
Vim menoleh ke kiri dan ke kanan mencari ponakannya yang bernama Vici. Mengapa Vici tidak kelihatan di sekitar situ. Vim mendadak resah. Kemana Vici
menghilang. Ia terus mencari Vici di balik setiap baju yang bergantung tapi tidak melihat anak itu. Hatinya gelisah sambil terus mencari. Bagaimana ini jika Vici tidak ditemukan.
Vim menyerahkan Arika kepada Laras sementara ia akan mencari Vici lebih jauh dari tempat pakaian anak-anak perempuan dipajang. Hatinya diliputi kegalauan. Bagaimana jika Vici dibawa pergi orang. Vici kemana kamu nak.
Laras melanjutkan memilih pakaian untuk Vini dengan menggandeng tangan Arika agar anak itu tidak pergi jauh darinya.
"Ini mau sayang?"
"Mau tante. Vini suka yang itu."
"Kita bayar ya. Ayuuk."
Vim tidak berhenti mencari. Baginya Vici mutlak ditemukan jika tidak Vadli akan memarahinya habis-habisan. Menjaga satu saja tidak becus. Belum-belum raut wajah Vadli yang sedang murka membuat Vim nervous membayangkannya. Belum lagi rasa bersalahnya pada Sinta. Raut wajah Sinta yang penuh kekhawatiran bila mengetahui anaknya hilang. Vim mengusap kasar wajahnya.
Tuhan dimana anak itu berada. Tunjukkan padaku.
Kini Vim telah berada jauh dari Laras. Tanpa Vim sadari kakinya sudah sampai di bagian pakaian wanita dewasa. Celingukan sembari memanggil-manggil kecil nama Vici. Hingga di depan samping kiri ruang ganti pakaian, Vim melihat Vici sedang berbicara dengan anak lelaki seusia Vici.
Vim menarik nafas lega. Syukurlah Vici ada di sana.
Wajah Vim bersinar gembira. Akhirnya ketemu juga yang dicari. Vim Bergegas maju menghampiri Vici. Merunduk merangkul Vici. Kelegaan terpancar di wajah Vim.
"Vici! Kamu ngapain di sini. Oom mencarimu."
"Oom!! Vici punya teman baru. Namanya Rafli."
Vici menunjukkan teman barunya. Anak yang disebut namanya itu tersenyum. Dibalas oleh Vim dengan senyuman pula.
"Iya tapi harusnya Vici minta ijin dulu sama oom kalau mau ke sini.
Oom mencarimu sayang. Kalau Vici diambil orang, mommy daddy bisa marah sama oom."
"Maafkan Vici oom."
Vici memeluk Vim dengan erat dan wajah memelas takut dimarahi Vim. Anak berusia lima tahun itu memang biasa diajarkan ibunya meminta maaf jika telah berbuat salah.
"Hai Raffli sama siapa di sini?"
Vim bertanya ramah. Merendahkan suara tennornya agar Raffli tidak merasa takut.
"Aku sama mama oom."
"Oo.. mama kamu di mana?"
"Di situ oom."
Raffli menunjuk ruang ganti pakaian. Berarti mamanya sedang di dalam.
"Raffli di sini saja sampai mama keluar ya. Vici akan pulang sama oom."
Raffli menganggukkan kepala. Vim dan Vici membalikkan badan hendak berlalu tapi alangkah terkejutnya Vim mendapati seseorang yang berdiri di depannya baru saja keluar dari ruang ganti pakaian. Pakaian yang berada di tangan perempuan itu pun luruh ke lantai seketika. Masing-masing masih tidak percaya atas apa yang mereka lihat.
"Vici!!"
"Mbak Vini.!!
Teriakan kedua ponakan menyadarkan Vim. Di belakang Vim ada Laras yang serta merta membalikkan badan dengan menggendong Arika.
Saat itu juga Laras merasakan bara panas dalam hatinya yang tiba-tiba menyala. Laras merasakan hatinya sakit. Ingin segera pulang dan menyiram tubuhnya dengan air agar bara itu padam dan hatinya sedikit menjadi sejuk.
"Ras tunggu!!! Kita pulang!!"
Sahutan Vim tidak dihiraukan Laras. Lebih cepat pulang ke rumah lebih baik. Terus saja ia melangkah dengan menggendong Arika. Bobot Arika yang lumayan berat membuat nafas Laras naik turun. Lelah tapi tetap memaksa menggendong. Hingga Laras tiba di depan pintu keluar. Di belakang
nya Vim dan dua ponakan mengikuti Laras.
"Ras kau marah? Apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan."
"Aku tidak marah. Mas ambillah mobil. Hari sudah mendekati malam, kita harus pulang.." Ujar Laras berusaha bersikap setenang mungkin tapi jauh di dalam hati
nya ia merasakan perih seperti disayat sembilu memergoki Vim dengan perempuan lain.
Hatiku sakit sekali tapi mengapa aku merasakan ini. Mengapa aku tadi mencarinya. Seharusnya aku diam saja di tempat semula.
Vim menghentikan mobil tepat di depan Laras dan para ponakan.
Membimbing ponakannya agar masuk ke mobil satu persatu. Keheningan tercipta di antara Vim dan Laras. Masing-masing hanyut dalam diam selama perjalanan pulang. Dari kaca spion di depan nya Vim bisa melihat Laras dengan bibir yang terkatup rapat. Vim tak hendak mengganggu.
Benar-benar tidak mau berbicara dia. Tapi ya Tuhan diam saja dia tetap cantik.
__ADS_1
"Kita sudah sampai! Vini, Vici boleh turun ya. Pelan-pelan."
"Iya oom." Vini membuka pintu setelah Vim melepaskan seatbelt nya.
"Tante.. turun."
Ajakan Vici mengagetkan Laras dari lamunan. Laras pun
menggeser tubuhnya mendekati pintu. Kemudian turun bersama si kecil Arika dan Vici. Arika yang telah menginjakkan kaki di atas lantai, berlari riang masuk ke dalam rumah.
"Laras kau masih marah?" Tanya Vim penasaran.
"Siapa bilang? Nggak kok."
Laras berkilah. Sebenarnya air mata Laras akan turun mengingat kejadian tadi. Secara tak sengaja melihat Vim dengan perempuan itu. Perempuan yang untuk menyebut namanya saja Laras mulai enggan. Laras tidak menyukai perempuan itu. Laras benar-benar terbawa perasaan. Bahkan mengelak dari Vim yang berusaha menerangkan keadaan sesungguhnya.
...~~...
Di malam hari...
Di bagian sebelah kiri meja makan ada Ibu Maharani, Vim dan Laras. Di sebelah kanan meja tampak Vadli dan Sinta lalu Viky dan Alya. Pak Dewantara berada di ujung meja.
Anak-anak dikumpulkan menjadi satu di ruang keluarga di depan televisi ditemani oleh Nis asisten Bibi kepala pembantu. Di atas meja telah disiapkan tiga piring untuk makan malam anak-anak.
Ditambah dua piring lauk untuk tambahan.
Seperti biasa makan malam keluarga digunakan untuk saling menyapa dan menanyakan perihal masing-masing pada hari ini. Suasana akrab itu sudah berlangsung dari Vim bersaudara masih kecil. Jika dulu mereka saling ejek mengejek di meja makan disebabkan apa saja, sekarang lebih fokus membicarakan pekerjaan atau hal-hal seputar keluarga kecil mereka.
Ibu Maharani mengambilkan makanan untuk Pak Dewantara. Kemudian bergantian Sinta menyendokkan makanan untuk Vadli dan seterusnya Alya dan Laras melakukan hal yang sama untuk pasangan masing-masing.
"Papi mendengar Nomissi agak goyah."
"Mungkin saja mengingat orang-orang yang menjalankannya seperti itu." Vadli menimpali ucapan papi.
"Belajar dari situ, Papi mau kalian tetap solid. Jaga apa yang sudah papi bangun sejak dulu."
"Tidak akan pi." Sekarang Viky berbicara meyakinkan papi.
Vim tidak bersuara. Gundah gulana masih mendera hati Vim sehingga kurang memperhatikan perbincangan. Laras yang acuh padanya membuat hati Vim resah.
Akan tetapi Vim tahu apa Nomissi itu. Sebuah perusahaan besar milik keluarga Rony. Kata papi tadi, agak goyah saat ini. Yah wajar saja. Vim tahu bagaimana keluarga Rony sesungguhnya.
"Iya mi."
"Mengapa spesial buatku?"
Vim melirik ke piring saudaranya Semua mengambil sayur tauge tapi sedikit.
"Supaya cepat jadi."
"Jadi apa mi??"
"Cucu Mami." Mami tertawa lepas setelahnya.
"Mami cucu Mami sudah tiga."
"Benar tapi Mami belum mendapatkan cucu dari kau dan Laras. Maka jangan ditunda nanti ya."
Vadli selesai makan malam. Meninggalkan meja makan menuju ke arah anak-anak berada, diikuti papi mereka. Berikutnya mereka berkumpul di ruang keluarga. Kaum wanita membersihkan meja makan.
"Jadi berangkat lusa mas?" Tanya Vim.
" Jadi. Kau antar heh?" Vadli balik bertanya.
"Boleh. Mas Viky kapan?"
"Aku besok. Kau mau antar kami juga?"
"Kalau besok aku tidak bisa. Ada pekerjaan sampai malam."
"Oke. Pak Uun saja kalau begitu." Viky memaklumi adiknya.
"Vim.. setengah lagi dari modal yang papi berikan, setelah itu kau bisa menyimpan uangmu."
"Benar Pi. Doakan berjalan lancar dan maju lebih pesat pi."
"Tentu saja. Papi ikut senang jika kalian berhasil."
Pak Dewantara merasa bahagia walaupun tidak jadi berangkat menyusul Vadli, ternyata Vim bisa
menjalankan usaha baru di sini.
__ADS_1
Perlahan hasilnya mulai kelihatan.
Obrolan masih berlangsung hingga Vim pamit masuk ke kamar tidur. Abang dan papi tetap bercerita dan bertukar pendapat.
Di kamar Vim mendapati Laras belum tidur. Masih menatap langit-langit kamar.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Bukan apa-apa." Laras menjawab sedikit kaget.
"Bohong."
"Benar. Tidak ada apa-apa."
"Kemarilah. Kau terlalu menepi."
Laras menoleh ke samping kiri. Rasanya ia jauh dari pinggir bed.
Vim meraih tubuh Laras. Mendekap Laras dengan lengannya yang kokoh. Laras merasa nyaman di situ. Aroma harum parfum di tubuh Vim yang tidak terlalu kuat memberikan kesan tersendiri untuk Laras.
"Kau marah padaku? Kau cemburu ya??"
"A..apa? Ti..tidak. Siapa bilang aku cemburu?" Laras gugup.
"Kau tak bisa menutupi perasaanmu Laras. Sikapmu menunjukkan itu."
Pipi Laras bersemu merah, malu Vim bisa menebak isi hatinya.
"Kita sekarang suami istri. Terbuka padaku tentang semua hal, oke? Ungkapkan jika kau kesal padaku. Aku akan menerima karena dalam pernikahan, kita harus bisa menerima pasangan kita. Semua kebaikan dan keburukan pasangan dalam arti kelebihan dan kekurangan masing-masing."
Sesungguhnya cinta itu selalu ada di hati Vim kepada Laras. Jika dulu pernah berlabuh di hati Aurora, itu hanyalah bagian dari takdir perjalanan hidup Vim. Mengalah agar Vano berbahagia mendapatkan Laras. Hal itu saja sudah cukup bagi Vim. Membahagiakan Vano adiknya.
Taburan kelopak bunga yang dibentuk menyerupai hati di atas tempat tidur, kini bertaburan di lantai. Terhempas ketika Laras menarik selimut dan menelusup di dalamnya tadi.
"Sekarang katakan apa yang mengganjal di hatimu?" Vim bertanya terus padahal Laras sedang tidak ingin bicara.
Mereka sama-sama menghadap ke plafon. Vim mengusap-usap lengan kiri Laras.
"Apa aku harus meyakinkanmu bahwa Aurora sudah tidak berarti apa-apa buatku? Di hatiku sudah terisi olehmu."
Kejadian tadi siang di mal bermain di pelupuk mata Laras. Melihat Vim dan Aurora berdua saling menatap saat ia menghampiri Vim dengan Arika di dalam gendongan nya.
"Arika ada di sini. Katamu ia di luar negeri." Akhirnya Laras berbicara juga.
"Aku baru tahu saat itu juga dia ada di sini. Sebelumnya aku tidak pernah bertemunya lagi. Sungguh."
Datangnya Aurora bukan tidak mungkin membuka peluang bagi mereka menjadi akrab kembali. Kata orang ce el be ka. Hal itu berkecamuk di dalam benak Laras. Laras terlalu jauh berpikir.
Vim merengkuh kembali Laras dengan lembut.
"Hatiku sudah terisi olehmu. Kau tidak akan pernah tergeser oleh apapun. Mengerti?"
Laras mengangguk.
"Maafkan aku mas."
"Tidak apa. Ini awal proses kita hidup bersama."
Vim mengecup kening Laras. Memanjakan Laras dengan perhatiannya sebagai suami. Mengambil perannya sebagai suami meskipun Vim baru memulainya saat bersama Laras.
Menyentuh Laras hati-hati hanya tidak ingin Laras merasa tersakiti dengan perlakuannya. Tiada lagi ada jarak bagi mereka berdua karena mereka telah menjadi pasangan baru yang sedang mengarungi bahtera rumah tangga. Vim sebagai pemimpin bahtera harus mampu memegang kendali termasuk mengarahkan istrinya sebagai partner hidupnya.
Semua berlangsung begitu apik. Vim yang terbawa cinta dan perasaannya pada Laras dan Laras yang-pertama kali-
merasakan sentuhan seorang lelaki secara sadar. Sentuhan yang mengangkat dan melambungkan Laras dalam berjuta rasa yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Hingga pada akhirnya, Vim mengeluh dan mengeluarkan suara menyiratkan rasa kesal.
Aaahhhhh.
Laras mendengar desahan lirih itu karena Vim masih berada di atas Laras. Dilihatnya Vim mengusap wajahnya. Berikut wajahnya yang kecewa bercampur marah.
"Maafkan aku Laras. Aku menyintaimu. Bahkan sangat menyintaimu."
"Apa yang salah mas?"
Laras tidak mengerti maksud Vim mengapa Vim meminta maaf.
Pertanyaan Laras tidak dijawab oleh Vim tapi suaminya itu kembali merengkuh Laras.
Bayangan wajahnya hadir lagi Laras. Bantu aku untuk menghilangkannya. Sungguh aku sudah tidak menginginkanya. Cerita kita telah usai. Pergi jauh dariku...Aurora.
__ADS_1