Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 23. Ancaman Edo.


__ADS_3

Laras berusaha memberikan Vim yang terbaik. Dengan niat tulusnya supaya cinta di antara mereka tumbuh semakin subur.


Laras bangun pagi menyediakan sarapan untuk Vim, menyiapkan pakaian kerja Vim meskipun Laras asal saja memadukan dasi dan kemejanya. Jika Vim tidak berkenan maka Vim akan meminta diambilkan yang lain sesuai keinginannya. Laras juga mulai bisa memasak sesuai dengan rasa yang Vim inginkan.


Kemajuan yang baik.


Kemudian dia akan mengikuti kuliah jarak jauh yang telah berlangsung dua bulan ini. Setelah Vim mencarikan pengganti Laras di rumah Ibu Maharani, Laras jarang ke sana lagi. Kuliahnya mulai berjalan, seminggu sekali Laras mengikuti kursus kecantikan yang didaftarkan oleh Ibu mertuanya. Laras juga mempelajari table manner. Diam-diam Laras memasarkan kain-kain panjang produksi rumah usaha Ibu Maharani. Laras memulai bisnis kecilnya.


"Mas jadi ya mau pulang cepat?"


Tanya Laras melalui hp.


"Oke mas aku tunggu ya."


Laras mengakhiri panggilannya. Bersiap menata meja dengan melihat buku sebelumnya. Maklum Laras tidak pernah mempersiapkan semacam ini sebelumnya. Laras menyiapkan makan malam ala-ala candle light dinner. Tadi dia sudah mencoba memasak makanan favorit Vim. Semoga Vim suka.


Jam tujuh malam Vim tiba di rumah. Di depan pintu disambut ceria oleh Laras. Senyum bahagia mengembang di bibir Vim melihat sang istri tampil penuh pesona. Vim melonggarkan sedikit dasinya. Mengikuti Laras yang menggandeng tangannya ke ruang makan.


"Waaw kau sudah pintar menyiapkan ini semua!?"


"Mas makan ya." Laras menyendokkan nasi beserta lauk.


"Kau juga makan Laras. Duduklah. Aku bisa mengambilnya sendiri."


Mereka terlihat bahagia. Vim senang melihat perkembangan Laras.


"Kau tidak perlu memasak setiap hari Laras. Biarkan Bibi melakukan semuanya."


"Jika aku sudah mahir aku serahkan ke Bibi mas. Aku ingin belajar."


Perlahan cinta mulai tumbuh di hati Laras. Di sela-sela jam kerja Vim tidak pernah lupa menelpon Laras. Perhatian-perhatian Vim semakin meyakinkan Laras bahwa Vim benar-benar mencintainya.


Tapi seminggu kemudian kejadian serupa terulang. Vim mengigau lagi. Mengulang memanggil nama Aurora sebanyak dua kali. Kali ini Laras terasa seperti ditampar. Sakit. Jam tiga pagi Laras mengguncang pelan bahu Vim agar Vim tersadar. Vim sadar akan tetapi tidur kembali. Lama Laras memandangi wajah Vim. Laras menyentuh pipinya perlahan-


lahan.


Laras yang tidak bisa kembali tidur, termangu lama sendirian. Mengapa Vim masih mengingat Aurora?


Hingga pukul lima pagi Laras mulai berasa mengantuk hingga tertidur lagi.


"Ras! Laras! Bangun Ras. Siapkan pakaianku. Aku ada rapat hari ini!"


"Apa mas?? Rapat? Oh baiklah. Jam berapa ini?"


"Jam delapan."


"Apa??! Aku jaga ada kuliah hari ini mas."


Vim bergegas ke kamar mandi.


"Ras handukku mana!!"


Vim berteriak dari kamar mandi.


"Ya sebentar. Aku ambilkan! Ini mas handuknya. Cepat mas aku mau mandi juga."


Kliikk


Pintu kamar mandi terbuka.


"Ya sudah mandi sekalian."


Vim menarik tangan Laras dengan cepat. Laras tak mampu mengelak. Masih untung ia tidak kepeleset. Di dalam Laras melihat Vim sudah mengenakan handuk.


"Aku ada kuliah mas."


"Aku ada rapat."


'Nanti terlambat. Ya udah aku mandi di shower, mas di bath up."


"Aku juga di shower saja. Sebentar saja Ras. Kita main air."


Selanjutnya hening tanpa suara. Dua puluh menit kemudian Vim keluar diikuti Laras. Lalu masing-masing sibuk mengejar waktu.


...💕💕💕...


Laras bermaksud menghubungi Vim. Hatinya tidak bisa diajak kompromi mengingat saat Vim mengigau dini hari tadi. Ia menginginkan kejadian itu tidak terulang kembali. Ia tidak tahu harus memulai dari mana mengatakannya pada Vim.


"Banyak pekerjaan mas?" Laras basa basi menanyakan.


'......'


"Tidak apa-apa. Ingin memastikan kau baik-baik saja."


'......'


"Syukurlah kalau begitu. Tidak ada orang lain di ruanganmu?"


'......'

__ADS_1


"Aku takut kau berdua dengan Aurora. Jam tiga tadi kau memanggil-manggil namanya."


'......'


"Ya. Selamat bekerja sayang."


Setidaknya sesuatu yang mengganjal hati Laras sudah terlepaskan. Meskipun kekhawatiran masih menyelimuti hatinya bila suatu saat Vim masih menyebut nama Aurora dalam tidurnya. Laras ingin hal itu tidak terulang lagi. Ada nama orang lain di hati Vim.


Di ruangan kerjanya Vim termangu sendirian.


"Masuk Tuan."


"Masuk."


Sekretaris Joel meletakkan dokumen. Dilihatnya wajah Tuannya tidak berseri seperti biasanya. Kemudian keluar lagi.


Ucapan Laras beberapa menit tadi mampu membuat Vim menghentikan kesibukannya di belakang meja. Memikirkan apa yang dikatakan Laras.


Vim memutuskan untuk pulang saja ke rumah menemui Laras.


Vim segera membawa Laras ke kamar mereka begitu bertemu Laras di ruang keluarga.


"Ceritakan apa yang terjadi."


Laras mulai bercerita dengan raut wajah tidak bersemangat. Sang suami di depannya ini menyimpan nama lain selain Laras.


"Aku tidak menyadarinya Laras. Maafkan aku ya."


Tapi hati Laras tidak bisa menerima jika hal itu terulang lagi. Vim kapan bisa lepas dari bayangan masa lalu.


"Mas tuntaskan semua masalahmu dengannya."


"Tapi..bagaimana Laras? Bukan kemauanku menyebut namanya."


"Bicara padanya. Selesaikan semuanya."


"Apa? Apa kau mau aku bertemu dengannya?"


"Tidak apa asalkan hatimu tidak berpaling dariku."


Wajah sendu terpancar di wajah Laras. Laras meyakinkan diri sendiri bahwa masalah ini akan selesai. Vim mendekapnya.


"Kau tidak usah takut. Aku hanya milikmu."


Tapi hatimu milik orang lain mas.


"Aku ingin menemanimu saja


hari ini."


Dan mereka menghabiskan waktu seharian di dalam kamar hingga sore datang.


Suara Bibi dan ketukan pintu mengejutkan Vim. Sedari tadi ia hanya duduk menunggu Laras tidur siang.


"Ada den Dion dan Edo, den."


"Baik bi saya ke sana."


Pintu ditutup Bibi.


"Wah pengantin baru di rumah saja siang-siang begini."


Vim tersenyum menanggapi ucapan Dion.


"Menyelesaikan proyek. Proyek anak." Edo menimpali.


"Hai baby..di mana mommy?"


Tanya Vim mencolek pipi anak Dion yang diajak serta ke rumah Vim.


"Mamanya ke dokter gigi." Dion menjawab.


Laras muncul di antara mereka. Tadi ia terbangun sewaktu Vim menutup pintu kamar.


"Hai Kak" Sapa Laras pada Dion dan Edo.


"Hai Laras. Kau sehat?" Dion bertanya.


Laras mengangguk, "Sehat Kak."


"Wajahmu pucat. Diapakan sama Vim?" Goda Edo.


"Kau." Vim mendelik.


Tangan Laras meraih baby Devan anak Dion. Mengajaknya ke dalam rumah. Vim dan sahabatnya berkumpul di gazebo depan rumah.


Vim mengikuti pandangan Edo pada Laras.


"Apa yang kau pikirkan Ed?"

__ADS_1


"Dia semakin cantik dan berisi."


"Bisa tidak kau jauhkan pandanganmu itu?"


"Tidak bisa. Dia datang kemari dan aku punya mata untuk melihatnya."


"Ckk sebaiknya kau cepat menikah."


"Pemandangan yang bagus begitu sayang untuk dilewatkan haha."


Edo semakin senang membuat Vim senewen.


"Kalau kalian masih ribut kita bubar saja. Lebih baik aku menjemput Anggia." Ancam Vim. Anggia itu Ibu dari anaknya.


"Tunggu bro. Begini kau kan punya nomor Aurora Ed..."


"Lantas?? Kau berminat?"


"Tenang dulu bro." Potong Vim.


"Apa kau ingin membuat perkara dengan Laras? Jika begitu biarkan Laras padaku saja."


"Edo kau dengarkan Vim dulu!"


Dion tidak saja kesal dengan Edo tapi ingin meninju wajah kawannya itu. Terus saja berprasangka pada Vim.


"Aku hanya ingin berbicara dengan Aurora itu saja."


"Berbicara masa depan hehh??!"


Vim sudah bergerak maju dari duduknya. Tangannya mengepal ingin meninju Edo tapi dicegah oleh Dion.


"Bukan begitu. Jika kau tidak percaya lebih baik kau menemaniku saja biar kau bisa memastikan apa yang kulakukan dengan Aurora. Puas!? ." Kata Vim.


"Nah itu. Kau bisa lihat apa yang Vim lakukan di depan Aurora nantinya."


Dion setuju meskipun ia yakin Vim tidak akan melenceng dari niat awal menemui Aurora.


"Aku menemani saja dari kejauhan. Ingat jangan ada dusta antara kita. Juga antara kau dan Laras. Jika itu terjadi, aku akan mengambil Laras darimu. Jika kau menyakiti Laras, aku yang akan menggantikanmu. Aku akan memberitahu Aurora, kau ingin bicara padanya."


Vim melengos. Edo sahabatnya ini tidak main-main. Dia menyukai Laras.


"Sebaiknya kau ikhlaskan saja yang terjadi antara kau dan Aurora, Vim. Itu lebih baik."


Dion memberikan saran.


"Aku ikhlas. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Isi di kepalaku sekarang hanya Laras."


"Tutup semua yang pernah terjadi antara kau dan Aurora. Temui dia dan katakan yang sesungguhnya. Kau masih menyintainya?"


Dion bertanya menyelidiki.


"Tentu saja tidak. Perasaanku padanya sudah kubuang jauh sejak Laras datang di rumahku.


Aku merasa saat itulah jalanku kembali terbuka untuk menyintai Laras. Tadinya memang tidak mungkin melihat Laras dan Vano begitu dekat saat itu tapi seperti inilah jalan yang Tuhan berikan."


"Laras itu terlalu muda, polos dan lembut Vim. Aku tidak tega jika kau membuatnya menderita karena ulahmu." Edo mengingat


kan Vim.


"Aku tidak akan bikin Laras menderita apalagi membiarkan Laras jatuh ke tangan orang lain atau ke tanganmu. Karena itu aku tak ingin Laras mendengar lagi igauan tentang Aurora."


"Kau kebangetan. Bilang tidak cinta tapi masih terbawa mimpi. Kasihan Laras."


"Anggia memberitahuku ia sudah di rumah. Kalian masih mau mengobrol? Aku pulang dulu. Vim, anakku.." Dion memotong pembicaraan.


"Oke aku ke dalam dulu."


Vim dan Laras muncul dengan Devan dalam gendongan Vim. Mereka kelihatan seperti Bapak, Ibu dan anaknya.


"Anak ganteng daddy mengajak


mu pulang."


Vim menyerahkan Devan kepada Dion.


"Aku juga pulang. Vim kau tunggu berita dariku."


"Oke bro Ed."


"Kapan kalian menyusulku. Memiliki anak seperti ini?"


Vim dan Laras menanggapi dengan senyuman pertanyaan Dion.


"Aku jalan." Pamit Edo.


Edo berjalan ke mobilnya dengan perasaan yang hanya Edo sendiri yang tahu.


Masih lanjut. Masih semangat menulis.😊😊

__ADS_1


__ADS_2