
Laras baru saja naik ke atas setelah menemani Vim berenang. Lebih banyak berendam di dalam kolam renang daripada berenang sesungguhnya sebab Laras tidak bisa berenang semahir Vim.
Bathrobe masih membalut tubuhnya. Begitupun Vim. Suara klakson motor di depan membuat bibi Am bergegas ke depan menyambut tamu yang datang. Kiranya seorang ojek online yang membawa titipan dari mami Maharani.
Dilihatnya bibi Am membawa sebuah bungkusan plastik lumayan besar dan sebuah wadah makanan plastik bermerk terkenal.
"Berat ya bi. Mari saya bantu."
Permintaan Laras ditolak oleh bibi. Kumpulan Mangga itu lumayan berat.
"Biarkan bibi saja non. Non bawa wadah ini saja."
Wadah plastik merk terkenal berisi makanan berpindah ke tangan Laras.
"Wah ini apa ya bi. Mari kita buka di belakang." Ajak Laras.
"Puding mangga non." Kata bibi setelah membuka wadah yang dibawa tadi.
"Hmmm enak." Ucap Laras.
"Puding buatan nyonya non. Nyonya biasa membuat puding mangga kalau musim mangga dan semua anak-anaknya suka."
Bibi bercerita.
"Yang ini buat bibi dan pak Uun. Nanti bibi ambil ya." Laras menyisihkan beberapa puding mangga.
"Terima kasih non."
"Sama-sama bi."
Laras mengambil beberapa cup puding mangga dan sisanya dihitung kemudian dibagi dua menjadi sama rata.
"Tidak. Kak Edo itu hanya sendiri jadi puding mangganya tidak perlu banyak." Ucap Laras lagi.
"Nah yang ini untuk kak Anggia dan yang ini punya kak Edo."
"Terserah non saja."
Bibi hanya menuruti ucapan Laras sembari membagi buah mangga yang masih utuh kedalam dua kantong. Laras mengatakan akan memberikan mangga tersebut kepada Edo dan Dion.
"Sudah dua bungkus non."
"Iya bi. Biarkan di sana dulu."
Bibi pergi dari dapur melihat Vim datang. Mencari Laras yang tiba-tiba meninggalkan dirinya di kolam renang.
"Apa itu?" Tanya Vim melirik ke meja makan.
"Puding mas. Mami benar-benar mengirimkan kita mangga." Kata Laras.
"Rasa. Aaaa." Laras menyuapkan sesendok kecil puding. Vim menyambut suapan itu.
"Aku sudah hafal rasanya. Mami yang bikin." Kata Vim.
"Kalau begitu mas sudah bosan dong."
"Tetap suka." Vim mengambil puding mangga lagi dan lagi.
Tujuh cup kecil bekas puding mangga tergeletak terbuka tutupnya.
"Cuma tujuh. Ini lagi mas."
Pemberian Laras diterima Vim.
"Lapar ya." Sindir Laras.
"Ehemm..lapar." Vim meminum susunya.
__ADS_1
Laras mengoleskan roti tawar dengan selai coklat. Jika Laras menyukai selai blueberry dan strawberry maka Vim menyukai selai coklat dan margarin.
"Tambah lagi biar kenyang."
Laras memberikan roti di tangannya. Mengoleskan lagi dua helai roti tawar.
"Wow tambah maju perutku." Vim berkelakar. Belakangan berat badannya mengalami peningkatan.
"Nggak apa. Belum maju sekali kok." Hibur Laras.
"Percuma aku berenang. Makan lagi sebanyak ini. Cukup Laras. Apa kau suka aku menjadi gemuk?" Cegah Vim ketika melihat Laras mengambil satu lembar lagi roti untuk dioles. Jika dihitung dengan roti bagian atas berarti ada enam helai roti yang harus Vim habiskan.
"Pengganti tenagamu yang hilang mas. Belum terlalu gemuk kok. Makan aja kalau masih mau. Biar kenyang dan mas nggak perlu jajan di luar nanti." Ujar Laras santai.
"Apa? Begitu. Kau takut ya pelayan restoran melirikku. Ckk."
"Hehehehe kok tahu sih." Laras tidak menampik ucapan Vim.
"Sekalian saja kartuku kau ambil sehingga aku tidak jajan di luar." Kata Vim.
"Iya iya. Kalau mau apapun bisa saja dilakukan. Tergantung dari hati, mau apa tidak. Iya kan?" Laras seperti meyakinkan diri sendiri. Tanpa kartu tanpa dompet, Vim tetap saja memiliki teman yang murah hati mentraktirnya makan.
"Gimana puding dan mangga-mangga ini? Aku mengantarnya ya. Untuk kak Dion dan kak Edo." Laras meminta persetujuan Vim.
Sekarang Vim tambah ketat memperlakukan Laras. Sebisa mungkin Laras tidak bepergian sendiri. Menurutnya mengendarai mobil sendiri hanya membuat Laras lelah.
"Hai sedang apa kalian berdua." suara Edo yang tiba-tiba hadir mengagetkan keduanya. Edo datang dari pintu depan.
"Hai kak." Laras membalas sapaan Edo.
"Panjang umur. Baru disebut sudah datang. Duduklah." Vim menggeser kursi di sebelahnya untuk Edo duduk.
"Kalian membicarakanku." Kata Edo.
"Bukan gosip. Laras ingin mengantar ini kepadamu." Kata Vim menunjukkan mangga dan puding yang disiapkan oleh Laras.
"Berkaitan dengan kesehatannya. Biarkan Laras selalu santai. Jauh dari stres." Jelas Vim.
"Ini apa?" Tanya Edo mengambil sebuah bungkusan.
"Puding buatmu dari mami." Jawab Vim.
"Kalian mengobrol. Aku ganti pakaian ya." Pamit Laras.
"Oke beb." Vim mengiyakan.
Edo memakan puding mangga miliknya.
"Apa yang membawamu kemari?" Tanya Vim.
"Sekedar berkunjung. Jadi yang mana hotel untuk reuni."
"Bintang empat. Secara Sony mempunyai kenalan di sana."
Sony adalah ketua reuni Akbar. Hotel yang Vim tawarkan untuk kegiatan reuni akbar adalah bintang lima dan usulannya kalah dari Sony.
"Kau hadir acara angkatan kita?"
Edo berkata sembari memainkan game ketangkasan di hp.
"Tidak supaya Laras tidak berkecil hati sebab aku melarangnya ikut ke pantai bersama teman- temannya. Dia akan berpikiran yang bukan-bukan sebab ada Aurora di sana."
"Seberapa jauh kau mengikatnya Vim. Laras masih muda."
"Tetap saja dia istriku. Dia telah menjadi seorang istri. Bagaimanapun ada batasan kan. Apalagi ia baru sembuh." Vim membela diri. Tujuannya adalah baik.
"Jangan lupa Laras membutuhkan hiburan agar tidak stres. Itu yang kutahu." Kata Edo.
__ADS_1
"Iya benar juga. Ah sudahlah..Laras bisa pergi denganku di dalam kota saja sehingga tidak kejauhan."
"Terserah. Aku bisa apa?" Kata Edo akhirnya.
"Sudah siap bertemu Sundari?"
"Haiiiiss. Uuhuuk."
Edo terbatuk kecil mendengar pertanyaan Vim. Ia kalah cepat bermain game. Sundari teman mereka satu angkatan lain kelas. Gadis yang lembut, berambut panjang, berkulit putih dengan tubuh tinggi semampai. Edo sempat mengejar cinta Sundari namun sayang Sundari memilih anak lelaki dari lain sekolah.
"Sundari sudah terlupakan. Buktinya aku bisa jalan dengan Kazumi. Sayangnya aku terlalu cepat memilih."
"Masa lalu biarlah masa lalu." Vim menyanyikan sebaris lagu dangdut.
Edo mencebik memperhatikan Vim. Vim paling bisa mengejeknya.
"Panco." Tawar Edo.
"Boleh." Sudah lama Mereka tidak bermain panco. Hal yang biasa mereka lakukan sewaktu SMA antara Vim, Dion dan Edo.
Lalu keduanya saling berhadapan dan menautkan jemari tangan kanan masing-masing. Ujung siku bertengger di atas meja. Masing-masing mengumpulkan kekuatan. Senyum merekah dari keduanya. Dua lelaki tampan yang seperti tidak memiliki kekurangan phisik.
"Oke Vim. Siap. Satu, dua, tiga."
Sehabis aba-aba dari Edo, keduanya berusaha mengalahkan satu sama lain. Sebentar tangan Vim oleng ke kanan, di saat lain tangan Edo.
Saat itu keduanya begitu bernafsu mencari kemenangan. Edo menekan tangan Vim agar jatuh, Vim berusaha menahannya dan sebaliknya.
Harum semerbak parfum melintas. Vim tahu bau harum parfum milik Laras. Konsentrasinya hampir buyar.
Laras yang baru muncul, berjalan ke kulkas dan mengambil puding miliknya. Melirik kedua sahabat ku yang sedang adu kekuatan itu.
"Waktu telah habis. Teng." Ucap Laras santai.
"Eee..eaaaa. Huuuhh." Edo menjatuhkan tangan Vim kesamping. Ia mengatur nafasnya. Tawa kemenangan dari Edo menggema.
"Mas Vim..kalah mas?" Mata Laras membulat sempurna. Edo memenangkan permainan.
"Haahahah..Kau datang konsentrasiku buyar yang." Alasan Vim.
"Lihatlah Laras. Dia terlalu lemah padamu. Pengaruhmu terlalu kuat. Mintalah apa saja padanya. Vim akan memberikan. Kau lewat saja konsentrasinya bisa hancur apalagi kau pergi dari sisinya." Kata Edo.
"Bicara apa kau Ed." Vim meninju Edo. Sahabatnya ini berhasil mengetahui kelemahannya.
"Kenyataan." Sambung Edo.
"Ditinggal Kazumi kau tidak hancur heh?" Balasan Vim untuk Edo.
"Ya enggaklah. Aku masih bisa bangun, berdiri melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kehidupanku masih berjalan." Tangkis Edo.
"Dan belum move on."
"Sudah cuma belum dapat pengganti." Timpal Edo.
"Belum bisa pindah ke lain hati." Tambah Vim.
"Bisa tapi tak bisa kumiliki." Edo jujur.
Vim melirik Edo sengit. Laras hanya memperhatikan perdebatan keduanya dengan kedua tangan menumpu dagu. Seulas senyum mengembang di wajah Laras. Vim dan Edo seperti anak remaja di mata Laras.
πΎππΎπ
Bersambung..
Suka, komen, hadiah, vote dan bintang lima ya..
Trims sudah hadir di sini.π
__ADS_1