Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 121. Pertemuan.


__ADS_3

Hari beranjak sore Vim dan pak Uun pulang ke villa. Tak seorangpun merasakan apa yang ada di hati Vim ( hanya othor yang tahu hehe...)


Dia menunggu saat yang tepat untuk kembali ke rumah. Dengan keyakinan yang dalam ia percaya Laras masih menunggu dirinya pulang.


Gerak-gerik Laras bermain di pelupuk mata. Mungkinkah Laras masih mau menerimanya setelah ia pergi begitu saja tanpa pamit. Bukankah Vim pergi tidak untuk menyia-nyiakan Laras? Ia menghilang dengan tujuan untuk kebaikan Laras pula.


Namun itupun kalau Laras mau mengerti bahwa ia pergi untuk ikhtiar sembuh. Oh Tuhan jangan kecewakan aku, batin Vim. Tak bisa dibayangkan bila Laras telah memilih orang lain untuk mengisi hidupnya.


Pintu kamar yang terbuka membuat pak Uun leluasa masuk ke kamar. Tak ragu akan mengganggu tuan mudanya.


Dengan ucapan permisi pak Uun mendatangi Vim dengan membawa semangkuk sup jangung yang mengeluarkan aroma sedap. Pak Uun senang, tuan asuhannya sekarang terlihat segar kembali. Tidak lagi duduk diam di atas kursi roda tapi mulai menampakkan diri Vim yang sebenarnya. Hanya saja belum seenerjik dulu.


"Den ini sup. Dimakan sebelum tidur Den."


"Tidak ada di meja tadi Pak?"


"Tidak ada waktu makan malam tadi Den. Nyonya nelpon suruh dibuatkan sup jagung biar perut Den Vim hangat."


Kebetulan cuaca dingin lebih sering datang sehingga sup jagung berasa nikmat dimakan kala itu.


"Mami tahu aja sih."


"Mesti Den. Nyonya hafal keadaan di sini."


"Enak Pak. Bapak nggak makan sup?" Sluuurp. Vim menyeruput sisa sup di mangkok.


"Gampang Den. Kami belakangan saja."


"Maaf Den saya mengganggu." Pak Uun hendak berdiri.


"Tidak apa Pak. Duduk dulu temani saya."


Vim menyentuh layar ponsel. Setelah melihat pesan masuk Vim berkata, "Vian. Vian sudah besar Pak. Mami kirim gambar ini."


"Mana Den?"


"Bapak lihat."


"Ya Den. Ganteng seperti papinya."


"Ini Vian. Vian...." Vim terharu hingga air mata mengambang di permukaan netranya.


"Den Vim pasti rindu sama Vian. Mari kita pulang Den. Poto meringisnya lucu sekali haha."


"Besok kita pulang Pak. Siang saja karena saya mau ke kantor sebentar. Bapak kemasi saja semua pakaian."


"Baik Den. Saya bawa piring ke belakang. Nanti ke sini lagi."


"Ya. Jangan lupa makan dulu Pak."


"Baik Den, terima kasih."


Tidak perlu lama Pak Uun sudah datang lagi di kamar Vim. Mulai mencari koper yang dibawa saat datang ke villa dan memuat pakaian ke dalam koper.


"Tinggalkan satu stel buat kerja, Pak."


"Baik Den."


"Tolong Laras jangan diinfokan."


"Ya Den."


Vim membaringkan tubuh di atas bed. Mengulang melihat poto-poto Vian dan Laras tentunya.


"Saya tidak sabar bertemu mereka," kata Vim.


"Secepatnya Den. Non Laras pasti menunggu Den Vim."


"Senang hati saya jika benar gitu, Pak."


"Benar Den, menurut saya."


"Itu perkiraan Bapak saja. Siapa tahu Laras punya pengganti saya."


"Eh jangan ngomong gitu Den."


"Saya kan pergi diam-diam dan...."


"Dan apa Den?"


"Laras banyak yang suka." Sampai di sini pikiran Vim melayang. Mengira-ngira bagaimana sikap Laras padanya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Berdo'a saja Den. Non Laras itu baik. Nggak mungkin berbuat yang mengecewakan Den Vim."


"Bapak lebih tahu sih," celetuk Vim.


"Haha...sudah beres Den. Saya permisi. Selamat tidur Den."


" Ya Pak. Selamat tidur."

__ADS_1


Lalu Vim tertidur pulas dengan syal buatan Laras di sebelahnya. Tak mendengar dering ponsel yang berbunyi. Dia sedang menjelajah alam mimpi yang penuh misteri.


Nada dering ponsel berbunyi lagi tapi tak diangkat pemiliknya. Itulah panggilan dari Laras yang malam itu mengetahui keberadaan Vim di villa dari ayah mertuanya.


...ΩΩΩ...


Beberapa orang staf menekuni pekerjaan di meja masing-masing. Joel baru saja datang dari membeli sarapan untuk Vim.


"Tuan, sarapannya. Silahkan selagi hangat," kata Joel. Meletakkan bawaannya di meja tamu ruangan Vim. Kemudian menyambung ucapan, "Dan ini kembalinya, Tuan."


"Bawakan teh tawar hangat Joel."


"Baik Tuan. Ooooopps."


Langkah Joel mendadak berhenti saat bersamaan ia membuka pintu dan mami Maharani masuk ke ruangan. Wanita setengah baya itu kaget bukan kepalang.


"Oh Joel! Untung saja tidak ketabrak!" Seru mami.


"Ma...maafkan saya Nyonya. Tidak tahu kalau Nyonya mau masuk." Joel menunduk hormat.


"Dimaafkan. Saya ada perlu dengan Vim."


"Silahkan Nyonya. Permisi."


"Loh mami kok nggak ngabarin. Sukanya gitu, tiba-tiba datang, tau-tau nongol."


Vim tetaplah anak mami yang suka ceplas-ceplos kalau bicara.


"Apa itu juga mami harus mengabari dulu? Terus kau mau menyambut mami? Mami mau diberi apa?" Barisan putih gigi Vim terlihat. Ia meringis.


"Paling nggak Vim siap-siap dong beli apa gitu, buat mami."


"Sudah. Mami nggak mau disambut. Mami cuma mau kau pulang. Ayo...kau mau pulang kapan??"


"Uuhuk...uuhuk...uuhuk."


"Piiiiiiisss. Ini air. Diminum," perintah mami.


"Pakai kesedak sih Vim."


"Aaaaahhh." Vim merasakan kelegaan. Menyuapkan lagi makanan paginya.


"Nah itu...itu tandanya ada yang ngarepin kamu Vim. Laras. Ya Laras itu, Vim."


Vim mengernyitkan kening. Aneh ini mami.


"Mami percaya begituan? Takhyul Mih. Vim kesedak karena ucapan mami."


"Jadi mami datang cuma mau menanyakan itu?"


"Apa yang kau tunggu? Sudah sembuh dan bisa jalan. Bisa bekerja lagi. Terus kapan mau kembali ke rumah?"


"Vim kembalinya ke rumah Vim, mami."


"Benar. Mami nggak menyuruh pulang ke rumah mami." Mami menggeleng.


"Hari ini Vim pulang."


"Betul??"


"Hmm iya."


"Janji tidak bohong?"


"Tidak mami. Aku kerja setengah hari. Semua pakaian sudah dikemas."


"Baguslah. Temui istri dan anakmu lebih dulu. Mami bersalah sama Laras karena mami ikut menutupi semuanya, Vim."


"Mami jangan merasa begitu. Aku yang maunya begini biar aku yang tanggung jawab."


"Ini baru anak mami! Jangan sampai Laras pindah lain hati dan kamu menyesal."


"Enggak dong mih, siang ini aku pulang. Aku juga tidak sabar mih."


"Mami tunggu ya. Mami mau pulang."


"Oke mih. Titip salam untuk papi."


"Ya."


Vim menyium pipi mami dan membiarkan mami berlalu pergi. Ia melanjutkan pekerjaan dalam beberapa jam lagi.


...ΩΩΩ...


Dirumahnya Laras mendudukkan Vian ke dalam baby Walker. Anak itu girang menyentuh perlengkapan baby Walker yang menimbulkan irama musik di depannya.


"Baik-baik ya nak. Mami kemasi pakaian Vian dulu, lalu kita menyusul papi. Kamu kangen sama papi, kan sayang??"


Vian tetap asyik menekan sesuatu di depannya. Suara musik pun berbunyi. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya.

__ADS_1


Laras datang lagi dengan membawa tas Vian di tangan. Mengangkat Vian ke dalam gendongan.


"Non sudah siap berangkat?" Tanya bibi yang baru tiba dengan sopir mami. Bibi dijemput untuk mengikuti Laras.


"Eh Bibi. Sudah Bi. Vian sama saya aja."


"Gimana baiknya saja Non."


"Kita berangkat Pak."


Mereka tidak perlu berpamitan pada mami. Mami sedang keluar rumah dan papi berangkat kerja sejak pagi.


Bangunan tinggi kokoh berdiri di depan mereka. Dua pohon tinggi dan besar menghiasi halamannya. Laras memberikan kunci rumah kepada sopir. Kunci tersebut diberikan oleh papi sebelum berangkat ke kantor. Pintu villa dibuka. Mereka pun masuk.


"Vian sama nek Bi ya."


"Mari Non." Bibi menyambut Vian ke dalam pelukannya.


"Den Vim tidak tahu ya, Non Laras mau datang? Kok ndak ada orang."


"Iya Bi. Ternyata mas Vim pergi kerja."


"Oowalaaa bibi ngerti. Non mau ngasih kejutan ya."


"Begitulah Bi."


"Ditelpon saja Non."


"Saya telpon pak Uun saja Bi."


Bibi mengajak Vian jalan berkeliling di dalam villa. Laras mencoba menghubungi pak Uun namun tidak diangkat. Ia memutuskan berjalan keluar sejenak.


Cuaca yang bersahabat membuat hati Laras nyaman berada di luar. Berbulan lalu kata papi akan direnovasi tetapi Laras tidak melihat perubahan villa tersebut. Mungkin belum dilaksanakan.


Di ruas jalan yang ramai Vim dan pak Uun berada dalam mobil. Hampir saja tiba di pertigaan jalan ketika Vim meminta pak Uun berpindah arah.


"Belok kanan Pak. Buku tabungan Vian ketinggalan di laci lemari. Kenapa bisa lupa?"


Vim menepuk kening. Menyalahkan diri sendiri. Seharusnya mereka tinggal meluncur ke rumah tetapi kembali lagi ke villa untuk mengambil buku tabungan Vian.


"Baik Den."


Ciiiiiiiittt. Mobil berbelok arah. Melaju di antara kendaraan lain.


" Den... maaf saya isi minyak dulu."


"Ya sudah Pak. Berhenti di sini."


Vim turun dari mobil dan terkejut melihat pintu pagar terbuka. Ada yang datang. Lalu aura terkejut terpancar di wajahnya saat mendapati mobil pink milik Laras terparkir di sana.


"Laras!"


Dan saat bersamaan Laras melihat Vim berdiri di dekat pagar. Laras terpaku dan terkesima melihat Vim. Netranya tak lepas menatap Vim dari atas ke bawah. Rindunya membuncah.


"Laras!!" Panggil Vim.


"Mas!" Laras berlari menghampiri Vim. Sedetik kemudian memeluk Vim erat. Vim balas memeluk Laras. Masing-masing tak mampu berkata-kata. Saling meluapkan rasa yang tidak bisa mereka uraikan.


"Mas...hiiiks."


"Jangan menangis. Jangan menangis. Aku sudah sembuh Laras." Vim tak ingin melepaskan rangkulannya. Mengusap rambut belakang Laras berulang kali. Merengkuh kepala Laras di dada. Menenangkan Laras agar jangan bersedih. Haru yang menyeruak mengakibatkan netra Vim menghangat. Seberapa kuat ia menahan buliran air mata tetap air bening itu mengambang di mata Vim.


"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku." Isak Laras.


"Tidak lagi. Ma'afkan aku. Ma'afkan aku Laras."


"Mas tega. Mas tega... uuhuuuu." Laras kembali membenamkan wajah ke dada Vim.


"Tenang. Bersyukurlah aku sudah pulih sayang. Hari ini aku mau pulang, kau ada di sini. Tapi..."


Vim menatap Laras ragu. Jantungnya berdegup kencang dan ada rasa sakit di ulu hati memikirkan kemungkinan jawaban Laras.


"Tapi apa?"


"Masih adakah tempat untukku di hatimu?"


"Selalu di hatiku. Mas tidak tergantikan."


"Benar??"


"Ya." Vim tersenyum bahagia mendengar jawaban Laras.


"Terima kasih sayang." Vim mengecup kening Laras. Hatinya begitu plong mendengar ucapan Laras. Hadiah terbesar setelah sembuh yaitu masih memiliki Laras menjadi pendamping hidupnya. Keduanya meresapi momen pertemuan.Tak ingin berjauhan lagi, tak ingin terpisahkan.


"Kita masuk. Aku kangen Vian," ajak Vim. Dirapikannya rambut Laras yang menutupi sebagian pipi.


Berdua memasuki villa. Burung bersahutan di luar sana seolah turut berbahagia menyambut kebersamaan mereka. Vim merangkul Laras dengan mesra.


...🍃🌷🍃🌷...

__ADS_1


Ma'af baru bisa up. Semoga tidak pernah bosan di sini.😊


•••Like, komen, fav, gift, vote, dan bintang lima juga ya. Terima kasih.💐


__ADS_2