
Bukanlah hal yang susah mencari guru les private di jaman informasi serba mudah didapat seperti saat ini. Begitulah dengan upaya Vim mencarikan guru les private bahasa Inggris untuk Laras. Dari lembaga kursus yang ternama dengan pengajar yang mumpuni sudah Vim temukan. Walaupun Vim berpendapat semua kembali kepada kemampuan Laras untuk menerima dan menangkap semua materi yang diberikan nanti. Vim menepikan pikiran-pikiran yang meragukan kemampuan Laras. Kemauan Laras yang besar adalah dorongan bagi Vim untuk mendukungnya. Memenuhi permintaannya.
"Miss Sissy akan mengajarimu Laras. Kenalkan."
"Laras."
"Saya Sissy. Senang berkenalan dengan anda nona."
"Begitupun saya ehm.."
"Panggil saja saya miss Sissy. Umur Saya 35 tahun."
"Terserah kalian mau memulai sekarang atau tidak. Saya permisi ke dalam."
"Kami akan memulai sedikit dahulu Tuan."
"Silahkan."
Vim meninggalkan Laras dengan Sissy. Laras tidak mengiringi Vim kali ini. Vim langsung menuju ke kamar. Hari ini Vim pulang lebih cepat dikarenakan mengenalkan
Laras pada Miss Sissy. Di kantor ia memerintahkan Joel untuk mencarikan guru les untuk Laras.
Miss Sissy menyampaikan kepada Laras tujuan dari kelas private yang diikuti Laras. Sama seperti Laras agar ia bisa bicara secara lancar menggunakan bahasa Inggris. Karena Laras pernah mengikuti les Inggris semasa SMA, Laras tidak terlalu kesulitan menerima ilmu dari Sissy nantinya, menurut Miss Sissy.
Dalam waktu enam bulan diharapkan Laras sudah mahir berbahasa Inggris. Untuk itu Miss Sissy langsung memberikan materi untuk Laras ketahui dan memberikan buku pegangan untuk dipelajari dan dihafal.
Di akhir pelajaran..
"Nona jangan takut untuk berbicara, sering-sering melihat film berbahasa Inggris sebab di situ bisa mengasah daya tangkap kita mengingat dan mengartikan kalimatnya."
"Baik miss. Saya usahakan. Terima kasih untuk hari ini."
"Terima kasih kembali. Sampai jumpa hari berikutnya. Saya permisi."
Laras mengantar Miss Sissy sampai di luar hingga Miss Sissy berlalu dengan mobilnya.
Kembali ke dalam dan segera menuju ke kamar di mana suaminya berada. Vim baru selesai membersihkan diri, harum semerbak shampo dan sabun memenuhi ruangan. Laras mendekati Vim lalu memeluknya mesra dan manja.
"Mas terima kasih untuk semuanya."
Cuuuup.
Kecupan sayang untuk Vim membuat Vim serasa melambung ke atas awan.
"Bagaimana menurutmu?"
Gantian Vim memberikan kecupan. Darahnya bergolak. Laras selalu berhasil menyalakan bara hangat dalam diri Vim. Menaikkan ghairah lelakinya. Membuat Vim terus dan selalu ingin merasakan manisnya Laras. Laras ibarat madu baginya.
"Asyik. Tidak terlalu susah. Mungkin karena aku sudah memiliki sedikit ilmunya."
"Coba katakan sesuatu padaku dalam bahasa Inggris." Tantang Vim.
"How are you Sir?"
Vim terkekeh dan berkata, "Hanya itu? Anak SD juga bisa."
Laras menyubit lengan Vim merasa Vim mengejeknya. Wajahnya cemberut. Vim tertawa lepas melihatnya.
"Katakan yang lain sayang."
"I love you!"
Laras mengecup bibir Vim sangat cepat. Vim bermaksud meraih tubuh Laras tetapi Laras lebih dahulu menghindar karena ia menyadari gelagat Vim jika ia menyiumnya. Vim akan menariknya dan takkan melepaskan Laras. Selanjutnya Vim akan mengajak Laras menjelajah kenikmatan dunia. Saat ini Laras hanya ingin membersihkan diri karena hari beranjak malam.
"I love you too Laras!"
Laras meletakkan telapak tangannya di mulut dan meniupnya. Kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Meninggalkan Vim sendirian menunggunya selesai mandi. Menyisakan rasa penasaran di hati Vim yang belum kesampaian membawa Laras dalam dekapannya saat ini.
...🌻🌻🌻...
Hari ini Laras meminta miss Sissy datang lebih cepat. Miss Sissy tidak keberatan kebetulan ia tidak memiliki jadwal mengajar di siang hari. Rencannya Laras ingin mengunjungi lembaga kursus yang dipimpin miss Sissy. Sekedar ingin tahu saja. Laras mulai jenuh seharian berada di rumah. Vim sering pulang malam dikarenakan kesibukannya.
"Kita menerima siswa dari tingkat terendah. SD banyak juga. Siswa SMP paling banyak di sini. Kalau untuk karyawan kebanyakan memilih malam hari."
Laras menyimak ucapan miss Sissy. Tatapannya mengitari gedung di hadapannya. Terlihat penuntut ilmu keluar masuk. Ada yang baru datang, ada pula yang keluar gedung hendak pulang ke rumah.
__ADS_1
Bangunan bertingkat dengan banyak ruangan. Melewati setiap ruangan, terdengar suara pengajar atau anak didik yang menjawab pertanyaan pengajar.
"Beginilah nona. Bersyukur sampai saat ini semuanya berjalan lancar."
"Miss hebat. Saya bukan siapa-siapa."
"Ah nona. Setiap orang punya kelebihan termasuk nona. Tidak pernah ada cukupnya jika kita membandingkan dengan orang lain. Saya memulai ini dari nol nona, bermula di bangunan yang
kecil dan harus menyewanya." curahan hati Sissy yang lebih suka dipanggil miss.
"Oo begitu."
Dan Laras memang menemukan ketegaran dan keteguhan di wajah Sissy. Wanita yang tidak menyerah dengan keadaan ketika ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang suami, yang harus membiayai buah hatinya seorang diri di usia mudanya. Itu yang Laras tahu dari cerita Sissy sewaktu di dalam mobil. Ditambah keberuntungan dan pertolongan Tuhan Sissy bisa sukses sekarang.
"Duduklah nona. Kita istirahat sebentar sebelum pulang."
Minuman dan makanan teman mengobrol telah datang diantar pelayan muda. Lebih muda dari Laras. Tadi Sissy sempat berbicara pada pegawainya untuk memesan makanan dan minuman.
"Silahkan minum nona."
"Terima kasih. Senang sekali berada di sini miss. Sayang sekali suamiku tidak mengijinkanku pulang pergi ke sini."
Tempat yang bersih, nyaman dengan para pengajar yang ramah berhasil menarik perhatian Laras.
Dari arah depan muncul seorang wanita berumur dua puluh lima tahun menghampiri mereka.
"Anita kau berjalan terburu-buru."
"Kak aku baru saja tiba di rumah karena aku tadi ijin menghadiri pernikahan temanku. Sampai di rumah tidak ada orang sama sekali." Anita wanita itu, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Tidak ada orang. Bibi sedang membeli keperluan dapur di antar sopir. Kau tidak menelponku dulu."
"Mana aku tahu. Berikan kunci rumah padaku."
"Tenang saja. Sebaiknya kenalan dulu sama nona Laras. Nona ini adik saya Anita."
"Hai." Sapa Anita.
"Hai. Salam kenal. Aku Laras."
"Ini kunci rumah. Kau boleh pulang sekarang."
"Baiklah. Selamat bekerja Kak."
"Sebentar lagi aku pulang."
"Aku tahu."
Anita berlalu. Laras berdiri. Waktu sudah cukup untuknya berada di situ. Laras harus pulang.
"Mau kemana nona?"
"Saya pulang ya miss, sudah sore."
"Sebentar saya antar nona pulang."
"Tidak apa miss. Saya pulang sendiri saja."
"Jangan nona. Tadi anda pergi dengan saya dan sekarang pulang dengan saya juga."
"Merepotkan miss."
"Tidak nona sekalian saya juga pulang ke rumah. Mari!"
Mereka berjalan beriringan. Keinginan Laras untuk berada lebih lama di sana urung mengingat Vim sudah waktunya kembali ke rumah. Vim tidak memberitahu akan pulang lambat. Berarti ia bisa jadi pulang ke rumah sore ini.
"Terima kasih miss. Maafkan merepotkan miss."
Laras turun dari Mobil miss Sissy.
"Sama-sama nona. Sampai jumpa."
Masing-masing melambaikan tangan. Laras melangkah ke dalam rumah dengan riang.
Seperti biasa masuk ke kamar, membersihkan diri dan bersiap menyambut Vim pulang ke rumah.
__ADS_1
Pukul setengah lima mobil Vim memasuki halaman. Vim tidak melihat Laras di depan pintu. Melangkah ke dalam dan melihat Laras baru datangmenghampiri
nya.
"Sudah pulang sayang."
Laras menyambut dengan kecupan di pipi serta meraih tas kerja Vim. Membawa masuk ke kamar mereka. Vim duduk menyeruput kopi buatan Laras di kamar.
"Lelah ya mas?"
"Lelahku tidak berarti apa-apa dibandingkan kebahagiaanmu."
"Heemm..kusiapkan air hangat ya biar capenya hilang."
"Aku mandi air biasa saja. Kegiatan di luar kantor membuat
ku gerah."
"Shower?"
"Ya. Duduk saja di sini. Aku ingin kau di sini."
"Mandi dulu sayang biar lelahnya hilang."
Laras menyentuh pipi kanan Vim.
"Mau lelahku hilang? Sini!"
Vim cepat meraih leher Laras. Mengambil rasa manis di bibir Laras. Laras pun terlena sesaat.
"Sudah ah. Mas mandi sana."
Laras mengambil jarak dari Vim.
"Atau mas mau kumandikan."
"Dengan senang hati. Ayo!"
Vim memotong kalimat Laras dengan cepat.
"Uuuh senang banget sih tapi aku sudah mandi dan sekarang mau menyiapkan makan malam. Daaa sayaang aku ke belakang dulu ya."
"Jangan lama!"
"Tidak. Aku tahu mas lapar."
"Bukan. Kau cepat kembali ke sini. lagi."
"Tentu sayang."
Vim makan dengan lahap. Dia menunjuk tumis brokoli daging agar Laras menyendokkan untuknya.
"Enak ini. Kau atau Bibi yang masak?"
"Aku mas. Tumisan ini aku yang masak."
"Sudah pas rasanya."
"Makasih mas."
Laras tersanjung. Jika tidak sedang makan, tentu bibirnya sudah menempel di pipi Vim sebagai ungkapan terima kasih.
Makan malam usai. Bibi dan Laras mengemasi meja beserta perkakas makan di atasnya.
"Selesai Bi. Bibi istirahat."
"Ya nona. Bibi tinggal ya."
Laras mengangguk. Tidak ada yang akan dikerjakan lagi. Laras pun menghampiri Vim. Dari kursi Vim merentangkan tangannya. Laras terus berjalan maju. Hampir dekat dengan Vim. Baru saja akan mengambil tempat di samping Vim tapi tubuhnya keburu ditangkap dua tangan Vim yang kokoh. Tubuh Laras oleng tiba-tiba jatuh terduduk di atas pangkuan Vim. Vim tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat ia menyium leher dan wajah Laras menyalurkan hasratnya yang tadi tertunda. Dasar Vim.
😊😊😊
Senang bisa menulis di sini..senang bisa menyalurkan hobi.😊
Like, vote & comment.
__ADS_1