
Berdua berbagi kemesraan, berdua mengisi hari dan berdua merangkai janji. Hari-hari adalah kebahagiaan. Laras menepis semua kekhawatiran dalam diri. Mengikuti nasehat Vim agar bisa melewati hari dengan baik tanpa prasangka penuh kekhawatiran.
"Hmm..kelapa muda. Kenapa kau tidak pesan?"
Kelapa muda diseruput Vim. Dia mengibaskan rambutnya yang setengah basah.
"Tidak ingin." Jawab Laras singkat.
"Jet ski?"
Laras menggeleng. Benar-benar hanya ingin melihat saja Vim berpetualang dengan jet ski.
"Mas saja. Aku menonton dari sini." Tambah Laras.
"Oke aku kesana lagi." Vim menepuk pelan pipi Laras.
"Ya. Hati-hati mas."
Dari kejauhan Laras melihat Vim menaiki jet ski kemudian melucur di atas permukaan air laut. Laras memilih berjalan kaki di sepanjang pantai. Seandainya tidak bersama Vim kemungkinan besar ia tak merasakan berlibur di sini. Jangankan untuk liburan di tempat berkelas seperti ini, untuk sekolah saja mengalami kendala.
Laras melambaikan tangan kanan kepada Vim. Vim berbalik arah ke pantai. Masih jauh di sana. Vim menebar tawa suka cita padanya.
Rasanya Laras tak sanggup jika harus berpisah dengan Vim. Kemungkinan bisa saja terjadi bila Laras benar-benar tidak bisa memberikan Vim keturunan. Laras membuang jauh pikirannya. Terbelenggu oleh kesedihan tak bisa merubah keadaan. Laras berucap dalam hati semoga niat mereka memiliki momongan menjadi kenyataan.
"Laras! Laras jangan jauh-jauh!"
Vim memanggil Laras dari belakang. Ia telah turun dari jet ski dan mengejar Laras. Menyamakan langkah di sebelah Laras.
"Sudah selesai? Mas.. bersamamu adalah momen bahagia. Takkan pernah terlupakan." Jujur Laras mengakui. Kakinya tanpa alas menginjak pasir putih pinggir pantai. Langkahnya santai sembari merasakan belaian angin yang menyentuh tubuh dan wajah.
Vim bisa mengira apa yang Laras pikirkan.
"Nikmatilah sebelum kau direpotkan oleh anak-anak."
Tangan Laras menyubit lengan Vim. Tawanya menyusul menyaksikan Vim meringis dan mengusap lengannya kanan.
"Jarimu tajam. Benar kan..saat anak-anak lahir waktumu akan tersita oleh mereka." Celetuk Vim.
"Tapi hatiku baik."
"Aakh memuji diri sendiri." Vim memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Boleh saja kan."
"Hmm. Kau tidak lelah berjalan terus?"
"Tidak. Baru sebentar."
Tapi Vim mengajak Laras beristirahat kemudian meninggalkan pantai dengan semua pesonanya itu. Mereka kembali ke penginapan.
Laras meluruskan kakinya. Lelah di bagian betis karena banyak berjalan tadi siang baru terasa kini. Di tambah matahari bersinar kuat. Herannya di pantai Laras tidak merasakan lelah.
Dia sudah mandi berendam air hangat di bathtub. Tubuhnya terasa lebih segar tetapi pegal di kaki tidak jua berkurang.
"Kau pasti lelah kan? Biar kupijit kakimu. Kau membawa minyak urut?"
__ADS_1
"Ya nggak lah mas. Tidak kepikiran membawa minyak urut."
"Telungkup agar tubuhmu lebih rileks."
Laras mengikuti saran Vim. Vim mulai memijit pelan. Pijit dan pijit.
Laras diam tak bersuara. Pijitan tangan Vim melenakan dirinya.
"Ras jangan tidur. Waah keenakan dipijit."
"Nggak. Aku tidak tidur sayang. Ini masih bersuara." Laras tidak terima dikatakan tidur.
"Oke..sudah lama. Sudah ya."
"Sedikit lagi sayang."
Bukan Vim jika tidak mengambil kesempatan pada Laras saat berdua begitu. Lekuk tubuh Laras yang molek selalu menggoda penglihatannya dan dalam hitungan menit mereka telah tenggelam dalam lautan asmara. Memadu kasih sayang tanpa batas.
...*****...
Hari berganti. Berdua mereka tergolek di atas ranjang di bawah selimut nan lebar. Setelah bangun subuh kembali mereka dibuai candu asmara. Vim benar-benar memanfaatkan liburan mereka. Tubuh Laras adalah candu baginya. Setiap hari mampu membangkitkan gairahnya sebagai lelaki. Bermain di tubuh Laras adalah hiburan tiada dua.
Tok..tok..tok.
Laras yang hanya diam dibalik selimut walaupun sudah terjaga mendengar pintu diketuk. Dia mencari pakaiannya. Semua berserakan di lantai.
"Sebentar!" Serunya namun pintu kembali diketuk.
"Siapa sayang?" Vim pun terjaga mendengar seruan Laras.
"Tidak tahu mas."
"Vim lama sekali kau membuka pintu. Apakah kalian baru bangun??"
Mami Maharani masuk ke ruangan tanpa bisa Vim cegah.
"Mami??? Kapan mami tiba di sini? Kenapa mami tidak memberiku kabar?" Tanya Vim heran.
"Mami tiba kemarin sore sama papi. Apa kalian saja yang boleh bulan madu? Mana Laras, Vim?"
"Laras ada di dalam. Mami tunggu di sini saja."
Vim meninggalkan mami Maharani tanpa persetujuan. Jangan sampai melihat kamar dalam keadaan kacau balau dengan pakaian yang berserakan. Guling yang menggelinding ke bawah dan bantal yang tidak lagi berada di tempatnya.
"Siapa mas?" Tanya Laras. Ia telah berpakaian. Mengikat rambutnya ke atas.
"Mami sayang. Kemarin tiba di sini."
"Oh mami?"
Laras keluar. Vim juga. Suka cita mami melihat anak dan menantunya itu.
"Bagaimana liburan kalian sayang?"
Cium pipi kanan, cium pipi kiri. Mami memeluk Laras.
__ADS_1
"Enak mih liburannya." Kata Laras.
"Iya itu harus. Kalian belum mandi ya?"
Duuuh mami. Apa mami tidak melihat rambut Laras dan Vim basah sepagi ini.
"Mami..kami baik-baik saja di sini."
Vim
"Apakah mami mengganggu kalian? Baiklah kalian boleh sambung yang tertunda tadi." Kata mami akhirnya bersiap pergi lagi.
"Mami..kami baru bangun saat mami datang. Memangnya apa yang tertunda?" Vim pura-pura tidak mengerti maksud mami.
"Kau jangan bohong sayang. Mami menyium aromamu di tubuh Laras heheh. Bagus. Lanjutkan. Ini kalian makanlah biar tambah tenaga." Ujar mami lagi.
Mami meletakkan bungkusan yang ia bawa.
"Ya sudah kalian boleh bertempur lagi. Mami menunggu papi datang menjemput mami."
"Mami mau pergi??"
"Iya toh Vim. Daripada mami mengganggu kalian di sini."
"Terima kasih mi!"
"Iya. Iya. Selesaikan misi kalian."
Huhhh. Vim menghembuskan nafas. Kiranya mami hanya mampir melihat mereka.
"Aku mengantuk sekali." Vim melangkah ke kamar. Menghempaskan tubuh di tempat tidur. Telungkup.
"Mas sarapan dulu.
"Iya sayang."
"Kemari mas. Ini enak sekali."
"Sebentar lagi."
Ditunggu beberapa menit berlalu, Vim tak jua bangun. Dia kembali tidur menuntaskan tidurnya yang terganggu. Laras memakan bagiannya.
Sesudah itu Laras membuka pintu dorong yang merupakan akses keluar ke kolam renang di paviliun mereka. Matahari masih ramah. Sinarnya menghangatkan dedaunan dan alam sekitar.
Kicauan burung entah dari dahan sebelah mana berbunyi riang. Mereka turut menyambut pagi.
"Laras perutku keroncongan." Itu suara Vim.
"Ooh kukira mas sudah tidur lelap. Kalau begitu mas bangun dan makan." Saran Laras.
"Tidak bisa tidur karena perutku menyanyi." Vim bangun dengan malas. Antara ingin tidur dan makan. Aktivitas malam dan subuh tadi mengeluarkan energi sehingga lapar menyerang.
Ditemani Laras makanan yang dibawa mami habis dimakan mereka.
... 🌷🌷🌷...
__ADS_1
Like, comment, gift, vote dan bintang lima.
Trims 💕