Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 56. Mengganggu pikiran.


__ADS_3

Laras belum menyiapkan diri berangkat ke toko. Kemalasan menyergap di pagi hari dan spring bed empuk seakan menahannya agar bertahan saja di atasnya. Pergerakan Vim yang terburu-buru dan menimbulkan bunyi gemerisik berhasil membuat Laras mengintip dari selimutnya.


"Aku kesiangan." Vim berkata sembari menaikkan ritsleting celananya. Kemudian dia berujar lagi," Tidurlah dan jangan ke toko dulu."


Dilihatnya bayangan diri telah rapi di pantulan cermin. Dia merasa kelabakan. Biasanya Laras yang menyediakan semua keperluan pakaian tapi hari ini Laras sedang tidak sehat.


Laras kelihatan lebih segar. Wajahnya bersemu merah tidak pucat seperti tadi malam. Mendudukkan dirinya di atas sisi ranjang lalu bangkit berdiri.


"Aku sudah sehat. Sakit kepalaku sudah hilang." Berjalan ke kamar mandi.


"Kau mau ke mana?" Tanya Vim mencari tahu.


"Bekerja. Memangnya mas saja yang bekerja. Aku juga punya tanggung jawab."


Vim mengernyitkan dahi. Tadi malam Laras terlihat sangat lemah. Pagi ini telah bugar kembali.


"Sakit kepala ini tak kurasakan setiap saat dan aku masih kuat kok mas. Lihat aku sudah bisa berdiri."


"Dasar keras kepala. Cepat ya Ras Aku mau berangkat. Ingat di sana jangan terlalu lelah."


"Ya."


Vim telah berangkat ke kantor. Laras bersiap menuju ke toko hari ini. Ia akan menata barang dagangan yang baru diambil dari rumah mami Maharani.


Rasa lelah hadir lagi. Laras mengabaikannya. Terus saja bekerja meskipun kepalanya terasa sakit. Sakit lalu hilang kembali. Sayangnya Laras tak mengindahkan ajakan Vim untuk berobat. Dia menganggap hanya sakit kepala ringan. Besok juga sembuh pikirnya.


Sapaan suara wanita mengejutkan Laras. Ia memalingkan kepalanya ke samping. Terkejut bukan main sebab yang datang adalah Aurora.


"Mengapa kau ke sini?" Suara Laras tidak ramah sama halnya dengan raut wajahnya.


"Melihat tokomu yang wah ini." Aurora menjawab sarkas dan Laras menangkap maksud Aurora. Sebuah ejekan buat Laras.


"Oh ini belum seberapa. Suatu saat aku mendekornya lebih bagus dari ini." Laras tak mau kalah.


"Kau nggak tahu ya perkembangannya lumayan dan yang jelas dukungan Vim sangat besar untuk ini."


"Sombong sekali." pandangan Aurora sungguh melecehkan Laras. Kakak satu almamater ini


bencinya telah mendarah daging pada Laras.


"Tidak ada yang kau cari di sini bukan? Silahkan pergi." Akhirnya Laras mengusir Aurora. Buang-buang waktu saja menanggapi orang seperti Aurora.


"Tiada yang sesuai dengan seleraku di sini."


"Pergilah kalau begitu."


Kehilangan satu pembeli saja seperti Aurora tidak akan berpengaruh pada toko Laras.


"Sebelum aku pergi dengarkan ini ya. Aku dan Vim menangani proyek kerjasama. Artinya aku dan Vim akan selalu bertemu. Kau mengerti maksudku?"


Laras menangkap maksud ucapan Aurora. Kalimat Aurora membuat darah Laras mendidih. Seketika kepala bagian kiri Laras berdenyut. Tangan kiri Laras bertumpu pada satu meja. Ririn pasti melihat kejadian ini dari awal sebab Ririn bersamanya sejak pagi. Temannya itu tidak banyak bicara. Barangkali takut.


"Pergi kau dari sini! Pergi dan jangan kemari lagi!" Usir Laras.


"Peluang itu terbuka hahaah!"


Laras merasa jijik mendengar tawa Aurora yang sumbang.


"Pergi kau!"


"Maaf nona.. pergilah. Anda membuat keributan di sini." Akhirnya Ririn pun merasa muak dengan tingkah laku Aurora.


"Bising kau!!" Bentakan Aurora kasar sekali.


"Jangan dilayan Rin. Kutelpon satpam depan agar mengusirnya."


Laras mengangkat ponsel di meja. Kedatangan Aurora hanya menyita waktu dan mengganggu ketenangan Laras saja.


"Huuuhh!!" Aurora membuang muka sembari pergi meninggalkan Laras dan Ririn.


Laras dan Ririn menarik nafas panjang dan melepaskannya.

__ADS_1


"Dia satu angkatan dengan Vim."


"Di sekolah kita?" Ririn memastikan ucapan Laras.


"Iya."


"Mengapa ia begitu?"


"Stres. Rumah tangga gagal dan Vim menikah denganku." Laras menjawab menurut analisanya sendiri.


"Ririn aku istirahat di dalam ya. Kerja semampunya saja."


"Baik istirahatlah Laras. Sialan itu membuat drama pagi-pagi huuh."


Dua jam kemudian Laras terbangun dari tidurnya. Emosinya mulai stabil.


Rasa penasaran Laras akan kerjasama Aurora dan Vim membuatnya ingin tahu lebih banyak. Dihubunginya Dion yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Aurora.


"Halo kak." Laras menghidupkan volume handphone miliknya. Tubuhnya masih berbaring.


"Halo Laras. Gimana kabarmu?"


"Aku baik. Terima kasih kiriman dari mbak Anggia. Kakak sibuk ya?"


"Tidak juga. Ada apa?"


Tidak pernah Laras menelpon Dion sehingga menimbulkan banyak pertanyaan di benak Dion.


"Kak kerjasama apa yang kakak berikan pada Aurora dan mas Vim?"


Laras menunggu jawaban dari Dion. Sekian detik tapi bagi Laras sangat lama.


"Laras kerjasama itu biasa di antara kami. Kebetulan mereka berdua terlibat kali ini."


"Aku tahu kakak berkuasa di situ. Mengapa harus Aurora kak?"


"Cantik.. sesuai dengan atasannya yang menangani ini sehingga Aurora yang mewakili."


"Adikku kau harus yakin Vim tidak akan berbuat macam-macam apalagi meninggalkanmu."


Dion memang menganggap Laras sebagai adiknya berbeda dengan Edo.


"Kucing saja disodorkan ikan nggak nolak."


"Heei tapi Vim bukan kucing kan."


"Jika mereka sering bertemu imannya bisa goyah. Aku tidak setuju." Balas Laras.


"Berdoa itu takkan pernah terjadi."


"Kalau benar terjadi awas ya. Aku salahkan kakak."


"Oke. Oke. Berdoa semoga tidak terjadi pengkhianatan. Sudah ya. Bye."


"Maaf mengganggumu kak. Bye."


Pikiran Laras masih berkelana. Menebak apa yang akan terjadi seandainya Vim dan Aurora sering bertemu. Ia bermain-main dengan pikirannya sendiri. Kedua matanya terkatup tak sanggup membayangkan.


Kedatangan Aurora telah membuat Laras gusar. Kalimat yang Aurora ucapkan membuat Laras banyak termenung.


Byuuurrr.


Vim menyeburkan diri ke dalam kolam renang mini dan panjang miliknya. Merasakan sensasi segarnya air yang membasahi kulitnya. Pikirannya menjadi rileks. Mengulang gerakan dalam beberapa putaran lalu benar-benar berhenti berenang.


Bathrobe telah terpasang di tubuhnya. Dilihatnya Laras sedang melamun menimbulkan tanda tanya dalam hati. Laras selalu setia menunggu Vim berenang tanpa berminat turun berenang.


"Apa yang kau pikirkan hmm?"


Sapaan halus itu tetap saja membuat Laras kaget.


"Oh ee bukan apa-apa mas."

__ADS_1


"Apakah aku kurang memuaskan mu atau uang belanja yang kurang?" Bisik Vim di telinga Laras. Laras merasakan desiran di hatinya.


"Semua lebih dari cukup. Kau perkasa dan uang belanja lebih dari cukup." Vim tersanjung dengan ucapan Laras. Satu kecupan mendarat di pipi Laras.


"Lantas mengapa kau melamun?"


"Jika mas pergi dariku bagaimana denganku?"


"Kok berpikir gitu sih. Siapa yang mau pergi? Aku di sini dan selalu di sini bersamamu."


"Siapa tahu kau berpaling dariku."


"Hahahaha aku cinta mati padamu Laras. Tidak ada yang bisa menggeser posisimu di hatiku."


Laras ikut tergelak. Terdengar indah sekali ucapan Vim. Semoga Vim tak pernah melupakan kata-kata itu.


"Aku lapar ayo ke dalam."


Makan malam berlalu dengan hening. Di akhir makan malam tanpa disangka Vim bercerita tentang pekerjaan dimana Aurora juga terlibat didalamnya. Vim sesekali melirik Laras dengan ekor matanya. Laras tak bereaksi sedikitpun.


"Kau mendengar cerita ku?"


"Aku dengar." Jawab Laras seadanya.


"Bagaimana tanggapanmu?"


"Perlukah? Berita yang tidak menyenangkan."


Vim tersenyum mendengar jawaban Laras. Vim sudah mengetahui ketidaksukaan Laras atas kerjasama ini. Tadi sore lima belas menit sebelum pulang Dion menelponnya. Bercerita tentang Laras yang tiba-tiba menelpon Dion dan menyampaikan keberatannya.


"Percayalah hatiku terpaut padamu. Sulit dipisahkan." Vim menghibur Laras.


"Kemungkinan bisa saja terjadi. Sepertinya Aurora berambisi padamu."


"Tidak terjadi jika aku tidak mau, iya kan?"


"Yakin tidak tergoda?"


"Aku Vim Verdian takkan tergoda." Vim mengangkat kelima jarinya.


Mereka tertawa bersama. Secuil masa lalu kadang menjadi batu sandungan dalam mengarungi rumah tangga. Laras merasakan nya saat ini.


"Jujur aku tidak nyaman dengan kemunculan Aurora." Laras berterus-terang. Ada sedikit kelegaan setelah mengatakan ini.


"Aku mengerti. Jika aku suka padanya itu dulu saat ia belum menjadi milik orang lain. Saat ini tidak ada perasaan apapun padanya. Rasa itu hilang. Berbeda saat aku berada di dekatmu Laras. Jadi jangan khawatir. Aku janji semua ini sebatas pekerjaan."


"Janji?"


"Iya janji. Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau melihat kau murung."


Laras segera merangkul pinggang Vim yang telah berdiri di sampingnya. Menenggelamkan wajahnya di perut Vim.


"Sekarang berikan bagianku."


"Apa itu??"


"Biasa hakku."


"Huuh dasar mesum." Vim tersenyum nakal.


Vim mengangkat Laras ke dalam kamar. Pergulatan hasrat biologis dua manuasia lawan jenis dalam ikatan sah terjadi di sana. Tidak terdengar lenguhan dan teriakan kecil karena ruangan telah dimodifikasi menjadi kedap suara.


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Hai readers..


Semoga nggak bosan ya mengikuti novel retjeh ini.


Jangan lupa like dan komen nya. Juga gift, vote dan bintang lima..


Makasih all.๐Ÿ’š๐Ÿงก๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2