Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 109. Percaya diri yang hilang


__ADS_3

Papi, Dion, Edo dan Vim berada di ruangan kerja Vim yang tak terlalu luas. Mereka dengan posisi masing-masing.


"Vim, untuk sementara tanggungjawabmu diambil alih Dion. Papi percaya sama Dion. Secara keseluruhan papi yanh mengawasi."


"Lakukan saja apa yang menurut papi baik."


Dion dan Edo menjenguk Vim hari ini. Kebetulan ada Pak Dewantara di sana.


"Dua orang mitra lama mengajak bertemu," kata Edo.


Kemungkinan-kemungkinan muncul di benak Vim.


"Selamatkan jika masih bisa diselamatkan. Jika tidak...."


"Sebisa mungkin kami pertahankan keadaan perusahaan, Vim."


"Ada baiknya kau melakukan terapi." Edo angkat bicara.


"Aku tahu. Bukankah kau senang dengan keadaanku."


Kalimat Vim bagai hantaman palu untuk Edo. Dalam keadaan begini Vim masih bicara miring padanya.


"Senang gimana? Kau sahabatku, dalam kondisi begini, kau bilang aku senang?"


"Jalanmu terbuka dengan Laras "


Teringat oleh Vim bagaimana sikap dan tatapan Edo pada Laras. Bahkan ucapan Edo pun Vim sangat ingat.


"Viiim!!" Edo, papi dan Dion serentak berteriak.


"Apa-apaan Vim." Papi menggelengkan kepala melihat Vim.


Edo merasa tak enak hati dengan Pak Dewantara. Seolah ia memiliki rahasia khusus dengan Laras.


"Pikiranku masih sehat untuk mengambil Laras tapi...kalau kau terus curiga padaku, lihat saja," ancam Edo.


"Nah benarkan niatmu itu?"


"Vim...sebaiknya kau konsentrasi dengan kesembuhanmu. Bukan berpikir yang aneh-aneh." Pak Dewantara menasehati.


"Sudah Vim. Jangan berpikiran yang bukan-bukan. Dua perusahaan membatalkan kerjasama," sambung Pak Dewantara. Meskipun pahit bagi Vim, papi memberitahukan Vim.


"Sudah kuduga. Selamat datang kesuraman."


"Masih bisa kau perbaiki nantinya Vim. Semangat dan cepat sembuh."


Vim patah semangat. Semua kebanggaannya hilang. Satu persatu kenalannya menjauh. Kegiatan perusahaan berjalan menurun. Pemasukan apalagi. Vim teringat Laras. Kasihan Laras. Hidupnya menjadi susah.


"Vadli menawarkan pengobatan untukmu. Kau ke sana atau mengambil biayanya saja," kata Pak Dewantara lagi.


Vim diam. Semua orang mengasihani dirinya. Vim menjadi tak berarti. Dirinya hanya menyusahkan keluarganya saja.


"Vim..??"


"Aku belum memikirkannya pih. Aku masih punya uang untuk itu."


Tanah kosong milik Vim belum terisi bangunan. Mungkin bisa ia manfaatkan untuk biaya pengobatan.


Dia tidak akan meminta Laras mengorbankan perhiasan Laras untuk menopang biaya pengobatan. Lalu rumah ini masih dalam agunan karena membeli tanah. Sesungguhnya ia butuh uang namun enggan mengakui. Tanah miliknya harus dijual untuk kelangsungan hidup mereka.


Kepala Vim terasa berat. Tak berminat lagi membicarakan apapun. Ia memutar kursi rodanya ke arah pintu. Edo baik hati mendorongnya keluar menuju kamar tidurnya.


"Terima kasih Ed."


"Berjuang Vim. Demi Laras dan Vian kau harus sembuh. Aku pulang ya."


"Ya. Hati-hati Ed."


Edo menutup pintu dan meninggalkan Vim. Dari kamar Vian, Laras menyambut Vim.


"Sudah ya mas ngobrolnya?"


"Sudah. Semua berjalan mundur Ras. Maafkan, aku memberikan kesusahan padamu."


"Kita sedang diuji mas. Bersabarlah."

__ADS_1


"Berapa lama tabungan kita bertahan?"


"Aku tidak tahu mas."


"Ambil kedua kartuku. Pergunakan untuk kebutuhan kita," pinta Vim.


Laras tercekat. Kenyataan ini yang akhirnya harus mereka hadapi nanti. Kekurangan.


"Di rekeningku masih ada mas. Jangan khawatir, perhiasanku bisa kita gunakan."


"Jangan. Simpan saja semua punyamu. Saat terpaksa, jual saja tanah kita."


"Semoga saja tidak sampai terjual dan ada jalan lain mas."


Apa mungkin harapan Laras terwujud sedangkan kini Vim sakit dan butuh biaya pengobatan, usaha tersendat dan mereka harus membiayai kebutuhan sehari-hari.


"Kau ingat Laras, rumah ini sedang dalam agunan. Maafkan aku atas apa yang terjadi." Lagi-lagi Vim menyesali keadaan dan dirinya.


"Ya aku tahu. Mas jangan banyak berpikir ya."


Laras tak ingin Vim bertambah beban pikiran walaupun hal itu tidak bisa dihindarkan. Laras mulai merasakan dadanya terhimpit beban berat. Kebutuhan sehari-hari, agunan rumah dan pengobatan Vim. Semua harus terpenuhi. Namun ia berhasil menyembunyikan kegusaran hati. Ia tak memperlihatkan wajah sedih kepada Vim. Ia tidak boleh bersedih di hadapan Vim. Kesedihan Laras hanya akan membuat Vim semakin terpuruk.


Separoh kebahagiaan hilang. Kehidupan berjalan kehilangan keceriaan. Laras mulai berpikir bagaimana menutupi semua kebutuhan setiap harinya. Tabungannya lama kelamaan menipis. Laras berpikir apa yang bisa ia lakukan.


Vim tidak bergeming sedikit pun ketika Laras tidur di sisinya. Tidak seperti malam-malam kemarin, malam ini Vim sangat dingin. Tidak bereaksi apapun saat Laras memeluk dirinya.


Vim menepikan tangan Laras.


"Tidurlah dengan Vian. Aku tidak mau ditemani, Laras."


"Kenapa mas? Vian terbiasa tidur sendiri sekarang."


"Pergilah."


"Aku ingin di dekatmu. Menemanimu mas." Laras tidak berpindah tempat.


Tapi aku tak bisa memberikan perlakuan lebih padamu, Laras.


"Tolong Laras."


"Vian tidak ada teman." Vim memberikan alasan.


"Ya sudah, Vian kubawa ke sini saja."


Laras mengambil Vian dan meletakkan Vian di tengah-tengah antara mereka berdua.


Vim tidak keberatan. Laras tak lagi perduli suara tangis Vian akan membangunkan Vim tengah malam.


Hanya malam itu. Keesokan malam Vim menyuruh Laras menidurkan Vian di kamarnya. Vim tidak bersedia ditemani Laras. Aneh. Laras dibuat geleng-geleng oleh kelakuan Vim.


Vim melamun di atas bed. Tanpa henti memikirkan nasib Laras dan menyalahkan diri sendiri.


Aku bukan lagi lelaki utuh. Menyentuhmu saja aku tak kuasa lagi Laras. Aku tidak berguna.


Laras menggerakkan tempat tidur Vian. Menidurkan Vian di kamarnya. Sama seperti Vim, pikirannya berkelana. Ia rindu kebersamaan yang penuh kebahagiaan. Ia rindu menggoda Vim. Ia rindu tatapan Vim yang mendamba. Laras menahan isak tangis.


Papi dan mami meminta Vim dan Laras pindah ke rumah mami dan mami akan membantu kebutuhan mereka sehari-hari tetapi Laras menolak.


"Pulanglah ke rumah mami, Laras. Mungkin bisa meringankan sedikit beban kalian."


Laras menjawab, "Kami di sini saja mi. Terima kasih." Berat rasanya untuk Laras meninggalkan rumah mereka.


Mereka sudah memutuskan untuk mandiri sejak menikah. Laras enggan mundur dari keputusan awal mereka.


"Mami sedih melihatmu, sayang."


"Laras baik-baik aja mih. Apapun yang terjadi akan Laras hadapi."


Dan mami berusaha membujuk Vim agar mau melaksanakan terapi.


"Vim...Vadli mendukung kalian. Dia bersedia membantu biaya terapi. Kapan dilakukan, Vim?"


Vim tidak segera menjawab. Baginya bantuan Vadli tak lebih rasa kasihan sang abang kepada dirinya.


"Vim, masih ada cara untuk sembuh. Pikirkan Laras dan Vian."

__ADS_1


Vim terlanjur menyalahkan keadaan. Dirinya yang paling malang. Tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya yang cacat tak berguna. Semua berbalik menjauhinya. Popularitas, kewibawaan dan koleganya raib dengan cepat. Bukan tidak mungkin ia bakal kehilangan Laras. Hari-hari dilalui Vim dengan menyesali diri dan keadaan.


Semangat Vim benar-benar redup. Ia tak mampu membuat Laras hidup bahagia. Baru berapa tahun usia pernikahan mereka, Laras sudah harus menderita.


"Vim...gimana?"


"Apanya mih?"


"Looh...mami ngomong sama kamu itu didengar nggak Vim?"


"Iya aku dengar. Akan kupikirkan."


"Untuk apa dipikirkan lagi Vim. Kami itu butuh terapi."


Vim terlanjur kecewa dengan keadaan. Apalagi biaya terapi bukan menggunakan uangnya melainkan bantuan dari Vadli. Menyusahkan saja.


"Mungkin nanti mih."


Mami menghela nafas. Sangat susah memujuk Vim. Harag diri Vim terlalu tinggi untuk menerima pertolongan Vadli.


Tidak hanya Vadli yang perduli, Viky juga memberikan bantuan kepada adiknya itu. Secara tidak langsung ia menyuntikkan dana ke perusahaan Vim. Perlahan omzet perusahaan terus menurun. Beberapa mitra memutuskan hubungan secara sepihak. Vim kehilangan nama besarnya. Semua tidak bisa dihindarkan dan papi juga Dion berusaha keras agar perusahaan Vim tetap berdiri.


Laras memandang buku tabungannya. Uang di tabungan ini yang diberikan Vim sebagai nafkah untuknya. Laras selalu berhasil menyimpan uang yang tidak ia gunakan. Sedikit demi sedikit uang itu diambilnya untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari termasuk membayar gaji pak Uun dan bibi Am. Laras tidak tega untuk memulangkan pak Uun dan bibi Am ke rumah mami.


Kreeeek.


Pintu kamar mandi terdengar dibuka. Laras bergegas keluar dari kamar ganti. Di situ pula ia memeriksa buku simpanannya. Vim hendak ke kamar mandi. Ia tidak memanggil Laras . Toh akhirnya ia urung masuk karena Laras menegurnya.


"Mas...panggil aku jika butuh bantuan."


Vim tidak ingin menyusahkan Laras. Pergi ke kamar mandi tanpa bantuan Laras. Laras takkan tinggal diam. Ia terlalu perduli. Pergerakannya di rumah tak luput dari perhatian Laras.


"Aku bisa sendiri. Tinggalkan aku."


"Mas...."


"Aku bisa sendiri Laras!"


Suara keras Vim peringatan bagi Laras. Vim benar-benar tidak butuh bantuannya.


Vim masuk dan menutup pintu. Tidak lama kemudian suaranya memanggil nama Laras.


"Laras!!"


"Iya aku mas. Boleh aku masuk?"


"Ya masuk!"


Di dalam kamar mandi Vim kesulitan melepas celananya. Dengan sabar Laras membuka dan melepaskan celana Vim. Vim mengelus rambut Laras. Sebentar. Ia merasa berdosa tidak bisa memberikan Laras kasih sayang yang utuh. Dirinya memang tak berguna.


"Sudah. Tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah."


Laras keluar dan menutup pintu kamar mandi. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Tuhan sampai kapan ini harus terjadi. Batin Laras menangis. Di sentuhnya rambutnya. Tadi Vim mengelusnya sebentar. Hati Laras menangis.


Kreeeek. Pintu terbuka lagi.


"Kau ngapain di situ?" Tanya Vim.


"Aku...aku menunggu mas keluar."


"Lalu?"


"Yaaah kalau sudah, kita ke sana."


Laras asal menjawab. Menunjuk tempat tidur agar Vim beristirahat.


"Waktunya mas tidur."


Laras mendorong kursi Vim. Mendekatkan ke bibir ranjang dan seperti kemarin Vim memindahkan tubuhnya ke atas ranjang. Laras menyelimuti Vim. Terakhir memberikan kecupan kepada Vim namun Vim menolaknya.


Bersambung...


Like, komen, gift, vote dan bintang lima.

__ADS_1


Terima kasih.💐


__ADS_2