
Alasan penolakan atas lamaran Rony telah disampaikan. Kekecewaan jelas terpancar dari wajah Rony. Terpaksa kekalahan harus diterima lagi. Kekalahan dari orang yang sama yaitu Vim.
Rony memukul tembok dengan kepalan tangannya begitu mendengar berita tersebut. Selalu saja ia kalah dari Vim. Hal ini membuat Rony semakin membenci Vim.
Harapannya untuk memiliki Laras telah pupus karena Vim. Vim lagi.
"Ingat Vim. Ini semua belum berakhir!" Peringatan Rony kala itu melalui panggilan ponsel.
"Akui kekalahan lu. Gue memenangkan ini lagi."
"Bang***!!"
Klik. Sambungan diputus Vim.
Untuk sesuatu hal yang tidak bisa diajak kompromi, Vim juga mampu menjadi tega. Kemudian jawaban kepada keluarga Vim sudah disampaikan. Rencana ke
depan mulai disusun. Vim dan Laras tinggal mengikuti apa-apa yang diarahkan. Acara resepsi diurus oleh pihak keluarga Vim. Sedangkan acara nikah pihak keluarga Laras yang mengurus. Dengan hari yang berbeda.
Tidak banyak waktu bagi Laras dan Vim untuk mengisi waktu bersama. Vim mulai sibuk mengurus pekerjaannya. Jika sebelumnya Vim agak santai, semakin mendekati hari H Vim semakin bekerja keras. Baginya kebahagiaan Laras adalah penting. Untuk itu ia bekerja keras merintis usahanya. Perlahan mulai mengembangkan bisnisnya. Itu semua untuk masa depannya bersama Laras. Ia ingin semua kebutuhan Laras terpenuhi hingga Laras tidak kekurangan satu apapun. Laras tidak perlu bekerja. Bila perlu tidak usah menyambung pendidikannya. Cukup bagi Vim, Laras menjadi pendamping dan mengurus anak-anaknya.
Enam bulan berlalu sejak lamaran. Menjadi tiga bulan waktu yang tersisa. Ibu Maharani meminta Vim menyediakan waktu menemani Laras mencari keperluannya dari membeli pernak pernik hantaran, memilih gaun pengantin hingga membeli satu set perhiasan.
Sengaja Ibu Maharani melibatkan Vim agar menemani Laras supaya mereka memiliki ikatan batin. Merasakan bagaimana bersama-
sama mempersiapkan pernikahan
Laras tak menyangka di usia yang muda, ia akan menjadi seorang istri. Kini ia terpaku memikirkan nasibnya. Rencana pendidikannya yang belum tahu bisa ia lanjutkan atau tidak. Di usia yang sangat muda Laras harus mengurus suami dan rumah tangga.
"Laras kau termenung sayang?"
Kehadiran Ibu Maharani mengejutkan Laras.
"Tidak Mami."
"Di mana Vim. Mami mau Vim mengantarkanmu memesan gaun dan sebagainya. Waktu hanya ada tiga bulan Laras."
'Mami saja memilihkan buat kami mi. Laras ikut saja."
"Pernikahan ini adalah pernikahan kalian. Kalian harus punya keterikatan mengurusnya berdua. Gedung dan catering biarkan Mami yang urus."
Ibu Maharani mencari Vim ke kamarnya.
"Owalaaa masih tidur! Vim! Vim! Vim bangun. Vim..!!"
Tubuh Vim menggeliat. Matanya agak sedikit susah dibuka. Menguap dengan mulut terbuka lebar.
"Apa sih mi. Masih pagi begini."
Mami menyingkap gorden lebar-lebar dan mematikan AC agar Vim bangun. Tidak lupa selimut Vim ditarik.
"Buka matamu Vim. Lihat tuh matahari sudah mulai naik."
"Mami mengganggu tidurku."
"Bangun dong Vim. Temani Laras membeli segala sesuatu keperluan kalian. Dua hari ini bisa kau pergunakan untuk itu selagi
kau libur."
"Iya mi. Aku bangun nih."
Kedua lengan Vim terentang ke atas sembari duduk di spring bed besar nan empuk tersebut.
"Segera mandi. Jangan diulur-ulur. Mami mau pencarian kalian selesai hari ini."
Mami nya memberikan target. Vim nyengir menanggapi.
"Oke aku mandi."
Sebagai rekomendasi Mami menyebutkan beberapa wedding dress chess shop dan toko perhiasan yang bisa dikunjungi Vim dan Laras.
"Mami aku minta tolong bilang sama Laras, sarapanku."
"Oke. Jangan pakai lama mandinya."
"Alright madam."
Huuhh Mami sepertinya aku ini anak sekolahan yang harus diingatkan terus.
"Pagi mas."
Laras menyapa Vim yang baru keluar dari kamar dengan penampilan bersih dan rapi. Mengikuti Vim mendekati meja makan.
"Pagi Laras."
"Sarapan sudah kusiapkan mas."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Selamat makan mas."
"Kau sudah sarapan? Duduklah."
"Sudah minum segelas susu."
"Itu bukan sarapan namanya. Makan ini."
Vim menggeser piring berisi roti dan telur ke hadapan Laras.
" Temani aku makan. Kau harus terbiasa begitu. Kau tahu Mami menyuruhku menemanimu ke toko gaun pengantin, ke to do ttdko perhiasan mas dan mencari pernak-pernik lain."
"Tadi Mami mengatakan itu."
Seharusnya Vim mengatakan Mami menyuruh mencari keperluan pernikahan kita bukan seperti kalimat yang ia ucapkan barusan.
"Sekarang kau sudah siap Laras?"
"Sudah mas. Mau pergi sekarang ya?"
"Iya. Ke garasi."
Laras mengikuti Vim. Dia sempat berpamitan sama Bibi saja sebab Mami sudah keluar rumah.
"Kenakan seat belt mu."
Belum lagi Laras menarik tali seat belt namun keduluan Vim yang menarik tali seat belt Laras, hingga wajah dan tubuh Vim sangat dekat dengan Laras. Wanginya shampo Vim tercium Laras. Vim mengunci seat belt itu. Laras salah tingkah seketika.
"Kita kemana dulu?" Vim bertanya.
"Toko gaun dulu mas lalu toko perhiasan."
"Oke. Kau ada bayangan seperti apa gaun yang kau inginkan?"
"Belum. Mas saja yang pilih."
"Wujudkan keinginanmu Laras. Saat itu momen paling berkesan dalam hidup, karena itu kau yang memilih semuanya. Aku hanya membayar saja."
Wedding dress shop yang mereka kunjungi memiliki banyak koleksi yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Laras membuka-
buka album koleksi gaun pengantin. Semakin jauh Laras membuka halaman, ia semakin bingung memilih.
"Membingungkan."
" Apa Laras?" Vim menangkap suara Laras tapi samar-samar.
"Aku bingung mas. Yang mana?"
kan bagian bahu dan bawah leher.
Akhirnya disetujui keduanya memilih gaun yang tidak terlalu lebar tapi tetap mewah. Dengan bagian atas dada yang tertutup hiasan seperti renda atau semacam brukat.
Laras mengangguk. Vim juga mengangguk setuju. Deal. Urusan di sini beres. Gaun akan diantar dan dipakai pada hari H bersamaan dengan penata rias yang datang ke tempat acara nantinya.
"Mas berapa harga gaun tadi?"
"Tidak mahal. Sepuluh juta saja."
"Sepuluh juta?" Mata Laras membulat. Lalu," Itu mahal mas."
"Tidak mahal. Untuk sekali seumur hidup."
Sekali seumur hidup. Benarkah?
"Belum keperluan lainnya mas."
Laras merasa sayang uang segitu banyak dipakai untuk membeli gaun mahal. Belum ditambahkan yang lainnya.
Kini mereka berdua sampai di toko perhiasan. Pelayan melayani dengan ramah.
"Yang ini saja mbak."
Tunjuk Laras pada satu set perhiasan yang dipajang.
"Itu tipis sayang. Mami bisa memarahiku."
Dia memanggilku sayang? Apa aku tidak salah dengar?
"Aku akan mengatakan pada mami."
"Mami tetap memarahiku. Yang ini saja mbak. Tolong.."
"Mas katamu aku yang memilih" Potong Laras cepat.
"Begini mbak, mas..bagaimana kalau yang ini. Lingkar cincinnya tidak terlalu tebal atau tipis."
Nona pelayan mengeluarkan koleksi yang tidak dipajang.
__ADS_1
"Ini bagus. Ini saja Laras."
"Baik. Aku suka."
Mereka tersenyum. Akhirnya sepakat. Set perhiasan sudah dipesan, akan diambil dekat hari H nanti.
"Selanjutnya aku hanya perlu perlengkapan ibadahku, tas sepatu sandal." Ucap Laras sambil berjalan di sisi Vim.
"Kau bisa menambahkan yang lain. Perawatan wajah, bahan pakaian, atau apa saja yang kau inginkan."
Laras berpikir sebentar. Ia sangat jarang menggunakan make up. Skin care mungkin. Bahan baju sepertinya belum perlu.
Lima toko telah mereka masuki. Vim belum merasa puas padahal ia dan Laras sudah menenteng paper bag berisi belanjaan mereka. Beginilah jika mengikuti kata Mami. Semua barang belanjaan dibawa pulang sebagai bukti. Mami tidak mau barang pernak-pernik dipesan kemudian diantar ke rumah. Mami sengaja membuat Vim kepayahan kesana kemari mencari semuanya. Mami suka Vim dan Laras bisa berduaan sesering mungkin.
"Mas mau cari apa lagi?"
Laras menegur Vim yang mengajaknya memasuki toko bahan pakaian.
"Yang ini belum Laras. Cepat pilih. Aku sudah lelah. Ambil kartu ini."
Mereka hampir seharian ke sana kemari mencari segala sesuatu
nya. Melihat Vim yang kelelahan, Laras cepat memilih bahan pakaian. Sementara Vim duduk menunggu Laras.
"Sudah mas. Kita pulang ya."
"Ayolah."
Laras menjadi iba melihat Vim. Lihatlah wajah yang tadi segar sekarang terlihat lusuh. Vim belum mau diajak makan siang jika semua yang dicari belum dapat. Semua ingin diselesaikan hari ini.
"Mas yakin mau nyetir?"
"Lalu siapa? Cuma ada kau dan aku."
"Maaf."
Laras diam. Dia takut Vim menjadi marah. Alunan musik yang distel Vim laksana buaian yang meninabobokkan Laras. Lambat laun mata Laras terpejam karenanya. Vim yang melirik Laras tersenyum tipis.
"Ras..Laras, bangun. Kita sampai di rumah."
Mata Laras terbuka sedikit dan terpaksa menyiapkan tubuhnya turun dari mobil.
"Panggil saja Bibi agar menolong membawa barang-barang ini masuk."
"Baik. Sebagiannya kubawa masuk." Ucap Laras.
"Eh non Laras sudah pulang."
Kebetulan Bibi yang sedang berada di ruangan tengah menyapa Laras duluan.
"Iya bi. Laras minta tolong bibi ambil belanjaan lainnya. Di mobil ya bi."
"Baik non. Selamat sore den."
Tak lupa Bibi menyapa Vim. Mereka berpapasan di pintu.
"Sore bi."
"Letak di mana mas?"
"Ya di kamarmu. Tidak mungkin di kamarku."
Laras memasuki kamarnya. Sudah tujuh bulan ia tidak menempati kamar ini. Di sebelah kanan kamar, ada kamar Vim. Di depan kamar Vim terpisah oleh ruangan besar itu, terletak kamar Vano.
"Tidak ada yang dikerjakan lagi. Aku akan pulang."
Laras meninggalkan Vim sendirian. Tubuhnya minta diistirahatkan. Dalam angannya adalah membersihkan tubuh dengan berendam air hangat.
"Ohh kalian baru pulang ya?! Bagaimana sudah dapat semuanya??"
Suara Ibu Maharani menghentikan langkah Laras.
"Sudah mi."
Jawab Laras dan Vim hampir serentak.
"Syukurlah."
"Laras pulang ya mi. Besok ke sini lagi."
"Ya Laras. Kamu bawa motor kan?"
"Bawa mi. Dadaah mi."
"Bye. Hati-hati ya."
Laras meninggalkan rumah tersebut. Ia tak menyangka beberapa bulan lagi akan memulai hidup baru.
__ADS_1
Ia yang agak manja sama Ibu nya mau tidak mau melepaskan kemanjaannya. Bersiap mengurus suami. Geli rasanya Laras membayangkan hal itu. Menyiapkan pakaian, makan dan lainnya yang dibutuhkan Vim.
Terlintas di benak Laras untuk membeli buku panduan mengurus suami dan anak-anak. Ia bisa memgambil ilmu dari situ.