Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 102. Waktu berputar.


__ADS_3

Pengerjaan renovasi kamar dimulai. Dinding sebelah kiri dijebol oleh tukang untuk dibuatkan sebuah pintu. Dari situlah Laras dan Vim akan mengawasi bayi mereka yang sedang tidur malam atau siang hari


Di ruangan bawah seseorang yang dihubungi oleh pak Uun datang mengambil barang perabotan kamar yang dijual oleh Vim.


Lelaki itu memberikan sejumlah uang kemudian pergi membawa barang-barang tersebut. Pak Uun memberikan uang hasil penjualan kepada Vim.


"Terima kasih pak. Nah ini buat bapak." Vim memberikan sebagian kecil uang kepada pak Uun.


"Terima kasih den. Terima kasih banyak."


"Sama-sama pak. Tolong bapak awasi tukang. Saya pergi kerja."


"Siap den."


Vim kelihatan sangat rapi meskipun tidak menggunakan jas pasangan kemeja. Penampilan Vim menarik. Profil entrepreneur masa kini. Dia berangkat agak siang berhubung harus memberi arahan kepada tukang yang mengerjakan renovasi kamar. Di sampingnya berdiri Laras yang akan melepasnya berangkat ke kantor.


"Mas tunggu." Laras menahan langkah Vim, memperhatikan penampilan Vim kemudian berkata," Sudah rapi. Selamat bekerja mas." Kecupan sayang mendarat di pipi Vim. Vim membalas mengecup kening Laras.


"Hati-hati melakukan sesuatu." pesan Vim.


"Mas juga ya jangan mengebut. Kami menunggu di sini." Laras memegang perutnya.


"Bye dear."


Di depan pintu keluar mereka harus berhenti sebab seseorang melangkah ke arah mereka.


"Cari siapa pak?" Vim bertanya lebih dulu.


"Selamat pagi pak. Kami dari toko AAA menyampaikan pesan ini kepada ibu Larasati." Kata si tamu.


"Dari siapa ya?" Vim mengernyitkan dahi. Sepagi ini sudah ada barang kiriman datang memberikan kejutan kepada mereka.


"Pengirimnya Ibu Maharani. Minta dikirimkan ke alamat ini. Benar ini rumah Ibu Larasati?"


"Ya benar. Silahkan letak di sini saja."


Si pengantar barang dan temannya meletakkan barang di tempat yang ditunjuk Vim lalu permisi kembali ke toko.


"Apa ini ya mas? besar banget."


"Buka saja."


Lalu bungkusan di buka dan sebuah ranjang bayi terpampang di hadapan mereka.


Laras membiarkan mulutnya membuka. Vim tidak merasa heran. Maminya memang suka berbuat sesuatu mengejutkan.


"Ranjang bayi mas. Mamiii..terima kasih banyak." Laras mengelus ranjang bayi itu.


"Begini deh mami. Nggak nanya kita dulu apakah kita sudah membeli ranjang atau belum?"


"Mungkin mami hanya ingin memberikan kejutan mas." Laras membela mami. Mertuanya itu memang sangat perhatian.


"Iya tapi kita kan sudah membeli


ranjang bayi. Ini untuk apa coba?"


"Nanti pasti berguna. Bisa diletakkan di sebelah ranjang kita mas."


"Seharusnya uangnya bisa untuk yang lain." Vim menyayangkan tindakan mami.


"Sudah mas kita terima saja.. Mami jangan dimarahi ya mas. Mami baik banget mas."


"Ya..ya.. terserah saja." Kepala Vim menggeleng-geleng. Mami jika punya keinginan selalu terburu-buru. Maunya cepat dilaksanakan. Jadinya seperti ini. Ada dua ranjang bayi di rumah mereka.



Laras meminta pak Uun membawa masuk ranjang bayi ke kamar. Berkumpul bersama barang lainnya. Bibi Am yang mendengar suara berisik di depan menjadi penasaran. Suara itu adalah suara pak Uun dan tukang.


Bibi Am tidak ketinggalan ingin tahu ranjang bayi yang baru datang. Bibi berjalan dari dapur ingin melihat ranjang tersebut.


"Waah ini bagus sekali non." bibi terkesima.


"Bagusan mana bi sama yang kami beli?" Tanya Laras.


"Dua-duanya bagus sekali non. Wah nyonya senang sekali mau mendapatkan cucu."


Pengerjaan renovasi kamar dikebut hingga menjadi sebuah kamar bayi siap pakai. Sepulang kerja Vim memberikan arahan apa yang harus dilakukan oleh tukang esok hari untuk memperindah kamar itu. Vim memberikan gambar sebagai panduan tukang menyelesaikan kamar itu.


Sekarang sudah sampai tahap finishing. Sebentar lagi akan selesai semuanya. Laras dan Vim akan kembali ke kamar atas. Sayangnya tukang tidak bekerja di hari Minggu padahal tinggal menata perabotan bayi saja di kamar itu.


Vim menutup pintu kamar bayi mereka. Pagi ini bersiap menemani Laras jalan pagi. Seputaran kompleks saja sembari melihat perubahan di sekeliling mereka.


"Jika kau lelah katakan Laras. Kita berjalan agak jauh." Vim memperlambat langkahnya mengimbangi Laras.


"Tidak mas."


Sepagi ini kolam renang di bagian depan komplek itu telah ramai oleh anak-anak. Anak-anak kecil bersama ibunya atau anak-anak tanggung bersama teman-teman mereka.


"Pagi mas Vim. Menemani mbak nya ya." Sapaan ramah seorang ibu belum terlalu tua. Vim mengenalnya sebagai ibu ketua rukun tetangga.


"Pagi juga bu. Iya jalan pagi ini Bu." Vim membalas sapaan.


"Pagi ibu." Laras mengucapkan salam pada ibu tersebut.


"Mbak Laras sudah besar kehamilannya. Rencana mau melahirkan di mana?" Laras dan Vim berhenti sejenak demi menghormati tetangganya itu.


"Melahirkan di sini saja Bu. Biar ibu saya yang kemari."


"Oiya..mengurus mbak Laras ya. Semoga lancar persalinannya ya mbak." Ucap ibu itu.


"Aamiin. Terima kasih bu. Kami jalan lagi bu." Pamit Laras.

__ADS_1


"Monggo mbak, mas."


Sebanyak satu kali putaran berjalan kaki namun terasa jauh bagi Laras.


"Kita pulang ya mas. Sudah cukup


jalan kaki nya."


"Kita pulang."


Laras berjalan di sisi kiri Vim. Vim harus melindunginya walaupun jalanan di dalam komplek tidak ramai oleh kendaraan. Setelah belokan ini mereka akan tiba di rumah mereka yang berada di bagian paling depan komplek.


Brrrrmm. Ciiiiittt.


"Wooii berhenti!!" Vim berteriak sekuat-kuatnya. Suaranya harus mengalahkan deru mobil di depan itu. Mobil ini hampir mengenai tubuh Vim.


Mobil berhenti mendadak. Vim hampir saja tertabrak mobil andai ia tidak bergeser ke kiri tadi. Belokan membuat Vim harus berjalan lebih menepi sembari tetap memegang tangan Laras.


Mobil berhenti dan pemiliknya turun. Mau juga dia turun batin Vim.


"Lu ngebut bro. Ini di dalam komplek." Tegur Vim.


"Kami tergesa-gesa. Maafkan. Kalian baik-baik saja?" Tanya anak muda itu.


"Syukurnya tidak kena mobil lu. Jika menyerempet tadi dan istri gua jatuh, lu bakal gua tuntut."


"Mas sudahlah." Laras menenangkan Vim. Kenapa dia menjadi galak? Laras tertegun.


"Sekali lagi maafkan. Aah ini sudah terlambat. Maaf. Maaf saya harus pergi."


"Hati-hati lu!" Teriak Vim.


Mereka tiba di halaman rumah.


"Laras..Esok pagi jalan di depan rumah saja. Jangan jauh ke belakang." Itu pesan Vim


"Baik tuan."


"Ingat sayang."


"Huumm."


Perhatian Vim tercurah pada Laras dan sang bayi. Vim menjadi lebih sayang. Laras dan bayi harus baik-baik saja, itulah prinsip Vim.


Malamnya..


Vim memegang rajutan di tangan Laras membuat gerakan tangan Laras terhenti.


"Tanganmu mas."


Tangan Vim tetap di sana. Tatapannya mendamba. Laras tetap cantik meskipun tubuhnya mengembang karena hamil. Vim menahan rasa di dada. Dorongan dari dalam membuat tubuhnya menghangat.


"Ras..kau tidak bosan merajut?"


"Ras boleh minta sesuatu?"


"Apa itu?" Laras benar-benar meletakkan rajutan di pangkuan.


"Aku mau masuk."


Laras tak mengerti yang dimaksudkan oleh Vim.


"Masuk ke mana mas. Mau berangkat ya?"


"Aku mau masuk ke dirimu."


"Ooh itu."


"Ras di usia kehamilan ini penyatuan akan membuka jalan lahir juga."


"Tidak salah sih."


...*****...


Laras memutar handle pintu. Pintu terbuka, ia mendapati sebuah ruangan yang bersih dan nyaman. Ia memandang berkeliling lalu duduk di karpet.


Inilah kamar tidur bayinya kelak. Bulan depan bayinya itu lahir. Laras sedikit gamang. Persalinan adalah hal baru baginya. Cemas bagaimana keadaannya saat persalinan nanti.


Harapannya agar persalinan lancar nantinya. Delapan bulan ia tak merasakan masalah yang berarti atas kandungannya. Ia merasa sehat dan kata dokter kandungannya juga sehat. Lalu kenapa harus takut?


Tapi bukankah hal-hal di luar dugaan bisa saja terjadi? Seandainya terjadi sesuatu pada dirinya, bagaimana nasib bayinya?


Laras tak dapat membayangkan jika Vim mencari pengganti dirinya untuk merawat bayi mereka. Laras menutup mata dengan kedua telapak tangan. Ia pun tak dapat membayangkan seandainya bayi mereka tidak baik-baik saja. Ah Laras menengadah menahan air mata. Semoga itu tidak terjadi. Sungguh ia belum rela Vim mencari pengganti dirinya.


Laras menggerakkan ranjang bayi. Ranjang bergerak ke depan- belakang layaknya ayunan.


Nak kau harus lahir selamat ya. Ibu tidak sabar mengayunmu di sini. Temani ibu mengisi hari-hari.


Kau yang pertama lahir dari adik-adikmu. Kelak kau yang memimpin dan menjaga mereka.


Bantu ibu ya sayang.



Perlahan Laras menyusun pakaian-pakaian bayi ke dalam lemari pakaian kecil. Untuk anaknya ia melakukannya sendirian. Pakaian selesai dimasukkan dan tersusun rapi di lemari pakaian. Sebelumnya bibi telah mencuci semua perlengkapan itu kemarin.


Ceklek.


"Loh non di sini. Ini selimutnya non." Bibi masuk tiba-tiba. Tidak menyangka Laras berada di sana.


"Iya bi melihat apa yang kurang. Satu sofa perlu diletakkan di sini bi. Suatu saat menyusui saya bisa duduk di sini."

__ADS_1


"Betul non. Kemarin dijual sofanya."


"Tidak apa bi. Mas Vim maunya yang baru. Besok saya minta yang agak lembut biar enak duduk menyusui."


"Ada yang bisa bibi bantu non?"


"Belum ada bi. Bi..bibi melahirkan usia berapa?" Laras ingin tahu.


"Ooooh bibi masih muda itu non. Lima belas tahun non. Soalnya ada yang melamar jadi bibi cepat menikah." Cerita bibi Am.


"Saya juga sembilan belas tahun sudah menikah bi." Sambung Laras.


"Tetapi lebih muda bibi. Umur delapan belas tahun bibi sudah punya anak."


"Anak bibi sehat semua?"


"Iya non. Sekarang sudah berkeluarga semua." Kata-kata bibi mengalir lancar. Sama sekali tak terpengaruh menjadi sedih mengingat keluarganya. Bibi begitu setia mengikuti keluarga Vim. Sejak bibi ditinggalkan suaminya, bibi bekerja pada keluarga Vim hingga sekarang. Bibi dan pak Uun dianggap sebagai keluarga oleh keluarga besar Vim.


"Bibi belum selesai masak kan?"


"Belum non. Bibi ke dapur ya non."


"Bi saya rindu ke dapur. Ikut bibi ya." Pinta Laras. Sama seperti Vim, bibi melarang Laras mengerjakan sesuatu di dapur padahal bagi Laras pekerjaan di dapur adalah hal yang wajar dilakukan olehnya.


Bibi berpikir. Kasihan melihat Laras sendiri di kamar itu. Bibi mengiyakan permintaan Laras.


"Terserah non tapi non hanya duduk saja di dapur. Temani bibi saja ya non. Den Vim pesan non Laras jangan sampai kerja yang banyak."


Laras meringis. Bibi memang patuh dan setia pada tuannya.


Mereka berjalan ke dapur.


"Saya bantu apa bi? Bumbu saja. Mana bumbu-bumbunya bi." Laras meminta.


"Non duduk saja. Bibi bisa semuanya."


"Bibi..."


"Baik non. Ini bawang putih dan bawang merah. Cukup ya non."


Laras tertawa kecil. Bibi benar-benar tak mau berbagi pekerjaan.


"Bibi jangan takut. Saya baik-baik saja."


"Dinikmati aja non. Den Vim itu sayang sekali sama non Laras. Sangat takut non Larasnya kenapa-kenapa."


Lalu muncul rasa ingin tahu dibenak Laras untuk mendengar cerita tentang Vim saat masih sekolah.


"Bibi.. bibi kan ikut keluarga mas Vim sudah lama ya. Waktu masih sekolah pacar mas Vim suka datang ke rumah nggak?" Laras bertanya hati-hati. Menunggu tanggapan bibi. Maukah bibi menjawab pertanyaannya.


"Jarang non. Mas Vim jarang membawa pacarnya ke rumah. Pernah sih cuma berapa kali gitu. Mbak siapa itu? Ra..Ra gitu non."


Laras manggut-manggut mengerti. Tentu yang dimaksud bibi adalah Aurora.


"Dikenalkan ke mami?"


"Dikenalkan ke tuan dan nyonya itu sebelum pacarnya pergi non."


"Oh itu pas mau wisuda mas Vim mungkin?" Tebak Laras.


"Iya non sebelum mas Vim jadi berantakan. Setelah wisuda den Vim menjadi aneh. Uring-uringan. Sering pulang dini hari."


"Memangnya barang bi. Berantakan." Laras tersenyum.


"Iya setelah itu den Vim jadi seperti kehilangan arah gitu. Kata orang flus..flustasi."


"Frustasi. Patah hati ya bi."


"Mungkin non. Mau diajak nikah malah menghilang. Kasihan den Vim."


Laras menelan saliva. Dirinya hanya nomor dua. Ah bukan. Vim pernah bilang ia lebih dulu jatuh cinta pada Laras tetapi Vano berhasil meraih Laras duluan.


"Non kok melamun. Jari non bisa teriris."


"Eh iya bi."


"Memikirkan den Vim ya non. Itu cerita dulu non. Sekarang den Vim cinta mati sama non Laras. Bibi bisa lihat." Nah kan bibi juga enak diajak mengobrol. Laras tidak jadi bersedih. Curhat juga boleh sama bibi walaupun Laras tak pernah curhat sama bibi. Bibi bisa menyimpan rahasia.


"Mas Vim pacarnya suka ganti-ganti nggak bi?" Laras masih saja ingin tahu banyak. Selama ini menurut Vim cuma nama Laras dan Aurora yang mengisi hatinya. Duuh mengingat Aurora membuat hati Laras perih.


"Aaaww. Tenang sayang." Laras mengelus perutnya. Sang bayi bergerak lebih terasa. Mungkin dia tidak suka Laras banyak membicarakan papinya.


"Kenapa non? Apa yang sakit?" Bibi menoleh khawatir.


"Tidak ada bi. Kayaknya dia menendang."


"Tandanya dedek minta istirahat non. Sudah non istirahat saja sekarang."


"Saya mau lihat kamar depan bi."


"Baik non."


Tenang sayang. Mami tidak membicarakan papimu lagi. Sekarang tidur ya.


Di kamar depan tidak banyak barang seperti kemarin. Yang tertinggal hanyalah sebuah tempat tidur bayi. Ranjang itu akan diletakkan di sebelah ranjang Laras dan Vim agar lebih mudah menjangkau bayi ketika menangis di tengah malam. Dengan begitu ranjang tersebut berguna pada akhirnya.


Laras mengingat perlengkapan apa lagi yang belum mereka beli. Rasa-rasanya hampir semua sudah. Ah ya baby walker belum tersedia.


...🌺🏵️🌺🏵️🌺...


Like, comment, gift, vote dan bintang lima.🌹

__ADS_1


Terima kasih readers.❤️


__ADS_2