
Halaman rumah keluarga Dewantara terlihat sepi di bagian depan namun di belakangnya sekumpulan orang sedang melakukan pekerjaan masing-masing.
Pohon-pohon buah yang besar dengan ranting yang banyak sebagian telah dipangkas. Halaman luas itu menjadi lebih terang.
Vim memandang sekeliling halaman ketika ia baru saja menginjakkan kaki di halaman tersebut.
"Lebih panas. Cepat masuk." Kata Vim.
"Panas sedikit mas."
"Sedikit atau banyak sama saja, sama-sama panas. Mintalah air minum ke dapur."
"Iya nanti kubawakan buat mas."
Laras tak jua beranjak masuk.
"Buatmu saja. Aku belum mau minum. Tolong buka pintu kamar bagian luar. Aku masuk dari situ."
Vim meletakkan dua tangan di pinggang memperhatikan sekeliling kemudian berjalan ke halaman samping. di sana terdapat kolam renang dan pintu kamarnya.
"Baiklah. Ada lagi mas?"
"Itu saja sayang. Lewat samping sebelah sana agar tidak melewati undakan di pintu utama." Pesan Vim.
"Lebih dekat lewat pintu utama sayang. Tidak putar ke belakang."
Laras kurang setuju. Melewati samping kiri harus sampai ke ujung baru menemui pintu masuk.
Agak kejauhan.
"Mau kugendong biar cepat? Kau bisa tersandung melewati undakan itu."
Laras melongok. Astaga. Tidak menyangka Vim berpikir sampai segitunya.
"Aku bisa melihat sayang. Naiknya pelan-pelan. Nggak akan tersandung." Kilah Laras. Laras merasa tubuhnya sehat. Undakan tiga susun di serambi depan akan terlewati dengan aman.
"Laras..please.." Tatap Vim tajam. Peringatan sebelum marah.
"Baiklah. Aku lewat pintu samping.
Laras pergi. Byuuuurrr.
Vim melompat ke kolam renang setelah melepas pakaian. Hanya ****** ***** yang ia kenakan. Tiga kali bolak-balik saja. Cukup untuk menghilangkan gerah di tubuh.
"Melo dingin datang! Aauuuww..porno. Mas porno."
Laras datang membawa Melo dingin dan kentang goreng tanpa merk. Kebetulan ada di meja makan.
"Apaan sih Ras." Vim mengernyitkan dahi. Kenapa Laras bicara begitu. Heran.
"Celana mas basah belum diganti. Lagian di sini belum ada bathrobe, mas sudah nyebur ke kolam. Aku malu." Laras menutup kedua tangannya.
"Hey..kau bukan sekali ini melihat tubuhku. Dua tahun lebih sayang."
"Aneh saja." Celetuk Laras.
"Kau yang aneh. Minta Melo itu."
Laras mengambilkan Melo yang diletakkan di atas meja.
"Mami ada di dalam?" Tanya Vim kemudian.
"Tidak. Kata bibi mengantar pesanan ke teman mami."
Mereka memutuskan menginap di rumah orang tua Vim ujung Minggu ini. Sekaligus menyampaikan kabar baik.
"Rumah terasa lengang sekarang. Kami semua berjauhan." Vim memandang jauh ke depan. Teringat kedua abangnya yang kini tidak tinggal di negeri ini. Lalu adiknya yang telah almarhum.
"Wajar mas. Punya kehidupan masing-masing." Laras mengelus lengan bagian bawah tangan Vim. Mengalirkan ketenangan pada Vim.
"Papi dan mami pasti merasakan juga. Sepi dan tak satupun cucu papi-mami di sini. Aahh."
"Anak-anak bagaikan mata panah yang memilih sendiri kemana mereka menuju. Kita hanya mengarahkan saja mas."
Vim menoleh cepat pada Laras.
"Nggak biasanya kamu pintar."
Vim menatap lembut dan tersenyum tipis. Pujian yang samar meluncur dari bibir Vim. Vim tak mau mengakui secara terang-terangan. Menggoda Laras mengasyikkan baginya. Laras balas tersenyum.
"Loh aku memang pintar mas. Cuma kalah dari mas tentu. Aku kan tak pernah menang kejuaraan apapun di sekolah." Laras memuji diri sendiri sekaligus merendah. Jangan jatuh sekali di hadapan suaminya yang menurutnya makhluk sempurna itu.
"Kamu pintar sayang. Pintar merebut hatiku."
Laras tertawa mendengarkan penuturan Vim hingga netranya menyipit. Barisan gigi putih terlihat di belakang bibirnya yang merah muda.
__ADS_1
"Jago menggombal. Ckk." Laras berdecak.
"Hahahaha..gombalanku cuma buatmu. Hahahaha.."
"Dasar tukang gombal!" Lengan atas Vim dipukul Laras.
"Kau suka kaan?"
"Tidak juga. Berapa wanita sudah mas gombalin?"
"Padamu saja aku bisa menggombal. Rayuanku terbatas."
"Dulu waktu dengan Aurora?"
"Eiits.. tidak ada nama itu di antara kita. Ingat?"
Laras mengedikkan bahu.
Percakapannya mereka terhenti karena kehadiran mami Maharani. Datang dari kamar Vim, mami Maharani mendapatkan kejutan Vim dan Laras telah berada di rumah itu.
"Kalian datang kok nggak ngomong ke mami. Sekarang malah mojok di sini. Apa kabar sayang?"
Laras berdiri menyambut maminya. Cium pipi kanan, cium pipi kiri antara keduanya.
"Sehat mi. Mas Vim saja Minggu lalu sakit." Ujar Laras.
"Oya?? Sakit apa Vim? Mami tidak dikabari." Pandangan mami menelusuri tubuh Vim dari atas hingga bawah.
"Sakit biasa. Mungkin aku kecapean mi."
"Jangan diforsir dong. Siang malam kalian bertempur, yaa sakit jadinya."
"Apa sih mi?" Vim menaikkan ujung bibir.
"Mami apaan sih?" Laras menimpali. Wajahnya merona. Malu.
"Gimana usaha kalian. Sudah ada hasil belum?"
"Nah ini. Kami datang bawa kabar baik mih."
Vim membisikkan kalimat di telinga ibunya.
"Laras hamil."
"Apa??" Mami menutup mulutnya. Wajahnya semakin berseri memancarkan kebahagiaan.
Serta merta mami Maharani memeluk Laras. Menghujani dengan ciuman berulang kali.
"Mami..Laras aja yang dicium." Protes Vim menyaksikan hal itu.
"Kau mau mami cium juga? Terima kasih sayang. Mami seperti mendapat kado dari kalian. Muuahh."
"Ini rejeki terbesar buatku mih." Ucap Vim.
"Benar. Jagalah dengan baik ya. Ooh ya mami siapkan makan siang ya. Kalian istirahatlah."
Mami Maharani berlalu ke dalam. Tentu mami tak menyimpan kabar bahagia ini sendiri.
Di belakang mami menemui ART, minta dibelikan amplop. ART pun berangkat ke warung di ujung jalan membeli sekotak amplop.
"Duduk di sini Sin. Isikan amplop ini masing-masing seratus lima puluh ribu. Dua puluh amplop. Ayo hitung dulu amplopnya. Nanti yang kerja di rumah mereka, biar Laras isi amplopnya."
"Baik Bu. Ee..maaf Bu, kami..."
"Kalian dapat juga tapi nanti. Isi untuk yang di sana dulu."
"Baik Bu. Terima kasih Bu."
"Ya. Nah ini lima amplop lagi."
Amplop selesai diisi. Mami membawa amplop keluar.
Di depan para pekerja di rumah itu, mami menyampaikan berita bahwa Vim akan memiliki anak. Laras sedang berbadan dua atau hamil.
"Karena rasa bahagia dan syukur karena kehamilan Larasati, saya bagikan untuk kalian. Minta doanya buat kesehatan ibu dan calon bayinya. Isi amplop ini tidak seberapa. Bisa untuk membeli sedikit bumbu dapur. Di terima ya."
"Terima kasih Bu."
"Terima kasih Bu. Semoga non Laras sehat selalu. Lancar sampai lahiran."
"Terima kasih ya Bu. Mudah-mudahan non Laras dan bayinya sehat selalu. Aamiin."
Amplop telah dibagikan. Para pekerja terlihat senang dan masih bisik-bisik membicarakan berita tentang Laras.
"Sekarang siapkan makanan untuk makan siang. Oya apakah ada bahan untuk membuat sayur bening?" Tanya mami kepada ART.
__ADS_1
"Ada bayam, wortel, tauge di kulkas Bu."
"Baik. Masak sayur bening. Berikan irisan tomat ya dan jagung manis jika ada. Siapkan bahannya." Perintah mami.
"Baik bu."
"Lauknya apa?" Tanya mami.
"Seperti yang ibu bilang, suwir ayam pedas, pindang telur."
"Tidak ada daging?"
"Belum dimasak Bu."
"Masak gepuk daging. TIdak perlu banyak takut waktunya tidak kesampaian. Sudah itu saja Sin."
"Saya kerjakan Bu."
Selesai semua masakan dan terhidang, mami mengajak Laras dan Vim makan siang. Pak Dewantara tidak makan di rumah siang hari disebabkan bekerja.
"Loh mi sudah tersedia semua. Laras nggak bantu apa-apa." Laras merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Kamu jangan banyak bergerak ke sana kemari. Mami takut kamu kenapa-kenapa nanti."
"Vim mau lauk apa?"
"Mih..aku mau Laras yang ambilkan." Wajah Vim datar. Tak mau mami yang mengambilkan makanannya.
"Hmm baiklah. Laras ini piring Vim."
"Iya mih." Laras menyendok kan nasi, lauk dan sayur sementara Vim sedang memakan buah jeruk.
"Silahkan mas."
"Terima kasih sayang. Kau mau makan lauk apa?" Kini Vim bertanya pada Laras.
"Mas aku bisa ambil sendiri."
"Sayang..sayur bening bagus buat Laras." Mami memberikan saran.
"Aku ambilkan." Kata Vim.
"Tidak. Mas makan saja punya mas. Keburu dingin."
"Ambilkan Laras gepuk daging Vim."
"Ah iya. Ini buatmu. Makanlah."
Piring yang diisi nasi dan pelengkapnya diserahkan ke hadapan Laras.
"Terima kasih mas."
"Kalau rukun begini mami ikut senang. Ayo dimakan. Yang kenyang ya."
Suasana hening. Terdengar dentingan alat makan di sana.
"Vim tambah makannya?"
"Cukup mih. Makan cemilan tadi jadi agak kenyang." Vim menolak.
"Nanti muntah lagi loh kalau keduluan angin masuk ke perut. Makan ayam ini saja. Kau suka ini."
"Oke cukup segini. Perutku tidak enak jika kepenuhan." Vim menutup piring dengan telapak tangan. Tidak menghendaki pemberian tambahan lauk dari mami.
"Laras tidak habis makannya?" Giliran Laras ditanya mami.
"Kenyang mih."
"Laras minum susu nanti mih. Kami membawa susu bumil."
"Oh baguslah."
Makan siang selesai. Mami meninggalkan ruang makan.
"Tidak perlu dibereskan mejanya Laras. Biarkan saja!" Seru mami dari dapur. Laras meminta pendapat Vim.
"Tidak usah." Vim menggeleng. Setuju dengan ucapan mami.
"Istirahatlah di kamar."
"Mas temani aku ya."
Semua perduli dengan Laras. Perhatian mereka begitu besar. Laras terharu. Ia harus menjaga janinnya agar tidak kehilangan lagi. Agar orang-orang terkasih tidak kecewa. Betapa mereka sangat berharap. Tuhan tolong aku. Jangan kecewakan mereka. Laras berkata dalam hati.
...💫💫💫...
__ADS_1
Readers..tinggalkan jejaknya di sini ya. Suka 👍, komen, hadiah ,vote dan bintang lima.
Jangan bosan ..trims.💕