Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 41. Rendezvous ??


__ADS_3

Ooopss.


Vim menahan tubuh kecil yang menabrak bagian depan pahanya sebelum anak tersebut jatuh. Memegang erat kedua bahu mungil tersebut. Anak ini membuatnya terkejut. Si anak juga menampakkan wajah terkejut.


"Kamu di sini??? Mamamu di mana??" Vim bertanya heran. Melepaskan tangannya di bahu mungil itu.


"Mama di sana oom."


"Kamu jangan berjalan sendiri. Mengerti? Tunggu mamamu ya."


Anak itu menggelengkan kepala.


"Aku mau ke situ oom. Nanti mama yang bayar." Ujarnya lagi dengan ucapan kalimat bercampur cadel.


"Oke tapi dengan mamamu ya. Kamu ganteng sekali. Pasti papamu juga ganteng. Boleh om tahu siapa nama papamu?" Vim melupakan sejenak niatnya mengambil mobil.


"Papa Rony om."


"Apa???" Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Vim. Aurora dan Rony?


"Oh tidak. Mungkin om mengenalnya atau mungkin bukan." Vim berbicara seperti untuk dirinya sendiri. Memijit pelan pelipisnya.


Mengapa harus nama Rony lagi yang disebut?


"Aku mau ke sana om." Anak kecil itu hendak berlari meninggalkan Vim sendirian jika saja suara mamanya tidak terdengar memanggil namanya.


"Rafli!! Sayang kamu ke mana saja nak!" Aurora datang menghampiri tergesa-gesa. Mengusap wajah anaknya. kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya.


"Kau Vim..?"


"Tidak sengaja kami bertabrakan di sini. Kau ceroboh sekali Aurora, membiarkan Rafli berkeliaran di sini. Meskipun sepi bukan berarti tidak ada kejahatan."


"Dia lari dariku. Aku sedang memilih sesuatu. Terimakasih Vim karena mengingatkan."


"Pegang Rafli selalu. Pantas sekali wajahnya mirip Rony."


"Ya lelaki itu Rony. Apa kau tidak tahu selama ini? Tidak bisakah kita berbicara sebentar Vim." Aurora memberikan penawaran. Matanya memandang Vim penuh harap. Barangkali terbuka kesempatan kedua untuknya.


"Aku tidak mau tahu dengan siapa kau pergi. Yang kutahu kau meninggalkanku, itu saja cukup bagiku untuk melupakanmu. Sekarang kau datang lagi Aurora, tapi aku tidak punya waktu untukmu. Laras menungguku."


Vim baru akan melanjutkan langkah yang tertunda. Meninggalkan Aurora dan anak lelakinya. Semakin lama berdiri disitu hanya akan membuat rasa kasihannya naik kepermukaan. Itu membuatnya menjadi lemah.


Namun di depan sana tidak terlalu jauh dari Vim berdiri, Laras terpaku di tempat memandang Vim. Wajahnya menyiratkan tanda tanya dan hatinya tertoreh luka. Sedang apa sang suami dengan wanita itu. Di belakang Laras terlihat Edo berjalan maju. Sama seperti Laras melangkah maju ke arah Vim.


"Tunggu Laras. Dari mana kalian?"

__ADS_1


Vim menaruh kecurigaan. Rasa cemburu mulai membakar hatinya.


"Justru aku mau bertanya, mas sedang apa di sini? Rendezvous?? Bukankah tadi mas bilang menemui rekan kerja? Jadi ini rekan kerja mas?" Suara Laras mulai bergetar tanda menahan rasa amarah dan cemburu melihat Vim berbincang dengan Aurora. Hatinya sakit melihat penampakan di depan matanya. Andai saja air mata itu tidak ditahannya barangkali sudah berpacu membasahi pipinya yang halus . Mata Laras memendam kecewa. Benar kata orang mata adalah cerminan hati. Terpancar di mata saat seseorang terluka atau dalam keadaan marah.


"Sorry bro, Laras bersikeras membeli oleh-oleh sendiri. Aku hanya mengantarkan dan mengawasi. Bawa Laras dari sini."


Edo berkata setelah berada di samping Vim. Berdiri dengan arah yang berlawanan dengan Vim. Kata-katanya cukup menjawab pertanyaan yang bercokol di benak Vim. Edo pun tak sanggup melihat Laras bersedih begitu. Kemudian berlalu berjalan menapaki bukit untuk menghampiri Dion dan Anggia.


"Pertemuan dengan rekan telah usai. Tidak sengaja bertemu mereka di sini."


"Silahkan lanjutkan. Aku kembali ke atas."


"Tetap denganku Laras. Kita akan mengambil mobil dan pulang." Cegah Vim. Tangan Laras berada dalam genggaman Vim dan langkah Laras tertahan. Air mata masih tertahan namun siap membobol pertahanan Laras.


"Buku itu telah ditutup kisahnya. Dibungkus dengan sangat rapi dan tidak ada celah sedikitpun yang menembusi buku untuk bisa mengintip kembali ceritanya karena si pemilik sudah memiliki babak baru. Kuharap cerita kalian seperti itu." Laras berusaha tegar berkata seperti itu.


"Tentu Laras. Ayo kita pulang."


Vim menuntun Laras menuruni bukit. Tak ingin Laras bertambah sedih. Mereka bungkam tanpa sepatah kata pun hingga tiba di rumah.


"Besok kita pulang." Nada kesal masih terdengar pada suara Laras. Sulit baginya menutup perasaan di saat marah. Langsung menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air.


"Kita memang pulang besok. Jangan marah padaku. Laras!" Vim memukul pintu. Tidak menyangka bertemu Laras di pusat belanja buah tangan. Laras terpaksa melihat lagi Aurora. Itu sama saja membuat hatinya sakit. Vim paham tapi ia tidak bisa menghindar. Toh itu bukan kemauannya. Lebih sakit lagi menghadapi Laras yang marah padanya.


Ditunggunya Laras hingga satu jam tidak jua menampakkan diri. Laras menyiram diri di bawah shower. Sendiri meratapi diri.


Di dalam sana air mata Laras mengalir deras. Menumpahkan kekesalan dan kesedihan. Jangan lukai aku terus ucapnya lirih disusul sesegukan. Bahunya terguncang hebat. Mungkinkah Vim bohong padanya atau Laras yang terlalu curiga. Benarkah mereka tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Pertanyaan-


pertanyaan bermain di benak Laras.


"Laras sudah mandinya sayang. Buka pintunya Laras. Laras..." Kali ini Vim tidak berteriak. Suaranya mulai melemah. Lirih tanpa kekuatan.


"Baik. Jika itu melegakanmu lakukanlah tapi ingat aku tidak pernah berjanjian dengan Aurora untuk bertemu!" Vim meninggalkan Laras di ruangan sendirian. Mengusap hidungnya dan menutup pintu kamar. Sementara membiarkan Laras sendirian dengan pikirannya. Semoga Laras berpikiran jernih batinnya.


"Makan malam sudah tersedia den." Bibi menyapa Vim secara halus dan sopan. Tuannya ini sedang melamun di ruangan santai sendirian. Wajahnya keruh ibarat air yang tidak dikuras dalam waktu yang lama.


"Nanti saja bi. Tolong antarkan makanan ke kamar untuk Laras. Saya tidak usah."


"Baik den."


Dan Vim tidak sedikitpun berselera untuk makan. Nafsu makannya menguap. Yang ia butuhkan saat ini adalah kehadiran Laras di hadapannya. Belaian dan ucapan lembut dari Laras dan senyum tulusnya yang bisa menghilangkan gusar di hati Vim. Kenyataannya sang penghibur hati dirundung lara. Mempertahankan ego tak ingin didekati. Vim mendesah berat. Kesedihan Laras adalah kegagalan Vim. Kegagalan kecil membuat Laras bahagia.


Vim mengenakan baju tebalnya.


"Periksa semua pintu dan jendela Pak. Saya ke sebelah." Titahnya kepada Pak Uun kemudian.

__ADS_1


"Baik den."


Vim keluar membawa diri ke bungalow Edo. Di sana ia akan memejamkan mata, andai bisa. Menjaga jarak terhadap Laras sesaat agar emosinya tidak meledak-ledak karena Laras mengacuhkannya.


Edo terkekeh kecil saat membukakan pintu untuk Vim.


"Memangnya enak ya? Akhirnya mengungsi juga kau."


"Kau tidak memberitahuku Laras ada di situ siang tadi. Dia mengunci diri di kamar mandi dan mengacuhkanku."


"Itulah kalau punya mantan jangan dipelihara. Rasain!"


Vim tidak marah sedikitpun mendengar ucapan Edo. Sudah sangat hafal dengan kata-kata Edo yang memang sering terdengar mengejek.


"Pelihara? Huuhh..tidak dipelihara saja bikin pusing apalagi dipelihara. Aku mau tidur."


"Ini bantalmu. Tidak ada selimut."


"Tidak perlu selimut."


Vim memejamkan mata walaupun pikirannya sedang melanglang buana karena memikirkan Laras. Sebentar kemudian membalikkan tubuhnya ke kanan. Tidak berapa lama kembali lagi menghadap ke kiri. Kegusaran itu terbaca oleh Edo yang belum tidur. Bahasa tubuh yang tidak pernah berbohong. Kegelisahan tidak bisa ditutupi hanya dengan memejamkan mata. Vim tidak bisa tenang.


"Tidurlah. Mimpikan bidadarimu itu sepanjang malam sampai pagi."


"Berisik. Diam kau Ed." Sanggah Vim.


"Heheh. Taruhan esok ia mencarimu atau tidak?"


"Tentu saja. Ia pasti kehilanganku. Bangun tidur dan aku tidak berada di sampingnya."


"Bagaimana jika ia tiba-tiba memutuskan pulang sendiri tanpa sepengetahuanmu?"


"Tidak akan. Dia tidak akan pernah marah terlalu lama denganku sebab itulah aku terlalu mencintainya."


"Karena itu juga kau memanfaatkan hal itu."


"Maksudmu?? Itu menurutmu. Bagiku semua yang kulakukan tidak keluar dari jalur. Yah apa adanya. Hatiku masih untuk Laras dan tetap untuk Laras. Tidak ada wanita lain."


"Godaan itu bisa saja datang bro dan mungkin kau bisa saja tergelincir suatu waktu. Salah langkah." Edo tidak mau kalah dalam menanggapi Vim. Sahabatnya ini terlalu percaya diri.


"Sebelum aku tergelincir ke luar dari jalur, kau harus mengingatkanku. Itu gunanya sahabat. Selamat malam."


"Selamat malam."


Lantas kesunyian malam menemani malam mereka. Suara burung hantu sesekali memecah keheningan. Di luar gelap dan pekat. Dinginnya menusuk tulang. Terlihat Vim meringkuk pulas di sebelah Edo.

__ADS_1


🌵🌵🌵🌵


Jangan lupa like & comment nya. Terima kasih..🌷🌷🌷


__ADS_2