Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab. 88. Tidak boleh hadir.


__ADS_3

Suara bersin terdengar tiga kali di dalam kamar.


Hattciim. Haatciim. Haaattciiiim.


Dari hidung Laras keluar cairan bening. Dia menyeka cairan itu dengan tisu. Tisu dibuangnya ke keranjang sampah yang sudah dilapisi plastik sampah.


Sarapan untuk Vim belum ia siap kan. Pakaian kerja Vim juga belum diambilnya. Tidak menunggu lama ia segera milih kemeja dan celana kerja Vim.


Vim memakai kemeja sehabis mandi. Laras mengancingkan kemeja seperti hari-hari sebelumnya. Sama sekali mereka tidak berbicara. Membisu. Laras malas berbicara. Suasana menjadi canggung.


Vim menatap Laras tanpa berkedip. Berusaha menyelami apa yang ada di pikiran Laras saat itu. Laras bisa setenang itu di hadapan Vim. Tidak sedikitpun ia menatap bola mata Vim. Benar-benar cuek. Tidak tahukah Laras bahwa tingkahnya itu justru membuat Vim gemas.


"Kau masih marah?"


Laras menggeleng. Jawaban seadanya.


Kancing kemeja terpasang pada lubangnya. Laras beralih hendak mengerjakan pekerjaan lain. Menyediakan sarapan buat Vim lalu menyuci pakaian kerja Vim yang tepakai kemarin.


Haaattciiiim.


Laras bersin lagi.


"Nah..kau flu."


Sehelai tisu diberikan Vim. Laras menerima tisu.


"Berarti kau tidak ikut acara malam reuni." Sambung Vim. Ia mengancingkan lengan kemeja.


"Ikut. Tetap ikut." Sanggah Laras.


Tidak rela kehilangan kesempatan menghadiri acara temu kangen sesama alumni.


"Tidak bisa. Tubuhmu tidak fit. Tidak pergi baik acara pagi atau malam." Tegas Vim.


Laras merasa Vim tidak adil. Vim bersenang-senang bertemu teman-temannya sementara Laras hanya berdiam diri di rumah. Berteman suara dentang jam yang setiap jam selalu berbunyi. Bibi tidak masuk dalam hitungan Laras sebab bibi pun tidak akan menemaninya seharian. Betapa kasihan dirinya.


"Mas aku baik-baik saja."


Senyum tipis menghiasi wajah Vim mendengar ucapan Laras.


"Kau pusing? Hidungmu berair."


"Tidak. Ini hanya karena udara dingin."


"Tidur saja lagi." Perintah Vim.


"Aku mau menyuci."


Laras membuka keranjang pakaian kotor. Tak melihat pakaian kerja Vim di dalam keranjang itu. Dimana pakaian kerja Vim. Yang ada hanyalah pakaian dalam mereka.


"Kok tidak ada." Katanya lirih hampir tidak terdengar.


"Pakaian kotor?" Vim bertanya.


"Iya. Tinggal ini."


"Kuserahkan ke bibi."


Laras tercengang.


"Iya kuserahkan ke bibi. Biar bibi yang menyuci. Bagianmu itu saja."


Jawaban Vim benar-benar santai.


"Pakaian kerja kan tidak terlalu berat mas. Apa salah kucuci?"


"Lihat tubuhmu. Tadi malam kedinginan lalu hari ini terserang flu. Masih untung perutmu tidak sakit karena telat makan." Vim bersiap keluar kamar. Mendekati Laras dan mengecup kening Laras.


"Ingat. Kau hanya boleh bersantai saja di kamar. Segala sesuatu yang kau perlukan, bibi akan mengantarkan padamu." Ujar Vim lagi.


"Segitunya???" Alis Laras bertaut. Heran dengan tindakan Vim. Yang berbuat salah itu Vim tapi mengapa Laras yang menanggung akibatnya. Laras mencebik.


"Ya agar kau tidak jadi pesakitan."


"Salah siapa juga?"


"Ehemm. Kemarin salahku membiarkanmu menunggu terlalu lama. Hari ini kau harus makan dan minum setiap apa yang bibi antar ke sini supaya tubuhmu cepat sehat. Aku akan menanyai bibi pulang kerja nanti."


"Terserahmu. Asalkan aku boleh ikut acara besok."


Laras duduk di sisi ranjang di depan Vim.


"Boleh tapi..jika flu itu hilang dan suhu tubuhmu normal. Aku pergi."


"Tidak sarapan?" Tanya Laras.

__ADS_1


"Sudah sebelum mandi."


Tumben. Vim hampir tidak pernah makan sebelum mandi di pagi hari. Mungkin dia sudah sangat lapar.


"Mas pulang jam berapa?"


"Belum tahu."


Huuuhh sibuk lagi dia.


"Aku boleh bawa bibi belanja?"


"Tidak boleh. Biar bibi dan pak Uun saja yang belanja. Kau sakit." Vim terus berjalan keluar.


"Yaaahh."


Laras bisa apa? Vim keras kepala lagi. Dia tak ingin kalimatnya dibantah.


Sedetik setelahnya Vim menghentikan langkah. Pandangannya lunak. Lembut penuh kasih sayang.


"Selalu sehat. Mengertilah sayang..aku pergi dulu." Kecupan diberikan Vim. Laras berdiri menatap punggung Vim yang menjauh dan masuk ke dalam mobil.


Laras memutar langkah. Di depan pintu kamar berpapasan dengan bibi yang membawa sesuatu di nampan.


"Bi maafkan bibi jadi repot mengurus ini dan itu."


"Tidak apa non. Non kan sedang tidak sehat."


Bibi memang baik. Tidak pernah mengeluh walaupun setiap hari pekerjaannya tiada yang menggantikan.


"Tidak terlalu sakit sih bi. Mas Vim saja terlalu khawatir."


Bibi dan Laras telah berada di dalam kamar.


"Nah non sarapan dulu. Ini susu dan bubur kacang hijau."


"Baik bi. Terima kasih."


Laras tidak menyukai bubur kacang hijau. Demi bibi yang sudah menghabiskan waktu untuk memasak bubur akhirnya Laras memakan bubur itu.


Hari masih pagi. Tidak baik untuk tidur kembali. Matahari cerah menampakkan diri. Laras berjalan ke dapur mencari bibi.


"Bibi sedang apa?"


Laras menemukan bibi sedang mengurus pakaian kotor.


Barangkali Laras membutuhkan pertolongan, bibi bertanya pada Laras.


"Bi yuuk kita senam." Ajak Laras.


"Senam non? Senam gimana. Gaya patah-patah non?"


"Iiiiih bibi.. memangnya break dance. Bibi ikuti gerakan saya aja."


"Tapi cucian_"


"Biarkan dulu cuciannya bi. Jika cucian tidak terurus, kita kirim ke laundry."


Laras menyebutkan sebuah jasa laundry. Laundry khusus pilihan Laras. Ia ingin yang terbaik untuk Vim.


Senam tanpa musik pengiring dimulai. Laras di depan dan bibi di belakang Laras. Laras memberikan aba-aba dan menghitung setiap gerakan. Mulai dari gerakan untuk kepala, bahu, lengan panjang, lutut dan kaki. Bibi mengikuti dengan gerakan semampunya.


Keringat membasahi wajahnya. Begitupun bibi.


"Bibi ambilkan tisu sama air putih non."


"Iya bi."


Laras mengambil kursi kecil yang berada di teras belakang rumah.


Membawa kursi ke tengah halaman belakang. Matahari bersinar menyebarkan kehangatan di seluruh halaman belakang. Laras duduk di kursi. Ia berjemur di situ.


"Ambil non."


"Terima kasih bi."


Hangatnya sinar matahari mengenai seluruh tubuh Laras. Laras bertahan duduk di sana hingga setengah jam lamanya.


Bibi datang lagi menyampaikan berita.


"Noon ada teman non Laras. Namanya Ririn."


"Baik bi. Suruh ke sini saja."


"Baik non."

__ADS_1


Tak lama kemudian Ririn muncul membawa sebuah bungkusan untuk Laras. Menyerahkannya kepada Laras.


"Apa ini Rin?"


"Kaos seragam. Kamu datang kan?" Ririn duduk di kursi sebelah Laras.


"Entahlah Rin. Mas Vim tidak menginginkan aku datang ke acara." Suara Laras lemah.


"Kenapa? Sayang banget Ras."


"Katanya aku tidak sehat. Aku berjemur supaya flu ini cepat hilang dan bisa hadir besok malam."


"Setidaknya kamu datang aja acara pagi. Olah raga bersama dan permainan."


"Kuusahakan. Aku rindu sama teman-teman." Pikiran Laras menerawang.


"Semoga Vim berubah pikiran dan mengajakmu."


"Semoga. Eh sudah sarapan belum. Ayoo masuk ke dalam."


Laras mengajak Ririn masuk namun Ririn memilih duduk di luar.


"Di sini aja Ras. Aku hanya sebentar dan sudah sarapan. Terima kasih."


"Lagi tuh ya, aku gak boleh datang acara malam. Kesal deh."


Laras membuka bungkusan dan merentangkan baju yang ia pegang.


"Bagus ya."


"Iya bagus. Usaha lagi Ras. Masih ada waktu mendapatkan ijin." Saran Ririn.


"Aku coba lagi."


Laras tidak yakin ijin akan diberikan oleh Vim.


"Besok ada Totok. Ingat Totok nggak. Dia suka menggodamu kan?"


"Aaah Totok. Ingat banget. Dasar sableng."


Laras dan Ririn tertawa bersama. Teringat Totok anak yang jahil suka menggoda Laras. Hingga Laras kesal, marah dan memasang wajah cemberut, aksinya menggoda Laras tidak pernah berhenti.


"Sekarang Totok sudah lumayan kalem. Kelihatan perubahannya Ras. Tambah dewasa lagi." Cerita Ririn.


"Oya? Kok tahu?"


"Pernah ketemu waktu pulang kerja."


"Oh dia di sini juga." Laras bergumam.


"Tidak. Dia pulang mengambil sesuatu katanya."


"Begitu."


"Ras maafkan aku. Aku meninggalkan toko satu jam. Aku ke toko lagi ya." Ririn berdiri dan pamit. Ia mengambil kaos seragam mereka pada seorang teman lalu mampir ke rumah Laras.


Mereka sudah berada di dapur.


"Tidak apa. Kan ada Nila di sana. Terima kasih ya kaosnya diantar ke sini."


"Sama-sama."


"Tunggu sebentar. Bawa ini."


Laras membuka kulkas. Mengambil buah apel dan jeruk dan memindahkan ke dalam kantong plastik. Memberikan buah-buah itu kepada Ririn.


"Waaah terimakasih ya Ras. Semoga segera sembuh."


"Harapan tipis untuk datang."


"Aku tanpamu."


"Hahah kan banyak teman lainnya."


"Beda dong. Taklukkan Vim biar ijinnya keluar." Ide Ririn membuat Laras tertawa kecil.


"Hahaha. Aku harus usahakan flu ini berhenti agar ia percaya diriku sehat."


"Nah itu. Aku pergi ya."


Mereka berdua cipika cipiki. Pintu ditutup Laras setelah Ririn tidak kelihatan lagi. Di kamar Laras menggantung kaos seragamnya di samping kaos seragam Vim. Terbayang meriahnya acara besok. Senam bersama, jalan santai dan acara permainan. Sayang sekali dirinya tidak bisa hadir.


...🌾🌾🌾...


Bersambung..

__ADS_1


Like, comment, gift, vote dan bintang lima.


Trims ya.πŸ’•


__ADS_2