
"Jangan bicara dengan lelaki lain Laras. Aku akan cemburu."
Laras menggelengkan kepala.
"Tidak lagi mas kecuali pembeli di toko."
Vim menyeringai tipis.
"Berjanjilah padaku Laras."
"Mengertilah mas. Pembeli bukan hanya wanita saja. Sebagai penjual aku harus ramah kan?"
Vim tidak mengiyakan pertanyaan Laras. Laras menjadi serba salah.
Gelombang kemarahan perlahan surut akan tetapi bukan berarti Vim melupakan kejadian ini begitu saja. Saat mengingat buket bunga yang dikirim orang itu Vim akan mendengus kesal.
"Sebaiknya kamu mengontrol toko dari rumah saja. Cari satu orang lagi untuk membantu Ririn." Titah Vim sebelum masuk ke dalam mobil. Laras hanya termangu menatap punggung Vim yang menghilang di balik pintu mobil.
Vim mengarahkan pak sopir agar singgah di toko Laras. Di sana ia menemui Ririn.
"Selamat pagi tuan."
"Selamat pagi. Sudah katakan jangan panggil aku tuan. Namaku Vim."
"Begini saja tuan, karena Laras adalah teman saya dan umur tuan lebih banyak dari saya, maka ijinkan saya memanggil kakak."
"Boleh. Sekarang aku mau tahu berapa kali lelaki yang bernama Herdi itu belanja di sini?"
"Eeee hanya sekali kak."
"Benar gitu?"
"Benar kak."
"Beritahu aku jika Herdi datang kemari. Jangan bilang Laras aku menyampaikan ini padamu. Mengerti??"
"Mengerti kak."
Hampir pukul delapan lebih Vim belum meninggalkan toko Laras hingga akhirnya bertemu Laras yang datang lebih cepat hari ini.
"Ada di sini mas?" Tanya Laras heran dan mencoba bersikap biasa saja untuk menutupi rasa terkejut.
"Aku melihat perkembangan tokomu." Vim menjawab datar.
"Biasa saja bukan?"
"Apanya??"
"Tokoku. Tidak ada yang istimewa."
"Yang istimewa adalah kau sehingga orang tertarik membeli bahkan suka padamu."
"Bukankah mas harus menghadiri rapat?" Laras mengalihkan pembicaraan. Curiga Vim mengorek informasi dari Ririn.
"Yeaah aku harus pergi."
"Selamat pagi tuan. Ada yang bisa saya bantu."
Laras dan Vim bersamaan menoleh ke arah Ririn berdiri. Sama-sama terkejut melihat siapa yang datang. Vim memandang dengan sinis. Sangat sinis.
Kacau kalau begini. Drama apa lagi yang akan terjadi, ucap Laras dalam hati.
Laras mengelap keringat di keningnya yang tiba-tiba muncul. Laras menyambut tamunya namun tangannya keburu dicekal oleh Vim.
"Sayang dia pembeli." Laras bersuara rendah sedikit penekanan. Vim mempertahankan pegangan di pergelangan tangan Laras.
"Aku akan melayaninya."
"Mas please deh."
"Diam." Aura tak terbantahkan milik Vim muncul.
Herdi lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Ririn. Dengan percaya diri menghampiri Laras. Dia tidak tahu bahwa pria di samping laras adalah suaminya.
"Selamat pagi. Mau beli apa??" Vim yang menyapa duluan.
"Selamat pagi. Mau ketemu pemilik toko." Jawab Herdi santai.
"Pemilik toko sedang bersama saya. Jika tidak ada keperluan jual beli sebaiknya Anda pergi dari sini. Anda lihat cincin ini?"
Herdi menajamkan penglihatan
nya pada Vim. Tidak menyangka menerima reaksi kasar dari Vim.
Vim mengangkat tangan kanan Laras. Menunjukkan cincin pernikahan yang dipakai oleh Laras.
"Mas..??" Kening Laras berkerut tidak setuju dengan ucapan Vim.
Apalagi sikap Vim dinilainya kelewatan.
"Apa maksud saudara? Anda siapa berani mengusir pembeli?" Herdi memandang Vim tidak suka.
"Anda harus tahu aku suami Laras, pemilik toko ini. Cepat katakan apa yang kau butuhkan di toko ini."
"Mas jangan gitu dooong."
"Persetan. Ia berani mendekatimu maka harus berani berhadapan denganku."
"Mas apa-apaan sih! ini tidak seperti yang kau pikirkan."
Bukan Vim namanya walaupun cuma mundur selangkah. Jarang terjadi.
"Apa maksud anda??" Kali ini Herdi yang bersuara. Maksud kedatangannya untuk memesan kain panjang bukan untuk bertengkar. Vim justru mengajaknya bersilat lidah.
__ADS_1
"Anda pembeli tapi berusaha mendekati istri saya. Mengajaknya chat panjang lebar dan mengirimkan bunga. Masih bertanya maksudnya?"
"Mas kau harus rapat." Laras mengingatkan. Vim tidak menghiraukan Laras.
"Oo itu. Jadi anda yang memblokir nomor saya??"
"Yah benar."
"Istri anda sangat ramah. Dia tidak akan memblokir nomor saya tanpa sebab. Anda tahu istri anda ini terlalu cantik dan pantas untuk dikagumi. Mungkin orang lain juga mengagumi bukan cuma saya."
"Sekarang anda sudah tahu status Laras. Jauhi dia."
"Mas berpikirlah secara terbuka. Tidak akan ada apapun antara kami." Laras menimpali.
"Justru mata hatiku sedang terbuka Laras."
"Apa yang anda butuhkan Herdi? Ririn akan menyiapkannya." Laras menghargai kedatangan Herdi. Pembeli adalah raja dan harus dilayani dengan baik. Ia merasa kasihan pada Herdi harus berhadapan dengan Vim.
"Ibuku membutuhkan kain ini empat lembar saja."
Herdi memberikan secarik kertas berisi tulisan. Bertuliskan nama motif kain panjang yang akan dibeli Herdi.
Laras memanggil Ririn supaya Ririn menyiapkan barang tersebut. Vim berdiri di situ membuat Laras heran karena kata Vim akan menghadiri rapat tetapi masih saja berada di toko Laras.
"Terima kasih Laras. Jaga dirimu baik-baik." Barang sudah di tangan Herdi.
"Oya sayang sekali kalian sudah menikah. Jika belum mari bersaing secara sehat." Tatapannya menikam manik mata Vim. Sekian detik kemudian Herdi berlalu pergi.
"Huuuhhh." Vim menatap tidak suka pada Herdi yang berjalan keluar toko.
"Mas Vim sebaiknya berangkat sekarang. Katanya mau rapat."
"Rapat jam 10."
"Sekarang hampir setengah sepuluh. Memangnya mas mau terbang dengan mobil itu jam segini belum meluncur."
"Kau mengusirku Laras."
Laras menghela nafas.
"Ya sudah kalau begitu mas ngantor di sini saja. Mengawasiku."
"Tidak. Sepertinya aku harus membayar pengawal untuk menjagamu." Laras terperangah mendengar kalimat Vim.
"Apa?? Pengawal? Pengawal atau mata-mata? Aku tidak mau, aku tidak butuh mereka." Laras menolak tegas.
"Tapi aku butuh mereka untuk mengawasimu."
"Ya Tuhan. Mas aku tidak setuju. Kau tak percaya padaku?!"
" Percaya. Mengapa takut? Takut ketahuan ya?"
Astaga. Jika tidak ada Ririn pastilah Laras telah memukul dada Vim berkali-kali.
"Oke...oke nggak jadi. Sini. Aku sedikit lega sudah mengusir Herdi. Ingat ini peringatan pertama. Jangan menanggapi lelaki lainnya."
"Cemburumu kelewatan."
"Biarin.Jangan ada yang berani mengambil barang berharga milikku, itu saja. Aku berangkat. Oiya berikan aku kiss."
"Haaah?? Ini di toko. Tidak mungkin. Kalau dilihat Ririn gimana?"
Laras mencari Ririn. Temannya itu tidak ada bersama mereka. Barangkali Ririn sedang membeli sarapan di rumah makan seberang jalan.
"Baiklah. Sebagai penyemangat."
Satu kecupan di pipi Vim. Laras menggelengkan kepala di depan Vim sebagai isyarat tidak ada permintaan lagi oleh Vim.
"Lip kiss hanya ada di rumah. Tidak ada mata-mata. Setuju ya mas?"
"Untuk kiss aku setuju. Untuk mata-mata aku pertimbangkan."
"Mas jangan doong." Laras memasang wajah memelas.
"Oke deh nggak jadi."
Aku selalu tidak tega padamu Laras. Bukan maksudku untuk mengekangmu tapi rasa takut kehilanganmu begitu besar.
"Aku berangkat."
"Dari tadi juga mas ngomong berangkat...berangkat tapi masih di sini."
"Iya deh aku benar-benar berangkat. Laras aku kepingin makan tumis tauge seperti rumah di rumah mami."
"Oh mas kangen ya sama tumis tauge? Ya udah nanti aku masakin ya."
"Love you sweet heart."
"Love you too."
Vim pergi dan Ririn datang membawa 2 bungkus sate.
"Laras makan yuuk. Ini buatmu dan ini buatku."
"Pantasan aku mencarimu tidak ada Rin.. rupanya beli sate. Enak juga nih."
"Satenya memang enak. Ayo kita makan."
Mereka menikmati sate ayam.
"Kau tidak pernah sarapan di rumah ya?" Tanya Laras ingin tahu.
"Jarang Ras."
__ADS_1
"Aku sarapan sih tapi cuma susu dan roti saja. Sekarang lapar lagi hahaah."
Laras terbiasa mengikuti pola menu sarapan Vim. Menu roti susu dan telur. Berbeda waktu masih di rumah orang tuanya Laras setiap pagi selalu makan nasi.
"Ngomong-ngomong tadi aku khawatir mereka akan berkelahi."
"Akupun beranggapan begitu Rin. Syukurlah nggak terjadi."
Lalu mengalirlah cerita Laras tentang kejadian kemarin sore saat Vim mencak-mencak mengetahui Herdi mengirimkan Laras sebuah buket bunga.
"Suamimu itu sangat perhatian non."
"Berlebihan. Lihatlah aku nggak punya teman lelaki."
"Sabar Ras."
"Eeehmm kudu sabar memang menghadapi mas Vim. Ee Rin..tadi mas Vim di sini ngapain? Aku belum datang." Laras menunggu jawaban dari Ririn.
"Nggak ada apa-apa tuh Ras."
Laras tak percaya Vim berkunjung ke toko nya pagi-pagi tanpa ada tujuan.
"Yang benar Rin? Aku curiga dia pagi-pagi ada di sini."
"Kau jangan mengatakan padanya ya aku berterus terang padamu."
"Oke janji." Laras mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Vim bertanya padaku berapa kali Herdi datang kemari dan memintaku memberitahunya jika suatu saat Herdi kesini."
"Kan pintar kan dia..semua ingin diketahui."
"Ya nggak apa-apa sih. Kamu kan istrinya."
"Iiiiih Ririn kamu membelanya."
"Bukan membela." Sanggah Ririn.
"Kamu temanku harus membantuku Ririn."
"Tentu saja Laras. Kubantu yang aku bisa."
"Nah gitu dong. Lain waktu Herdi ke sini jangan info ke mas Vim ya."
"Gampang itu maaahh. Ada lagi nggak Ras?"
"Nggak sih nggak ada."
Laras tersenyum Ririn sudah mau membantunya. Bukan berarti Laras akan berbuat macam-
macam dengan Herdi. Laras tak ingin Vim tersulut kemarahan lagi.
"Kamu teman terbaikku Ririn. Terima kasih sudah bantu aku."
"Sama-sama Ras. Aku berhutang budi padamu. Karenamu aku bekerja di sini."
"Sudah nggak apa-apa. Kita harus tolong-menolong kaan?"
Mereka tersenyum bersama.
"Ras teman-teman di grup menanyakanmu. Mereka kehilangan jejakmu katanya."
"Grup mana Rin?"
Mereka keasyikan mengobrol. Pengunjung toko belum ada selain Herdi. Bisa sedikit santai.
"Grup sekolah. Bisa loh
nggak ada yang punya nomormu??" Ririn bertanya heran. Dirinya yang teman dekat Laras saja tak memiliki nomor hp Laras. Nomor hp Laras yang lama tidak bisa dihubungi.
"Maaf Rin aku ganti kartu. Kartu lamaku terselip saat aku melepaskanya dari hp dan hilang deh..Jadi aku ganti kartu."
"Mau ya Ras aku masukkan ke grup sekolah?"
"Boleh Rin. Semuanya lengkap?"
"Sekitar 40 lebih. Kita semua 53 orang."
"Ooo"
Ririn terlihat mengutak-ngatik hp-nya. Laras juga mengamati hp-nya.
"Sudah masuk Rin. Makasih ya."
"Sama-sama. Ardito di Bandung, Mala di Sulawesi sekarang, Diana di sini. Teman-teman mau reuni setelah dua tahun."
"Begitu. Ada yang sudah menikah belum?"
"Ada Wina dan kamu."
"Hehee." Laras terkekeh.
"Lihat perkembangan nanti ya Rin. Semoga aku bisa ke reuni." Harap Laras.
"Semoga."
Obrolan mereka berakhir. Masing-masing mengerjakan tugas. Satu, dua hingga 3 orang pembeli datang membeli. Sandal dan sepatu di toko Laras lumayan laku. Pembelinya sebagian besar usia produktif. Karyawan maupun enterpreuner muda.
🌻🌻🌻🌻🌻
Semangat karena pembaca sudah hadir di karya author receh ini.
Like, comment, fav and gift lagi yaa..juga vote nya. ❤️🌹
__ADS_1