Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 69. Suatu pagi.


__ADS_3

Keesokan lusa..


Hari tidak begitu cerah. Matahari mengintip sembunyi di balik awan yang senantiasa setia menemani.


Dua pasangan itu -Laras dan vim- menggunakan pakaian kerja masing-masing. Mereka sepakat melaksanakan pekerjaan setengah hari kemudian akan berangkat ke suatu tempat yang telah direncanakan sebelumnya.


"Aauww perutku." Laras memegang bagian bawah perutnya.


Mereka baru saja masuk ke dalam kamar setelah sarapan. Vim yang sedang mengenakan jam tangan menoleh seketika.


"Ada yang sakit?" Tanyanya. Bergegas mendekati Laras.


" Ehem..perutku sedikit tegang."


"Kita tidak pergi saja ya." Vim memutuskan. Wajahnya terlihat cemas.


"Jangan. Kita tetap pergi mas. Aku nggak apa-apa kok."


"Kau selalu bisa menenangkan hatiku. Kau pakai sepatu yang mana?"


"Yang lima senti saja. Aku bisa mengambil sendiri kok mas."


Laras berjalan ke arah lemari sepatu dan memilih sepasang sepatu yang sesuai dengan keinginannya.


"Yakin kau tidak apa-apa?" Vim memastikan bahwa Laras baik-baik saja.


"Iya iya sudah tidak tegang lagi."


"Tinggalkan dulu pekerjaanmu dan tunggulah sampai siang di sini."


"Sudah kita berangkat sekarang. Aku baik-baik saja." Ajak Laras.


Ia menumpang di mobil Vim.


"Aku telepon mami dan mami menyarankan kita liburan selama dua minggu." Vim bercerita.


"Boleh juga."


"Kau mau?"


"Aku ikut saja."


"Baiklah."


Lima menit kemudian mobil berhenti tepat di parkiran pertokoan.


Laras meraih tangan Vim. Memberikan kecupan di punggung tangan dan pipi Vim sebelum turun dari mobil.


"Aku turun ya. Selamat bekerja sayang."


"Cepat sekali." Protes Vim.


"Kita punya urusan masing-masing dan tidak baik bermesraan di dalam mobil di tempat umum begini. Dadaaah.."


"Jumpa lagi nanti. Aku akan meneleponmu jika telah selesai."


"Hati-hati ya sayang." Laras menutup pintu mobil. Dibalas anggukan oleh Vim.


Vim menghidupkan kembali mesin mobil. Laras melambaikan tangannya melepas kepergian Vim.


Toko telah dibuka karena Ririn selalu membukanya tepat waktu bahkan mungkin ia datang lebih cepat untuk membersihkan toko. Tidak sedikitpun ia merasa gengsi melakukan apapun yang bisa ia kerjakan di toko Laras. Dia sangat rajin. Laras merasa beruntung temannya itu bekerja dengannya.


"Pagi Laras. Gimana hari ini?"


Ririn menyapa lebih dulu.


"Pagi Ririn. Kurang enakan nih..perutku tadi sedikit nyeri."


"Oya? Hati-hati Ras. Sebaiknya kamu tidak usah datang tadi."


Ririn memandang khawatir.


"Kamu kerja sendiri dong."

__ADS_1


"Nggak apa-apa daripada kamu kenapa-kenapa nantinya. Misalkan pingsan gimana coba. Kita hanya berdua di sini. Duduk saja ya. Nggak banyak kok yang harus dibereskan." Ririn meyakinkan Laras.


"Kasihan kamu kecapean nantinya Rin."


"Nggak usah mikir gitu. Sudah kerjaanku. Tenang aja."


Ririn kembali melanjutkan pekerjaannya. Setengah jam kemudian dua orang calon pembeli memasuki toko. Bertanya pada Ririn dan memilih kebaya yang terpajang di sana.


Kebaya telah dibanderol sehingga tidak ada tawar menawar. Kedua calon pembeli mengamati teliti detail kebaya dari model hingga jahitannya. Memilih menurut selera mereka.


"Mbak saya mau yang ini ya." Kata perempuan yang berada di kiri Ririn. Ia memilih kebaya berwarna pastel.


"Boleh. Mari saya bungkus." Ririn menanggapi.


"Saya yang ini mbak." Kata perempuan satunya lagi.


"Iya tunggu sebentar ya."


"Mbak sekalian uangnya."


Pembeli menyerahkan uang tunai. Mereka tidak menggunakan kartu pembayaran dengan metode gesek.


Ririn meninggalkan kedua pembeli lalu datang lagi membawa dua paper bag berisi kebaya yang mereka pilih.


"Ini mbak. Terima kasih sudah belanja di sini. Besok lagi ya."


"Terima kasih." Balas kedua pembeli bersamaan.


Pembeli berlalu. Ririn kembali menekuni pekerjaannya. Dilihatnya Laras baru saja keluar dari belakang. Wajahnya seperti menahan sesuatu. Dia duduk di kursi kerjanya.


Dari pintu toko Edo datang membawa tentengan di tangannya. Masuk dan menyapa wanita-wanita cantik di hadapannya.


"Hai kalian apa kabar?" Sapanya hangat.


"Hai kak Edo. Baik." Jawab Ririn.


"Hai kak. Tidak kerja?" Tanya Laras tidak kalah ramah.


"Menitip apa kak? Toko depan mana?" Tanya Laras ingin tahu. Terbayang di wajahnya sosok Marina yang ramah.


Edo menunjuk apotek di seberang jalan.


"Menitip obat? Sakit apa mommy kak?"


Edo tersenyum mengetahui perhatian Laras pada ibunya.


"Cuma vitamin untuk sendi. Beginilah orang tua. Apa mungkin kita juga begitu saat menua?" Edo menggelengkan kepala.


"Mungkin saja." Laras menjawab singkat.


"Ini buat kalian. Makanlah." Edo menyerahkan sesuatu kepada Laras.


"Terima kasih kak."


Laras membuka aluminium foil yang menutupi makanan tersebut.


"Klapertart! Aku suka. Makasih kak ini lezat sekali. Ririn ayo kita makan." Netra Laras berbinar indah.


"Ayook." Jawab Ririn.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Aku pergi dulu ya." Pamit Edo.


"Baik kak. Hati-hati."


Namun baru empat langkah Edo berjalan, terdengar sebuah erangan.


"Aduuuh perutku. Ririn..perutku nyeri. Aaww..."


"Kenapa Laras? Kau kenapa??"


Seketika Ririn bingung dan kaget. Entah apa yang terjadi pada Laras. Wajah Laras memucat menahan sakit sembari memegang perutnya. Ririn gugup menghadapi Laras.


"Kak..Kak Edo!! Laras kak!" Teriak Ririn pada Edo dengan cepat.

__ADS_1


Edo berbalik arah dan menghampiri mereka. Wajahnya tak kalah tegang dari Ririn.


"Kenapa? Kau kenapa Laras?"


"Perutku sakit kak?"


"Apa yang terjadi? Ya Tuhan."


Edo kebingungan. Ririn apalagi.


Edo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Berusaha untuk tenang dan tidak gegabah.


"Kita ke rumah sakit saja. Nanti aku menelepon Vim." Ajak Edo.


"Maafkan aku Laras. Ijinkan aku menggendongmu ya."


Tanpa menunggu jawaban Edo segera mengangkat tubuh Laras dan membawanya ke mobil. Menunggu Ririn yang sedang menutup pintu toko dan tancap gas begitu Ririn telah berada di dalam mobil.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Di rumah sakit Laras ditangani oleh tim medis. Edo menghubungi Vim namun tidak terhubung sementara Laras sedang diperiksa oleh dokter. Ia berusaha menghubungi tiga kali tetapi tidak diangkat. Ia bergumam. Akhirnya Edo menuliskan sebuah pesan.


Anggia juga dihubungi oleh Edo meminta istri sahabatnya itu agar segera datang ke rumah sakit menemani Ririn. Namun Anggia tidak bisa datang secepatnya sebab ia sedang di perjalanan ke rumah ibunya.


"Ririn aku kembali setelah menjemput Vim. Tunggui Laras ya." Pesan Edo pada Ririn.


"Baik kak."


Edo melajukan mobil di atas rata-rata. Ia sangat berharap sesegera mungkin membawa Vim ke rumah sakit dan ia pun tidak mau disalahkan jika sesuatu terjadi pada Laras. Jika dokter mencari keluarga Laras setidaknya Vim berada di situ.


Tiiiiinn.


Edo menekan klakson begitu traffic light berganti warna hijau.


Kesabaran sudah tertahan sejak tadi oleh lampu lalu lintas itu. Andai saja ia pejalan kaki dan mobil depannya itu adalah manusia, Edo sudah tentu menerobos mobil-mobil di depannya tersebut.


Menjejakkan kaki di perusahaan Vim dengan langkah tergesa-gesa, Vim melihat Joel berada di belakang meja kerjanya. Tanpa basa-basi ia menerobos masuk ke ruangan Vim. Tidak ditemukan siapapun di dalam sana termasuk si empunya ruangan.


"Mana Vim?" Tanya Edo memburu jawaban dari Joel.


"Acara makan siang dengan mitra Tuan. Ada yang bisa dibantu tuan?" Joel balik bertanya.


"Coba kau hubungi Vim sekarang!"


"Baik tuan."


Joel segera menekan nomor telepon. Edo memperhatikan dengan serius berharap Vim bisa dihubungi.


"Selamat siang tuan. Di sini tuan Edo mencari_"


Joel belum selesai berbicara tetapi ponselnya diraih oleh Edo.


"Vim..Laras di rumah sakit besar. Segera ke sana." Perintahnya kepada Vim.


Di dalam hati Edo menggerutu sebab Vim menerima panggilan dari Joel dan mengabaikan panggilan dari dirinya.


"Terima kasih!" Edo menyerahkan ponsel Joel.


"Sama-sama tuan."


Edo pun meluncur ke rumah sakit kembali. Dirinya sangat ingin tahu bagaimana keadaan Laras.


Meskipun ada Vim yang bertanggung jawab penuh pada Laras namun ia turut merasa senang jika Laras dalam keadaan baik-baik saja.


Di perjalanan Edo tidak habis pikir mengapa dirinya terlalu mencemaskan Laras. Semoga dia baik-baik saja batin Edo.


πŸ€πŸ€πŸ€


Hai readers..gimana kelanjutannya.. baca terus novel othor ini yaa.


Jangan lupa komen, suka, berikan hadiah, vote atau bintang lima.


TrimsπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2