Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 131. Berusaha.


__ADS_3

Bertiga mereka bertanya kepada pihak keamanan untuk menemukan informasi rekaman CCTV. Petugas memutar ulang rekaman kamera CCTV. Terlihat di layar ketika Laras melangkah ke pintu masuk mal, dua orang bertubuh besar membuntuti dari belakang dan dengan cepat menutup hidung Laras dengan sesuatu.


"Dibius Tuan," sela Joel.


"Sialan," umpat Vim lalu bertanya kepada petugas, "Satpam di mana? Kosong di situ."


"Biasanya petugas berjaga di pintu itu Pak."


"Tolong berhenti Pak. Besarkan."


Vim memotret gambar plat mobil yang membawa Laras. Pihak berwajib bisa melacak pemiliknya sesudah Vim melaporkan hal ini.


Sampai di situ tidak ada lagi rekaman yang berhubungan dengan keberadaan Laras di mal tersebut.


"Terima kasih atas kerjasamanya Pak." Vim mengulurkan tangan dan disambut oleh petugas keamanan yang melayani permintaannya.


Kini Vim dan Joel memutuskan pulang ke rumah. Di rumah Vim tak bisa tenang. Bagaimana mau tenang jika Laras tak ia ketahui keberadaannya. Hilir mudik Vim memikirkan cara menemukan Laras. Laras dibawa ke mana?


"Kau tidak bisa bertindak sendiri Vim. Mintalah bantuan polisi. Laporkan." Begitu saran Dion tatkala Vim menelpon Dion.


"Dua kali dua puluh empat jam," kata Vim.


Vim mengusap wajah. Vim takkan sanggup bersabar dengan waktu segitu. Vim mencoba menekan nomor panggilan Roni. Tak tersambung. Vim mengumpat keras. Berteriak dan menendang kaki sofa.


"Eeeaaak!!!"


Muncul Ron. Aku tak sabar menendang wajahmu yang tengil. Sialan kau Ron.


Tak ada yang berani mendekati Vim. Tidak bibi, tidak juga pak Uun. Mereka maklum jika Vim gundah gulana dan raut wajahnya sarat aura kerisauan. Laras hilang sejak siang hari. Katanya membeli keperluan Vian namun belum kembali hingga hari hampir berganti malam.


Bibi menggendong Vian di kamar. Bayu itu sesekali gelisah meskipun tak menangis.


Laras di mana dirimu berada. Beri sedikit tanda agar aku bisa menjemputmu. Sabar ya sayang Aku akan datang.


Senyum Vim kecut. Di mana Laras sekarang? Mencari tanpa tahu pasti di mana Laras berada lebih sulit. Ia berharap segera ada petunjuk meskipun baru hitungan jam Laras hilang. Vim sangat mengharapkan Laras ditemui secepatnya.


Suara langkah mendekat membuat Vim menoleh ke belakang. Wajah cemas mami Maharani hadir. Mami datang setelah mendapat kabar hilangnya Laras dari Vim.


"Vim! Vim! Gimana Laras Vim?"


"Mami....! Belum tahu ini Mih. Semoga Laras baik-baik saja. Mami sama siapa?"


"Mami diantar sopir. Papi belum pulang. Vim kenapa bisa begini? Apa yang terjadi? Kalian bertengkar?"


"Mami please...jangan mengira macam-macam."


"Aduh... gimana ini Vim?? Keadaan Laras seperti apa coba? Perbuatan siapa ini Vim??"


"Tidak tahu pasti gimana kondisi Laras tapi orang itu sepertinya tidak suka melihat kebahagiaan kami. Aku melarang Laras bepergian, Mih... tetap saja dia keluar hhh."


"Maksimalkan pencarian Vim. Mami mau Laras selamat. Kau tahu tidak, ibunya Laras pingsan setelah kau menelepon." Mami duduk di sebelah Vim.


"Yaaah...pasti kagetlah Mih. Hhhh... Laras akan kutemukan Mih." Tekad Vim. Kedua tangannya menangkup di wajah.


"Ya Tuhan berikan petunjuk di mana Laras," do'a mami.


"Mami mau naik, melihat Vian. Kasihan cucu mami, mamanya nggak di rumah...hiiiks."


Vim memandang punggung mami. Ibunya itu berjalan menaiki tangga sembari menghapus air bening di balik kaca mata.

__ADS_1


Keesokan hari Vim melapor ke pihak berwajib dan meminta bantuan pencarian Laras. Petunjuk-petunjuk diserahkan untuk memudahkan pelacakan.


Tak sampai di situ saja Vim menyewa mata-mata untuk mengintip pergerakan Roni.


Vim sedang termenung di ruang kerja ketika Joel masuk membawakan makan siang.


Dia terlihat santai namun sesungguhnya pikiran Vim layaknya benang kusut.


"Tuan waktunya makan siang. Saya belikan makanan kesukaan Tuan , botok dan mangut ikan mas serta air kelapa muda. Jangan lupa dimakan Tuan supaya anda tidak jatuh sakit."


"Terima kasih Joel. Apa aku bisa makan sementara dia kelaparan?"


"Tuan...yakinlah Ibu tidak kelaparan. Jika benar kelaparan, kita balas mereka yang membuat Bu Laras kelaparan. Jangan diberi makan orang-orang jahat itu. Makanlah Tuan. Tuan membutuhkan tenaga dalam hal ini. Jangan sampai pikiran membuat anda lemah. Tujuan kita Ibu harus ditemukan. Tidak lupa kita harus berdo'a juga. Selamat makan Tuan."


Joel telah keluar ruangan. Vim menyentuh piring dan membuka bungkusan yang dibawa Joel. Teringat oleh Vim waktu Laras menemani Vim makan malam setelah telat pulang dari bekerja.


"Enak loh mas. Aku yang masak sendiri. Coba mas rasakan ini." Sepotong mangut ikan mas berpindah ke piring Vim.


"Benar kamu masak sendiri atau ini kiriman dari ibu?"


"Benar dong mas. Tanya bi Am kalau mas tak percaya. Siang ini ngapain saja aku di dapur, bibi Am yang tahu." Laras bersemangat malam itu.


"Yang aku tahu mangut ibu paling enak. Jika memasak lebih ibu membawakan kami mangut ikan mas lalu mengambil bahan kain panjang."


"Rasa dulu buatanku. Nanti ketagihan loh."


Vim mencicipi masakan mangut ikan mas buatan Laras.


"Enak??" Tanya Laras.


"Ehm... lumayan."


"Kok lumayan sih. Enak bilang. Nggak kalah kan sama yang ibu bikin?"


"Nah...kan minta tambah. Boleh. Ini ya mas habiskan. Ikan yang enak." Laras mengambilkan sepotong mangut ikan mas. Vim memperhatikan. Bahagia melihat Laras bahagia.


"Soalnya sudah dijampi-jampi sih jadi enak...haha..." Vim tertawa.


"Aaah nggak dijampi-jampi juga memang beneran aku masaknya enak."


"Iya, iya...tidak sia-sia Ibu mengajarkan masak."


Sampai di situ Vim menyadari lamunannya. Ia mengusap wajah.


Kau sudah makan belum Laras? Makan apa?


Seketika Vim makan dengan lahap. Menjumput botok, menyuap nasi dan ikan matang ke mulut.


Aku harus makan Laras. Aku harus membawamu pulang ke rumah. Aku tidak boleh lemah. Aku dan Vian membutuhkanmu.


"Masuk Tuan." Joel permisi masuk tanpa menunggu jawaban Vim. Ia membawa piring berisi buah di tangan. Tugasnya di kantor adalah menyiapkan keperluan Vim termasuk makan siang ketika Vim memilih makan di ruangan.


"Buah-buahan Tuan."


"Kenapa baru sekarang diantar ke sini?"


"Tadi belum ada melon Tuan."


"Ya sudah. Letakkan. Belum ada berita Joel?"

__ADS_1


"Belum Tuan."


"Angkatlah semua peralatan makan itu. Lihat perutku naik bukan?" Vim menepuk-nepuk perutnya.


"Tuan memiliki energi yang banyak sesudah makan. Semangat bisa menemukan Bu Laras."


"Kemana kita harus mencari Joel?"


"Ehm saya tidak tahu Tuan."


"Pesan masuk dari Roni. Roni!"


Di media pesan itu muncul lagi gambar-gambar Laras yang terbaru. Berada di sebuah ruangan dengan pakaian miliknya. Vim fokus menatap. Laras terlihat lelah.


"Istriku Joel. Mereka mengurungnya."


"Syukurlah ibu selamat. Tuan tanyakan di mana lokasinya."


"Bodoh! Mana mau mereka menyebutkan tempatnya. Untuk apa mereka susah payah menculik Laras?"


"Oiya juga Tuan."


Vim menekan nomor yang tertera di pesan tersebut. Ternyata panggilan darinya tersambung ke nomor itu.


"Dasar lu Ron. Tak puas mengganggu kehidupanku. Berikan Laras padaku. Lu minta apa?"


"Aku tak butuh uangmu Vim! Hanya Laras, itu saja. Kita bisa bergantian sekarang hahah."


"Jangan banyak omong. Suara lu bikin mual. Hei dengar ya, Laras bukan piala bergilir. Jangan berani sentuh dia! Tunjukkan wajah lu sekarang! Bangsat!"


"Hahaha waktunya tiba Vim. Kau takkan pernah bertemu Laras lagi. Tak akan!"


"Sebelum apapun terjadi sama Laras, aku pastikan lu keok."


"Sebelum kau temukan Laras, aku membawanya. Selamat tinggal Vim. Rasakan kekalahan."


"Aku tak pernah kalah, sialan."


"Jangan buang waktumu. Temukan kekasihmu ini. Aku bisa mencicipnya bukan??"


"Roni! Jangan lu sentuh Laras sedikitpun!!"


"Hahahaha...masa bodoh!"


"Roni! Awas lu. Kepala lu taruhannya."


Joel terbengong-bengong menyaksikan pembicaraan dua orang tersebut. Sebegitu serius. Seperti di film-film, pikir Joel.


Percakapan telah usai. Vim menahan marah dengan wajah memerah.


"Dimana dia? Laras, kau dimana??!!" Vim berteriak. Kecewa, kesal pada Roni dan hampir putus asa bercampur jadi satu dalam hati.


"Tuan yang sabar. Semoga ada titik terang."


"Joel... Laras terancam. Bagaimana jika Roni menyakiti Laras, Joel??"


"Tuan Roni menyayangi bu Laras. Dia takkan tega menyakiti." Ucapan Joel hanyalah sebuah penenang untuk Vim. Joel juga tak begitu yakin dengan perkataannya. Seseorang bisa nekad melakukan apa saja untuk melampiaskan dendam.


"Apa mungkin? Setelah dia kecewa dengan keadaan dan selalu kalah dariku? Oh Tuhan, lindungi Larasati. Tolong lindungi Laras, Tuhan. Aku tak sanggup melihat dia terluka apalagi kehilangan dia."

__ADS_1


"Tenang Tuan. Semoga ada jalan keluar menemukan Bu Laras."


Sisi rapuh Vim mulai kelihatan. Joel iba melihat atasannya. Jangankan ikut mencari Laras, waktu Joel sudah habis mengurusi pekerjaannya dan tambahan beberapa pekerjaan Vim yang dilimpahkan kepada Joel. Cuma itu yang bisa Joel lakukan.


__ADS_2