
"Sedang sibuk??"
"Kak Edo!! Astaga...mengagetkanku saja! Mau apa di sini??" Tanya Laras cepat tatkala Edo mendadak muncul.
"Kirim kabar dong kak, kalau mau datang. Ada perlu apa?"
"Mau pinjam uang." Celetuk Edo.
"Haaa?? Buat apa?"
"Buat nikah! Hahaah...."
"Dasar! Jam kerja ini, kenapa di sini?"
"Memastikan kau baik-baik saja."
"Aku sehat kok."
Krrrrrrrkkk. Pintu terkuak.
Proook. Prook. Proook.
Tepukan tangan berhasil membuat Laras dan Edo kaget.
"Kalian tahu di sini tempat bekerja, bukan tempat bermesraan."
"Gila lu siapa yang bermesraan. Breng_!"
"Eeeeiii..stop kak. Kak Edo!" Belum apa-apa Edo hampir mengamuk. Sama seperti Vim, bagi Edo si Roni itu memuakkan. Mereka hanya tahu Roni bukan orang baik.
"Maaf Pak Roni. Ini bagian dari kerja. Pak Edo sama seperti pelanggan yang lain Pak."
"Kalau begitu ikuti prosedur. Mulai proses dari meja di ruang depan." Roni memandang tak suka. Edo pun sama. Edo mengabaikan Roni. Menghiraukan Roni berarti dirinya ikut gila.
"Kau terlalu mementingkan pekerjaanmu Laras. Vian panas tinggi, kau masih di sini?"
"Apa?? Vian?"
Laras tampak bingung. Ia tak hendak memeriksa pesan masuk di handphone. Tablet dan ponsel diamankan dalam tas. Dalam kepala Laras hanya ada Vian sekarang. Bagaimana kondisi Vian? Pasti dia kesakitan dan mengerang. Tapi bibi belum menelpon Laras sejak tadi. Memberitahukan jika Vian sakit
"Ya Vian sakit. Aku dari rumahmu."
"Satu jam lagi rapat di sini, Laras." Roni menyela dan menahan Laras secara tak langsung.
"Rapat apa?" Kemarin baru saja rapat dan hari ini rapat lagi.
"Rapat penambahan modal oleh mr. Alex."
"Saya ijin tidak ikut, Pak Roni. Anak saya butuh perhatian. Permisi."
Laras melangkah cepat. Edo mengekor Laras.
"Laras, gajimu dipotong!"
Laras tetap melenggang. Jika terjadi apa-apa pada Vian, ia akan menyesal nanti.
"Rasain," gumam Edo. Edo merasa menang.
Sebelum memasuki mobil, Edo menahan pergelangan tangan Laras.
"Laras."
"Apa lagi kak? Kita sambung lain kali ya. Aku ingin pulang. Vian sakit...hiiks."
"Laras, sebenarnya..."
"Aku harus cepat sampai di rumah kak."
"Laras, Vian tidak sakit. Tidak sakit!"
Laras menoleh cepat. Apa yang Edo katakan barusan?
"Kak Edo??"
"Iya Vian tidak sakit. Ikut ke mobilku."
"Mau kemana kak?" Laras heran. Vim Cs memang beginikah? Semua memiliki sifat menguasai yang dominan.
"Aku tidak mau. Kakak bohong."
"Apa kau merasa senang ada Roni? Aku melakukan ini supaya Roni tak mengganggumu."
"Kakak...tolong. Ucapanmu..."
__ADS_1
"Ucapanku benar kan, Laras? Dia bisa mengganggumu"
"Kak Edo salah."
"Kalau salah ikutlah denganku. Ngapain kamu berdekatan Roni gitu. Huuuuhh seenak perut dia nanti."
"Jangan curigaan, tidak baik. Lepaskan tanganku kak."
"Ikut dulu." Paksa Edo.
"Maksa iiiiih. Haloo kakak, masih jam kerja ini ya. Kak Edo kembali ke kantor saja ya ."
"Siapa bilang? Waktu makan siang sekarang. Nah kita makan siang saja. Biarkan bajingan itu bosan menunggu dan pergi."
Laras menarik napas dan menghembuskan perlahan.
Laras tak kuasa mengelak lagi. Dia selalu mengalah. Pada keadaan pun begitu. Menerima dan menjalani dengan kesabaran yang dimiliki.
"Makan yang banyak Laras biar badanmu naik."
"Ini cukup kak. Perutku cepat penuh."
"Oya? Pantasan kau lambat besar."
Laras cemberut dan mencebik.
"Apa sih kak? Perutku muatnya ya segini. Tidak banyak."
"Jadi kau tetap betah bekerja di tempat Edo?"
"Betah nggak betah. Aku perlu uang kak. Pendapatanku bisa menutupi kewajiban kami. Sebagai istri aku bertanggung jawab menjaga milik kami kak dan inilah caraku."
"Aku mengerti."
Dan Laras harus banting tulang kini. Edo menatap wajah Laras yang setengah menunduk. Cantik imut. Lebih cantik Laras dibandingkan Kazumi.
"Apa kau sanggup bertahan seperti ini Laras?".
"Kak Edo kok nanya gitu sih? Tentu saja harus."
"Tidak bosan?"
"Tidak boleh bosan kak. Sudah ah. Kakak jangan membuatku lemah ya. Cepat dimakan. Waktu kita mau habis."
"Aku tidak bisa."
"Laras...aku menyukaimu."
"Huuuuft." Laras tercekat.
"Apa lagi ini kak? Nggak lucu. Kita harus bekerja lagi." Laras menyudahi makan siang. Berdiri bersiap pergi.
"Laras, apa tidak boleh seseorang menyukaimu?"
"Terserah, hak orang itu," jawab Laras.
"Kalau begitu sah saja aku menyukaimu."
Laras mengedikkan bahu. Tak berniat melanjutkan obrolan. Ia berjalan keluar.
"Sebatas suka ya kak. Jangan biarkan berkembang lebih jauh."
"Ini soal perasaan Laras. Mana mampu kubuat-buat." Sayangnya perasaan itu memang tumbuh di hati Edo.
"Kak Edo bisa mengawal perasaan kakak. Jangan sampai berkembang lebih jauh atau letakkan perasaan yang berkembang kepada
hati lain yang lebih tepat." Saran Laras.
"Waah! Kau pintar sekarang. Seperti nenek-nenek."
"Masih jauh untuk jadi nenek. Vian masih bayi kak hahah."
Laras menutup pintu mobil. Menanti Edo menstater mesin.
Untuk kali ini Vim, biarkan aku berdekatan dengan Laras, batin Edo.
...&&&...
Joel datang diam-diam mengunjungi Vim. Dia hanya anak buah Vim yang patuh pada tuannya. Diminta datang Joel akan hadir. Vim dilepaskan dari tanggung jawab terhadap pekerjaan, semata-mata agar tidak banyak pikiran. Namun bukan Vim jika dia hanya diam. Papi dan Dion benar-benar melindungi Vim dari semua permasalahan di perusahaan.
Perlahan ia merasa perlu mengetahui keadaan perusahaan. Untuk itulah Vim meminta Joel melaporkan perkembangan perusahaan. Bukan itu saja, laporan pengawalan terhadap Laras juga Vim menunggu info dari Joel.
"Joel, berita apa yang kau bawa dari pengawal Laras?"
__ADS_1
Mereka berdua di kamar Vim. Bibi dan pak Uun sudah diberi peringatan agar bungkam atas kedatangan Joel. Mereka menurut.
"Belum ada Tuan. Terakhir kemarin yang sudah saya sampaikan, Roni bertemu ibu di luar hotel."
Rahang Vim mengeras. Pergerakan Laras di luar jangkauan dirinya. Entah apa yang telah terjadi dengan Laras di luar sana. Vim mengusap wajah. Hatinya dilanda gelisah.
"Awasi jangan sampai Laras kenapa-kenapa."
"Baik Tuan."
"Oya Joel...tolong belikan aku handphone."
"Boleh Tuan."
Triiiit..trriiiit.
Joel membaca pesan yang masuk. Haruskah pesan ini ia sampaikan pada Vim? Apa reaksinya?
"Joel...siapa itu?" Tanya Vim.
"Ehmm..ehmm...bukan siapa-siapa Tuan."
"Joel, kau gagu ya." Ada yang tidak beres jika Joel tergagap. Dia pasti berbohong. Vim hafal itu.
"Joel katakan dengan jujur. Joel hanya kau yang kupercaya sekarang."
"Pesan dari pengawal Tuan."
"Dia bilang apa?"
"Mengirimkan gambar Tuan."
"Gambar apa sih? Berhubungan dengan Laras?"
Joel diam. Ragu untuk menyampaikan tapi Vim mendesaknya.
"Joel! Berikan handphone mu."
Vim tercenung lama memperhatikan gambar-gambar di pesan masuk ponsel Joel. Poto-poto Laras dan Edo makan berdua dan masuk ke dalam mobil. Hati Vim panas. Dia terbakar cemburu.
Vim mengumpat dalam hati. Ingin rasanya ia membalas kelakuan Edo sampai Edo remuk.
"Jadi Tuan beli handphone?"
"Jadi." Joel merasa menyesal telah bertanya. Dengan memegang ponsel Vim bakalan mudah menghubungi dirinya.
"Kalau gitu saya permisi Tuan. Ma'afkan."
Vim memandang jauh ke luar jendela. Roni dan Edo bermain di pikiran Vim.
Apakah ini waktunya Laras? Andaikan kita berjauhan masih mungkinkah hubungan kita dipertahanan. Aku tak lagi kuat dan tak sempurna sedangkan engkau sarat pesona. Tak mungkin aku membiarkanmu bertahan sementara di luar sana terbentang kesempatan yang bisa kau raih. Masa depan menantimu, Laras. Terlalu egois membiarkanmu menderita. Kebahagiaanmu adalah impianku. Aku mengalah Laras.
Lamunan Vim buyar. Mobil Laras memasuki bagasi. Biasanya Laras akan menjenguk Vim
saat ia memasuki rumah.
Ceklek. Benar saja. Laras membuka pintu.
"Sore sayang." Kecupan sayang mampir di pipi Vim.
"Mas mandi ya. Aku siapkan air."
Netra Vim mengikuti Laras. Sanggupkah dia berjauhan dengan Laras tanpa melihatnya lagi? Vim memijit kening. Ia takkan memarahi Laras. Sudah cukup Laras bergelut dengan situasi. Vim tak ingin menyusahkan Laras lagi dan Iara biarlah ia simpan sendiri.
"Mas mandi ya. Aku juga mandi lalu memegang Vian." Laras mengantar Vim ke kamar mandi dan menunggu di luar. Kemudian membantu Vim mengenakan pakaian.
Sebelum Laras keluar kamar, Vim sempat bertanya, "Apa yang kau lalui hari ini?"
Laras berhenti dan menoleh, lalu berucap," Tidak ada yang istimewa mas. Biasa saja. Kutinggal dulu ya."
Makan malam hanya berdua di meja makan. Vim tidak keberatan lagi karena cuma saat makan malam ia bisa menemani Laras. Jauh di relung hatinya ia berharap Laras tetap setia walaupun ia sendiri mulai tak yakin bisa mempertahankan Laras.
Vim menunggu pak Uun masuk. Pak Uun yang datang memeriksa setiap malam apakah tuannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Pak ambilkan koper kecil."
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Tolongin othor dengan Like, komen, gift, vote dan bintang lima ya.. biar othor semangat menulis. Terima kasih.💐🌷