
Air mata Laras adalah kelemahan buat Vim. Ia tak akan sanggup melihat netra indah itu berurai air mata. Setelah menangis karena kehilangan calon bayi seminggu yang lalu, kini Laras menangis lagi karena tidak bisa menghadiri acara malam reuni. Akhirnya ijin itu diberikan juga oleh Vim.
"Kau akan datang acara malam denganku. Dua jam saja cukup untuk bertemu dengan teman-temanmu."
"Benarkah?" Laras mendongakkan wajahnya dan Vim mengangguk.
Dua jam saja bukan masalah bagi Laras. Yang penting bisa hadir bertemu teman-teman walaupun sebentar.
"Hmm..Keesokan paginya kau berada di rumah."
"Aku setuju. Terima kasih sayang."
Laras berdiri dan mengecup pipi
suaminya.
"Kita makan ya mas. Aku lapar sekali." Ajak Laras.
"Kamu pakai acara nangis segala. Hilangkan cengengmu itu."
Keheningan menemani mereka berdua di ruangan makan. Masing-masing tidak ingin membuka pembicaraan di meja makan. Rumah dan seluruh ruangan beserta isinya menjadi saksi bisu kebersamaan mereka menghabiskan waktu hidup bersama.
πππ
Laras memperhatikan bagian depan bekas sekolah mereka. Sudah banyak berubah dan mengalami perbaikan. Warna catnya tidak seperti dua tahun lalu.
Vim mengarahkan mobil ke parkiran dan mereka pun turun di sana.
"Di mana kelasmu yang terakhir?" Vim bertanya.
"Di seberang ruangan itu?" Laras menunjuk sebuah ruangan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita berbeda. Aku di depan." Kata Vim.
"Ya karena mas anak eksakta dan aku di jurusan sosial."
Mereka melangkah bersama. Di area itu belum terlalu ramai yang datang memarkirkan mobil. Berjalan hingga sampai di sebuah pohon Akasia besar. Laras menghentikan langkah. Vim ikut berhenti.
"Kenapa?" Tanya Vim pelan.
"Mas sementara kita sampai di sini. Aku menemui Novan. Ada yang ingin kusampaikan."
"Novan temanmu?" Vim ingin tahu.
"Ya iya dong mas. Sudah ya mas. Daaa.."
Tangan Laras melambai kecil dan berlalu meninggalkan Vim.
Vim menyusuri koridor kelas setelah Laras berlalu menjauh. Di sana ia berpapasan dengan seorang mantan guru yang belum pensiun. Vim menyapa sang guru. Ia masih mengenali mantan gurunya ini.
"Pak Sanoto San. Selamat pagi pak."
"Selamat pagi."
Pak Sanoto San menatap lekat lelaki muda di depannya. Sang guru sudah paham bahwa yang menegurnya tidak lain adalah mantan muridnya. Sekian banyak anak murid yang pernah dididik, beliau tidak mengingat mereka satu persatu tetapi mereka akan menegur jika bertemu di sekolah itu.
"Kau, siapa namamu? " Pak Sanoto San mencoba mengingat-ingat nama mantan muridnya ini.
"Bim..Bim.." Suaranya berusaha mengingat.
"Saya Vim Pak. Yang sering bapak bimbing saat akan mengikuti lomba."
__ADS_1
"Oo yaa Vim VR. Bagaimana kau sekarang?"
"Baik Pak. Bapak sendiri selalu sehat?" Tanya Vim pada sang guru yang sudah memasuki usia senja itu.
"Beginilah. Sudah tua kesehatan pun menurun." Pak Sanoto San memegang sebelah lengan Vim.
"Sukses selalu buatmu anak muda." Kata Pak Sanoto San.
"Aamiin. Terima kasih do'anya Pak. Berkat didikan bapak dan guru-guru saya bisa seperti ini." Vim merendahkan hati.
"Teruskan. Saya harus menemui kepala sekolah."
"Baik Pak. Sampai jumpa lagi."
Vim kembali menyusuri koridor. Berbelok ke kiri dan menuju ke aula sekolah. Sekilas bayangan masa sekolah melintas di benaknya. Lapangan basket, laboratorium, ruang pengurus OSIS semuanya menyimpan kenangan.
Namun Vim tidak ingin membiarkan kenangan itu melintas menguasai pikirannya. Mengingat kembali sama saja membuka semua kenangannya dengan Aurora. Tidak. Vim tidak menginginkan itu. Ia mempercepatkan langkah menuju aula di sekolah itu untuk menghadiri rapat.
Satu persatu para peserta rapat datang dan memasuki aula. Tingkatan usia mereka tidak sama sesuai tahun angkatan yang diwakili. Tampak perwakilan yang lebih muda menyapa senior mereka.
Deg. Jantung Vim mendadak berdebar . Di samping aula Vim mendapati Laras sedang berbincang berdua dengan Novan.
Vim mengalihkan pandangannya.
Bukankah tadi Laras telah meminta ijin menemui Novan temannya itu. Hal yang wajar mereka berbincang.
Para peserta rapat telah menempati kursi masing-masing. Pandangan Vim mengitari seluruh peserta dan menangkap lambaian tangan. Edo tersenyum dari sana.
Mengapa Laras tidak masuk juga.
Apa yang mereka bicarakan di luar.
Hati Vim gelisah. Netranya tidak berhenti memandang pintu hingga ia melihat Laras masuk diikuti Novan di belakangnya.
Dan Laras berhenti menatap Vim tatkala pembawa acara membuka rapat. Laras menyimak apa yang disampaikan pembawa acara. Kembali pandangannya beralih ke Vim. Suaminya itu sedang serius mendengarkan sama seperti peserta lainnya.
"Panitia banyak yang muda-muda." Celetuk Novan yang duduk di sebelah Laras.
"Ehm iya. Termasuk suamiku." Laras menoleh pada Novan dan tersenyum.
"Yang mana suamimu."
"Itu di sebelah ketua panitia."
"Kemeja warna cream." Novan asal menerka.
"Benar."
Bersamaan ucapan itu Laras memandang Vim lagi. Tidak menyangka tatapan tajam ia dapatkan dari Vim. Ia menangkap ketidaksukaan di wajah Vim.
Panitia mulai memaparkan kematangan rangkaian kegiatan dari sebelum reuni hingga setelah reuni. Diulas tuntas dan mendapat beragam tanggapan dari perwakilan angkatan yang hadir.
Laras mulai merasakan jenuh. Duduk lama membuat pinggangnya pegal dan bokong berasa tidak nyaman ditambah lagi tatapan Vim padanya. Bersyukur pembawa acara menutup rapat. Laras menarik nafas lega.
Semua peserta berdiri dan meninggalkan ruangan aula. Satu dua orang masih berkoordinasi dengan panitia utama. Sebagian besar pulang. Novan berpamitan pada Laras.
"Laras kau pasti menunggu suamimu. Aku pulang duluan ya."
"Iya Novan. Pulanglah dan hati-hati ya."
"Tentu."
__ADS_1
Tak jua melihat Vim keluar dari aula, Laras menghampiri mobil mereka di parkiran. Di bawah pohon Akasia Laras menunggu Vim. Masih lumayan duduk di situ dari pada menunggu di depan aula.
Selembar daun Akasia luruh ke tanah. Lalu selembar lagi. Suara gesekan dedaunan menimbulkan bunyi khas akibat sentuhan angin.
Laras membenarkan rambutnya yang tak luput disapa angin.
Langit berubah mendung. Angin semakin terasa dan ranting-ranting bergoyang diterpa angin. Udara terasa dingin. Vim belum kelihatan juga. Laras hampir saja menyusul kembali Vim di Aula andai saja tubuhnya yang tinggi tidak muncul di hadapan Laras detik itu juga. Dilihatnya Vim berlari kecil.
"Lama ya. Gerimis kecil. Masuklah."
Laras masuk ke mobil. Itu keinginannya sejak tadi.
"Lama sekali mas. Ada yang dibahas lagi?"
"Pertanyaan dari pihak guru. Sudah clear. Kita pulang atau kau mau makan di luar?" Vim bertanya sembari menstarter mobil.
"Pulang mas. Pinggangku pegal."
"Karena itu aku tidak membolehkanmu mengurus reuni."
Laras diam tidak ingin menyanggah kalimat Vim.
Kaca mobil mulai basah oleh air hujan. Widescreen wiper bergerak ke kanan dan ke kiri menyeka air hujan.
"Pelan-pelan mas. Jalanan licin." Laras mengingatkan.
"Tenang saja. Ban mobil baru di ganti dan aman."
"Bertambah deras." Ucap Laras.
Kantuk mulai menyerang Laras namun tidak serta merta Laras memejamkan mata. Mengajak Vim mengobrol mungkin lebih baik agar Vim tidak mengantuk juga.
"Mas_"
"Laras_"
Suara mereka terdengar berbarengan.
"Katakanlah." Vim memberi Laras kesempatan lebih dulu.
"Mas mau ngomong apa. Ngomong saja duluan."
"Laras aku tidak bisa melihat kau dan Novan bicara berdua." Vim mengeluarkan kata-kata itu tanpa beban.
"Haa? Mengapa begitu sedang kan aku dan Novan hanya membicarakan tentang reuni. Tidak lebih."
Laras segera memberi penjelasan agar Vim tidak salah sangka.
"Aku tidak suka saja."
"Baik mas. Hanya karena akan reuni saja. Setelah ini aku dan Novan tidak bertemu."
"Itu yang aku mau."
Vim selalu bisa menguasai Laras. Baginya Laras adalah miliknya dan Laras selalu bisa mengimbangi Vim. Dia selalu bisa menempatkan diri di samping Vim. Kapan harus mengalah dan kapan meminta perhatian lebih dari Vim. Laras tidak pernah merasa terkungkung oleh perlakuan Vim padanya.
πΏπΈπΏπΈ
Bersambung...
Like, comment, gift, vote & five stars dari readers bikin author semangat..π·
__ADS_1
Trims ya.π