
Laras menekuni pekerjaan baru. Penghasilan dari pekerjaan ini membantu Laras membayar kewajiban pada pihak bank. Utang itu harus habis hingga sertifikat rumah bisa terselamatkan. Setidaknya ia sudah berusaha menyelamatkan aset yang mereka miliki dari jatuh ke pihak lain.
Laras baru selesai memeriksa dokumen pelanggan di ruangan, ketika pintu ruang kerja diketuk seseorang. Belum sempat ia memerintahkan masuk, tubuh tegap itu terlebih dahulu masuk ke ruangan Laras.
"Apakabar?" Tanyanya singkat. Kehadiran lelaki itu berhasil membuat Laras terkejut.
"Kau?? Mengapa kau di sini?"
"Aku mengetahui kau bekerja di sini. Hahaa..apa suamimu tidak bisa lagi memberimu nafkah, hingga kau berada di sini?"
Laras melengos. Mendadak kepalanya pusing.
Setelah sekian lama kenapa Roni muncul di hadapannya seperti hantu di siang hari.
"Kekayaan suamiku cukup untuk memenuhi kebutuhanku!"
"Lantas?"
"Apa urusanmu. Silahkan keluar dari sini!"
Kalimat Roni menyinggung Laras. Andaikan Roni bicara sedikit lebih baik, Laras lebih hormat.
"Apa hakmu mengusirku ?"
Roni semakin senang melihat Laras marah. Dia duduk dengan santai di sofa. Laras jadi gerah dengan kehadiran makhluk satu ini.
"Ini ruanganku. Kau mengganggu pekerjaanku."
"Ini ruanganmu tapi nama dan tempat ini milikku."
"Apa???"
Kepala Laras bertambah pusing. Dia mencengkeram tepi meja agar tidak jatuh .
Ya Tuhan kenapa aku sekarang berada dalam lingkup makhluk ini.
"Jadi bagaimana? Kau mau lanjut atau mengundurkan diri? Pilihan ada di tanganmu. Aku tahu kau sedang butuh uang, karena itu aku tidak akan memecatmu. Wellcome baby, selamat bekerja."
Roni pergi meninggalkan ruangan Laras. Laras terduduk lemas. Memijit pelipisnya. Semua ini karena kebutuhan yang mendesak. Haruskah ia meninggalkan pekerjaan ini sedangkan gaji yang diberikan lumayan besar. Mampu menutupi kebutuhannya.
Dan Vim akan sangat marah jika mengetahui Laras bekerja di bawah nama Roni. Laras menopang dagu dengan kedua telapak tangan. Hanya sampai cicilan di bank selesai, Laras harus berhenti bekerja setelah itu.
Laras membuka pintu mobil ketika ia mendengar Edo memanggilnya.
"Ada apa kak?"
"Kau mau pulang?"
"Iya dong. Sudah hampir senja. Vian menungguku."
"Dan bayi besarmu itu, kan?" Maksud Edo adalah Vim.
"Aaah kakak ini. Keadaan yang membuatnya seperti bayi. Rapuh dan sangat sensitif."
"Seharusnya ia berusaha memperbaiki diri. Masih ada jalan untuk sembuh. Dasar Vim. Entah kenapa pikirannya jadi buntet begitu."
"Hmm..jangan menjelekkan suamiku."
"Iya...iya. Suami tidak tahu diri."
"Apa kak?"
"Nggak. Bukan apa-apa."
"Ya sudah aku pulang," pamit Laras.
"Tunggu Laras. Aku...." Ucapan Edo terhenti. Ragu mengatakan kepada Laras.
"Eee..aku dapat info, itu punya Roni. Kau tahu artinya?" Edo menunjuk tempat bekerja Laras.
Laras mengngguk kemudian berkata," Aku baru tahu hari ini kak. Tolong jangan bilang mas Vim dan siapapun."
"Kenapa Laras?"
"Gaji yang diberikan besar dan mampu menutupi kebutuhanku. Itu saja."
Edo menggaruk kepala yang tidak gatal. Sebenarnya ia juga tak rela Laras berada di lingkup kerja Roni.
"Kerja di perusahaan daddy. Kau mau? Tapi tentang penghasilan aku tidak bisa mengatur mereka supaya memberikan gaji yang besar untukmu."
"Tidak kak. Aku akan bertahan di sini saja."
Rasa iba menyusup di relung hati Roni. Keadaan memaksa Laras harus melalui semua ini. Edo memperhatikan wajah Laras. Lembut tetapi selalu tegar. Inginnya ia memeluk Laras. Menghilangkan resah hati Laras. Namun Vim, mau diletakkan di mana?
"Sudah ya kak. Aku pulang ya. Kakak gimana?"
"Aku mau ke rumah kalian. Menjenguk Vim. Niatku berkunjung dari kemarin sehingga aku membelikan ia buah-buahan."
Sejenak Laras ragu tapi ya sudahlah. Mereka bersahabat. Edo pun telah membelikan Vim buah-buahan. Kasihan kalau Laras melarang Edo berkunjung.
Mobil Laras diparkir di garasi. mobil Edo di luar pagar. Edo memasuki halaman yang luas. Berjalan di belakang Laras. Vim sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Mas aku datang." Laras memberikan kecupan buat Vim. Vim tak bereaksi.
Tiba-tiba wajah Vim menegang melihat Edo di belakang Laras. Tatapannya yang dalam dan lama sulit diartikan.
"Untukmu."
__ADS_1
Edo meletakkan buah di atas meja.
"Dari mana saja kalian?" Nada suara Vim terdengar sumbang di teling Edo. Vim tidak baik-baik saja.
"Aku pulang sendiri. Kebetulan kak Edo datang kemari menaiki mobilnya."
Pancaran ketidaksukaan jelas terlihat di wajah Vim.
"Kalian menyembunyikan sesuatu?"
"Sesuatu apa??" Edo mengernyitkan dahi.
"Astaga...apa maksud mas? Aku tak serendah yang kau pikirkan." Laras surut ke belakang. Dadanya sesak. Ia pasti menangis andaikan Edo tak ada di situ. Laras masih mampu menahan air mata.
"Apa-apaan kau Vim. Apa yang ada di pikiranmu? Curiga dan curiga saja!"
"Kau pantas dicurigai."
"Heh aku masih menghargaimu atau kau memang senang Laras kubawa lari?!"
"Korbankan persahabatan kita." Tantang Vim. Entah setan mana yang sedang mempengaruhi Vim.
"Itu maumu?? Baik. Ayo Laras, ikut denganku!"
Edo menggamit tangan Laras. Laras menarik cepat tangannya. Darahnya mendidih terpancing ucapan Vim.
"Tidak kak. Aku di sini saja." Tolak Laras.
"Pergilah Laras. Raih kebahagiaanmu. Aku tidak bisa apa-apa lagi!" Seru Vim. Netranya memerah. Melepas Laras lebih baik daripada mengungkungnya dalam kesusahan. Air mata Laras bergulir jatuh susul menyusul. Sekalipun diusap, air mata itu mengalir lagi.
"Ayo Laras. Dia tak membutuhkanmu lagi!" Edo memaksa Laras. Ia menjadi benci pada Vim. Vim yang curiga dan cemburu tidak pada tempatnya. Asal menduga saja.
"Kau Vim, sampai kapan kau akan begini. Aku muak melihatmu Vim. Mencari-cari kesalahan! Sebaiknya kau bangun dari terpurukmu itu supaya Laras tidak bekerja di bawah Roni!"
"Kak Edo! Cukup kak."
"Pergilah Laras. Aku tidak membutuhkanmu." Kata Vim lagi. Ucapan dan kata hati tidak lagi sinkron. Hatinya tidak menginginkan berpisah dengan Laras tapi ia pun tidak bisa melindungi Laras dan kini Laras dalam jangkauan Roni.
Kau tahu Laras, seribu jarum menusuk dadaku saat mengucapkan ini tapi membiarkanmu dalam kesusahaan membuat hatiku juga sakit. Aku merelakan kau pergi.
Laras menutup wajah dengan tangan. Dia terus menangis. Air mata tak mampu ditahan. Akhirnya Vim tahu jika ia bekerja dengan Roni. Lebih menyakitkan prasangka Vim bahwa ia dan Edo memiliki hubungan khusus. Sedikitpun Laras tak berniat selingkuh. Dia rela tidak mendapat nafkah dari Vim. Dia terlanjur mencintai Vim dan berjanji selalu bersama. Dia yakin mampu melalui garis hidupnya yang berat ini.
"Aku tetap di sini meskipun mas tidak membutuhkanku. Biarkan aku membesarkan Vian di sini mas...uuhuuu"
"Percuma kau menangis Laras. Keadaan tak berubah selagi dia menyerah dengan keadaan. Kau pecundang Vim!" Tudingan Edo menyakitkan.
"Bisa-bisanya kau menuduh aku dan Laras, bukannya berterima kasih padanya."
"Ya aku pecundang! Aku pecundang, karena itu tinggalkan aku. Kalian boleh pergi!!"
"Aku memang gila!!" Teriak Vim.
Tidak tahukah Edo dan Laras batin Vim terpukul. Pikiran-pikiran negatif masih menguasai tiga perempat isi kepalanya. Yang ia pikirkan hanya kekurangan, kelemahan dirinya tanpa berusaha memperbaiki keadaan. Ia ingin bangkit tapi gamang. Vim butuh dorongan untuk sembuh.
"Cukup mas...cukup kak...." Suara Laras melemah dan bergetar. Situasi menyesakkan dada.
"Perlu mas ingat. Aku di luar rumah tapi aku menjaga kehormatanku. Aku takkan keluar dari rumah ini sekalipun mas mengusirku."
"Sampai kapan kau seperti ini Vim! Aku muak!!"
"Sudah kak. Stop!" Pekik Laras.
"Biar dia sadar. Di dunia ini bukan hanya dia yang paling menderita. Ada yang lebih menderita dan sakit tapi masih punya semangat untuk hidup. Kau lihat dia...dia hanya menyesali nasib!" Panjang lebar Edo bicara. Vim tertunduk. Mencerna ucapan Edo. Ia malu pada diri sendiri.
"Sudahlah kak. Aku lelah."
"Gimana nggak lelah. Sehari-hari mencari nafkah, dituduh yang bukan-bukan...hhhhh!!"
Tekad Edo semakin kuat. Membawa Laras keluar dari situasi itu. Biar Vim tau rasa ditinggalkan lagi. Biar dia semakin jadi menangisi keadaan.
"Ikut aku Laras. Di sini kau hanya menderita." Ajak Edo. Melirik sinis pada Vim.
"Edo!! Kau memanfaatkan situasi!"
"Persetan!! Kau menyakiti Laras dengan perkataanmu." Edo membuat Vim tersudut. Sahabatnya ini menyerang tanpa ampun meski lewat kata-kata.
"Ed...mengertilah keadaanku." Suara Vim melemah. Ia tak kuasa lagi menahan beban yang menghimpit dada.
"Seharusnya kau menolongku Ed."
"Apa kurang aku menolongmu? Aku menolongmu sejak pertama Vim. Kasihan Laras."
Pikiran akan Laras, Edo dan Roni kini memenuhi kepala Vim.
"Aku mohon Laras, menghindarlah dari Roni. Aku mohon amat sangat." Vim sangat berharap.
"Aku menghindar dari Roni jika kewajiban di bank selesai." Tanggapan Laras.
"Berapa tanggungan kalian di bank? Aku bantu." Edo berbaik hati.
"Tidak usah kak." Sama saja Laras harus membayar kepada Edo.
"Baik. Ini urusan kalian. Ingat Vim, masih banyak waktu untuk memulihkan keadaan."
Edo pergi. Puas menghunjam Vim dengan kata-kata. Semoga Vim bisa berpikir jauh.
Malamnya Vim tak bisa memejamkan mata. Berkali mencoba, sebanyak itu pula ia kembali membuka mata. Pikirannya gelisah. Roni mempekerjakan Laras. Kemungkinan apapun bisa saja terjadi.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu dibuka oleh pak Uun. Sejak Vim tidur sendiri, pak Uun ditugaskan Laras memeriksa Vim paling akhir, setelah semua tidur. Laras akan tertidur saat menidurkan Vian.
"Den...belum tidur?"
"Belum Pak. Kemari Pak. "
"Ya Den. Ada yang bisa dibantu?"
"Besok saja Pak. Saya pinjam handphone Bapak untuk telpon Joel."
"Baik Den. Ada lagi Den?"
"Tidak ada. Hanya kita yang tahu."
"Baik Den. Selamat malam."
Keesokan hari Vim meminta Joel datang ke rumah dan Joel datang tepat waktu. Senang bisa melihat tuannya lagi. Ia melihat wajah Vim agak kusut. Tidak lagi rapi seperti saat bekerja. Rambut Vim agak gondrong tapi ketampanannya tidak berkurang.
"Selamat pagi, Tuan. Tuan memanggil saya. Apa ada tugas buat saya?"
Vim tak ingin mendengar cerita Joel tentang perusahaan. Ia yakin keadaan perusahaan tidak mengalami perkembangan. Mereka berbicara di dalam kamar. Tidak seorangpun mendengar perbincangan mereka termasuk Laras yang telah berangkat kerja.
"Kau benar. Ada tugas. Cari pengawal untuk mengawal Laras dalam artian mengawasi Laras dari jarak jauh. Aku tidak mau sampai Laras tahu. Jika Laras tahu, gajimu terancam."
"Jangan Tuan. Kasihani saya. Saya harus menabung untuk pernikahan kami." Joel memasang wajah memelas.
"Kau mau menikah juga?"
"Jelas Tuan. Saya normal."
"Siapa bilang kau tak normal. Ya sudah, kau tekankan pada pengawal. Laras tidak boleh tahu. Titik."
"Tentu Tuan. Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Vim
"Tidak Tuan."
Perkembangan perusahaan biar saja menjadi tanggung jawab Dion atau Pak Dewantara untuk menyampaikan pada Vim. Vim tidak banyak bertanya tentang keadaan perusahaan, berarti Vim tidak ingin mendengarkan apapun.
"Kalau tidak ada lagi saya permisi, Tuan."
"Tunggu. Bayaran pengawal aku transfer ke rekeningmu. Aku percaya padamu. Bekerjalah dengan baik," pesan Vim.
"Saya Tuan."
"Terima kasih Joel."
"Saya yang harus berterima kasih Tuan. Dalam keadaan perusahaan seperti ini, saya masih dipertahankan."
"Aku menyampaikan pada mereka agar tak memecatmu."
"Terima kasih. Saya permisi Tuan."
"Ya. Cepatlah pergi sebelum ada yang melihat mu."
Vim sedikit lega. Laras sudah ada yang menjaga dalam jarak jauh. Kemudian Vim membuka laci nakas yang ia kunci. Di sana ia meletakkan buku tabungan Vian pemberian mertua Vim. Tabungan dari hasil penjualan kayu di kebun mertuanya. Dulu Vim yang membeli tanah perkebunan tersebut. Ayah Laras yang mengelola. Hasilnya ditabung untuk keperluan Vian. Kini Vim menggunakan uang itu untuk membayar pengawal yang disewa mengawasi Laras.
Pak Uun datang lagi membawa makan siang. Peralatan makan yang dibawa pak Uun terbuat dari stainless steel. Tidak menggunakan bahan keramik atau kaca yang dapat melukai Vim. Kesempatan ini digunakan Vim untuk berbicara dengan pak Uun.
"Pak, tolong ke bank dan cetak isi buku ini," pinta Vim.
Vim ingin melihat transaksi masuk di buku itu. Walaupun hanya berapa kali uang disetorkan tapi Vim tahu jumlahnya tidak sedikit.
Laras tidak bertanya tentang tabungan itu. Semua yang dipegang Vim, Laras kadung percaya. Tak masalah. Vim bisa menggantinya kelak.
Bruuuummm. Ciiiiit.
Dalam kamar Vim mendengar mobil berhenti. Untunglah Joel telah pergi sejak tadi. Dari balik jendela ia bisa melihat Laras keluar dari mobil. Laras mencari bibi dan Vian. Laras pulang tengah hari.
"Gimana panasnya Bi?" Laras memegang kening Vian.
"Semakin tambah non."
"Iya panas sekali Bi. Kita ke dokter ya Bi. Bibi ikut saja."
Laras menggendong Vian. Membuka pintu dan pamit pada Vim. Rasa hormatnya pada Vim tidak berubah meskipun Vim tidak bisa berbuat apa-apa.
"Vian panas mas. Aku bawa ke dokter."
Maafkan aku Laras. Aku tidak bisa menolong kalian. Aku memang tidak berguna.
Vim memandang jari-jari tangan yang saling bertautan. Bahkan Vian sakit saja Vim tidak bisa mengambil peran sebagai seorang ayah. Semua Laras. Apa-apa Laras yang beraksi. Sungguh tak berguna.
"Mengapa Vian sakit Pak?"
Pak Uun berhenti melangkah. Ia mengambil peralatan bekas makan Vim dan menjawab," Anak-anak memang begitu Den. Kata Bibi mungkin mau besar."
"Semoga bukan sakit serius," ucap Vim.
"Semoga Den."
Di dalam hati Vim mengucapkan do'a buat Vian dan do'a agar Laras selamat pulang dan pergi dari membawa Vian berobat. Hanya ia yang tahu betapa khawatir dirinya atas keselamatan orang-orang yang ia cintai.
...~Tidak selalu ada pelangi setelah hujan tetapi setidaknya bisa diambil pelajaran atas semua yang terjadi~...
🌾🌾🌾Like, komen, gift, vote dan bintang lima. Terima kasih.🌷💕
__ADS_1