
USG selesai dilakukan oleh dokter ahli. Vim membantu Laras bangun setelah tadi dokter ahli kandungan memeriksa Laras. Vim puas dengan hasil pemeriksaan. Jenis kelamin bayi sesuai dengan harapan Vim.
"Wah ini sudah kelihatan. Dia baby boy." Ucap dokter dengan nada senang.
Senyuman Vim mengembang. Dia memandang Laras penuh kemenangan.
"Nah ini kakinya, tangannya dan jantungnya sehat."
Vim menuntun Laras duduk di kursi.
"Ibu lebih banyak memakan buah-buahan sebagai tambahan tenaga. Jangan lupa vitaminnya diminum." Pesan dokter.
"Baik dokter. Terima kasih." Laras tak berhenti tersenyum. Bahagia mendengar keadaan bayi baik-baik saja.
"Aku akan mendapatkan saingan. Tidak lagi paling tampan di dalam rumah." Canda Vim.
"Jangan begitu. Mas tetap nomor satu buatku." Saat ini mereka telah berada di mobil menuju ke toko perlengkapan bayi.
"Aku punya rencana yang banyak untuknya."
"Sudah kukira. Tetapi jangan sampai ia kelelahan mengikuti kemauanmu."
"Dia akan sanggup mengikutiku Laras. Dia laki-laki. Kami semua laki-laki. Dia akan mewarisi apa yang diajarkan kepada kami dari papi."
"Iya..iya." Laras tetap santai. Vim telah menyusun rencana sendiri untuk mendidik anak lelakinya kelak.
"Letakkan di sini pak. Sudah dibawa semua?"
"Sudah semua den. Barang tidak ada lagi di mobil. Permisi den." Pak Uun meninggalkan kamar itu.
Semua perlengkapan bayi di letakkan di kamar bawah. Mereka baru selesai pulang dari membeli perlengkapan bayi. Kehamilan Laras memasuki bulan ke tujuh. Laras bersukacita mempersiapkan kelahiran bayi mereka.
Hari ini Laras sengaja meminta Vim mengantarnya berbelanja. Atas rekomendasi Anggia istri Dion, mereka mendatangi toko khusus perlengkapan bayi dan balita.
Jam toko buka, Laras dan Vim sudah berada di sana. Pembeli belum ramai sekali. Semula Vim meminta Laras memilih barang secara online saja lalu barang akan dikirim ke alamat mereka tetapi Laras menolak. Ia merasa tidak puas tidak melihat langsung
barang-barang itu. Apalagi ini untuk pertama kali mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk bayi mereka. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Laras takkan melupakan saat ini.
"Popok ini bagus mas. Ini motif Marsha." Kata Laras. Ditangannya memegang popok bayi berbeda motif. Satu motif Marsha dan satu lagi motif Avatar.
"Bagaimana mungkin anak lelaki menggunakan corak anak perempuan?"
"Oh iya ya. Lalu yang mana? Mas boleh memilih."
"Aku lebih suka yang polos itu."
"Itu? Sayaaang karena dia masih bayi, bermotif begini lebih menarik."
"Ini saja motif Doraemon." Motif tokoh kartun anak dalam ukuran kecil-kecil menjadi pilihan Vim.
Laras tak ingin berdebat. Ia memilih mengalah.
Kelambu, bak mandi dan tempat pakaian tidak ketinggalan dipilih.
"Warna coklat mas."
Vim menggeleng.
"Putih kebiruan atau abu-abu. Itu adalah warna lelaki."
"Iya deh biar sama seperti papinya." Laras melihat barang yang lain.
"Nah ini lihatlah. Vim memegang bak mandi bayi berwarna abu-abu."
"Sebaiknya nuansa biru atau putih kebiruan. Lebih cerah mas."
"Aku setuju." Kata Vim.
"Siiip. Ranjangnya sekalian saja."
Akhirnya hampir semuanya dibeli oleh mereka. Sebagian barang akan diantarkan ke rumah terutama ranjang dan bak mandi bayi.
"Sementara biarkan semua di sini. Saat kamarnya selesai kita tata lagi di atas."
"Sebaiknya ranjang itu berada tidak jauh dari kita mas. Lebih mudah menjangkau jika ia menangis malam hari."
Selalu saja perbedaan pendapat hadir di antara mereka.
"Ruangannya tidak jauh dari kita Laras. Terhubung satu pintu. Ajari dia mandiri. Oke?" Itu pendapat Vim.
Sebaliknya Laras ingin bayi mereka tidur dalam satu ranjang bersama ayah dan ibunya. Vim tidak setuju.
"Kasihan mas. Dia sangat kecil."
"Lihat gimana nanti. Yang jelas di situ akan kubuat pintu dan ruang sebelah menjadi kamarnya sehingga jika ia menangis tengah malam kita mudah mengangkatnya."
Vim semakin dewasa. Sebentar lagi menjadi seorang ayah adalah impiannya. Semakin serius menekuni pekerjaan dan menabung.
Rasanya baru kemarin ibu dan mami membuat acara selamatan empat bulan kehamilan Laras. Tadi malam ibu mengatakan akan mengadakan selamatan tujuh bulanan. Laras menurut saja apalagi pelaksanaannya di rumah ibu. Bukan di rumah mereka.
"Apakah itu perlu Ras?" Tanya Vim.
"Aku tidak tahu mas tapi ikuti saja kehendak orang tua. Aaaww!"
"Kenapa? Apa yang sakit?"
"Dia menendang perutku. Sayang jangan kuat-kuat." Laras mengelus perutnya menenangkan si baby di dalam.
"Hei anak baik. Tidak sabar mau keluar ya. Tenang saja, papi akan mengajakmu bermain bola jika kau besar nanti." Vim ikut mengelus perut Laras.
__ADS_1
Kemudian hari-hari berlalu dengan hal-hal baru yang dirasakan Laras. Dia mulai merasa kesusahan tidur terlentang dan perutnya semakin membesar.
"Jalan pagi sangat baik untukmu Laras. Tidak perlu jauh dan jangan tidur di pagi hari." Pesan ibu ketika menghubungi Laras. Laras hanya tahu jika pagi hari adalah waktu untuk bekerja. Selebihnya baru tahu ketika ibu menyampaikan pesan tersebut.
"Baik bu. Lihat ini keringat Laras. Barusan jalan pagi di sekitar rumah." Percakapan melalui media hp sedang berlangsung. Sangat mudah jaman sekarang, terhubung satu sama lain hanya melalui panggilan video.
"Usahakan jalan pagi dengan Vim..Laras. Supaya ada yang mengawasi."
"Baik ibu. Ibu jangan khawatir. Mas Vim suami siaga..hahaa!"
"Eiiits..apa yang kau katakan?"
Tiba-tiba Vim muncul di belakang Laras.
"Mas Vim suami siaga. Siap sedia bila aku membutuhkan. Iya ibu. Pagi hari menyediakan air hangat untukku mandi, kemudian membuatkanku susu lalu menemaniku kemanapun aku pergi."
"Terima kasih nak Vim."
"Sama-sama bu. Sudah kewajiban saya."
"Jaga diri ya Laras. Sampai di sini dulu. Ibu harus berbenah."
"Baiklah bu. Ibu jaga sehat ya."
Ibu mengangguk dan panggilan berakhir.
"Sehat ya sayang." Laras berharap. Bagi Laras mengusap perut berarti memberi kasih sayang pada sang bayi.
Laras memandang perlengkapan bayi yang menumpuk di sudut kamar bawah. Dua hari lalu mami mengirimkan mereka sebuah karpet ke rumah. Kata mami untuk di gunakan di kamar bayi. Kamar tersebut belum selesai. Pengerjaannya baru akan di mulai tiga hari lagi. Menunggu tukang yang sedang berada di kota lain.
Laras teringat sebuah kereta dorong. Ya mereka lupa memilih kereta bayi saat berada di toko perlengkapan bayi tapi tak mengapa. Barang itu menyusul dibeli saja.
Vim meneguk teh tawar yang disediakan bibi. Beberapa kue tradisional menemani teh.
"Kau tidak kelelahan naik turun tangga?" Vim mendadak teringat dengan tangga yang mereka lalui setiap hari menuju ke kamar tidur.
"Ehm tidak. Aku menaiki pelan-pelan."
"Sebaiknya kita pindah di kamar ini saja agar kau tidak kepayahan naik turun. Bagaimana?"
"Mas tidak apa. Aku sehat-sehat saja kok." Laras memegang bahu Vim. Ikut duduk bersama Vim di ruangan depan. Ruangan ini bersebelahan dengan dua kamar di bawah.
Vim hanya iba melihat Laras dengan perut yang semakin membesar. Tentu melelahkan. Dari sini rasa sayangnya semakin kuat.
...*****...
Di suatu pagi..
"Pagi nyonya."
"Pagi juga. Mari masuk sis."
"Silahkan duduk. Tunggu ya sis, saya ganti pakaian dulu." Kata Laras.
"Silahkan nyonya."
Tamu memandang berkeliling ruangan itu begitu Laras menghilang. Foto pasutri terpampang dengan figura elegan. Si wanita cantik dan si lelaki tampan. Si anak apakah perpaduan keduanya? Pertanyaaan konyol pikirnya. Tentu saja jika si bayi berjenis kelamin perempuan akan cantik wajahnya dan jika bayi lelaki yang lahir akan ganteng.
"Sudah sis. Kita di dalam ya." Laras mengajak instruktur senam ke ruang olah raga milik Vim. Di sana telah tersedia karpet untuk Laras melakukan senam kehamilan. Menurut instruktur, senam ini sangat baik untuk memperlancar persalinan.
Mereka duduk di karpet.
"Kita lakukan gerkan dengan hati-hati dan nyonya ikuti saya ya. Duduk bersila seperti ini dan letakkan tangan di sini. Bertenanglah nyonya." Instruktur mulai menghitung.
"Sekarang ganti gaya." Instruktur senam memberikan arahan. Laras mengikuti gerakan wanita di depannya ini. Usianya sekitar tiga puluh ke atas tetapi menguasai gerakan senam kehamilan.
Hingga gerakan terakhir Laras melakukan dengan hati-hati. Mereka berhenti setelah selesai dan duduk menghilangkan lelah terutama untuk Laras.
"Berarti nyonya melahirkan bulan November." Kata sis Ita instruktur senam.
"Benar sis. Mudah-mudahan lancar."
"Semoga nyonya. Lahir sehat ya."
"Terima kasih do'anya sis Ita. Dicicip kuenya. Bibi yang membuat kue."
"Terima kasih."
Tak berselang lama dari itu sis Ita pamitan pulang. Laras meminta bibi membereskan ruang senam.
"Enak senamnya non?"
"Lelah bi. Saya mau naik ke kamar."
Bibi memandang Laras yang berjalan menaiki tangga. Sebelah tangannya memegang pagar tangga dan tangan sebelah kiri memegang punggungnya.
"Non..bibi bawa jus ke atas ya." Seru bibi
"Boleh bi."
"Baik."
Laras mengguyur tubuhnya dengan air shower. Segar terasa. Begitupun saat shampo ia gunakan membersihkan rambut nya yang mulai tumbuh panjang.
Rambut itu dibiarkan memanjang selama ia hamil. Tubuh Laras kembali segar. Rasa lelah hilang.
Di kursi goyang Laras menyandarkan punggungnya. Kursi bergerak ke depan dan ke belakang. Bibi mengetuk pintu dan masuk ke kamar.
"Terima kasih bi."
__ADS_1
"Sama-sama non."
Bibi hendak keluar namun Laras memanggilnya.
"Maafkan bi tolong ambilkan kotak benang di sana."
"Ini non?"
"Benar bi."
"Jangan lupa dimakan ya non. Bibi takut nanti non kelupaan makan."
"Tidak bi. Nanti saya makan."
Kejadian yang lewat Laras selalu terlena di kursi goyang hingga dia tertidur di situ. Jus habis diminum. Laras melanjutkan merajut benang-benang dalam kotak di atas pangkuan. Rajutan itu hampir selesai.
Laras bermaksud menyelesaikan rajutan. Kemudian ia akan membuat sebuah rajutan lagi yang sama warna dan bentuknya. Yang kedua berukuran lebih pendek.
Merajut berhenti berganti menguap panjang. Laras mengantuk. Tidur sebentar lalu ia akan memakan makanan yang diantar bibi setelah bangun tidur.
Elusan lembut membuat mata Laras membuka. Didapatinya Vim berjongkok di sampingnya.
"Maafkan mengganggu. Aku sudah sangat hati-hati tapi kau bangun juga. Kau kelelahan ya?"
"Setelah senam lalu mandi, tubuhku terasa segar. Tidak lama kemudian aku mengantuk dan tertidur."
"Makanan ini kau biarkan. Sudah dingin. Makanlah."
"Mas nggak makan?" Laras membenarkan posisi duduknya.
"Sudah. Ini hampir selesai." Vim mengamati hasil rajutan Laras.
"Iya aku akan merajut satu lagi. Yang ini buat mas Vim."
"Wow ini sangat berarti. Hasil karya istriku." Vim memberikan sebuah kecupan di kening Laras.
"Ras apakah pengerjaan kamar tidak akan mengganggumu?"
"Maksud mas gimana?"
"Kamar ini akan direnovasi. Sedikit kebisingan akan terjadi. Apakah tidak mengganggumu?" Tanya Vim.
"Pengerjaannya hanya beberapa hari mas. Itu tidak mengganggu. Aku di bawah saja bersama bibi. Tidur siang menumpang di kamar bibi."
Kamar bibi terletak di belakang bersebelahan dengan kamar pak Uun sopir mereka. Letaknya agak jauh dari rumah utama sehingga tidak terlalu terganggu oleh suara tukang bekerja. Laras bisa menumpang istirahat di situ.
"Kau bisa ke rumah ibu jika mau hingga tukang selesai bekerja." Vim menyarankan.
"Aku di sini saja. Sedikit bising agar baby terbiasa dan nggak kaget dengan kebisingan." Jelas Laras.
"Ah bisa saja."
"Benar kan mas. Supaya nantinya baby terbiasa tidur dalam keadaan sepi atau ramai oleh suara."
"Bisa diterima. Gimana dia hari ini?" Tanya Vim ingin tahu.
"Dia tidak nakal. Senam berjalan lancar hingga selesai. Dia anak baik."
"Siapa dulu papinya, Aku.
"Mulai deh. Ibunya aku." Laras tak mau kalah. Masing-masing merasa punya andil atas sang bayi.
"Haha..Habiskan makanmu. Aku ke kamar sebelah."
"Mau apa?"
"Melihat saja. Barang-barang di sana harus dikeluarkan."
Seperti di kamar lainnya di rumah itu, kamar ini memiliki perabotan lengkap dari ranjang hingga sofa. Kamar yang tidak pernah ditempati sehingga barang-barangnya tidak pernah disentuh setiap hari.
"Barang-barangnya dijual saja. Tidak ada tempat untuk menyimpannya." Vim datang kembali setelah melihat kamar sebelah.
"Gimana baiknya saja sayang. Perut terasa penuh." Laras mengakhiri makan siang.
"Jangan dipaksa jika kenyang. Ini minum."
"Terima kasih mas."
"Aku janji tenis dengan Dion. Bangunkan aku ya."
Laras mengiyakan. Sementara Vim tidur siang, Laras melanjutkan merajut. Didengarnya Vim mendengkur pelan. Barangkali kelelahan hari ini walaupun bekerja setengah hari.
Laras menerima pesan masuk dari Ririn. Daftar barang yang terjual bulan lalu berikut sisanya dikirim Ririn kepada Laras. Ririn mengirimkan daftar tersebut setiap bulan.
Laras bersyukur toko bisa berjalan dengan lancar meskipun ia tidak turun tangan langsung. Ririn sahabatnya bisa diandalkan mengelola toko karenanya Laras berniat memberikan Ririn dan Nila bonus.
'Ririn aku transfer sejumlah uang untuk kalian. Dengan jumlah yang berbeda. Terima kasihku atas usaha kalian menjaga dan menjalankan toko.' Laras mengetik di ponsel. Pesan terkirim.
'Terima kasih Laras. Semoga bertambah berkah, dedek bayi sehat dan banyak rezeki.'
Ririn membalas. Laras tersenyum. Senyumnya manis seperti gula dan senyum itu pula yang telah membuat Vim mabuk kepayang.
Nampan berisi bekas makan siang di bawa ke bawah. Ia membawa dengan hati-hati terutama saat menuruni anak tangga. Untung tidak terpeleset dan Laras sampai di dapur dengan aman.
...🌻🌻🌻...
Readers..author memilih melanjutkan novel ini sesuai tujuan semula. Semoga ceritanya menghibur ya..
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Jangan lupa like, komen, gift , vote atau bintang lima. Ganbatte.😘💐
__ADS_1