
Pakaian dengan segala sesuatu yang akan dibawa saat persalinan telah disiapkan Laras di dalam sebuah tas di dalam kamar mereka. Laras sedang menunggu saat persalinan. Ia berusaha menenangkan hati dan bersiap-siap menyambut sang bayi melihat dunia. Bayi yang ditunggu-tunggu mereka. Darah daging Vim dan trah Dewantara.
Vim berkata melalui panggilan jarak jauh bahwa ia akan pulang agak terlambat mengingat ada tamu di perusahaannya. Sekarang menunjukkan pukul tujuh malam dan Laras berjalan kesana kemari dari ruang keluarga ke ruang tamu kembali lagi ke ruang keluarga. Ia merasakan sedikit tidak nyaman pada perutnya. Berharap Vim segera muncul menemani dirinya di sini.
"Duduk non." Bibi menemani Laras sedari tadi.
"Tidak nyaman bi. Kenapa mas Vim lama ya bi?"
Bibi memahami kecemasan Laras.
"Mungkin sedang di jalan. Non kurang sehat ya. Wajah non agak pucat."
"Perut saya terasa lain bi. Tolong telepon mas Vim agar dia segera pulang. Saya ke belakang dulu ya bi." Laras meninggalkan bibi menuju kamar mandi di dapur. Ia tidak perlu ke kamar mandi di kamarnya untuk menghindari menaiki tangga.
"Baik non bibi telepon den Vim."
Tak berselang lama terdengar suara mobil berhenti. Bibi merasa senang. Sudah tentu itu mobil Vim sebab Vim bilang dia telah berada di pintu gerbang komplek tempat tinggal mereka ketika bibi menelepon.
Kriieeeeek. Pintu terbuka lebar. Vim berjalan ke dalam seperti yang sudah-sudah setelah meletakkan sepatu di lemari sepatu.
"Malam den."
"Malam bi. Laras di mana?"
"Non Laras ke kamar mandi belakang den. Belum lama tadi."
"Bi air minum saya dibawa ke sini saja."
"Baik den."
Vim berlalu ke belakang mencari Laras. Ia pun ingin mencuci kaki di kamar mandi. Tiba di dapur Vim melihat Laras di depan pintu kamar mandi.
"Sayang kamu lagi apa?" Tanya Vim.
"Mas sudah pulang ya? Mas kurasa sudah waktunya. Ada bercak darah." Laras cemas.
"Dimana? Oh dia sudah mau keluar? Tunggu! Tunggu!"
Vim memegang perut Laras dan kelihatan bingung. Memikirkan apa yang harus dilakukannya.
"Mas kita rumah sakit. Perutku sakit. Aaaw!"
"Haaa??? I..iya sayang. Kita ke rumah sakit. Tahan."
Laras menggamit erat lengan Vim dan Vim mengajaknya ke depan.
"Den ini tehnya." Bibi Am tiba datang membawa minuman dari ruangan atas.
"Tolong ambilkan tas saya bi. Yang besar." Suara Laras bergetar.
"Ba..baik non. Non mau melahirkan ya?"
"Iya bi."
Laras menunggu di dalam mobil. Kemudian Bibi datang bersama pak Uun.
"Ke rumah sakit besar pak." Titah Vim kepada pak Uun.
"Barangnya sudah semua den?"
"Sudah pak."
__ADS_1
Vim tidak memikirkan lagi apa yang harus dibawa. Ia tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Yang ada dalam pikiran Vim, Laras harus segera tiba di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Vim menggenggam jemari Laras. Memberinya kekuatan dan ketenangan agar Laras bisa melalui tahap ini.
"Tenang sayang. Tahan sakit ya."
"Semakin sakit." Ujar Laras.
"Tambah kecepatan Pak."
Pak Uun melajukan mobil. Keringat dingin Vim mulai keluar di wajah.
Ciiiiiiiittt. Mobil berhenti tepat di parkiran depan rumah sakit. Vim segera membantu Laras. Laras segera ditangani. Kata dokter pembukaannya masih kurang. Laras diminta berjalan di sekitar ruangan tersebut. Ketika dicek pembukaan telah cukup Laras memasuki ruang persalinan
"Dokter saya ikut masuk." Vim membuntuti dokter yang akan masuk ke ruang persalinan.
"Anda yakin?"
"Yakin dokter."
Oooweeek. Oooweek. Oooweek.
Suara tangis bayi memecah keheningan malam. Bunyi nyaring seolah minta pertolongan agar dirinya segera diangkat. Tengah malam dia lahir menghadirkan kebahagian tak terhingga bagi kedua orangtuanya. Vim tersenyum. Keharuan menyelimuti hatinya. Vim mengecup Laras penuh rasa sayang.
Masih dalam keadaan lusuh Vim setia menemani Laras. Menggenggam erat jemari Laras sebagai ucapan terimakasih tanpa kata. Isyarat penuh makna.
"Dia sehat sayang. Jangan tidur dulu. Pak Uun membawakan makanan untuk kita."
Mata Laras berkaca-kaca. Tidak menyangka bisa melalui semua ini berdua Vim . Perjuangan Laras membawa bayi di dalam kandungan selama sembilan bulan membuahkan hasil. Laras bersyukur sekali.
"Terima kasih sudah berjuang untukku. Anak kita telah lahir Laras." Vim mengangkat dan menyium punggung tangan Laras.
"Ya mas berkat do'a dan usaha kita." Laras tersenyum tipis. Netra miliknya terasa berat. Ia ingin memejamkan mata. Rasa kantuk menyerang membuatnya ingin tidur.
"Den ini makanannya. Kebetulan di depan sana masih ada warung yang buka den. Dari tadi den Vim dan non Laras belum makan." Pak Uun datang membawa dua bungkus nasi.
"Terima kasih pak." Vim menerimanya.
"Sama-sama. Saya belikan dua sendok ini den buat makan."
"Ya terimakasih. Bapak tidur di mana?" Tanya Vim. Tidak mungkin pak Uun pulang ke rumah di tengah malam begini.
"Gampang den. Di ruang tunggu ada tv. Saya di sana saja."
"Oke pak."
"Kalau begitu saya ke sana dulu den."
"Iya pak."
Laras makan dengan lahap. Tidak menunggu lama, setelah makan Laras pun memilih tidur sebab netranya tidak bisa lagi diajak kompromi agar tetap membuka. Ditambah Vim ada di sisinya ia semakin merasa ketenangan di hati.
Hari masih terlalu pagi saat Laras terbangun. Jam menunjukkan pukul enam. Laras membiarkan Vim yang masih tertidur di sofa Terpancar kelelahan di wajah Vim. Pakaiannya belum berganti karena memang Laras tidak memasukkan ke dalam tas yang dibawa tadi malam.
Sreeeeet.
Suster jaga datang hendak memeriksa Laras. Dia menyingkap kain pembatas di sebelah tempat tidur. Suster berbicara seperlunya dan keluar dari ruangan tersebut.
Vim menggeliat. Menoleh pada Laras. Memastikan keadaan Laras. Baik-baik saja
__ADS_1
"Pagi sayang." Sapa Laras.
"Pagi sayang. " Balas Vim.
"Laras bagaimana keadaanmu nak." Vim menoleh ke belakang.
"Ibu..Laras baik bu." Ibu menghampiri dan memeluk Laras.
"Selamat sayang. Kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang. Selamat nak Vim."
"Terimakasih Bu." Laras dan Vim menjawab serentak.
Ibu mengatakan bibi memberitahu beliau jika Laras telah bersalin. Ibu datang bersama ayah.
"Tadi kami melewati ruang bayi tetapi tidak mengerti yang mana cucu ayah." Kata ayah.
"Mengapa tidak memanggil ibu tadi malam? Bagaimana bayi kalian?"
"Dia sehat dan ganteng seperti aku bu. Maafkan kami diliputi kebingungan dan kecemasan tadi malam. Tidak terpikir untuk menelpon ibu dan mami."
Ibu dan Laras tertawa mendengar penuturan Vim. Rasa percaya diri Vim kadang berlebihan.
"Hahaha. Itu jelas karena nak Vim kan ayahnya." Kata ibu.
"Bu aku mau pulang. Dari kemarin belum mandi. Ibu tolong jaga Laras ya bu."
"Oiya kita gantian saja. Nak Vim pulanglah dan istirahat sejenak."
"Saya lebih suka istirahat di sini bu. Baju ini minta diganti sebab dipakai sejak kemarin malam. Saya ganti pakaian dulu."
"Pulanglah. Nak Vim kelihatan lelah."
Ibu mengelus Laras penuh kasih. Anaknya itu telah memberikan cucu pertama yang mereka idam-idamkan.
"Laras kamu sarapan ya nak. Ibu suapi."
"Laras bisa sendiri bu. Tadi malam Laras makan sendiri dan habis sebungkus nasi. Mas Vim juga. Kami kelaparan hehe."
"Iya itu wajar sebab tenagamu telah terkuras." Laras memang bisa melahirkan secara normal.
Suster datang mengantarkan bayi Laras. Laras mendekapnya erat. Menyium bayi itu dengan hati-hati.
Dunia berubah bersinar lebih terang saat melihat malaikat kecil itu. Laras tersenyum. Begitupun ibu dan ayah.
"Dia jagoan seperti papinya." Ucap ayah.
"Ibu ingin menggendongnya."
"Ibu ambillah." Ucap Laras dan menyerahkan bayi merah itu pada ibu. Ibu menimang cucu pertama.
"Uuuluuh..uuluuh cucu oma nangis. Cup..cup..mau mimik ya. Ikut mami ya sayang. Cuuup."
Ibu berbicara pada cucunya kemudian menyerahkan baby boy
kepada Laras.
"Anak mami haus ya hmm." Laras mengecup kening baby boy dan menyusui. Lagi-lagi pengalaman baru dirasakan Laras. Kini ia mempunyai tanggung jawab lebih pada keluarga kecilnya. Tidak hanya mengurus Vim, Laras juga harus merawat dan mengurus bayinya.
...🌻🌻🌻...
Sampai di sini dulu ya besok disambung lagi..Kira-kira nama baby boy apa ya..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, atau gift dan vote. Bintang lima juga boleh.
Terima kasih.🌹💕