Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 15. Curahan Hati.


__ADS_3

Sebulan waktu yang tersisa bagi Laras menikmati masa lajangnya meskipun masa lajang milik Laras tergolong biasa-biasa saja tanpa beraneka warna. Setelah habis sebulan ini Laras menjadi seorang istri dari Vim Devian Rahasya.


Kemarin Vim menyetujui permintaan Laras untuk ziarah ke makam Vano. Vim yang akan mengantar. Laras berkeinginan menjenguk makam sebelum ia memulai langkah baru bersama Vim.


Di makam..


Laras menatap dan memegang nisan Vano. Vim berdiri di belakang Laras. Matanya terlindungi kacamata Ray-Ban.


Aku akan memulai hal baru tanpamu. Ijinkan aku melangkah mas. Bahagialah di alam sana.


Laras cukup kuat tidak mengeluarkan air mata. Dia telah mengikhlaskan Vano dan tak ingin Vano sedih jika melihat Laras menangisinya.


Bunga yang tadi dibawa, ditabur ke atas makam Vano. Entah bagaimana Laras bisa benar-benar melupakan Vano. Sehari-hari ia berada di sekeliling orang-orang yang menyayangi Vano dan lingkungan tempat Vano tumbuh besar.


Vim tetap berdiri dan sabar menemani. Dia membetulkan letak kaca matanya.


Van aku tidak tahu apakah dia mencintaiku atau tidak. Yang aku rasakan ia tidak pernah


melupakanmu. Van ijinkan aku membahagiakannya. Biarkan aku membahagiakannya daripada orang lain.


"Sudah?" Tanya Vim meyakinkan diri.


"Sudah mas. Mari kita pulang."


Seberapa besar cintamu buat Vano. Adakah celah untukku di hatimu?


Vim menuntun Laras. Diterima oleh Laras tanpa penolakan. Laras merasa aman tangannya digenggam oleh Vim seolah mendapatkan kekuatan di sana. Keduanya masuk ke dalam mobil.


"Ras kau masih mencintainya?"


Pertanyaan Vim tanpa basa-basi. Laras sedikit tersentak. Enggan menjawab pertanyaan Vim demi menjaga perasaan Vim. Mobil melaju di jalan raya. Laras tetap bungkam seribu bahasa.


Ciiiiiiiittt


Vim menepikan mobil ke pinggir jalan raya setelah lima belas menit berjalan. Vim mengerem mendadak sehingga Laras terkejut.


"Aku tidak akan jalankan mobil jika kau diam begitu. Jawab yang jujur."


Laras meragu meskipun Vim sedikit mengancam.


"Mas."


Laras memberanikan diri menatap bola mata Vim.


"Aku hampir meletakkan cinta untuknya di tepi. Itu artinya dia tidak istimewa lagi. Karena aku akan menikah denganmu. Aku fokus sama kamu." Ucap Laras jujur.


"Yang aku tanyakan kau masih mencintainya?"


"Aku harus menjawab? Baik kalau itu mau mu. Aku tidak mencintainya lagi."


"Kau bohong."


"Kau memaksaku mengatakan ya jika begini. Pelan-pelan aku mulai menghapus kenanganku bersama Vano." Suara Laras melemah.


Laras takkan pernah tahu betapa Vim tertarik padanya sejak dulu. Menyukai Laras sama seperti Vano. Cuma Vim pintar menyimpan perasaannya dan selalu memberi ruang juga waktu buat Vano lebih dekat ke Laras. Vim hanya penjaga hati. Penjaga hati adiknya meskipun hatinya sendiri berteriak melihat keakraban mereka.


Sekarang kesempatan telah terbuka buat Vim memiliki Laras. Orang lain takkan diberi kesempatan sedikitpun mengambil hati Laras. Cukup adiknya si Vano. Itupun dulu.


Bagi Laras saat ini Vim sedang diperhitungkan. Selama ini di mata Laras, Vim tak lebih seperti abang yang kerap melindungi Laras. Laras akui perhatian Vim lebih besar padanya walau terkadang Vim berbicara keras pada Laras namun akhir-akhir ini sedikit melunak.


"Mas meragukanku. Mengapa memilihku?" Tanya Laras telak.


"Laras. Aku ingin memastikan."


"Jadi menurut mas bagaimana?"


"Suatu saat kau mencintaiku sepenuh hati."


Kejujuran dari hati yang sangat dalam dan penuh pengharapan.


Laras merasakan getar di suara itu.

__ADS_1


"Do'akan aku mas."


"Kau tak boleh terkurung dalam bayangan masa lalu. Takkan kubiarkan itu. Vano akan bahagia di sana melihat kau bahagia."


"Bagaimana dengan dirimu? Dengan Aurora?"


Vim menghela nafas dan melirik Laras dari ekor matanya.


"Kau tahu rupanya."


"Aku menemukan potonya di laci lemari hari itu."


"Poto itu tidak pernah kuperhati


kan lagi. Sejak dia pergi aku membiarkannya di laci. Itulah yang aku hindari membersihkan laci sendiri, aku tidak ingin menemukan apapun tentang dia."


"Kau bisa berkata seperti itu tapi kenyataannya?"


"Bersamamu aku yakin aku bisa melupakannya Laras. Bantu aku."


"Bantu aku juga mas." Balas Laras.


Vim mengangguk menanggapi.


"Sudahlah. Kita pulang." Ajak Vim.


Mereka tiba di rumah lagi. Kali ini disambut oleh suara renyah seorang perempuan. Dia adalah Fani, teman Vim.


"Vim. Oh My God kau berbeda sekarang. Apa kabar Vim?"


Fani berjalan menghampiri Vim. Sama sekali tidak menyapa Laras padahal mereka pernah berkenalan sebelumnya.


"Hai Fani. Apa kabar. Kapan kau datang kemari huh?"


"Aku baik. Aku sudah lama di sini, kau tahu. Kau terlalu sibuk hingga tidak mengangkat telponku." Fani memasang wajah merajuk.


"Sorry, berarti itu nomormu."


"Laras. Kenalkan ini Fani."


Vim memanggil Laras yang berjalan ke meja kerjanya. Laras berhenti lalu menoleh.


"Kami sudah berkenalan mas."


"Kemarilah Laras."


Sebenarnya Laras ingin pulang karena hari telah sore. Lebih enggan berada di antara keduanya.


"Duduklah di sebelahku."


Laras menuruti keinginan Vim. Sedikit terpaksa. Ia mengganggu Vim dan Fani.


"Kau tahu fan, sebentar lagi kami menikah."


"Apa?? Benarkah Vim?"


"Benar. Dia pilihanku."


Vim merangkul bahu Laras dengan bangga. Laras merasa risih. Fani tersenyum terpaksa. Tebakannya belakangan ini benar. Ternyata dirinya kalah cepat hadir di hadapan Vim padahal selama ini ia berharap bisa meraih hati Vim. Selama ini ia berada di luar negri. Tak pernah mengira dengan pilihan Vim. Temannya ini susah tertarik dengan perempuan. Ia terlalu kecewa dengan Aurora..tapi kini Vim berubah.


"Kapan kalian meresmikannya?"


"Satu bulan lagi."


"Sayang aku pulang dulu." Bisik Laras mesra.


Hati Vim berbunga-bunga. Lihatlah apa yang dilakukan Laras. Laras bergayut mesra di lengan Vim. Dia memanggil Vim dengan sebutan sayang. Hal ini semakin membuat hati Fani terbakar cemburu.


"Tunggu aku akan mengantarmu. Sebentar lagi hari menjadi gelap. Aku tidak mau makhluk aneh menculikmu."


"Baiklah. Aku juga pamit Vim."

__ADS_1


Fani menyambung pembicaraan. Meraih tasnya dan berdiri.


"Oh oke. Hati-hati ya Fan."


"Titip salamku buat Mami ya Vim."


"Nanti kusampaikan."


Fani kecewa lagi sebab Vim tidak mengantarnya sampai ke mobil seperti biasa kalau Fani main ke situ. Vim selalu mengantar sampai ke luar rumah. Kali ini tidak, Vim tetap di tempatnya berdiri sama Laras.


"Cantik sekali Fani."


Gantian Laras bersiap pulang. Ia mengambil kunci motornya di dalam tas.


"Dari kecil sudah cakep. Kau juga cantik. Lebih cantik malah." Vim menambahkan.


"Mas baru sadar? Aku memang cantik dari dulu." Kata Laras sedikit bercanda.


"Tentu tidak. Aku tahu dari dulu kau punya persona. Sayangnya kau tidak pernah mengerti perhatianku. Tidak menyadari ketertarikanku."


"Oya? Mas tidak pernah mengungkapkan perasaan padaku dan.. mana aku percaya karena mas kan pacarnya Aurora."


"Hahahaha. Kita sejak kecil bermain bersama Laras. Aku menyukaimu sejak kecil. Anehnya rasa itu ada terus."


Sampai di sini Vim merasa plong bisa mengatakan dengan jujur tentang perasaannya.


"Kita harus mengobrol lagi? Aku belum membersihkan diri mas."


Wajah Laras berubah cemberut. Vim yang menyaksikan langsung menangkap pergelangan tangan Laras. Membawanya ke parkiran motor.


"Aku antar tapi pakai motor karena dekat."


"Ya sudah aku pulang sendiri saja kalau begitu. Cuma dekat kok, sama saja aku yang bawa motor kan."


"No way. Naiklah."


Laras segera duduk di belakang Vim. Ingin segera diantarkan Vim


"Rangkul dong." Pinta Vim sedikit menggoda.


"Enggak ahh..malu!"


"Ya sudah. Motornya nggak bisa jalan nih."


"Apa-apaan sih mas. Malu dilihat orang."


"Kita begini saja sampai pagi ya."


"Mas cepetan dong."


"Kemana sayang, hahaha..."


"Mas!" Laras memukul punggung Vim manja.


"Kau bisa pilih mau tidur di sini atau kuantar pulang tapi rangkul pinggangku."


Pilihan macam apa itu. Masih enak pilihan ganda.


"Aku jalan kaki saja."


Setengah merajuk Laras turun dari boncengan. Vim yang mengetahui hal itu segera turun dari motor. Ia menghadang Laras.


"Oke sayang. Aku mengalah. Aku antar ya."


Laras mengangguk. Ia senang bisa membuat Vim melunak.


Si gunung es sedikit mencair. Hanya sedikit karena Vim biasanya moody an. Hari ini ramah, besok bisa saja ia menjadi garang dan tegas.


"Aku sampai di sini ya Ras. Masih ada yang harus kusiapkan untuk tugasku besok"


Vim hanya mengantarkan sampai depan pintu saja. Itu saja sudah cukup bagi Laras. Vim perhatian sekali hari ini.

__ADS_1


__ADS_2