Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 39. Liburan di Bungalow 1.


__ADS_3

Tepat pukul satu malam, Vim memasuki kamar. Dion juga memasuki kamar yang telah disiapkan oleh bibi Am. Di ruang santai hanya ada Edo ditemani oleh Pak Uun. Mereka memilih tidur di sana. Edo tidak jadi menginap di bungalow Dion karena si pemilik bungalow berada di tempat Vim.


Dion memutuskan untuk tidak kembali ke bungalow pribadinya demi mempertimbangkan keselamatan Devan. Ia enggan membawa Devan keluar di gelap malam saat itu. Malam terasa lebih pekat di situ dengan penerangan jalan yang minim. Hanya cahaya lampu teras yang menerangi setiap bungalow.


Lampu kamar tidak seluruhnya padam sebab Laras membiarkan lampu tidur menyala.Vim masih bisa menangkap sosok Laras yang terbaring di atas bed. Sesuatu di samping Laras membuat Vim terkejut. Itu adalah baby Devan. Kedua-duanya sangat lelap. Vim hanya ingin berdua Laras malam itu.


Vim membuka hp dan menekan nomor Dion lalu mengirimkan pesan.


"Apakah kalian berdua bisa tidur dengan Devan berada di tempatku?" Tanya Vim kepada Dion. Tidak sabar menunggu jawaban dari Dion.


"Tidak juga. Mengapa?"


"Ambillah Devan "


"Baiklah. Sorry bro."


"Okay. Ketuk pelan-pelan. Awas kalau mereka terbangun."


Vim menunggu Dion di depan pintu. Tak lama terdengar suara pintu diketuk. Vim segera membukakan pintu.


"Enak sekali kalian meninggalkan Devan di sini." Vim memperkecil volume suaranya agar tidak berisik.


"Laras yang meminta pada Anggia agar Devan tidur di sini." Dion membalas Vim tak kalah lirih.


"Sebentar aku ambilkan Devan."


Vim mengangkat Devan dan menyerahkan kepada Dion.


"Selamat bermesraan. Semoga segera jadi." Dion mengucapkan salam perpisahan sembari berlalu dari situ.


Pintu dikunci oleh Vim. Ia mendatangi Laras di pembaringan dan berbaring di sisi Laras. Memeluk erat Laras. Sesuatu dalam dirinya mulai menghentak lagi. Meminta pelepasan. Vim mulai mengganggu tidur Laras dengan bahasa tubuhnya di tubuh Laras. Gerakan-gerakan Vim membuat Laras terjaga. Menoleh ke wajah Vim di belakangnya.


"Mas sudah masuk? Oh mana Devan??" Laras tiba-tiba mengingat Devan yang tadi tidur bersamanya.


"Devan bersama orangtuanya."


"Sudah larut malam. Mas mau apa?" Laras menepikan tangan Vim yang mulai bergerilya di tubuh Laras.


"Biasa mau itu."


Laras tak mampu menolak. Vim telah menyerangnya begitu cepat. Meskipun tidak kasar namun Vim sangat bersemangat dan bernafsu. Akhirnya Laras terlena dan tenggelam dalam permainan Vim malam itu. Tak cukup dua kali, Vim mengulangnya lagi hingga Laras merasakan lelah.


"Cukup mas. Sekarang tidurlah."


"Apa kau lelah??"


Laras mengangguk. Tidak ingin berkata tidak. Ia ingin segera tidur saja, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan memejamkan mata. Matanya terbuka kembali. Ternyata Vim masih menatapnya.


"Apa mas tidak mengantuk? Besok pagi aku bisa kesiangan dan malu sama mbak Anggia."


"Belum mengantuk."


"Apa? Sudah hampir pagi mas dan kau belum tidur dari tadi. Ayo tidur."


Laras merasakan tubuhnya seperti remuk. Lemas tanpa bertulang. Vim masih terlihat biasa saja.


"Kenapa merasa malu Laras? Mereka akan maklum karena kita sepasang suami istri." Tangan Vim mengelus wajah Laras.


"Tidak begitu mas. Aku ingin bangun pagi. Sekarang mari kita tidur."


"Tidak usah dipaksakan jika kau lelah. Istirahatlah sampai cukup. Aku ke kamar mandi dulu ya. Tidurlah dan mimpikan aku." Vim mengecup lembut kening Laras.


"Hmm selamat tidur sayang." Balas Laras mengecup bibir Vim.


...💖💖💖...


Kicauan burung meramaikan suasana pagi itu. Bibi menyiapkan sarapan pagi seperti biasa. Anggia dan Dion berpamitan pada Bibi karena haripun telah terang meskipun baru pukul enam lewat tiga puluh menit. Edo yang terjaga karena suara berisik Dion dan Anggia, terbangun dan ikut pindah tidur di bungalow miliknya. Melanjutkan mimpi yang terpenggal.


Tuan rumah belum menampakkan diri. Tidak menyadari tamunya telah kembali ke bungalow masing-masing. Masih meringkuk dibalik selimut hangat mereka. Benar-benar menikmati liburan.


Suara nada dering dari hp Vim membangunkan Laras terlebih dahulu. Si empunya tetap terpejam tidak terganggu oleh panggilan masuk.

__ADS_1


Laras mengucapkan salam sebagai pembuka percakapan.


"Iya mi. Masih tidur."


'.....'


"Baik mi."


Sambungan ponsel dari Mami Maharani terputus. Laras bergerak turun dari ranjang. Mengambil celana dan sweater untuk dipakai. Mendekati Vim dan menyium kening Vim sesaat dan perlahan agar Vim tidak terbangun.


Sudah pukul sembilan pagi tetapi udara sangat sejuk. Keinginannya bangun di awal pagi gagal. Lelah di tubuhnya telah hilang. Kemarin Laras bermaksud mengajak Vim menyusuri jalan di depan bungalow pagi ini. Melihat Vim tidur sangat pulas, Laras urung melakukannya.


Kakinya terus melangkah menikmati pagi yang bersahabat. Matahari mengintip malu-malu dari balik awan. Dia membawa langkahnya menuruti keinginan hati. Mungkin di dalam sana Vim sedang mencarinya.


Di bawah sebuah pohon Laras berhenti. Dirinya menemukan sebuah tanaman bunga menempel di sebuah pohon. Bentuknya yang unik membuat Laras ingin mengambilnya. Nanti akan ia tanam di bungalow, pikirnya.


Bagaimana mengambilnya? Tanganku tidak sampai menjangkau bunga itu.


"Kau menginginkan bunga itu?"


Sebuah suara mengagetkan Laras sehingga ia menoleh cepat.


Dia ada di sini juga. Oh tidak aku harus segera pergi sebelum...


"Kok melamun? Laras aku akan mengambilkan untukmu."


"Ti..tidak Tuan terima kasih. Anda di sini juga Tuan Rony??"


"Ya bungalow orangtuaku di sana. Sedang di renovasi dan aku melihat perkembangannya." Rony menunjuk sebuah bungalow terletak agak jauh dari bungalow Edo.


"Kau sendiri? Kemana suamimu itu? Apa ia tidak takut kau kenapa-kenapa?" Rony memberondong pertanyaan dengan nada mengejek.


"Suamiku akan mencariku, sebaiknya aku pulang saja. Permisi."


"Tunggu! Aku ambilkan tanaman ini. Kulihat kau menginginkan nya."


"Tidak. Tidak perlu tuan. Terima kasih.


Rony berhasil menjangkau tanaman berbentuk tanduk itu dan memberikan kepada Laras.


Laras ragu menerima tanaman itu namun Rony mendesaknya.


Tanamanpun berpindah ke tangan Laras. Rony mengibaskan pakaiannya yang sedikit kotor.


"Maaf pakaian anda menjadi kotor. Terima kasih."


"Terima kasih kembali Laras. Apa kau bersedia minum teh denganku."


"Tidak terima kasih Tuan Rony."


Rony sudah menduga jawaban Laras. Ia hanya berbasa basi. Sudah pasti Laras takut Vim mengetahui jika ia ikut bersama Rony. Rony terpaku oleh kecantikan Laras. Memandang Laras tanpa berkedip. Cukup membuat Laras jengah. Mengapa selalu bertemu pria ini, pikir Laras.


"Baiklah. Aku permisi. Selamat pagi."


"Laras!! Kau ada di sini!"


Vim berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Laras. Di wajahnya terpancar kecurigaan. Melirik Rony dengan sinis.


"Apa yang kau lakukan. Ayo!"


Vim menggenggam tangan Laras hendak membawanya pergi.


"Bagaimana mungkin kau membiarkan keramik indahmu di luar begitu saja." Rony berkata tidak kalah sengit seperti tatapan mata Vim padanya. Langkah Vim terhenti.


"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!?"


"Aku menemukan keramik indahmu ini di sini. Kau beruntung." Rony menjawab dengan kiasan tapi Vim bisa menangkap maksud Rony. Laras ibarat hiasan keramik yang berharga bagi Vim. Dilindungi, dipelihara dan dijaga dengan segenap hati.


"Jangan pernah ganggu dia. Sekali saja kau menyentuhnya, kau akan menerima lebih balasanku.!"


Oh my God. Mengapa mereka selalu bertengkar jika bertemu?

__ADS_1


"Mas kita pulang. Aku sudah lapar." Ajak Laras. Enggan melihat perseteruan lebih lanjut. Vim selalu saja emosi jika berhadapan dengan Rony. Begitupun sebaliknya. Persaingan yang tak pernah usai.


"Apa yang kau bawa itu??" Tanya Vim pada Laras.


"Tanaman tanduk. Unik bukan?"


"Rony memberinya padamu ya. Buang saja. Itu cuma tanaman liar." Perintah Vim.


Laras menoleh ke wajah Vim.


"Mas aku menyukai tanaman ini. Mau kutanam di bungalow. Ada pot besar kosong di sana."


"Aku akan membelikan buatmu. Berapa banyak yang kau inginkan?"


"Kau harus mencarinya dulu mas. Tidak. Ini saja yang kutanam." Laras bersikeras. Mereka tiba di bungalow.


"Berikan tanaman itu padaku."


"Mas Vim??!" Laras menyembunyikan tanaman tanduk


rusa di balik tubuhnya.


"Iya. Berikan padaku." Vim memujuk dan mengambil tanaman itu dari tangan Laras lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Mas!! Kau.." Laras menjadi kesal dengan perbuatan Vim. Ia membalikkan badan meninggalkan Vim sendiri di luar.


Vim tidak segera menyusulnya namun mencari Pak Uun. Menemukan Pak Uun di halaman belakang sedang menyapu.


"Pak saya minta tolong." Panggilnya.


"Pagi den. Iya den apa yang bisa saya tolong."


"Pak turun ke bawah. Belikan tanaman tanduk Rusa dengan pot yang bagus."


"Baik Den."


Vim memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan dan berlalu dari situ. Di dalam kamar Vim melihat Laras duduk di depan meja rias dengan wajah yang sangat cemberut


"Tidak perlu cemberut. Itu hanya membuatmu bertambah cakep." Vim membuka kaosnya. Berdiri di belakang Laras. Menunduk dan menyium pipi Laras.


"Kuganti tanaman itu. Pak Uun sedang mencarinya." Pujuk Vim. Mengelus lembut kedua bahu Laras.


"Maafkan aku. Aku terlalu melindungimu dari Rony. Aku tak mau kehilanganmu."


"Dia tidak mencelakaiku. Kebetulan saja bertemu dengannya."


"Aku tidak ingin kau berdekatan dengannya. Aku tidak suka kau berbicara dengannya. Itu saja."


Kini Vim berjongkok di sisi kanan Laras. Menyentuh telapak tangan Laras. Menggenggam dan berkata," Aku tidak ingin kehilanganmu."


Laras membuang nafasnya perlahan.


"Baiklah mas aku mengerti. Lupakan." Akhirnya Laras mengalah. Melembutkan hati menghadapi Vim. Di dalam hatinya tidak terbersit sedikitpun untuk meninggalkan Vim. Tetapi Vim yang posesif itu terlalu melindunginya.


"Kau tidak membangunkanku tadi. Di sini sepi dan kau berjalan sendiri." Vim menenggak air mineral.


"Tidurmu sangat lelap. aku ingin mas istirahat. Lagipula aku berjalan tidak terlalu jauh dari bungalow." Laras memberikan alasan. Mengikat rambut sembari berjalan ke kamar mandi.


"Bersama-sama."


"Apa?" Laras menoleh dan bertanya.


"Mandi. Jangan dikunci."


"Masing-masing saja." Laras tak menghiraukan Vim. Masuk ke kamar mandi.


"Aku datang Laras. Buka pintunya." Vim mengetuk pintu. Laras mengunci pintu. Vim mengetuk lagi.


"Laras ayolah buka pintunya atau kudobrak."


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka. Vim meringis senang. Laras takkan mau melihat Vim merusak barang-barang jika keinginannya tidak dituruti.


💖💖💖


__ADS_2