Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 139. Ini aku sayang.


__ADS_3

Joel tertawa melihat Vim keluar dari laundry shop.


"Hahaha... hahaha ini anda Tuan? Mengantarkan pakaian ibu ke sini?"


"Menurutmu siapa? Ya ini aku! Kau seneng ya lihat aku susah begini. Sehari-hari aku melakukan pekerjaan rumah tangga..." Vim dan Joel janji temu sebentar.


"Tuan jadi kapan kami bisa ke sana?"


"Nanti dulu tunggu info dariku. Aku menunggu waktu yang tepat. Mereka sering berada di sana. Kata Ben, Laras akan dibawa pergi Roni secepatnya. Aku harus membawa Laras keluar sebelum keduluan Roni.


"Tapi Tuan kemungkinan besar polisi juga akan bertindak. Kita tidak tahu kapan tapi mungkin dalam waktu dekat ini sebab kita sudah menunggu beberapa hari."


"Info aku kalau mereka bergerak."


"Baiklah."


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kalian telusuri jalan di belakang rumah itu. Mungkin ada gunanya nanti. Aku pulang sekarang. Semoga tidak ada yang melihat kita di sini. Oh ya Joel... Laras kirim pesan ke aku via handphone ku yang satu lagi. Dia sama sekali tak mengenalku."


"Hehee...Ibu juga meminta tolong sama saya, Tuan. Semoga bisa cepat keluar dari sana."


"Huum...ya sudah aku pulang ya."


Vim memandang ke sekeliling dari balik kacamata hitam. Tak banyak orang di sekitar situ. Vim pulang menempuh jarak lima kilometer dengan sepeda motor.


Di ruangan tengah itu lagi Laras menghabiskan waktu menjelang sore. Dia gelisah. Bosan melanda. Laras duduk lalu berdiri, duduk lagi, berjalan kemudian kembali ke tempat semula. Wajah Laras cemberut.


Vim menata camilan sore. Otaknya berpikir keras mencari cara mengeluarkan Laras dari rumah yang besar itu. Tak sampai hati melihat Laras tidak tenang. Jika mungkin dia akan membawa Laras keluar esok hari. Vim menarik nafas pelan. Dua orang suruhan Roni ini tak bosan mengawasi Laras. Tak pernah jauh berdiri dari Laras.


Laras berkata kepada Jon, "Tidak cape ya berdiri di situ? Aku lelah melihatmu Jon."


"Tidak ada kata lelah Nyonya. Tugas harus dikerjakan."


"Ya tapi tak harus gitu sekali Jon. Duduklah dengan santai walaupun kau mengawasiku. Tak usah takut aku melarikan diri. Tuh ada Arik di sini. Dia membantumu, iya kan Rik?"


Itu salah sayang. Yang benar aku akan mengambilmu dari tangan mereka.


Vim sengaja tak mempertikan Laras. Ia tak yakin dengan apa yang didengar dan menyahut, "Haaaa? Kurang jelas Nyonya."


"Kamu itu bagian dari mereka. Ikut mengawasiku di dalam rumah ini. Membatasi gerak langkahku. Dengan itu kalian menerima upah. Kalian membuat aku menderita."


"Tidak begitu Nyonya. Saya baru di sini. Saya kesini cuma bekerja buat cari uang, bukan lain-lain. Lagian mengapa Nonya harus diawasi setiap saat?"


Laras mengangkat wajah dan mengambil camilan sore yang ditata Vim di atas piring. Tepat saat itu ia melihat Vim dari samping. Sesuatu di bawah dagunya terlihat samar menyerupai titik hitam. Laras teringat Vim.


"Tahi lalatmu menarik." Laras memperhatikan Vim lekat. Mungkinkah dia Vim. Bukan. Rambut laki-laki ini tidak terlalu hitam. Tidak seperti milik Vim. Laras menepis dugaannya. Laras tak berani berharap dan mengira-ngira. Laki-laki ini bertingkah biasa saja dan tidak memberikan isyarat jika dirinya adalah Vim.

__ADS_1


"Enak bola-bolanya. Ben yang bikin ya?" Tanya Laras.


"Ya Nyonya."


"Aku mau lagi. Boleh?"


"Ambil saja nyonya. Ini disediakan untuk anda supaya anda makan dan badan anda lebih berisi."


Jon yang mendengar ucapan Vim menyela, "Sopan sedikit kalau ngomong. Maksudmu badan Nyonya kurus ya...Kurang makan gitu?"


"Hehe saya tak bermaksud seperti itu. Biar Nyonya tambah sehat."


"Sudah...sudah. Jangan diributkan. Omongannya nggak salah Jon. Aku suka bola-bola ini. Dibuat dari apa?" Laras mengambil satu makanan yang berbentuk bola dan menyelupkan ke sambal cair.


"Dari ayam, Nyonya."


"Suruh Ben bikin lagi besok ya. Kau boleh ikut makan. Makanlah."


"Terima kasih Nyonya. Saya makan di belakang saja."


Jon menyeletuk lagi, "Waaah dia ditawari camilan, aku tidak."


"Kau mau? Ambil sendiri di dapur. Mungkin masih ada," kata Laras. Jon cemberut.


Makan malam belum berlangsung karena Roni dan penjaga berbadan besar belum pulang. Laras tak ingin makan. Vim mencemaskan Laras. Vim melihat ke meja makan. Semua hidangan menjadi dingin. Ini tak boleh terjadi terus. Laras bisa sakit jika lambat makan. Vim tak melihat Jon di ruang televisi dan ruang makan tapi tercium bau asap rokok.


Vim kembali ke belakang. Mengambil nasi beserta lauk dan sayur. Cukup satu piring saja. Lebih mudah membawanya. Vim melangkah cepat ke pintu kamar Laras. Memutar gagang pintu dan berhati-hati supaya pintu kamar tidak berbunyi. Suara akan menimbulkan kecurigaan bagi Jon. Syukurnya pintu memang tak berderit. Vim lega. Vim menyelinap masuk.


"Hei Arik, kau tak mengetuk pintu. Heemh untung aku berpakaian." Laras melotot dan menambahkan, "Kau mendapatkan hukuman besok."


"Ma'af...maafkan Nyonya. Nyonya makan ini ya. Anda belum makan."


"Aku tidak lapar. Keluarlah Arik. Aku tak mau diganggu dan kalau Jon tahu kau masuk tanpa ijin, kau bisa kena akibatnya."


"Biarkan Nyonya dia menghukumku asalkan anda mau makan."


"Arik, apa-apaan ini. Ya sudah kau tinggalkan makanan itu. Piringnya nanti kuletakkan di bawah kasur dan kau ambil besok pagi ya. Sekarang pergi ke kamarmu dan terima kasih."


Laras mendorong bahu Vim agar Vim pergi dari kamarnya tapi sentuhan tangan Laras menimbulkan getaran lain. Vim tak pergi. ia justru mengunci kamar Laras. Laras tambah terkejut bukan main.


"Arik apa-apaan ini??"


"Jangan teriak."


Saat itu juga Vim menarik rambutnya hingga terlihat rambutnya yang asli. Laras seketika terbelalak dan hampir menjerit melihatnya. Laras berhasil menguasai diri. Kedua tangannya menutup mulut. Air mata mengambang begitu saja. Dia benar-benar tak percaya apa yang barusan dilihat. Laras mengucek mata. Mengucek lagi.

__ADS_1


"Ini aku sayang. Vim."


"Mas Vim."


"Iya ini aku. Lihat ini." Vim menunjuk tahi lalatnya.


"Sayang. Aku rindu. Aku takut," ucap Laras.


Laras menghambur ke dada Vim. Menangis sesenggukan. Pelan karena takut ada yang mendengar. Vim memeluk erat. Mereka saling berpelukan dan melepas rindu. Vim mengecup sekeliling wajah Laras. Melepaskan rindu yang bersarang. Laras pun sama. Terus mempererat pelukannya. Tanpa kata. Ia tak sanggup bicara. Bulir bening dari netranya terus meleleh. Hanya hati mereka yang saling bicara mewakili kata-kata.


Akhirnya Vim berucap, " Aku harus keluar. Makanlah. Jangan takut. Besok kita pergi dari sini. Setelah makan, tidurlah hmm."


Laras mengangguk. Mau tak mau membiarkan Vim keluar dari kamar. Tak mungkin menahan Vim lebih lama.


"Hati-hati sayang. Kita harus pergi dari sini. Aku kangen Vian hiiiks."


"Ya...ya. Kau harus makan supaya bisa bergerak cepat besok, oke?"


Laras mengangguk lagi. Vim mengenakan rambut palsu lagi dan menggeser grendel kunci yang ia tautkan tadi. Melihat Laras sebentar lalu meniupkan telapak tangan ke arah Laras.


...Seluruh nafas dan jiwaku untukmu....


Vim memastikan tak ada orang di luar kamar. Asap rokok masih tercium. Jon ada di dekat situ tetapi di beranda.


Sementara Ben melihat ke pintu kamar Vim yang terbuka. Ben berniat mengambil camilan yang ia simpan sore ini. Tak biasanya Vim membiarkan pintu itu terbuka walaupun separoh. Ben melongok ke dalam kamar. Tak ada orang. Ia melihat ponsel Vim menyala. Penasaran dengan merk ponsel Vim, Ben mendekati ponsel yang tergeletak di kasur bersprei. Ben terbelalak. Ponsel Vim berharga mahal. Ben membaca notifikasi pesan yang terlihat di layar. Wajahnya pucat tiba-tiba. Ben mundur. Bos. Polisi. Kata-kata itu mengisi kepalanya. Jadi Vim?


Ben berbalik keluar kamar secepatnya. Jantungnya berdegup kencang.


Bruuukk.


"Aaaaakh!" Ben mengelus kening.


"Aduuhh." Vim mengusap hidungnya yang beradu dengan kening Ben.


"Kau...??? Siapa kau?"


"Ben...ada yang kau ketahui. Kau memasuki kamarku tanpa ijin. Aku harap kau tutup mulut."


"Aku...aku...tidak tahu."


"Ben aku tak akan menyusahkanmu jika kau bekerja sama."


"Aku tak tahu apa-apa," kata Ben.


Ben berlari ke kamar. Vim masuk kamar dan mengunci pintu. Meneliti ponsel dan membaca pesan. Ia percaya Ben membaca pesan yang dikirim Joel kepada Vim. Vim berharap Ben tak mengatakan temuannya kepada Roni atau yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2