Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 65. Aku mencintainya.


__ADS_3

Edo melirik Laras melalui ekor matanya. Bulu mata lentik nan panjang sesekali bergerak mengedip. Diam tanpa suara Laras terbuai oleh lagu cinta yang mengalun pelan. Ia pun tertidur.


Edo mendesah pelan. Sayang sekali perempuan cantik yang berada di sebelahnya ini telah menjadi milik sahabatnya itu. Bagaimana kalau ia bawa lari saja Laras. Ah tidak. Hatinya menolak.


Edo menepikan mobil ke kiri jalan. Untuk berapa lama terdiam sendiri. Keinginan ibunya agar ia memiliki pendamping bermain di pelupuk mata. Sudah seharusnya ia membangun rumah tangga seperti Vim ataupun Dion tetapi mana mungkin berumah tangga jika calon istri saja ia tidak punya. Perempuan yang ia harapkan menjadi pendamping tidak mungkin hidup bersamanya. Ibunya tak salah. Umurnya telah cukup dewasa untuk berumah tangga dan penghasilan tidak perlu diragukan. Jikalau pun ia didepak dari tempatnya bekerja, ia tidak perlu takut kehabisan uang karena ayahnya akan menampungnya.


"Kak Edo mengapa kita berhenti di sini?" Suara Laras menyadarkan


Edo dari lamunan. Dia sudah bangun.


"Agar aku bisa di dekatmu sedikit lebih lama Laras."


Laras tersenyum dengan kedua mata yang membulat indah.


"Tapi aku nggak bisa berlama-lama. Jalankan mobilnya kak."


"Biarkanlah akan mengagumimu sebentar saja." Edo menatap Laras.


"Apaan sih kak." Laras cemberut keinginannya tertahan.


Laras memalingkan pandangannya dari Edo. Berduaan bersama Edo bukanlah hal yang ia inginkan meskipun mereka tidak memiliki hubungan khusus. Tidak nyaman berada di samping lelaki lain selain suaminya. Laras merasa telah berkhianat tapi bukankah Vim juga melakukan hal yang sama dalam lingkup bisnis nya. Pertemuan bisnis, makan siang bersama dan acara-acara malam yang sudah tentu ada sosok seorang wanita-entah siapa itu.


"Heh gitu aja ngambek. Ya udah kita jalan lagi. Jangan ngambek, tambah jelek." Ejek Edo.


"Biarin jelek."


"Tapi aku suka." Edo keceplosan bicara.


"Eeeh??? Kakak bilang apa barusan?" Laras menoleh cepat pada Edo.


"Aku suka. Suka kamu." Edo tidak pernah mengalami kesulitan mengungkapkan isi hati. Di rumah ia terbiasa diajarkan terbuka dalam menyampaikan pendapat kepada orang tuanya. Tentunya dengan cara yang sopan sesuai ketentuan yang orangtuanya terapkan.


Edo mematikan mesin mobil. Mereka telah sampai di toko Laras.


"Ini tokomu?" Tanya Edo.


"Iya kak. Jangan kak Edo bilang jelek ya."


"Hahaahah ya enggaklah. Mungil seperti orangnya." Edo bercanda. Sangat senang menggoda Laras.


"Mungil dong aku kan pemula. Nggak seperti kalian sudah punya greget." Laras membela diri. Melepaskan seat belt yang masih terpasang.


"Hal kecil bisa menjadi besar Laras. Hari ini kau punya satu, di masa depan kau bisa punya dua atau tiga toko." Hibur Edo kemudian.


"Ini kuncinya." Edo menyerahkan kunci mobil.


"Makasih kak sudah diantar." Ucap Laras. Ia membuka pintu mobil hendak keluar.


"Aku ingin melihat di dalam."


Pintu telah ditutup Edo. Begitupun Laras. Keduanya meninggalkan mobil tetapi jarak berapa meter di depan mereka telah berdiri sosok Vim di depan pintu toko.


"Mas Vim. Aku tidak tahu dia ada di sini." Kekhawatiran menyentuh hati Laras. Khawatir Vim menyangka yang bukan-bukan pada mereka berdua.


"Tenang saja. Vim tidak akan marah padamu."


"Hei bro." Edo menyapa duluan.


"Hai. Kapan kau kembali?" Vim menjawab pertanyaan Edo dan melirik Laras.


Mereka berjabatan tangan. Jabatan tangan dua orang sahabat. Pancaran kemarahan tidak terlihat di wajah Vim.


"Mas ada di sini?" Tanya Laras.


"Aku mampir setelah bertemu Dion." Suara Vim datar. Laras memilih meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kau dan Laras_"


"Kami bertemu di rumahku. Laras mengantarkan pesanan mommy." Potong Edo cepat.


"Kau memang tiba hari ini?" Vim tak puas dengan jawaban Edo.


"Benar. Aku tidak berbohong padamu. Kau tidak bekerja lagi?" Edo balik bertanya.


"Waktuku mudah diatur selain meeting." Jawab Vim.


Mereka masuk ke dalam. Mengambil tempat duduk di sofa.


"Ras pesankan kopi." Perintah Vim kepada Laras.


"Baik mas."


Kopi telah dipesan dan tak lama kemudian pesanan datang.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Vim.


"Menunggu keputusan dari atas. Jika ACC, cabang baru akan dibuka." Jawab Edo.


"Proyek kami telah selesai. Syukur semuanya berjalan lancar." Vim bercerita.


"Ku dengar kau affair." Kata Edo lagi.


"Affair dengan siapa? Itu dugaan kau saja Ed."


"Aurora. Ingat Vim tidak ada rahasia antara kita bertiga huuhh."


"Yeahh. Dion nggak akan diam padamu bukan?" Edo mengangguk.


"Gimana reaksi Laras?" Edo penasaran ingin mendengar cerita Vim selanjutnya.


"Ngambek, nangis dan sempat tak percaya padaku."


Vim menarik nafas panjang.


"Dia mengancamku kemarin."


"Hati-hati."


"Aku tidak takut." Seperti biasa Vim selalu percaya diri.


Laras datang dengan sepiring kek di tangan. Tangannya diraih Vim.


"Duduklah di sini." Vim menahannya.


"Aku_"


"Duduk di dekatku."


Dan Edo harus berbesar hati mengalah melihat Laras dan Vim dalam jarak yang sangat dekat.


Ia menahan rasa sakit di dadanya. Apa daya rasa itu harus ia tahan. Mencintai milik orang lain dalam diam bukanlah pilihannya tapi harus diterima.


"Aku bisa mati melihat kemesraan kalian." Protesnya terang-terangan.


"Nikah dong." Ucap Vim


"Iya kak menikahlah. Jangan ketinggalan dengan teman-temanmu ini." Sambung Laras.


"Nggak ngerti gimana seleranya."


Vim menimpali.

__ADS_1


"Ooiya aku punya teman di sini. Ririn!" Laras memanggil Ririn. Ririn datang.


"Kak Edo kenalkan ini temanku Ririn. Dia membantuku di sini."


Edo berdiri mengimbangi Ririn yang juga berdiri. Mereka bersalaman.


"Hai aku Edo."


"Ririn."


"Duduk Ririn." Laras mempersilahkan Ririn duduk.


"Ed aku harus ke kantor. Kau tetap di sini?" Vim berdiri.


"Antar aku. Jangan sampai kau menuduhku karena masih berada di sini."


"Di sini ada Ririn yang bisa mengawasimu." Ujar Vim santai.


"Dasar. Curiga melulu."


"Waspada bro."


Edo berjalan terlebih dahulu ke mobil Vim yang baru tiba. Pak Uun membawanya setelah mengisi bahan bakar.


"Saya bawa sendiri pak." Ucap Vim pada pak Uun.


"Baik den." Jawab pak Uun memberikan kunci mobil.


Sepuluh menit kemudian Vim dan Edo tiba di halaman depan kantor Edo. Vim menahan Edo agar tidak turun dari mobil.


"Boleh aku bertanya sesuatu Ed?" Vim bertanya namun tatapannya lurus menembus kaca mobil. Keseriusan terpancar di wajah Vim yang tenang dan tegas.


"Katakanlah."


"Apakah kau mencintai Laras?"


Edo tersentak dan terdiam beberapa saat lamanya. Diaturnya nafas agar lebih tenang. sama seperti Vim ia melayangkan


pandangan jauh ke depan.


"Menurutmu?"


''Kau mencintainya."


"Kau sudah tahu. Aku mencintainya. Lantas??"


"Apa aku harus menekankan padamu jangan dekati Laras."


Edo melengos ke samping. Mengalihkan pandangan ke luar kaca pintu mobil. Vim pantas curiga sebab ia bisa melihat pendar cinta di netra Edo saat menatap Laras.


"Aku tak mengejarnya. Semua seperti biasa. Kebetulan saja jika kami bertemu." Penjelasan Edo masuk akal. Dia memang jatuh hati pada Laras sejak pertama melihat Laras tapi ia tidak berdaya. Jangankan menikahi Laras, mengencani Laras satu kali saja tak pernah. Ia tak memiliki kesempatan untuk itu. Laras terlanjur dinikahi Vim.


"Kuharap kau tak mengusiknya dan merusak persahabatan kita." Bagi Edo Kata-kata Vim adalah belati yang menusuk hati.


"Kau tidak perlu takut. Laras bukan type wanita yang mudah berpaling. Kau tak menyadari itu setelah sekian lama berdua?"


"Bisa saja ia goyah."


"Jika begitu kuatkan cintamu padanya. Aku takkan merebut Laras kecuali jika ia menderita."


Edo keluar dan menutup pintu agak keras. Berjalan meninggalkan Vim. Vim termangu menatap punggung Edo. Diusapnya wajah dan menyigar rambutnya. Perasaan takut kehilangan Laras terlalu besar hingga sahabatnya sendiri ia curigai dan ia merasa bersalah pada Edo. Lagi-lagi Vim dipermainkan oleh perasaan cemburu.


Punggung Edo menghilang setelah melalui pintu otomatis di bagian depan kantornya. Vim menghidupkan mobil dan berlalu pergi.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Readers..jangan lupa jejak like, komentar, gift dan vote ya.


Trims 💕


__ADS_2