
Vim membuka kemeja. Melepas jam tangan yang membuat risih dirinya saat itu. Duduk di kursi meja rias milik Laras dan membelakangi cermin. Tercenung lama sendiri. Ucapan dokter tentang keguguran Laras terngiang-ngiang di telinga.
Lalu mengambil tas berisi pakaian yang telah diisi olehnya kemarin. Pakaian-pakaian yang akan di bawa mereka berlibur. Menukar sebagian isinya yang tidak perlu. Tangannya memegang sebuah kotak mungil yang ia letakkan di antara pakaian mereka di dalam travel bag. Vim memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku celananya.
Rasa bersalah membuatnya ingin melakukan sendiri tanpa meminta bantuan bibi untuk menyiapkan pakaian Laras.
Setelah mandi Vim mencari bibi dan pak Uun.
"Kami turut berdukacita Den. Bibi tidak tahu kalau non Laras hamil. Non nggak pernah cerita." Wajahnya menyiratkan penyesalan merasa tidak bisa menjaga istri majikannya.
"Terima kasih. Bibi tidak bersalah. Tolong kamar dibersihkan bi. Ganti penutup kasurnya." Katanya kepada bibi.
"Baik Den."
"Saya bawa kendaraan pak." Kata Vim lagi kepada pak Uun.
"Iya den hati-hati. Semoga non Laras cepat pulih dan pulang."
"Aamiin. Saya menginap di sana."
Vim kembali lagi ke rumah sakit. Wajahnya sudah kelihatan segar ditambah aroma khas dari parfum kesukaannya.
Di rumah sakit hanya tinggal ibu dan ayah Laras. Mereka duduk menunggu di sofa ruangan tempat Laras dirawat.
"Sepi Bu." Ujarnya begitu masuk ke dalam ruangan yang bersih tersebut.
"Sudah pulang semua Vim. Ibu dan ayah juga mau pulang." Kata Ibu Laras.
"Saya suruh pak Uun menjemput. Ibu tunggu di sini saja."
"Baiklah. Terima kasih nak.
Maafkan Laras ya nak Vim. Juga ibu minta maaf karena berita bahagia akhirnya harus menjadi duka buat kita. Sebenarnya Laras pernah mengakui ia hamil. Laras ingin memberikan kejutan buat nak Vim katanya." Ibu berkata panjang lebar.
"Sudahlah Bu. Semua sudah terjadi dan bukan kemauan kita."
"Sabarlah. Saling berdo'a saja agar kalian cepat dapat gantinya." Ayah menguatkan.
"Iya yah. Saya janji setelah ini lebih berhati-hati menjaga Laras."
Kriiiek. Pintu terbuka. Pak Uun masuk ke ruangan.
"Malam pak, bu." Pak Uun menyapa.
"Malam pak Uun. Nak Vim kami pulang ya."
"Iya bu. Ibu dan bapak istirahat. Saya menjaga Laras."
"Tinggal ya Vim." Ayah menutup pembicaraan.
Kepala Vim mengangguk. Hanya ada ia dan Laras di sana. Diamatinya wajah Laras. Menggenggam dan mengelus punggung tangannya dengan sangat hati-hati.
Kepala Laras bergerak. Netranya membuka perlahan. Dilihatnya Vim tersenyum pada dirinya.
"Jangan menangis lagi." Ucap Vim.
"Maafkan aku." Suara Laras tersendat. Air mata mengambang lagi di permukaan mata melihat raut wajah Vim telah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Jangan katakan itu lagi."
Vim menempelkan ujung jari telunjuk di bibir Laras. Tatapannya lembut diiringi gerakan kepala ke kanan dan ke kiri satu kali.
"Aku menyesal tidak menjaganya dengan baik mas." Laras sesenggukan.
"Dari sekarang ikhlaskan Laras. Aku tidak menyalahkanmu. Sudah ya. Sudahlah."
"Semua pasti kecewa mas."
"Kecewa saat ini saja. Dengan berjalannya waktu kita akan bisa menerima ini. Kita bisa bikin lagi baby yang banyak hmm. Sekarang jangan menangis lagi." Vim menghibur Laras. Tangannya menggenggam jemari Laras memberikan kekuatan.
"Secepatnya supaya mami senang."
"Ya secepatnya tapi kau harus sembuh dulu. Katakan kau mau punya berapa baby hmm?" Kadangkala Vim bisa menjadi sangat lembut kepada Laras.
"Tiga saja. Satu lelaki dan dua perempuan."
"Dua anak lelaki dan dua perempuan. Dua anak lelaki akan menolongku di perusahaan dan dua anak perempuan membantumu di rumah." Vim mengutarakan keinginannya.
"Tidak. Cukup tiga saja. Dua perempuan akan menolongku dan satu lelaki membantu pekerjaanmu." Kata Laras.
"Sudah pasti kau mau yang enak kan. Punya anak perempuan lebih banyak agar bisa membantu pekerjaan rumah. Menyenangkan jika memiliki banyak anak. Bagaimana jika lima anak?" Tanya Vim kemudian.
"Oh tidak. Bagaimana aku bisa mengurus mereka?" Tanya Laras dengan bola mata membulat.
Laras tidak menangis lagi. Obrolan itu mampu mengalihkan rasa sedihnya.
"Tentu saja kau tidak sendiri. Ada bibi dan kita bisa mencari ART tambahan."
"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Vim curiga.
"Lalu hari-hariku akan disibukkan oleh lima krucil."
"Hahaa tentu saja Laras."
"Untuk itu kau perlu tenang dan makan makanan yang bergizi sesuai nasehat dokter supaya cepat mendapatkan mereka."
"Rencana liburan kita gagal mas."
Laras masih saja menyesali keadaan. Rencana Vim membawa Laras berlibur tidak terlaksana.
"Huuumm masih ada kesempatan lain hari. Aku membawa sesuatu untukmu Ras."
Vim mengambil sesuatu dari dalam tas pakaian yang tadi ia bawa. Mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink berbalut bahan lembut. Kembali ia menghampiri Laras.
"Aku memberikan ini untukmu." Kata Vim.
"Apa itu?" Tanya Laras.
Vim membuka kotak dan Laras menautkan kedua alis mata. Sedetik kemudian air mata berlinang di pelupuk mata. keharuan kembali menyergap dirinya. Sebuah cincin berlian yang tidak terlalu besar bertengger di dalam kotak. Laras tahu cincin itu pasti mahal.
"Ini buatmu sayang. Hadiah anniversary kita."
Vim menyematkan sebuah cincin berlian ke jari manis Laras.
"Mas ini kan mahal." Suara Laras sedikit bergetar. Terharu atas pemberian Vim. Laras balas menggenggam jemari Vim.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menemaniku." Vim mencium punggung tangan Laras. Ia menatap Laras sangat dalam karena ia tak mampu berkata-kata bak pujangga. Sorot matanya cukup mengatakan apa yang ada di dalam hati Vim.
"Terima kasih mas. Ini mahal sekali dan aku tidak memberikanmu apapun. Hadiah kejutan yang kupersiapkan sudah hilang..hiiiks."
"Yaaa menangis lagi. Aku tidak mengharapkan apapun. Kau selalu berada di sampingku. Aku bahagia." Vim mengecup kening Laras.
"Haloo..taaraaa. Uuuups."
Anggia berhenti tidak jauh dari Vim dan Laras berada. Mendapati kedua pasangan itu dalam posisi yang sangat dekat. Ia maklum sebab ia dan Dion pun biasa melakukan hal tersebut. Cium kening, cipika cipiki atau lebih dari itu layaknya sebuah pasangan yang harmonis.
Sebuah suara yang sudah mereka kenal mengejutkan keduanya. Anggia masuk membawa sebuah kotak ukuran sedang di dalam sebuah plastik yang bagus.
"Mbak Anggia." Panggil Laras.
"Maafkan kami mengganggu kalian." Ucap Anggia sembari mengeluarkan kotak kue dan membukanya.
"Hai bro..kalian berdua saja?" Vim bertanya pada Dion yang berjalan di belakang Anggia.
"Ya Devan di rumah ibu. Kami menginap di sana." Jawab Dion.
"Kue buat kalian. Happy anniversary. Yang awet dan langgeng ya."
"Mbak Anggia repot-repot bawa kue mbak."
"Tidak apa Laras. Untuk hari bahagia kalian. Berbahagia selalu ya."
Anggia memberikan selamat dan mengangsurkan kue kepada Vim. Ia menyium pipi Laras kanan dan kiri.
"Cepat sembuh Laras. Kalian berdua tiup lilinnya. Ayo Vim merapatlah pada Laras." Perintahnya lagi. Dia begitu bersemangat memberikan kejutan kecil untuk sahabat suaminya.
Vim menuruti permintaan Anggia. Dion telah siap membidikkan kamera ponsel.
"Lebih rapat ke kiri Vim dan tiuplah lilinnya bersama." Dion memberikan aba-aba.
"Satu, dua, tiga. Sudah." Kata Dion lagi.
" Makasih bro, Anggia. Makanlah kuenya." Vim meletakkan kue ke atas meja.
Anggia mengambilkan kue untuk Dion dan Vim. Meletakkan potongan kue ke atas piring plastik yang telah dibelinya. Ia juga mengambil bagiannya.
"Maafkan Laras, aku memakan ini dan kau tidak." kata Anggia.
"Tidak apa mbak. Aku tidak makan itu saat ini. Makasih ya mbak."
"Sama-sama Laras. Heemm..Edo tidak kemari lagi."
"Aahh dia lajang banyak urusan itu. Lagian tidak apa. Dari pagi ia sudah membantu Laras. Biarkan dia istirahat." Vim menimpali ucapan Anggia.
"Istirahat gimana. Jangan-jangan sedang di club. Aku telpon." Tambah Dion.
"Sudah biarkan aja dia. Lajang maah.. bebas. Biarkan dia mencari pasangan Di."
Rasa penasaran Dion membuatnya tetap menghubungi Edo. Dia mengeraskan suara speaker ponselnya agar yang ain bisa ikut mendengarkan.
💞💞💞
Bersambung...
__ADS_1