Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 120. Harapan.


__ADS_3

Semangat Vim yang kuat untuk sembuh ditambah pertolongan papi yang mengundang psikolog buat Vim, membantu Vim mengalami kemajuan kesehatan fisik dan jiwa. Vim mampu menata hati kembali dan yakin ke depan keadaannya semakin membaik. Ia sanggup berjalan walaupun menggunakan alat bantu.


Ia cukup lega sebab menurut informasi yang diberikan oleh semua anggota keluarga dan pengawal, Laras dalam keadaan baik dan belum membicarakan tentang perceraian. Suatu pagi pak Uun mendapati Vim sedang berjalan dari kamar ke ruang tamu.


"Den senang lihatnya, Den Vim sudah bisa berjalan." Pak Uun menyapa Vim. Senyuman Vim sumringah.


"Pak jalannya pakai alat ini. Belum bisa lepas."


"Disyukuri saja Den. Sudah ada perubahan. Tambah baik lagi ya Den biar kita bisa pulang. Non Laras pasti senang!"


"Pasti Pak tapi Laras jangan tahu dulu. Proses ini biar berjalan sampai selesai."


"Iya Den. Saya tidak ngomong."


Buat Vim yang penting Laras tetap ada di hati dan menjadi penyemangat nomor satu untuk dia berusaha sembuh. Dorongan terkuat adalah Laras. Dia berharap Laras belum berubah. Tekadnya bertambah kuat ketika melihat poto Vian yang dikirimkan oleh mami.


Walaupun mami tahu perkembangan kesehatan Vim, mami Maharani tidak pernah menahan Laras untuk memilih jalan hidup.


"Terserah kamu nak. Laras mau menunggu VIm atau mencari pengganti Vim. Mami sadar Vim tidak bisa memberikan nafkah lahir dan batin," ucap mami suatu ketika.


"Mami jangan begitu. Mami senang Laras meninggalkan mas Vim?"


"Nggak juga. Sedih pasti," jawab mami.


"Mami nggak usah mikir macam-macam. Mami bisa sakit," bisik Laras.


"Mami kasihan sama kamu."


"Mamiiii...Laras nggak kenapa-kenapa. Lihat nih." Laras berdiri di depan mami memamerkan tubuhnya.


"Sampai berapa lama pun Laras tetap di sini." Laras meyakinkan. Justru membuat mami Maharani terisak.


"Hiiiiks...kepuasan batin itu penting Laras."


"Tapi bukan yang utama kan Mih? Laras mampu mengendalikan."


"Mami tidak tahu lagi gimana ngomong sama kamu. Jangan sampai kamu menyesal menikah dengan Vim. Masa mudamu habis begini saja."


"Laras nggak menyesal koq Mih. Ini jalan hidup yang harus ditempuh kan Mih?"


"Kamu masih muda, Laras....!"


"Laras mau menunggu mas Vim."


"Terserah Laras." Mami menyerah.


"Lebih baik kita berdoa untuk mas Vim. Cepat sembuh dan kembali ke sini."


Laras sudah menentukan pilihan. Mami membantunya mengirimkan makanan setiap hari sehingga bibi menjaga Vian dan menyelesaikan pekerjaan lainnya. Bibi tidak perlu lagi memasak.


Dua hari libur ini Laras isi dengan berlibur di rumah mami Maharani. Mengajak bibi dan Vian turut serta ke sana. Sebenarnya Laras sedang istirahat untuk memulai pekerjaan di tempat baru. Ia sudah memutuskan berhenti dari bekerja di lembaga keuangan milik Roni. Laras memberikan surat pengunduran diri kepada Risa. Dia bekerja kembali di tempat baru setelah hari libur ini pada awal bulan. Setelah perlakuan Aurora dan niat tidak baik Roni terhadap dirinya, Laras memilih berhenti bekerja. Ia tidak merasa sreg lagi bekerja di sana.


Vian dibaringkan di bed. Kedua sisinya dibentengi guling agar Vian tidak menggelundung ke bawah. Vian mulai lasak. Ia sudah bisa merangkak sekarang.

__ADS_1


Laras menatap berkeliling. Kamar ini menyimpan banyak kenangan dirinya dengan Vim. Bagaimana ia bisa lupa dan berpaling dari Vim. Semua kenangan seperti baru kemarin terjadi.


Vian telah lelap. Jam tidurnya lebih cepat dan bangun lebih cepat pula. Mengajak Laras membuka mata menemaninya mengoceh di tengah malam. Lalu tak jarang Laras diserang kantuk saat bekerja siang hari.


Laras meninggalkan Vian sebentar. Ke belakang mengambil makanan karena perutnya terasa lapar. Tak ada siapapun di ruang keluarga. Laras mendengar suara orang berbicara di ruang kerja papi. Tentu itu suara papi. Laras mendengar nama Vim disebut oleh papi. Laras berhenti di sana.


"Vim semakin membaik. Dia sudah bisa berjalan. Ya sudah bisa. Nomor handphonenya ada. Papi belum mengabarkan Vadli."


Deg.


Apa-apaan ini? Bukankah Vim bersama Vadli tapi mengapa Vadli tidak tahu keadaan Vim? Tanda tanya bermunculan di kepala Laras.


"Tinggal pulang saja. Minggu besok mungkin. Kalian di sana baik saja, Vik?" Tanya papi. Laras mengerti papi berbicara dengan Viky melalui telepon genggam.


Ckk mereka menyimpan semuanya dengan sangat rapi dan Laras menjadi paling bodoh di antara mereka. Laras ingin marah namun cepat ia redam emosinya. Semua sudah terjadi dan ia tak pernah berani marah pada mami dan papi.


Ceklek.


Laras memberanikan diri membuka pintu. Kepastian harus didapat. Tanda tanya di kepala Laras butuh jawaban. Papi menoleh terkejut dan wajahnya penuh rasa bersalah melihat Laras di belakang papi.


"Laras!??"


"Papi...."


"Laras? Kau mendengar pembicaraan papi? Laras ini berita baik."


Laras mengangguk.


"Papi katakan di mana mas Vim. Papi bohong? Mami juga bohong? Semua bohong sama Laras??" Suara Laras bergetar menahan tangis.


"Laras biar papi jelaskan ya. Tenanglah. Semua ini permintaan Vim."


"Mas Vim di mana, papi? Tolong jangan bohongi Laras lagi."


"Papi terpaksa nak. Ini maunya Vim. Jika tidak ia tidak mau terapi."


"Selama ini semua diam. Tidak adil!"


"Laras, jangan sedih nak. Vim ada di villa keluarga. Dia yang memilih berobat di sana. Vim sudah sembuh dan papi baru bisa mengatakannya. Ma'afkan Vim, maafkan kami semua. Vim tidak mau menyusahkanmu. Beban di pundakmu sudah banyak, Laras."


Villa keluarga. Laras akan ke sana besok tetapi Laras harus bertemu dengan papinya Edo esok pagi. Laras mendesah kecewa. Sebaiknya pertemuan itu dibatalkan saja, toh Vim sudah sembuh. Vim akan kembali dan Laras tidak perlu bekerja lagi.


"Sebaiknya diantar sopir mami saja kalau ke sana. Papi khawatir kamu menyetir sendiri. Tempatnya lumayan jauh."


"Ya Pih. Laras mau minta nomor handphone mas Vim yang baru, Pih."


"Papi kirim ke nomormu ya. Pergilah ke kamar. Vian bangun nanti."


"Baik Pih. Terimakasih ya Pih."


"Papi minta maaf atas nama keluarga, Laras."


"Iya Pih. Tidak apa."

__ADS_1


Laras menumpahkan tangis di dalam kamar. Selama ini ia benar-benar tidak tahu jika Vim masih berada di satu daerah dengannya. Hanya seratus kilometer lebih jarak yang memisahkan mereka. Masih bisa di tempuh oleh Laras di hari libur. Semua memang hebat memainkan peran.


Laras menekan nomor telepon Vim yang baru. Sungguh tak sabar bicara dan mendengarkan suara Vim. Sayangnya panggilan tidak tersambung. Vim mematikan telepon saat malam selama ia melakukan terapi.


...ΩΩΩΩ...


Vim mulai berdiri sendiri. Mencoba sekuat tenaga melangkahkan kaki kanan bergantian dengan kaki kiri. Satu, dua langkah berhasil dilakukan. Hanya dokter yang menunggui Vim.


"Ulangi sedikit demi sedikit dan perlahan," pesan dokter. Terus saja dokter memberikan semangat.


Lama kelamaan, bulan bertambah bulan langkah Vim semakin banyak dan kuat. Dokter tersenyum. Senang Vim sukses melaksanakan terapi.


Vim pun tersenyum bahagia. Dia bisa berjalan normal kembali. Namun begitu Vim masih beristirahat di tempat tetapi mulai mengontrol penuh perusahaannya dengan bantuan Dion di lapangan. Ia masih bersabar menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Ia ingin membenahi perusahaan terlebih dahulu.


"Kau pergi begitu saja. Tidak kasihan dengan Laras?" Tanya Dion ketika Vim datang ke perusahan


"Nggak kasihan tapi cinta. Karena cinta aku berbuat gini."


"Syukur kalau Laras tak menyalahkanmu. Jika ia tak terima, gimana?"


"Nggak mungkinlah. Aku tahu siapa Laras. Berapa besar cintanya."


"Jadi kapan mau kembali ke rumah kalian?"


"Belum sekarang. Aku mau mengurus perusahaan dulu."


"Kelamaan bro...bro. Mengurus perusahaan bisa dilakukan kapanpun asalkan kau sehat. Keluarga kalian lebih penting. Pulanglah, temui Laras. Kudengar dia mendapatkan gantimu." saran Dion.


"Apa?? Ah kau asal ngomong! Mami, papi dan semua diam saja. Kau penyebar hoaks?"


"Hahaha nggak percaya. Ntar Laras udah nikah lagi baru nyesal. Pulang sono!"


"Minggu depan."


"Kalau aku nggak nanti-nanti dah. Kelamaan tuh dianggurin!"


"Bising!"


"Kau mampu sendiri di sini atau masih butuh aku?"


"Di aku baru saja sembuh. Tolong dulu ya."


"Ya jangan lama-lama!"


"Dua, tiga bulan lagi oke?"


"Oke. Aku pergi ya. Kita bicarakan lagi besok. Ingat cepat-cepat pulang, Laras menunggu dibelai."


"Huuuh...dasar."


"Benar kan? Hahahaha...."


Vim melanjutkan pekerjaan. Joel dipanggil sebab Vim perlu menanyakan apa yang tidak ia ketahui. Vim mempelajari sedikit demi sedikit surat dan berkas di meja. Dia berhenti ketika dirasa mulai lelah karena berpikir terus.

__ADS_1


...🍃🌷🍃🌷...


Jangan lupa like, komen, gift, fav dan bintang lima. Terima kasih yang sudah baca...besok mampir lagi ya.❤️🌷


__ADS_2