
Sebelum berangkat kerja Vim berpesan agar Laras tidak kemana pun hingga Vim kembali. Laras tidak mengiyakan dan tidak pula membantah. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Temuan dua hari lalu mengganggu pikirannya.
Malam itu Vim pulang larut malam. Laras tidak sanggup menunggu karena mengantuk mendera setelah seharian mengerjakan tugas kuliah.
Keesokan harinya ketika Vim telah berangkat untuk bekerja, Laras membersihkan kamar tidur mereka. Memungut pakaian Vim yang tergeletak di atas sofa kemudian membawanya ke kamar mandi untuk dicuci. Kamar mandi mereka memang didesain agak luas sehingga Laras bisa mencuci pakaian kerja Vim di sana.
Tidak akan menyita pikiran Laras seandainya pakaian Vim hanya pakaian kerja tanpa noda seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi noda merah itu berhasil membuat Laras berpikiran negatif akan Vim.
Apa yang dilakukan Vim? Dengan siapa Vim malam itu hingga di kemejanya berstempelkan noda lipstik berwarna merah terang di bagian punggung. Lipstik siapa? Wanita mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bermain di benak Laras.
Laras enggan menanyakan pada Vim hal tersebut. Menjaga situasi antara mereka agar tidak menjadi semakin renggang. Setelah Laras keguguran dan kurangnya komunikasi di atas ranjang, menjadikan hubungan mereka sedikit dingin. Ditambah lagi Vim memilih pulang malam untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Dua minggu sudah mereka tidak melaksanakan aktivitas di atas ranjang. Malam ini pun Vim belum kembali dari kantornya. Pak Uun sebagai sumber informasi mengatakan jika tuan mudanya itu masih berada di tempat kerja. Pak Uun diminta pulang menggunakan taksi online saja. Pak Uun tidak pernah membantah tuan mudanya itu. Ia pulang ke rumah dan sekarang ada di kamarnya.
"Pak minta tolong antar saya ke kantor." Ujar Laras kepada pak Uun melalui ponsel. Wajahnya masih kelihatan segar di malam yang larut ini.
Tidak menunggu lama, pak Uun datang.
"Kuncinya non?" Pak Uun menanyakan kunci mobil Laras.
"Ini kunci pak. Bapak ikut ke atas nanti ya. Jika mas Vim ada, bapak boleh pulang." Pinta Laras sebelum pergi.
"Baik non."
Ciiiiiiiittt. Mobil berhenti di halaman depan kantor. Suasana malam terasa kental. Satpam perusahaan yang sedang patroli keliling di luar ruangan menghampiri mobil yang berhenti itu. Satpam satunya lagi berjaga di pos jaga.
"Malam Bu." Satpam memberikan salam hormat kepada Laras.
"Malam pak." Jawaban Laras tidak mengurangi wibawa sebagai istri pimpinan namun juga tidak bersikap arogan.
Netra Laras tidak melihat mobil lain selain mobilnya. Berarti..
"Ibu mencari_"
"Pak Vim pak. Mobilnya parkir di mana pak?" Kalimat Satpam yang belum selesai telah Laras potong. Keresahan kembali menyelinap di hati namun berhasil Laras sembunyikan dari satpam dan pak Uun.
"Setengah jam lalu pak Vim sudah pulang Bu."
Deg. Jantung Laras berdesir. Mencerna ucapan satpam perusahaan barusan. Vim pulang kemana sebab hingga Laras keluar dari rumah, Vim belum sampai di depan rumah. Mungkinkah mereka selisih jalan.
Tanpa berhenti berpikir Laras menelpon bibi di rumah. Menanyakan apakah Vim sudah ada di rumah. Bibi menjawab belum ada. Tak kehabisan akal Laras menelpon kedua sahabat Vim. Mereka menjawab tidak tahu beradaan Vim. Dion menyebutkan dua tempat yang biasa menjadi tempat kongkow-kongkow mereka di malam hari.
"Ya sudah Pak. Saya kembali saja."
"Baik Bu." Jawab satpam.
Laras dan pak Uun meninggalkan perusahaan. Mobil melaju di jalanan. Hening sunyi menguasai malam. Laras memandang lurus ke depan. Bermain dengan prasangka sendiri. Mencari jawaban keberadaan Vim.
"Pak kita ke klub Moresta."
Ucap Laras datar. Ia merasa perlu mengetahui jikalau Vim ada di sana.
"Yakin non?" Tanya pak Uun.
__ADS_1
"Iya pak."
Mereka telah pun sampai. Pak Uun merasa was-was menurunkan Laras di tempat seperti itu. Laras terlalu lugu untuk berada di tempat hiburan malam seperti klub tersebut.
"Bapak tunggu di sini saja." Cegah Laras yang melihat pak Uun akan keluar dari mobil.
"Tapi non jika non Laras kenapa-kenapa, saya dimarahi den Vim." Pak Uun keberatan.
Rasa tanggungjawabnya pada majikan mengharuskannya seperti itu. Mengambil berat hal keselamatan majikannya.
"Tidak apa-apa. Saya bisa menghubungi manajernya jika suasana kacau. Bapak tenang ya."
Belum sempat pak Uun berbicara lagi, Laras telah pergi meninggalkannya sendiri. Masuk ke dalam klub seorang diri untuk mencari Vim.
Laras berhenti tidak jauh dari pintu masuk. Mencari-cari sosok Vim. Seperti inilah klub mereka. Bercampur aroma wangi parfum dari sekian merk dan sekian orang. Tidak terlalu ramai tetapi bagi Laras cukup membuatnya bingung menentukan yang mana Vim. Lampu temaram mengelabui pandangan. Tidak. Tidak ada Vim di sini.
"Hi beauty. Who are you looking for?" ( Hai cantik. Siapa yang kau cari?)"
Laras tidak memperhatikan dan membalas semua sapaan tak dikenal. Dirinya berada di klub itu untuk mencari Vim.
Langkah Laras maju ke depan kemudian berjalan mengikuti kehendak hati. Sepertinya Vim tidak ada. Laras berhenti tiba-tiba saat langkahnya dihadang dua orang lelaki tak dikenal.
"Hai cantik cari siapa? Sama aku aja."
Mulai merasa risih. Laras segera menjauhi mereka. Baru sekali ini ia berada di sebuah tempat hiburan malam seperti ini. Sebelumnya dia adalah gadis remaja yang kuper. Berkembang lebih baik setelah menikah dengan Vim.
Langkahnya terhenti. Akan tetapi Laras tidak berbalik arah. Menghalau kedua lelaki di depannya agar beranjak pergi.
"Numpang lewat." Ucap Laras tanpa emosi. Lebih tepatnya menahan emosi.
"Maaf aku harus pergi." Ujar Laras mengelak mereka berdua.
Ia tidak merasa gentar. Jika dirinya diperlakukan tidak senonoh, ia bisa berteriak. Pasti akan ada orang yang masih beritikad menolong di sana.
"Hei beb..ayolah bersama kami."
Pipi Laras mulai menggelembung cerminan dirinya sedang marah.
Enggan melayani kedua orang itu, Laras membalikkan badan.
Buuuukk.
"Aawww." Laras menjerit kecil tatkala merasakan wajahnya menabrak sesuatu.
Selanjutnya sebuah lengan kokoh membawa tubuh Laras ke dalam pelukannya. Laras meronta. Tak sudi tubuhnya disentuh orang tak dikenal.
"Lepaskan!" Teriak Laras.
"Sssst. Laras..lihat aku." Suara itu Laras kenal.
Wajah Laras menengadah.
"Mas Vim???"
__ADS_1
Vim memperat pelukannya.
"Ya aku. Tenanglah."
"Kau.. kau kemana?" Laras terbata-bata.
"Aku di sini. Menemui pemilik klub. Kami saling kenal."
Detik itu juga perasaan cemas yang tadi menghantui Laras menghilang dengan sendirinya.
"Hei kalian..pergilah. Aku tidak mau berurusan dengan kalian."
Kata Vim kepada dua lelaki yang menghadang Laras. Tidak banyak bicara kedua orang itu pergi menjauhi Vim dan Laras.
Vim mengajak Laras meninggalkan klub. Di rangkulnya pundak Laras dengan lengan kanan. Memberikan perlindungan kepada istrinya.
"Mengapa kau kemari Laras. Aku sudah mengatakan akan menyelesaikan pekerjaan dalam beberapa hari."
"Terus terang aku cemas mas. Kau pulang larut malam dan tidak menghubungiku. Wajar kan aku mencarimu." Urai Laras.
Vim meminta pak Uun untuk pulang. Laras pulang bersama Vim.
"Tidak perlu cemas lagi. Pekerjaanku selesai tadi sore. Aku ke sini karena janji ketemu dengan pemilik klub, baru bisa terlaksana sekarang." Jelas Vim.
"Ehm bukan karena dia??" Tanya Laras hati-hati.
Vim menoleh ke samping kiri dimana Laras duduk sekarang.
"Mengapa lipstikmu merah sekali. Bukankah kau tidak menyukai warna menyolok?" Vim melihat bibir Laras yang menantang dengan warna merah darah.
"Oh ee aku suka kok kalau malam begini. Apalagi datang ke klub." Jawab Laras asal saja membuat Vim semakin melotot. Sewot.
"Tapi aku tidak suka." Sanggah Vim.
Laras tahu Vim suka dirinya yang alami dalam keseharian meskipun mami selalu mengajarkan Laras agar mempercantik diri. Tetapi bagi Vim, Laras sudah cukup cantik tanpa riasan apapun.
"Terserah mas tidak suka. Bukankah dia juga suka lipstik menyala seperti ini?"
Pertanyaan Laras membingungkan Vim.
"Dia?? Dia siapa??" Vim tidak mengerti maksud Laras.
"Baiklah sayangku. Kekasihku. Katakan siapa dia yang noda lipstik nya menempel di kemejamu."
"Ya Tuhan. Benarkah itu?"
"Benar."
Tidak ada rasa bersalah di wajah Vim. Laras menunggu penjelasan dari suaminya. Ia butuh kejujuran meskipun ia berharap bukan kejujuran yang menyakitkan.
🍀🏵️🍀🏵️🍀
Hai readers..selalu dukung othor ya.
__ADS_1
Trims.💕