan terdengar di ruangan staf Vim. Lalu Joel muncul dan menanyakan kebutuhan Vim. Vim akan mengatakan apa yang ia perlukan.


"Saya Tuan. Ada yang bisa dibantu?" Joel telah menghadap Vim.


"Joel panggil lagi pengawal kemarin. Lakukan hal yang sama seperti dulu."


"Tentang Ibu, Tuan?"


"Ya. Secepatnya."


"Baik Tuan. Coba saya hubungi yang bersangkutan."


Joel menelpon namun tidak tersambung. Mengulangi lagi dan hasilnya sama.


"Belum bisa dihubungi Tuan. Saya coba lagi nanti."


Joel pamit dari ruangan. Ponselnya bergetar dan bersuara. Nomor yang tadi dan Joel menjawab panggilan. Hanya sebentar kemudian ia kembali berbicara dengan Vim.


"Tuan, pengawal sedang di luar kota. Tiga hari lagi baru kembali."


"Tiga hari?"


"Ya Tuan. Apa saya cari orang lain saja?"


"Tidak Joel. Kita tunggu dia pulang."


"Baik Tuan."


Kehilangan Laras bukanlah hal yang diinginkan. Memperketat pengawasan lebih baik daripada kecolongan. Untuk itu Vim memanggil pengawal lagi untuk menjaga Laras. Padahal rumahnya juga dijaga oleh Satpam. Vim belum puas. Mengeluarkan dana lebih tidak masalah asalkan keluarga kecilnya selalu dalam keadaan baik.


Lalu Vim ingin memastikan keadaan Laras. Ia melakukan panggilan video dengan orang yang sangat ia cintai itu.

__ADS_1


"Sudah makan sayang?" Tanya Vim.


"Sudah mas. Mas sudah makan belum?"


"Sebentar lagi sayang. Baru istirahat."


"Belum ada makanannya? Aku antar ke sana ya?"


"Jangan. Joel akan membawakan makan siangku seperti biasa. Vian ngapain?"


"Vian bobok mas. Mainnya lumayan lama."


"Bagus. Kau bisa tidur siang juga."


"Iya."


"Ingat pesanku. Tidak keluar rumah ya."


"Baik Tuan besar. Memangnya kenapa sih? Kayak tuan putri saja pakai aturan."


"Kau tuan putriku, sayang. Ke luarnya sama aku saja."


"Baik. Baik. Selamat bekerja lagi ya mas. Muuuuaaah."


Klik. Cepat banget gerutu Vim. Ia kembali berkutat dengan pekerjaan. Melihat Laras menambah semangat Vim. Pekerjaan cepat dikerjakan, selesai kemudian pulang tanpa beban.


...ΩΩΩ...


"Mas ini teh tawar. Kuberi gula sedikit, satu sendok makan." Laras mengantarkan Vim minuman.


"Tidak apa tawar asalkan hatimu padaku nggak tawar."


"Hihihiii ya enggaklah mas. Hatiku padamu... selalu."


"Mas ngerjain apa serius banget? Nggak cukup ya waktu di perusahaan." Laras mendekati Vim. Memijit pelan pundak Vim. Jemarinya menekan sekedar saja karena ia tidak punya tenaga lebih layaknya tukang pijit.


"Di perusahaan sudah selesai. Ini punya papi minta bantu diteliti."


"Mas pasti cape kerja seharian. Di rumah masih ada tambahan kerja. Biar kupijit ya."


Posisi Vim duduk memungkinkan Laras memijit bagian belakang pundak Vim.


"Nanti saja sayang. Aku hampir selesai."


Laras terus memijit. Akhirnya Vim meluruskan punggung dan bersandar. Dia menangkap satu tangan Laras di pundaknya.


"Kau menggodaku ya," kata Vim.


"Tidak. Meringankan kelelahan yang ada saja."


"Aku tidak lelah sayang. Mampu bertempur denganmu malam ini."


"Hahahaha nah didekati saja sudah baper. Mesumnya kumat."


"Mesum sama istri sendiri tidak dilarang." Vim urung melanjutkan pekerjaan. Diteruskan nanti saja atau subuh besok. Memuja Laras lebih menghibur dirinya.


"Bagian depan tidak dipijit?"


"Bagian mana? Apa dada dipijit juga?"


"Bagian sini." Vim menunjuk bagian tubuhnya. Identitas seorang lelaki.


"Aaawww!" Laras menutup mata.


"Laras kau ini aneh. Begitu saja teriak."


"Memalukan sungguh."

__ADS_1


"Kenapa malu. Percakapan antara suami dan istri tanpa batas dan waktu. Kau pasti butuh ini," kata Vim lagi.


"Heeeh..ngelantur mas." Pipi Laras merona merah.


"Aku sadar sayang. Ini kulitku terasa sakit." Vim mencubit tangannya.


"Iya, iya. Ngalah deh." Laras mengambil tempat di sisi Vim.


"Terus aku mau dikasih apa? Tanganku pegal?" Laras cemberut. Tak ada yang jelek pada tubuh Laras. Cemberut pun terlihat cantik bagi Vim. Bibir tipis, hidung mungil dan lirikannya mampu membangkitkan ghairah Vim.


"Tangannya kupijit ya. Memang nggak bakat jadi tukang pijit kamu. Memijit sebentar saja cape," celetuk Vim.


"Aku maunya jadi istrimu saja mas. Nggak minat lain-lain."


"Bagus. Mau pijitan sayang?" Tanya Vim.


"Nggak."


"Bohong. Gelagatmu mengatakan itu." Tangan Vim tak berhenti di tangan Laras saja. Tatapannya berubah sendu dan lembut. Sentuhan tangannya berpindah di bagian lain tubuh Laras.


"Bukan sebaliknya ya. Mas yang ingin."


"Tentu. Menginginkan istri adalah hak dan bagian dari tanggung jawabku."


"Hmm...iya deh."


"Jadi sekarang nih?"


"Apaan?" Laras pura-pura bodoh.


"Kau membuatku gemas."


Tanpa berkata lagi Vim mengangkat tubuh Laras. Rasa terkejut membuat Laras teriak lalu menutup mulutnya. Suara kencangnya bisa menyebabkan Vian bangun.


"Mas...iiiiiiiih Sabar. Aku mau pipis."


"Nanti saja."


"Mana bisa mas. Aduuuuh...Laras segera melompat dari ranjang."


"Huuuuh Laras."


Laras datang lagi dengan rasa lega.


"Tidak baik kan menahan pipis?" Ucap Laras.


"Iya. Sekarang apa lagi alasanmu?"


"Bukan alasan mas. Kenyataan. Kata suster nggak baik loh menahan pipis."


"Sudah sini," panggil Vim.


Laras duduk menghadap Vim.


"Buka bajumu," pinta Vim. Laras justru tersenyum.


"Sayang aku serius. Aku saja yang buka."


Laras tak melawan . Membiarkan Vim melepaskan pakaiannya. Vim mulai memuja Laras berlebihan. Hasratnya membumbung tinggi. Laras tak menolak. Pasrah menerima perlakuan Vim dan akhirnya terbuai oleh setiap sentuhan Vim.


...🍁🍁🍁...


Keseharian Laras diisi dengan kesibukan mengurus Vian. Satu Minggu sudah mereka berada di rumah. Satu minggu pula Laras tidak keluar rumah karena Vim tidak mengijinkan. Vim selalu mengingatkan untuk tidak kemana-mana. Jika Laras bertanya jawaban Vim sepele, aku tak mau kehilangan jejakmu. Tidak mungkin Laras melarikan diri atau dilarikan orang lain. Laras merasa dirinya tak memiliki musuh.


Laras menyetel musik sebagai teman dirinya berbenah pakaian Vian. Laras melakukan sendiri semua yang berhubungan dengan Vian. Perhatian Laras benar-benar tercurah untuk Vian.


Suara alunan musik dari baby Walker Vian berbunyi ketika jari mungilnya menekan sekian kali.

__ADS_1


Laras mengawasi sambil membaca majalah wanita. Jaman semakin maju. Media informasi mudah didapat tapi Laras masih senang membaca melalui media kertas.


Keasyikan Laras terusik saat ponsel berbunyi. Dia menjawab panggilan. Suara terisak tante Morina mengusik Laras. Ada apa?


__ADS_2