
Kekenyangan tidak membuat terasa nyaman. Laras duduk bersila di atas tempat tidur. Perutnya terasa penuh akibat makan yang tidak berhenti di acara tadi.
"Kau mau makan apa?" Vim menawarkan makan malam.
"Aku tidak mau makan. Perutku kenyang."
"Mau tidur sayang?" Vim penuh perhatian.
"Belum mengantuk."
"Bisa aku tinggal?"
" Tidak. Mas tidak boleh pergi. Aku takut sendiri."
Laras beralasan padahal ia tidak ingin Vim keluar dari ruangan itu.
"Sebentar saja. Ada yang perlu ku bicarakan dengan ketua."
Wajah Laras berubah sendu.
"Ya sudah terserah mas saja." Laras mengalah.
Tiba-tiba suara nada dering dari HP Vim berbunyi.
"Dari Sony." Kata Vim.
Vim berpindah tempat. Menerima panggilan di balkon kamar hotel. Sebentar kemudian masuk ke dalam kamar kembali.
"Do'amu terkabul. Aku tidak jadi keluar." Bisik Vim di telinga Laras.
Senyum Laras mengembang.
"Kau senang tidur di sini?" Vim bertanya lagi.
"Ehm.. gimana ya. Sebenarnya nggak beda jauh sih dengan kamar kita. Berbeda tempat saja."
"Ganti suasana sayang supaya pikiranmu tenang."
"Pikiranku cukup tenang."
Tenang sebab Vim ada di sisinya. Tidak tenang jika Vim tetap turun ke bawah lalu hadir di acara reuni lagi. Bukan tidak mungkin terjadi Vim dan Aurora bertemu di bawah sana. Hal itu yang menjadi pikiran Laras saat itu.
"Katakan padaku kau ingin apa."
Vim telah melepas kemejanya. Berdua mereka duduk bersisian di atas tempat tidur.
"Aku tidak ingin apa-apa." Ucap Laras.
"Menurutmu bagaimana jika kita liburan?" Vim meminta pendapat Laras.
"Liburan kemana mas?"
"Terserah kemana saja. Hitung-hitung ganti liburan kita yang tidak jadi."
"Di sini saja."
"Tidak seru. Bagaimana kalau ke Bali? Ya ke Bali saja. Tidak kejauhan." Vim memutuskan sendiri.
"Aku ikut saja mas."
"Kita berangkat lusa. Aku persiapkan semuanya. Kau suka?"
"Tentu saja."
Vim meraih kepala Laras. Membawa Laras ke dalam rengkuhan dan memberi ketenangan kepada belahan jiwanya itu.
"Tidurlah jika kau mengantuk."
"Aku sudah mengantuk mas."
"Tidurlah."
Laras membenarkan posisi tubuhnya. Berbaring telentang di atas ranjang kemudian menarik bed cover ke seluruh tubuh.
"Selamat malam sayang. Mimpi indah."
"Selamat malam mas. Mas tidak tidur?"
"Nanti."
...****...
Laras menggeliat panjang.
Terasa segar tubuhnya mendapatkan jam tidur yang cukup.
Vim masih tidur dengan posisi tengkurap. Sangat lelap. Laras menunggu Vim bangun setelah sebelumnya membersihkan diri di kamar mandi.
Tubuh Vim bergerak pertanda sudah bangun tidur.
"Hoooamm." Ia menguap lebar
"Pagi sayang." Suara Laras lembut.
"Pagi juga sayang. Morning kiss?"
"Muaaach." Laras memberikan kecupan di pipi Vim.
"Di sini. Vim menunjuk bibirnya."
"Bau belum mandi." Celetuk Laras.
__ADS_1
"Satu kali, please.." Pinta Vim.
"Manja."
"Tapi kamu suka." Vim menjeling.
"Nggak."
"Bohong. Katakan suka." Ulang Vim.
"Nggak." Laras belum mau menyerah.
"Katakan suka."
Vim menggelitik pinggang Laras.
"Haahahahaa..geli mas. Cukup. Iya aku suka."
"Suka apa?" Vim terus menggelitik Laras yang kegelian di atas bed.
"Ya suka mas. Sekarang hentikan atau aku pingsan." Perintah Laras.
"Pingsan saja pakai ngomong. Sarapan pagi sudah datang?" Vim bertanya. Tangan kanannya memeluk pinggang Laras yang ramping.
"Belum. Pergilah mandi lalu kita pulang."
"Mengapa terburu-buru?"
"Kita tidak ada rencana menginap di sini jadi cepatlah bersiap. Kita pulang."
"Okay madam. Up to you."
Vim berlalu dari sisi Laras. Reuni telah berlalu. Tidak ada lagi perselisihan antara mereka karena perbedaan keinginan. Sebentar menghilang di balik pintu, Vim muncul lagi menyerahkan ponsel miliknya kepada Laras.
"Mami."
"Untukku?"
Kepala Vim mengangguk. Laras menerima video call tersebut.
"Iya mi. Mami gimana kabarnya?"
Tanya Laras setelah membalas salam dari mami Maharani.
"Mami baik-baik sayang. Kalian baru mengecat kamar ya. Warnanya sudah ganti."
Laras memperhatikan dinding hotel di depannya.
"Bukan kamar kami mami. Kami sedang di hotel."
"Oh kalian di hotel. Baguslah. Apakah kalian sedang liburan?" Mami terlihat senang.
"Tidak mam. Kami menginap semalam karena acara tadi malam."
"Ada mi."
Laras memberi isyarat pada Vim agar mendekat.
"Vim mih. Mami sehat?" Tanya Vim.
"Sehat sayang. Vim begini..Mami sudah transfer uang ke rekeningmu. Vim kau harus gunakan untuk berlibur bersama Laras. Ingat itu Vim?" kata dengan hati-hati dan teratur.
"Apa? Mami mengirim uang? Mami..aku masih punya uang."
"Pesan tiket dan pilih resort yang kalian suka. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk berlibur. Kalian belum pernah berlibur sejak menikah bukan?"
Astaga mami mengingat hal itu. Vim terperangah. Mami mengatakan hal sebenarnya bahwa mereka berdua belum pernah berlibur atau pergi bulan madu setelah menikah.
Bahkan Vim baru saja berpikiran untuk berlibur saat mereka berada di hotel ini.
"Vim kok malah melamun sih."
"Iya mi iya. Ini juga baru rencana mau berlibur ke Bali berdua Laras."
"Nah bagus itu. Kapan kalian berangkat?" Mami bertanya cepat.
"Lusa..mengendarai mobil." Vim berbicara pada sang mami sedangkan Laras hanya mendengarkan.
"Loooh kok bawa mobil." Wajah Mami menunjukkan keheranan.
"Memang kenapa mi??"
"Perjalanan ke sana itu jauh dan
melelahkan kalian. Naik pesawat saja Vim." Saran mami tidak salah.
"Ehm baiklah mami. Usul mami diterima."
"Berapa lama di sana?" Mami sangat ingin tahu. Anaknya ini terlalu sibuk bekerja hingga istri hamil tidak menyadari keadaannya. Lalu keguguran dan sekarang sibuk dengan pekerjaannya lagi.
"Dua minggu cukup mami. Pekerjaanku_"
Sampai di situ ucapan Vim dipotong oleh mami.
"Pekerjaanmu serahkan sama Rendy juga Joel. Berhentilah sesaat untuk memikirkan masa depan kalian. Berikan mami cucu. Kau dengar Vim?"
Vim memikirkan kalimat mami. Orang tua lebih banyak benarnya.
"Aku dengar mami. Baiklah. Tanpa mami meminta, aku memang akan mengajak Laras berlibur. Lusa kami berangkat. Mami mau ikut?"
Vim merasa perlu membahagia kan mami dengan mengajak mami berlibur juga.
__ADS_1
"Tidak sayang. Mami di sini saja. Kalian pergilah. Jaman mami dan papi baru menikah saja, kami mengisi waktu berdua di hotel walau hotel murahan. Kalian ini hanya di rumah saja."
"Tidak masalah mami. Bukan tentang tempatnya. Paling penting kelanjutan rumah tangga kami selanjutnya."
Mami tertawa. Anaknya ini bertambah bijak.
"Do'a mami menyertai kalian. Langgeng sampai nanti."
"Aamiin. Terima kasih mih."
"Iya. Sampaikan pesan mami pada Laras supaya jaga diri baik-baik ya." Klik. Video call ditutup mami.
"Mami pesan agar kau menjaga diri baik-baik." Vim menyerahkan ponsel di tangan kepada Laras.
"Tentu saja. Aku selalu dalam keadaan baik-baik."
"Satu lagi mami menginginkan cucu. Segera."
"Bukan masalah." Celetuk Laras.
"Begitu. Baiklah bisa kita mulai sekarang?" Tantang Vim. Dirinya penuh semangat.
Namun keraguan terpancar di wajah Laras.
"Apaan mas??" Laras menggeleng.
"Katamu bukan masalah. Berarti aku boleh berbuat lebih padamu."
"Sabar. Tunggu di Bali."
Harusnya Laras siap melayani suaminya ini namun Vim meminta tiba-tiba.
"Di Bali??? Ya sudah kita berangkat sekarang saja."
"Haaah?? Kita belum siap apapun. Pakaian belum dikemas ke dalam tas." Laras mengulur waktu.
"Oke fix lusa. Aku tak mau dengar alasanmu di sana."
Laras tersenyum datar. Setidaknya jangan hari ini. Lusa tubuhnya sudah cukup bugar. Semoga.
"Kita pulang sekarang mas." Ajak Laras.
"Nanti sore saja."
"Ya sudah. Aku boleh tidur lagi nih."
"Laras..enakkan dirimu di sini. Cuma satu hari satu malam." Vim memandang ke luar kaca. Dirinya masih enggan meninggalkan hotel. Jika perlu ditambah menginap dua malam.
Tak ada hal berarti bagi mereka berdua kala itu tapi bisa jadi dengan obrolan dan kebersamaan seperti itu bisa mempererat hubungan mereka. Bisa saling mengetahui dan menyelami pribadi masing-masing.
"Aaaaw!!!" Laras berteriak kecil. Membuat Vim yang berdiri dekat kaca segera menoleh dan mendekati Laras. Meneliti bagian tubuh Laras.
"Kau kena
.
pa? Bagian mana yang sakit ? Laras katakan." Ekspresi wajah Vim penuh kekhawatiran. Dilihatnya Laras menarik nafas. Cahaya matahari bersinar terang di luar tetapi mereka merasakan dingin di ruang ber AC tersebut.
Lalu, " Tidak ada yang sakit. Aku hanya_" Laras bangkit dan hendak menjauhi Vim. Vim segera mencegah Laras.
"Kau bohong ya.."
"Tidak. Haahaah..Aaww gelii!"
Suara tawa Laras berderai. Vim menggelitik pinggang Laras dan sukses membuat Laras kegelian.
"Bohong lagi awas! Bayar dengan hati."
"Hahah bayar dengan hati? Gimana itu?" Laras tergelak. Senang mengerjai suaminya ini.
"Serahkan tubuhmu sepenuh hati."
"Sebelum ini juga sudah kuserahkan." Balas Laras.
"Oya? Tidak ada nama lain di hatimu?" Vim mengambil kesempatan untuk mengetahui kejujuran Laras.
"Tentu saja."
"Tidak Herdi ataupun Edo?"
"Tidak dua-duanya. Jangan bawa-bawa kak Edo, mas." Laras menahan hidung Vim dari menyentuh pipinya.
"Aku berhak atasmu. Pinggirkan tanganmu."
Tangan Laras beralih dari pipinya.
"Kulihat cinta di mata Edo saat menatapmu." Laras menatap manik mata Vim.
"Mas lihat apa di mataku? Bagaimana tatapanku padanya? Apakah mas melihat cinta di mataku untuknya?" Berondong Laras dengan pertanyaan yang mengalir begitu saja dari mulutnya.
"Aku tidak tahu."
Vim tidak melihat hal yang sama pada tatapan mata Laras saat bersama Edo. Semua prilaku Laras terlihat biasa namun Vim tak mau mengatakan pada Laras.
"Lupakan hal ini. Aku percaya padamu." Ujar Vim akhirnya.
"Terima kasih atas kepercayaan mu."
Vim mengangguk. Kemudian masing-masing memeriksa pesan masuk di ponsel mereka.
✨✨✨
__ADS_1
Sekian dulu...bersambung..
Terima kasih banyak buat yang masih setia mengikuti cerita ini. Sehat selalu semuanya..🙏💐🌷💕