Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 117. Ditinggalkan.


__ADS_3

"Pak ambilkan koper kecil."


"Dimana Den?"


"Cari di dalam lemari, Pak." Pak Uun mengikuti perintah Vim.


"Ini Den."


"Ya. Buka lemari bagian atas Pak. Keluarkan pakaian saya dan sisakan."


Lalu Vim menyebutkan sebagian barang-barangnya. Pertanyaan yang hadir di-' benak pak Uun tak berani diutarakan. Pak Uun mengerjakan apa yang diperintahkan.


"Ada lagi Den?"


Malam telah larut sekali tapi mereka berdua belum memikirkan tidur.


"Ini pak. Selipkan di situ." Vim memberikan buku tabungan Vian atas nama Vim dan syal hasil rajutan Laras.


"Maaf Den kalau saya lancang. Den Vim sebenarnya mau ke mana?" Tercetus juga pertanyaan dari pak Uun.


"Nanti Bapak tahu sendiri."


Vim tidak bisa tidur. Memikirkan Laras dan Edo membuat pikiran tak bisa santai. Keesokan pagi Vim mencak-mencak di ponsel ketika menghubungi Edo.


"Mas apa yang salah? Kudengar Mas menyebut nama kak Edo." Suara Vim yang menggelegar di pagi hari sukses membuat Laras terkejut bukan main. Mengapa Vim terlalu marah?


"Pikirkan sendiri," ujar Vim ketus.


"Apa yang harus kupikirkan? aku tak mengerti mengapa mas marah begini. Ada masalah dengan kak Edo?"


"Kau terus saja bertanya."


Kau ini sebenarnya pura-pura tidak tahu atau menutupi rahasia Laras.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya. Ya sudah kalau mas tidak mau bercerita."


Vim membiarkan Laras keluar kamar. Dia mulai lelah menjalani kehidupan termasuk menahan dan memberi Laras batasan. Ah semua terserah Laras saja. Andaikan Laras memilih pergi, Vim sudah siap.


"Mas aku pergi kerja. Jumpa lagi nanti sore."


Hanya itu. Laras lupa memberikan kecupan di pipi Vim. Tak lama setelah kepergian Laras, Joel datang mengantar Ponsel berikut kartu baru untuk Vim. Vim tersenyum sumringah.


"Terima kasih Joel."


"Sama-sama Tuan."


Vim pun menelepon papi Dewantara dan nada keterkejutan didapati Vim dari papinya itu.


"Sampaikan ke mas Vadli pih, aku bersedia."


'.........'


"Aku baru membeli handphone ini."


Klik. Vim menutup panggilan. Ia kembali memanggil pak Uun dan bibi. Pak Uun dan bibi mengangguk tanda mengerti pesan yang disampaikan Vim.


"Jaga Laras dan Vian baik-baik ya Bi."


"Baik Den."


Pak Uun membantu Vim masuk ke mobil. Kursi roda dilipat dan diletakkan bersama koper Vim dan tas pak Uun.


"Bi, dekatkan Vian padaku," pinta Vim.


Bibi mendekatkan Vian kepada Vim. Vim menyium Vian tiga kali dan mengambil gambar Vian. Vianlah sumber kekuatan Vim setelah Laras.


"Jangan nakal boy. Papi pergi sebentar ya. Sudah Bi. Saya pergi dulu."


"Baik Den." Bibi menahan haru. Kasihan sama tuan mudanya ini.


"Oya papi mengirimkan orang untuk berjaga di sini. Joel akan mengantar orang itu kemari. Bibi jangan takut."

__ADS_1


"Den cepat pulang ya. Kasihan non kalau lama-lama. Den kenapa tidak nunggu non Laras saja perginya, Den." Bibi hampir terisak.


"Bi...semua tidak seperti ini jika ada Laras. Banyak hal yang dilakukan Laras. Percayalah saya melakukan ini untuk kebaikan semua."


Vim memahami Laras sedang berjuang mempertahankan rumah mereka. Untuk itu ia tidak mau menambah beban Laras lagi. Ia memutuskan untuk pergi.


Rumah semakin sepi. Benar-benar kehilangan keceriaan. Bibi merasa kehilangan. Tuan muda asuhannya sejak kecil kini memilih pergi. Pak Uun ikut bersama Vim. Mobil kesayangan Vim berfungsi kembali sekarang. Seandainya bisa bicara, si mobil mungkin bangga bisa melayani tuannya lagi.


...-&&&-...


Pak Alex datang ke kantor Laras. Rencana rapat kemarin batal dan digantikan hari ini. Roni meminta Laras melayani pak Alex dengan baik semacam menyuguhkan makan minum untuk pak Alex.


Pak Alex lelaki seumuran papi duduk menunggu di sofa ruang kerja Laras. Laras menutup berkas surat. Dia juga yang harus menghadapi pak Alex. Roni yang ditunggu lima belas menit berlalu, belum muncul. Tahu rasa dia kalau pak Alex membatalkan rencananya. Santai amat jadi orang.


"Silahkan di minum pak."


"Belum dituangkan nona."


Laras baru sadar air minum masih berada di dalam teko. office girl menyediakan satu teko air minum, bukan satu gelas saja. Laras harus menuangkan ke gelas. Melayani pak Alex.


"Nona sudah berapa lama di sini?" Pak Alex mengedipkan sebelah mata. Seketika Laras merasa mual. Kedatangan Roni lama sekali dirasa Laras. Kehadiran Roni membantu Laras terbebas dari kegenitan pak Alex.


"Saya baru Pak."


"Anda cantik dan fotogenic. Mau jadi ikon untuk produk kami?"


Tawaran menarik tapi tunggu dulu. Mengingat kedipan pak Alex saja Laras berasa mual. Mana mungkin menjadi model produknya yang otomatis membawa Laras berkomunikasi dengan pak Alex. Laras bergidik.


"Kenapa?"


"Anu Pak...saya ingat ulat bulu di pohon jeruk di rumah. Ulatnya gemuk-gemuk Pak. Hiiiii...."


Laras membayangkan pak Alex menjadi ulat bulu. Memang mirip.


Saat itulah Roni membuka pintu.


"Pak Alex, maafkan saya terlambat." Dia menjabat tangan pak Alex.


"Beruntungnya ada nona cantik menemani saya. Tidak membosankan menunggu. Apa kita bisa janji temu nona?"


"Untuk?" Tanya Laras.


"Laras, Pak Alex ingin mengisi waktu denganmu," kata Roni.


Laras membelalakkan mata. Roni mendukung pak Alex. Dua orang ini memang kelewatan. Laras menatap Roni tajam.


"Membicarakan pekerjaan juga, Laras. Tapi jangan mau jika kompensasi yang diberikan lebih kecil dari di sini, hahahaha...."


"Berapa...berapa gaji yang Roni berikan padamu? Aku bisa mengganti lebih besar asal...."


"Asal apa Pak?" Laras penasaran. Pak Alex menatap Laras dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan nakal.


"Oh maaf pak. Saya belum tertarik. Mungkin lain kali. Bisa kita bahas tujuan semula di sini?"


Roni tampak kecewa. Namun perbincangan mereka tetap berjalan. Setidaknya pertemuan memberikan hasil, pak Alex bersedia menambahkan modal untuk mereka.


Akhir pertemuan Roni tidak langsung pulang. Ia memperhatikan Laras membenahi meja.


"Pak Roni menunggu apa?" Laras kira ucapannya cukup jelas mengusir Roni. Roni mengacuhkan.


"Menunggu kamu. Laras... akhirnya kau datang dengan sendirinya. Aku tak menyangka berhadapan denganmu lagi."


"Hanya untuk urusan kerja Pak. Tidak lebih dari itu."


"Mengapa kau menolak permintaan Pak Alex?"


"Mengapa Pak Roni senang dengan permintaan pak Alex?"


"Ini peluang Laras. Siapa tahu ia memberikan penghasilan yang besar buatmu."


"Bukan karena Pak Roni mendapatkan keuntungan?"

__ADS_1


Huuuuft. Tidak semudah itu Roni memanfaatkan Laras.


"Kau ini pintar ya."


"Kalau tidak pintar, saya tidak menjadi istri Vim."


"Hhhhh...bangga sekali kamu sama Vim."


"Tentu dong Pak. Namanya suami, Pak."


"Dia tidak ada apa-apa lagi, Laras. Perusahaannya hampir gulung tikar, lambat laun seluruh asetnya hilang. Kau akan merana."


Tapi Vim masih memiliki cintaku. Cinta yang tak pernah berubah sedikitpun, batin Laras.


"Saya tidak takut melarat , Pak Roni. Bapak tahu kan gimana keadaan rumah orang tua saya. Jauh dari mewah dan di situ saya tumbuh dan hidup. Hidup dalam kesederhanaan. Jadi saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Begitu juga dalam keadaan penuh cobaan sekarang."


Roni semakin merasa menyesal tak mendapatkan Laras. Laras adalah berlian. Selalu bersinar meski di tempat gelap. Laras bijaksana memandang suatu hal.


"Waktu kerja berakhir Pak. Saatnya pulang." Laras menjinjing tas. Berjalan melewati Roni tapi tangannya ditahan oleh Roni.


"Maaf Pak." Laras menepis dan mempertahankan sikap sopan.


"Apa yang diberikan Vim hingga kau setia padanya. Buka mata kamu. Vim cacat." Roni bicara penuh penekanan.


"Vim memberikan banyak hal dan asal Pak Roni tahu, dia masih ada harapan untuk sembuh. Saya akan membawa Vim pada kesembuhan."


Laras cepat keluar meninggalkan Roni. Semakin lama berada di dalam kian membuat gerah dan Laras takut Roni menjadi nekat.


Laras jalan tergesa. Ingin cepat sampai ke rumah. Menemui Vim dan memegang Vian. Ia akan memujuk Vim agar Vim mau mengikuti anjuran dokter untuk melakukan terapi.


Tiba di rumah Laras menemui Vim di kamar tapi ia tak melihat Vim. Dia beralih ke ruang keluarga. Vim tidak berada di sana. Mungkin bersama Vian. Laras mencari di kamar Vian. Nihil.


"Bi...!! Bibi!!"


Bibi datang mendorong Vian dalam kereta.


"Bi mas Vim di mana? Di kamar tidak ada."


"Anu non..eee itu...."


"Di mana Bi??" Laras mengernyitkan dahi. Tidak sabar menunggu jawaban bibi.


"Non, den Vim pergi. Katanya ikut den Vadli. Den Vim mau ter...ter...apa itu ya?" Bibi bingung.


"Pergi ke mana Bi??!"


"Ikut den Vadli, non."


"Apa?? Mas Viiiim!!! Aku ikut mas. Aku ikut!!!"


Laras terduduk lemas berurai air mata. Tega Vim meninggalkan dirinya. Laras tersedu sedan.


"Hiiiiks...." Laras mengambil ponsel. Menelpon mami tetapi tidak diangkat. Menelpon Vadli sama juga. Giliran menelpon papi dan mendapat jawaban.


Vim berangkat mengikuti Vadli. Di sana Vim menjalankan terapi. Alangkah jauhnya mengikuti Vadli ke luar negeri. Laras ingin menyusul. Membiarkan Vim melewati hari-hari tanpa dirinya adalah sesuatu kebodohan.


Dimana janji setia mereka yang dulu diucapkan. Laras kembali banjir air mata. Mengapa Vim tidak berpamitan padanya. Laras menggeleng kuat. Ia merasa sendiri kini. Walaupun Vim tidak bisa melakukan apa-apa, baginya Vim adalah semangat hidupnya. Hanya karena Vim dan Vian ia sanggup bertahan.


"Non sadar, non. Ngucap non." Bibi ikut sedih.


"Aku nggak bisa tanpa mas Vim. Bi kenapa aku ditinggal sendiri...hiiiiks."


"Den Vim bilang untuk kebaikan bersama Non."


"Tapi di sini juga bisa Bi. Kenapa harus ke Belanda?" Laras kehilangan. Tubuhnya lemah lunglai. Dia benar-benar kehilangan tenaga. Bukan begini maunya. Seharusnya Vim melakukan terapi di kota mereka saja.


"Non sabar. Do'akan den Vim cepat berhasil terapinya. Nanti den Vim cepat pulang.


Hampa terasa. Pikiran Laras kosong. Rumah ini tanpa Vim semakin suram bagi Laras. Kesepian semakin terasa. Laras mengambil kesimpulan.


Tangisan berhenti namun kembali air mata berjatuhan ketika Laras mendekap Vian. Tak menyangka mereka terpisah jarak yang jauh. Vim mengambil langkah sendiri tanpa meminta pendapat Laras. Laras sendu. Laras dirundung Lara. Duka masih senang menemani Laras. Laras memeluk erat guling. Di situ tangis Laras tak terbendung. Ia meluapkan kesedihan di atas ranjang. Hanya Vian yang ada di sampingnya.

__ADS_1


>>>>>>


Terima kasih masih di sini...readers. Jangan bosan ya dan jangan lupa like, komen, gift, beri bintang lima atau vote nya supaya othor tetap semangat. ๐ŸŒท๐Ÿ’๐Ÿงก


__ADS_2