
Rumah kembali sepi setelah tiga bocah ponakan yang imut dan menggemaskan pulang ke rumah mereka masing-masing. Laras kembali tenggelam dalam rutinitas yang tidak pernah dirasa membosankan. Justru Laras bersyukur meskipun tidak bisa setiap hari berada di luar rumah seperti temen-teman sekolahnya, Laras tidak kekurangan apapun. Bahkan sebentar lagi Laras bisa menuntut ilmu meneruskan keinginannya untuk kuliah.
Laras menutup buku catatannya . Di luar ruangan kegiatan berjalan seperti biasa, masing-masing bekerja sesuai peran dan tugasnya di rumah itu. Laras sudah tidur siang tadi sehingga tubuhnya terasa lebih segar. Pekerjaan yang telah selesai menjadikan Laras lebih santai.
Dipikir-pikir tentang malam itu, Laras bertanya pada dirinya sendiri atas perlakuan Vim dua malam lalu. Vim yang dengan sangat manis dan lembut memperlakukan Laras sepenuh hati. Laras bisa merasakan cinta dari hati Vim yang dicurahkan Vim lewat perlakuannya malam itu.
Namun yang membuat Laras heran, Vim tiba-tiba menghentikan semua perlakuannya pada Laras di atas bed padahal mereka berdua sama-sama terbawa dan hanyut dalam luapan perasaan dan cinta masing-masing.
Masih lekat dalam ingatan Laras Vim urung melakukan penyatuan lalu mengucapkan kata ma'af. Sebenarnya Vim ada masalah apa. Mungkinkah Vim mempunyai kelainan...
Laras menepis pikiran negatif yang tiba-tiba muncul. Tidak mungkin Vim seperti itu sedangkan malam itu tubuh Vim penuh kehangatan dan Vim sangat berghairah. Lalu mengapa?
Merasa pertanyaannya sia-sia tanpa mengetahui jawabannya, Laras memilih mengambil kemoceng dari gudang. Kemudian memasuki salah satu kamar di ruangan itu. Menghidupkan lampu agar ruangan lebih terang dari sebelumnya. Cahaya dari luar belum membuat ruangan terang menurut Laras.
Tangan Laras mulai bekerja menghilangkan debu-debu yang menempel pada perabotan termasuk bingkai gambar dengan lukisan diri. Perlahan poto Vano dibersihkan. Pekerjaan selesai setelah vacuum cleaner dimatikan Laras.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Laras tersentak mendengar suara tennor yang sangat ia hafal. Vim masuk mendekati Laras. Menelisik wajah Laras dalam-
dalam. Laras menundukkan kepala. Menunggu kata-kata Vim selanjutnya dan siap bila Vim marah.
"Ngapain kamu di sini Ras."
"Aku membersihkan tempat ini mas." Suara Laras lirih.
"Kau tidak perlu membersihkan kamar ini. Bibi bisa mengerjakan ini. Aku mau mandi."
Vim berjalan menuju kamar. Tadi ia mencari-cari Laras begitu memasuki rumah tapi panggilannya tidak ada yang menjawab. Ternyata Laras ada di kamar almarhum Vano. Laras mengikuti Vim dan berbelok ke dapur. Membuat minuman di sana dan membawa ke kamar. Laras tidak menyangka Vim pulang lebih cepat karena dia mengatakan akan pulang malam karena ada pekerjaan yang harus diselesai
kan.
Minuman diletakkan di atas meja. Laras menyiapkan Vim pakaian rumah. Kaos dan celana pendek. Siapa tahu Vim suka.
"Setelah bulan depan kita pindah rumah baru . Renovasi hampir selesai. "
Sambil berkata Vim membenarkan rambutnya dengan kedua tangan di depan cermin.
"Oya? Mami sudah tahu?"
"Belum. Kau tidak keberatan kan kita pindah?"
"Tentu saja tidak. Sudah sewajarnya aku mengikutimu karena mas suamiku."
"Bagus. Kamu pintar juga ternyata."
Kini mereka duduk bersisian.
"Ruangan depan belum diisi perabot dan didesain apapun. Nanti berjalan kita sempurnakan."
"Ya aku ikut saja desainnya seperti apa, terserah mas. Kalau perabotan aku boleh memilih nggak?"
"Boleh. Pilihlah sesuai keinginanmu."
" Terima kasih mas sudah percaya sama aku."
"Fani menawarkan jasa mendesain ruangan tamu. Kau setuju?"
"Ee..cari yang lain saja mas."
Laras tidak suka hasil kerja Fani ada di rumah mereka yang setiap saat Laras lihat dan membuat Vim mengingat Fani terus nantinya. Laras bisa merasakan Fani itu tertarik pada Vim.
"Oo tidak setuju. Ya sudah kubatalkan saja."
Laras memberikan kecupan di pipi suaminya. Vim terkesima.
"Sebelah saja nih? Yang sebelah sini nggak?"
Vim menunjukkan pipi sebelah kiri.
"Yang sebelah situ, besok hahaa.."
"Kau belum mandi bukan. Serasa menyium aroma parfum istimewa." Vim mengejek setengah bercanda sambil menutup hidung.
"Duuuhh yang sudah harum. Baiklah aku mandi dulu."
Laras bangkit dari duduk berjalan ke kamar mandi.
"Mandi yang bersih supaya membuatku bersemangat nanti malam."
__ADS_1
Apa katanya?
"Kok berhenti berjalan? Iya nanti malam di ranjang itu?" Goda Vim semakin membuat Laras gerah dan bergegas ke kamar mandi. Vim tersenyum simpul, senang berhasil membuat Laras tersipu malu.
"Vim ini Mami."
"Masuk mi!"
"Ada apa mi?"
"Ini buat kalian. Dimana Laras?" Tanya Mami mencari Laras di seputar kamar.
" Laras di kamar mandi. Apa ini mi?"
"Cuma jamu rebusan Bibi untuk kalian berdua, supaya kalian sehat dan cepat memberikan Mami cucu. Ayo di minum."
"Nanti Vim dan Laras minum mi."
"Kamu minum duluan." Perintah Mami setengah memaksa.
"Aku sehat-sehat saja Mami. Mengapa harus minum jamu?"
"Supaya kalian fit terus."
Mami menunggu Vim minum. Mau tidak mau Vim meminumnya.
"Jangan lupa itu punya Laras Vim."
"Iya nanti aku suruh Laras minum."
Mami keluar. Vim menggerakkan mouse di tangan. Membuka file -
file penting mengandung data-
data rahasia perusahaannya. Beberapa menit kemudian menutupnya kembali.
...🍂🍂🍂...
Waktu sebulan berlalu dengan cepat. Apalagi diisi dengan kesibukan bekerja. Tiba waktunya Vim membawa Laras pindah ke rumah baru.
Mami Maharani sudah diberitahu Vim dan Laras akan memasuki rumah baru. Untuk itu Mami telah mengadakan syukuran di rumah tersebut sebelumnya.
"Rumah ini sepi tanpa kalian." Ucap Mami yang lebih senang mereka tinggal bersama. Mami memperhatikan anak dan menantunya mengemasi pakaian mereka.
"Mami kami akan datang kemari."
Vim menghibur. Mereka akan pindah esok hari.
"Tapi tidak setiap hari kalian di sini."
Vim terlanjur berniat menjalani rumah tangga hanya dengan Laras saja. Lagi pula Vim merasa mampu untuk mandiri seperti kakak-kakaknya yang lain.
"Mami bisa bermalam di rumah kami jika Mami mau ya."
Mami tetap saja cemberut meninggalkan Vim dan Laras.
Kedua bahu Vim terangkat ke atas.
"Ras aku sudah janjian olahraga tenis sama Dion, aku tinggal ya."
"Ya mas."
Vim mengecup kening Laras. Hubungan mereka tampak harmonis namun sebenarnya sesuatu mengganjal dalam pikiran Vim. Tentang dirinya yang belum bisa menyatukan jiwa dan raga mereka. Ada yang mengganggu pikiran Vim dan itu hanyalah seorang Aurora.
Laras enggan mengingat apa yang dilihatnya tadi malam. Cuma tidak mudah juga mengabaikan saja apa yang dilihatnya. Tadi malam Laras mendadak terjaga dari tidur saat mendengar Vim mengeluar
kan erangan dan ocehan yang kurang jelas. Laras berusaha menyadarkan Vim. Vim tidak segera sadar dibangunkan oleh Laras tetapi Vim memanggil nama Aurora. Laras tercenung lama. Ternyata Vim masih belum bisa melupakan Aurora meskipun Vim pernah berkata bahwa ia sudah tidak perduli pada Aurora.
Daripada terus memikirkan yang membuat hati nyesek Laras memilih merapikan ruang keluarga, disusul membersihkan kamar almarhum Vano-lagi.
Laras memang biasa membersih
kan kamar itu tanpa diketahui oleh Vim.
Laras memutar handle pintu tapi pintu tidak mau terbuka. Dikunci.
Siapa yang mengunci ini?
Laras mencari Bibi kepala pembantu, menanyakan perihal pintu tersebut dan Bibi mengata
__ADS_1
kan Vim mengunci kamar itu kemarin.
Laras lunglai. Selama ini kamar Vano tidak pernah dikunci. Sekarang Vim menguncinya.
"Di mana kuncinya bi?"
"Maaf non, ada sama Bibi tapi Den Vim pesan jangan beri pada siapapun kecuali Tuan dan Nyonya. Maafkan Bibi non." Bibi berkata sambil menundukkan kepala. Takut si nona muda marah.
"Baiklah. Bibi simpan saja."
Laras kesal namun tidak memarahi Bibi. Kasihan kalau Bibi dimarahi. Wajahnya saja tertekuk ke bawah tampak ketakutan.
Seseorang memasuki kamar. Tentunya Vim suami Laras baru pulang. Laras tidak merespon kedatangan Vim. Ia tetap duduk di ujung sofa. Acuhnya Laras menimbulkan tanda tanya bagi Vim.
"Kau sakit?" Vim mendekatkan tatapannya ke wajah Laras.
"Mengapa kau diam saja?"
Laras tetap diam dan kesal dengan Vim.
"Laras aku berbicara denganmu!"
Suara Vim yang tinggi sukses membuat Laras terkejut dan mendongakkan kepala.
"Mengapa mas mengunci kamar itu? Aku mau membersihkannya!"
Suara Laras mulai meninggi sedari tadi menahan emosi.
Ditatapnya Vim lekat-lekat. Kali ini Laras berani menatap Vim.
"Oh karena itu kau marah padaku?
Untuk apa kau membersihkannya setiap bulan sedangkan Bibi sudah ditugaskan untuk itu."
"Aku sekedar ingin membersihkan
nya."
"Bukan karena kau ingin mengenangnya setiap bulan? Agar kenanganmu bersamanya tetap utuh dan dia selalu di hatimu?!"
"Bukan seperti itu mas." Laras menyanggah.
"Bukan salahku juga jika aku menutup semua hal yang berhubungan dengan masa lalumu termasuk dengan Vano!"
Mereka telah terbawa emosi. Vim tidak merasa risih suaranya di dengar seisi rumah sebab Vim sudah membuat ruangan kamarnya kedap suara.
"Vano itu adikmu mas dan sudah nggak ada di dunia."
"Tapi kau tidak melupakannya. Menyakitkan bukan? Karena itu aku mengajakmu pindah."
Laras terhenyak. Selama ini benar Laras belum mengalihkan hatinya untuk Vim seutuhnya. Masih mengingat Vano.
"Bagaimana dengan Aurora?"
Mata Laras mulai memerah.
"Bagaimana dengan dirimu yang masih menyebut nama Aurora dalam tidurmu??"
Suara Laras terdengar pelan. Ada perih di hatinya saat menanyakan hal itu. Air mata mulai mengalir di pipinya. Kali ini gantian Vim terhenyak seperti sedang dihempaskan ke jurang yang dalam. Bagaimana Laras bisa mendengar itu?
"Kapan? Katakan apa yang terjadi?"
Vim mensejajarkan tubuhnya dengan Laras. Dia memegang kedua bahu Laras. Suaranya mulai menurun. Kasihan melihat Laras menangis. Diusapnya air mata Laras.
"Ceritakan padaku kapan itu terjadi?" Vin ingin tahu dan suaranya berubah lembut.
Laras sesenggukan. Baru akan memulai bercerita, air matanya berjatuhan lagi sambung
menyambung. Vim meraih Laras. Merengkuhnya dalam dekapan agar Laras tenang.
"Maafkan aku." Bisiknya di telinga Laras.
"Mas bilang sudah tidak perduli sama Aurora tapi mas mengingau menyebut namanya ketika tidur. Mas bohong."
"Benarkah?? Aku tidak sadar Laras. Kau tahu aku juga bingung mengapa ia masih saja menghantuiku."
Vim menutupi kenyataan bahwa bayangan Aurora sering hadir mengganggu dirinya sekalipun ia dan Laras sedang bercumbu. Memecah konsentrasi Vim dan menggagalkan penyatuan mereka. Vim belum mengatakan ini pada Laras. Sebaiknya ia simpan sendiri saja.
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Like, vote & comment jangan lupa yaa.🌷