Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 53. Cemburu dan Curiga.


__ADS_3

Sampai malam tiba kekesalan merasuki keduanya. Vim kesal karena Laras mendapatkan kiriman bunga dari seorang lelaki dan Laras kesal sebab Vim menuduhnya berkhianat. Semangat dan keceriaan Laras sewaktu menyiapkan masakan siang tadi sirna begitu saja. Lelah memberikan penjelasan pada Vim. Keduanya saling membisu sekalipun berada di kamar yang sama. Aroma tubuh Vim yang baru saja membasuh diri sama sekali tidak menarik perhatian dan ghairah Laras.


Laras tak beranjak dari spring bed besar setelah satu jam berada di atasnya. Untuk apa melihat wajah Vim yang sedang marah. Wajah yang menarik itu bagi Laras sekarang berubah menjadi monster yang menakutkan. Siap memakan Laras. Laras menutup tubuhnya dengan cover bed. Mengacuhkan Vim dan memilih memainkan ponsel.


Tok..tok..tok..


"Non makan malam sudah siap." Bibi Am memanggil.


"Ya bi sebentar lagi kami ke sana." Balas Vim sesudah membuka daun pintu. Menutup kembali dan melirik Laras dengan ekor matanya.


"Berikan hp mu padaku." Perintahnya kemudian. Dengarlah suara itu masih mengandung bentakan. Laras benci suara besar itu yang sudah lama tidak didengarnya.


"Laras!"


Laras menutup matanya. Sangat takut bila tiba-tiba Vim memukulnya. Dia meletakkan ponsel yang dipegang ke sisi kanan. Hanya tangannya saja yang beraksi. Tubuhnya tetap berbaring membelakangi Vim.


Vim mengambil ponsel milik Laras. Membuka password dan mulai memeriksa isinya. Ia berbuat sesuka hatinya.


"Kau makan duluan Laras."


Ya ampun. Dengan keringat aku bersusah payah menyediakan makan untuk malam ini tapi ia mengabaikan usahaku. Dia bahkan tidak ingin makan denganku.


"Siapa nama lelaki itu Laras?"


Laras enggan menjawab Vim. Hatinya kesal seribu kesal. Memilih diam tidak menanggapi Vim.


"Laras jawab aku." Laras keliru. Vim justru mengejarnya agar memberikan jawaban.


"Namanya Herdi. Nama tantenya Roseli. Waktu itu membeli kado sandal untuk keponaanmya di toko." Laras menguraikan.


"Oh ini ya. Lumayan keren. Masih kalah dengan aku."


Huuuh pasti kau tidak mau kalah dari siapapun Vim.


Laras menanti kata-kata Vim selanjutnya. Dia telah menemukan nomor kontak Herdi di ponsel Laras.


"Ckckck jadi kalian sudah berbincang panjang lebar. Kau menanggapinya Laras." Vim membaca obrolan Laras dan Herdi.


" Sekedar ngobrol biasa. Aku menganggapnya sebagai teman, tidak lebih." Laras membela diri. Kali ini ia dalam posisi duduk di ranjang.


"Kau memberinya peluang."


" Tapi aku menganggapnya teman. Hanya teman." Laras berkeras.


"Kau ini sudah salah tapi ngotot."

__ADS_1


"Salah dimana mas. Itu kan chat biasa."


"Dengar Laras. Tidak ada kejahatan bila tidak ada kesempatan. Kau meladeni obrolannya berarti kau memberi peluang."


"Jadi maksudmu aku_.."


"Kau selingkuh."


"Apa??? Apapun yang mas katakan, aku tidak seperti itu." Laras terisak lagi. Vonis yang menusuk ulu hati Laras.


"Cengeng sekali. Begitu saja nangis." Ejek Vim menambah dongkol hati Laras.


Benar-benar ingin kulempar dirimu dengan bantal.


"Mulai saat ini kau tidak berhubungan dengan dia. Kublokir nomor itu."


Vim meletakkan ponsel Laras di atas bed. Duduk di sofa dengan tatapan yang lekat tertuju pada Laras.


"Aku menyintaimu karena itu aku tidak mau kau didekati oleh siapapun."


"Maafkan aku jika tingkah lakuku salah." Akhirnya Laras berbesar hati mengalah.


"Kau boleh makan sekarang. Pergilah." Guratan kecewa masih terpancar di wajah Vim.


"Aku tidak selera." Jawaban Vim membuat Laras sedih.


"Aku tidak lapar." Laras menarik cover bed lagi menutupi seluruh tubuhnya. Dinginnya AC mulai terasa ke tulang. Ia belum mengisi perutnya dengan makanan sedikitpun sejak siang.


"Makan sebelum aku marah." Ancam Vim kemudian. Laras tak menurut sama sekali. Ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


"Laras. Eeehmm."


Vim meninggalkan Laras. Membiarkan daun pintu tidak tertutup rapat. Laras dirundung lara. Tak menyangka malam ini akan seperti ini jadinya. Keinginannya bermanja-manja dengan Vim malam ini pupus sudah. Sebaliknya berganti debat yang menyakitkan hati.


Vim datang kembali dengan nampan di tangan. Di atas nampan terdapat menu makan malam. Diletakkannya di atas meja. Lalu diambilnya laptop di tempat yang sama.


"Laras makananmu. Saat aku kembali isinya harus tidak ada lagi. Kau dengar Laras?"


"Ya."


Laras bangun dengan malas. Menuruti kata hatinya Laras akan bersikap masa bodoh pada dirinya yang kelaparan. Tetapi ia menghindari kemarahan Vim sehingga memilih makan daripada mereka bertengkar lagi.


Ia menyuap makanan ke dalam mulut meskipun tidak berselera. Suasana hati memang mempengaruhi selera makan. Suasana hati yang tidak baik menyebabkan selera makan menghilang.


Layar laptop lebih menarik bagi Vim daripada berada di samping Laras saat ini. Ia mempelajari konsep dasar yang dikirim Aldi. Menyampaikan arahannya. Wajahnya terlihat serius. Ia selalu bisa menempatkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Konsentrasinya sangat baik.

__ADS_1


Vim yang belum makan dari tadi tak dapat menahan rasa lapar yang menyerang. Cemilan di atas meja tak cukup membuatnya kenyang. Ia menatap toples-toples di depannya. Bukan itu yang diinginkan Vim. Ia pun beranjak ke dapur. Mengamati meja makan. Hampir semua makanan kesukaannya yang berada di atas meja makan. Vim teringat ucapan bibi tadi sore bahwa Laras memasak makanan. Vim menyesal tidak menghargai usaha Laras menyiapkan hidangan untuk malam ini.


Tapi sudahlah sudah terlanjur. Lagipula memang Vim sedang marah sama Laras.


Nasi telah ia letakkan di piring, lalu sayur dan lauk. Mulai menikmati hidangan. Seporsi pun hampir habis. Ia menyendokkan lagi nasi dan tongseng kambing. Semua makanan itu telah dingin tetapi Vim tetap lahap memakannya. Sayang Laras tidak ada, batinnya. Ini semua akibat kemarahannya kepada Laras tapi ia tidak bisa membiarkan orang lain mendekati istrinya. Vim mencegah sebelum Herdi berbuat lebih jauh lagi.


Laras itu masih muda. Lebih banyak polosnya menghadapi kehidupan. Ia hanya tahu berteman dan berteman. Tidak memikirkan orang lain memiliki maksud tertentu.


Vim mendengar suara langkah kaki menuju tempat ia berada. Dengan ekor matanya ia bisa menangkap Laras berjalan membawa baki berisi piring bekas makan. Laras tidak berani menegur. Ia yang biasanya bergelayut manja menggoda Vim tidak berani mengusik Vim kali ini.


Laras menyuci piring bekas makannya. Menjadi kebiasaan di rumahnya dapur dalam keadaan bersih sebelum tidur.


Sebaiknya aku pergi saja. Ia tidak membutuhkanku menemaninya makan. Ia bahkan tidak memanggilku sama sekali.


Laras meninggalkan ruangan itu.


Vim mengusap hidungnya dengan punggung tangan kiri. Laras tidak menyapanya sedikitpun apalagi duduk di hadapannya. Ia beranggapan Laras membencinya. Perduli amat. Diacuhkan tidak apa tapi ia akan sangat menyesal jika Herdi berhasil mengambil hati Laras. Namun itu hanyalah ketakutan Vim. Sesungguhnya cinta Laras hanyalah untuk Vim. Semua kenalan lelaki tidak berarti apa-apa bagi Laras selain pertemanan.


Laras menatap wajah Vim di ponselnya. Wallpaper ponsel adalah pose Vim separoh badan mengenakan jaket. Salahkah ia mengacuhkan Vim?


Bukankah Vim yang dirasuki amarah terlebih dahulu. Yang terbakar api cemburu. Laras berusaha mengoreksi diri. Barangkali memang tidak boleh seorang wanita yang telah menikah berteman dengan seorang lelaki. Tapi bukankah hanya berteman saja tidak apa-apa. Jika Herdi tertarik padanya, itu di luar kemauan Laras.


Malam itu mereka tetap tidur berdampingan walaupun tidak berkata-kata. Laras masih menyimpan rasa kesal pada Vim. Tubuhnya membelakangi Vim.


Begitupun Vim membelakangi Laras. Ego tetap dipertahankan Vim. Ia belum mau memeluk Laras.


Keesokan paginya Laras bangun lebih awal dan mengerjakan rutinitas seperti biasa. Semua tugas ia kerjakan karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Pakaian Vim telah ia letakkan di atas ranjang. Menu sarapan pun tersaji di atas meja siap untuk dilahap.


Laras membenarkan rambutnya. Sengaja ia menunggu Vim di depan kaca rias. Pagi ini ia belum menyapa Vim akibat perdebatan tadi malam. Biasanya ia memeluk tubuh Vim setiap pagi saat bangun tidur tapi kali ini tidak. Rasa marahnya masih ada dan ia berusaha menepis dan menghilangkan rasa itu semampunya. Laras tahu tidak baik lama-lama merajuk dengan sang suami. Bahkan tidak boleh kata orang tua. Mencari rezeki bisa susah. Benar atau tidak petuah tersebut Laras berusaha mengikuti petuah itu. Namun ucapan Vim menuduhnya berselingkuh membuat hatinya sakit.


Vim keluar dari kamar mandi lalu menggunakan pakaian kerja. Laras menghampiri untuk memakaikan dasi. Dua hari ini Vim mengenakan jas kerja lengkap. Laras berjinjit. Vim tidak menolak sama sekali. Dia menatap intens bola mata Laras tepat di kedua manik matanya seolah ingin menggali kejujuran di relung hati Laras yang paling dalam. Laras bersikap biasa saja karena memang ia merasa tidak berbuat kesalahan. Melirik pun Laras tidak berani. Vim menatap tanpa kedip. Hatinya berdesir memperhatikan Laras sedari tadi. Selesai. Dasi telah terpasang rapi.


"Tunggu." Vim menahan Laras.


"Sekali ini aku percaya padamu dan jangan goyahkan kepercayaan ku karena aku mencintaimu Laras."


Sontak air mata Laras berjatuhan turun. Luruh seketika kekesalannya. Vim akhirnya bicara dengan nada yang baik, tidak membentak Laras. Ia tak mampu lagi menahan rasa yang menekan hatinya selama 14 jam ini. Beban itu akhirnya terlepas begitu saja mendengar penuturan Vim. Ia tidak kuat untuk tidak di rengkuh oleh Vim. Hanya bahu Vim tempat Laras bersandar pengganti orang tuanya.


"Aku tidak berniat berpaling darimu. Maafkan aku telah berbuat kesalahan hiiiks."


Vim memeluk Laras sangat lembut meskipun hatinya belum begitu tenang. Tidak ingin menimbulkan rasa sakit sedikit pun di tubuh Laras akibat pelukannya. Vim mencoba meyakinkan hatinya mungkin Herdilah yang berusaha mengenal Laras dan mendekati istrinya bukan sebaliknya.


💕💕💕


Like, comment,gift & vote.🌹

__ADS_1


__ADS_2