
Pagi sekali Vim bangun dari tidur. Tak lama Laras pun bangun.
"Aku siapkan air hangat dan kau mandi." Ucap Vim. Mereka berada di rumah mereka.
"Sudah Laras."
"Makasih mas."
Laras tidak bersemangat. Wajah Laras terlihat sedih. Sebentar lagi Vim akan berangkat. Hatinya mulai hampa. Dia berdiam diri di tempatnya. Laras tak menyangka Vim mengangkat tubuhnya.
"Katamu kau akan mengantarku ke bandara dan kau masih berdiam diri di sini. Mandi dan jangan bersedih."
Vim menurunkan Laras dengan hati-hati di kamar mandi.
"Apa yang kau tunggu?" Tanya Vim. Laras diam mematung.
"Apa yang mas lakukan di sini?" Laras gantian bertanya.
"Aku..aku akan keluar. Cepat mandi atau aku tidak jadi berangkat dan usahaku menurun." Ancam Vim. Hal itu tidak diinginkan Laras. Relakan Vim berangkat demi mencari nafkah. Laras segera masuk ke dalam bathtub setelah melepas pakaian tidur dan Vim menutup pintu kamar mandi sembari tersenyum tipis.
"Sudah belum Ras. Aku sudah selesai." Panggil Vim.
"Iya mas. Aku mencari sepatu."
"Gunakan yang flat!" Seru Vim. Laras sedang berada di ruangan tempat sepatunya berada.
"Mana tasmu?"
"Di sana mas. Biar kubawa sendiri." Laras menunjuk tas di samping nakas.
"Aku saja yang bawa."
Perjalanan menuju bandara tidak memakan banyak waktu. Laras melepas Vim ditemani oleh pak Uun sopir mereka.
"Segera antar Laras ke rumah ibu ya pak." permintaan Vim pada pak Uun.
"Baik den."
Vim telah berangkat. Laras baru saja mengantarkan Vim ke bandara. Dia melangkah lesu. Baru berapa menit berlalu dirinya merasa kehilangan Vim.
Dua jam sejak kepergian Vim belum ada panggilan masuk dari Vim. Laras menunggu. Ponsel tergeletak di sampingnya. Dengan sengaja ia membiarkan ponselnya itu.
Laras lebih banyak berdiam diri di dalam kamar. Ditemani benang rajut dan sebuah televisi. Tangannya terampil merajut sementara televisi dibiarkan hidup agar tidak sepi. Ia akan berhenti jika tangannya terasa pegal.
Sebuah panggilan video dari ponsel Laras berbunyi. Secepat kilat ia meraih ponselnya.
"Halo sayang." Vim memperlihatkan wajahnya.
"Halo juga sayang! Lagi di hotel ya. Syukurlah sudah di hotel." Laras sangat girang.
"Kau sedang apa. Aku kangen!" Seru Vim.
"Aku merajut. Lihat ini!" Laras menunjukkan untaian benang di tangan yang terkait satu sama lain membentuk rangkaian panjang.
"Kau sudah makan sayang?" Vim selalu menanyakan itu ketika berjauhan.
"Sudah sejak tadi. Mas sudah makan belum?"
"Kami akan makan malam tapi aku teringat padamu. Jadi aku menghubungimu."
"Kenapa baru meneleponku? Aku menunggu dari siang." Laras memasang wajah manyun.
"Sayang maafkan aku. Jangan sedih."
"Tentu saja tidak."
"Kami berada di sini. Sekaligus makan malam." Vim mengarahkan ponselnya ke sekeliling. Lampu-lampu yang terlihat dari ketinggian sangat menarik.
"Bagus sekali mas."
"Kau mau ke sini?"
"Bukankah kemarin aku ingin ikut dan mas melarangku?"
"Ahahaha..ya ya. Lain waktu kau boleh ke sini." Hibur Vim.
__ADS_1
"Mas apa tidur sendiri di hotel?"
"Iya dong. Memangnya kenapa?"
"Nggak ada makhluk cantik lain kaan di sebelahmu?"
"Laras stop. Aku sendiri. Tidak juga sama Joel. Kami tidur terpisah."
"Oya baguslah."
"Makanan kami tiba." Kata Vim.
Terdengar suara pelayan mengucapkan selamat makan.
"Oh selamat makan mas. Tidur yang nyenyak ya." Pesan Laras dan panggilan video berakhir.
Hati Laras menjadi tenang. Ia beralih ke atas pembaringan. Menarik selimut dan memejamkan mata tepatnya berusaha memejamkan mata sebab pikirannya masih terbelenggu oleh bayangan Vim.
Bayangan wajah Vim memenuhi seluruh pikirannya malam ini. Baru saja satu malam Vim pergi. Bagaimana besok? Apakah Vim memikirkannya juga?
Laras membuka mata. Tepat pukul dua belas malam. Dirinya ingin menghubungi Vim. Ah tentu mengganggu istirahat Vim malam ini. Akhirnya Laras hanya memandangi poto diri Vim dari ponsel.
Triiit..triiit.
Notifikasi berbunyi. Laras membuka ponsel. Ia terbelalak senang.
'Loh belum tidur Ras?' Pertanyaan tersebut ditulis oleh Vim. Laras menjawab dengan senang hati.
'Aku terbangun. Mas belum tidur?'
Laras balik bertanya.
'Aku tidak bisa mengalihkanmu dari anganku. Mengapa kau menggangguku hm?'
'Tidurku tidak pulas. Apakah karena mas memikirkanku?'
'Nah siapa yang memikirkanmu?"
'Laah tadi mas ngomong begitu.'
'Sekitar jam satu aku terbangun' Vim jujur.
"Jam dua belas aku terbangun.' Aku Laras.
'Waaah barengan.' Vim mengirim pesan lagi. Selisih satu jam antara Singapore dan kota mereka.
'Iya mas. Sekarang tidurlah. Besok mas ada acara kan?'
'Benar tapi bukan pagi sekali.'
'Kalau begitu aku tidur ya. Selamat malam sayang.' Tulis Laras menyudahi obrolan mereka di media perpesanan.Vim harus istirahat.
'Tidurlah. Kau harus istirahat.'
"Mas juga ya. Selamat tidur."
'Ya. Katakan pada baby aku rindu padanya.'
"Baik. Sudah ya.'
Dinihari Laras memejamkan mata lagi. Ia paksa netranya agar terpejam dan Lena dalam tidur. Segera menjelang pagi agar Vim cepat kembali.
...*****...
Ruangan itu tertutup dan dihiasi wajah-wajah serius perwakilan setiap perusahaan. Vim mewakili pak Dewantara-papinya dan Joel sang sekretaris mengagendakan semua hal yang dimajukan pada pertemuan rapat.
Seharusnya papi bisa saja meminta Viky-abang Vim- untuk mewakili beliau tapi entah mengapa Vim yang diminta untuk berangkat ke sana.
Hampir sore pertemuan baru berakhir. Vim dan Joel kembali untuk beristirahat. Pertemuan panjang melelahkan tetapi Vim bersyukur pekerjaan usai lebih cepat.
Joel berada di kamar Vim. Menunggu perintah selanjutnya dari bosnya itu. Ia pun belum ingin kembali ke kamarnya. Menanti jika Vim membutuhan dirinya untuk berbuat sesuatu atau mencarikan sesuatu.
"Joel..kita keluar cari pesanan Laras." Ajak Vim.
"Sekarang tuan? Tanggung waktunya tuan dan saya belum mandi."
__ADS_1
"Aah kau pergilah mandi. Aku tunggu. Sepuluh menit selesai." Titah Vim.
Busyet. Joel terlonjak dan mengambil laptop di atas meja. Bosnya ini semaunya sendiri saja
"Mohon waktu sepuluh menit lebih sedikit tuan." Pinta Joel.
"Cepat atau kau mencariku tanpa menghubungi."
"Baiklah tuan. Jangan berjalan sendiri. Jika terjadi sesuatu pada tuan apa yang harus saya katakan pada ibu."
"Itu urusanmu."
"Kasihani saya tuan."
"Ya sudah Joel. Mandi sana. Ngomong melulu."
"Iya tuan. Jangan pergi dulu. Di luar sana banyak makhluk cantik akan tertarik pada anda. Saya siap mengawal tuan."
Vim melotot. Joel segera berlalu sebelum bosnya itu berteriak memanggil namanya karena kesal.
Vim menelpon Laras.
"Sayang kau tidak menginginkan barang lain selain coklat??" Tanya Vim.
'........'
"Baiklah. Apa kau meminum susu pagi ini?"
'........'
"Bye."
Vim dan Joel berjalan menyusuri pusat perbelanjaan yang ramai. Vim tak terlalu berminat. Yang ada di pikirannya hanyalah Laras dan Laras.
"Tuan mau beli apa?" Tanya Joel. Sedari tadi ia memperhatikan Vim berjalan tanpa memberikan perhatian pada barang-barang mahal di setiap etalase toko padahal mereka sedang berada di pusat belanja. Vim bukan tidak punya uang. Joel sangat tahu itu tapi ia heran tuannya itu tidak bersemangat melihat barang-barang branded yang banyak dipajang di sana.
Vim berhenti melangkah diikuti oleh Joel. Di salah satu toko mereka berhenti. Sebuah sepatu olahraga menarik perhatian Vim. Akhirnya mereka membeli barang sesuai selera masing-masing.
"Aku tunggu di sini. Kau pergilah membeli coklat." Kata Vim ketika mereka telah berada di luar toko.
"Coklat saja tuan? Merk-nya?"
"Coklat yang paling enak
Tanyakan pada penjual."
"Baiklah tuan."
Joel segera mencari dan membeli. Beberapa coklat siap makan telah di tangan. Siap mereka bawa pulang.
"Joel kita pulang besok. Carilah tiket." Ujar Vim
"Bukan lusa tuan?"
"Bukan. Pekerjaan selesai hari ini. Lebih cepat dari perkiraan. Kita bisa pulang besok."
"Tapi tuan.." Joel masih ingin berwisata di sana. Sayang sekali Vim tidak berminat. Vim memilih pulang lebih cepat. Rasa rindunya meluap pada Laras. Ia ingin segera menemui Laras dan terutama melihat Laras baik-baik saja dengan bayi mereka.
"Joel kau mau kuberi bonus atau gajimu kupotong?"
"Kita pulang besok tuan. Setuju." Joel menjawab cepat.
"Berikan aku rekeningmu."
Wajah Joel berubah cerah. Senang mendapatkan bonus dari Vim.
"Baik tuan. Segera dikirim."
"Nanti saja saat di hotel."
Joel mengikuti langkah Vim. Malam belum terlalu larut. Vim menghubungi Laras lagi. Melepaskan rasa rindu yang tertahan. Sabar. Besok ia telah kembali dan menemui kekasihnya itu.
>>>>>
Readers.. makasih semua yang selalu mampir dan tetap mampir.
__ADS_1
Terima kasih banyak..jangan lupa like, komen, gift, vote atau bintang lima. ❤️🌹