Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 50. Kenalan Baru.


__ADS_3

Tidak selalu bahtera rumah tangga berlayar di lautan yang tenang. Riak gelombang terkadang hadir menguji pengawaknya yaitu suami dan istri. Bahkan gelombang besar bisa menerjang kapan saja untuk menguji kekuatan cinta.✍️


Yuuuk ikuti kisah Laras dan Vim selanjutnya.


Selamat membaca...


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Pagi yang cerah...


Ririn membuka toko dan membenahi beberapa perabotan yang perlu ia rapikan. Mengelap kaca dan menyapu lantai. Ia jalani dengan senang hati meskipun hampir semua pekerjaan ia tangani. Dari menyapu , merapikan barang dagangan dan melayani pembeli. Pukul delapan lewat Laras datang dengan menenteng sebuah kotak.


"Pagi Ras."


"Pagi Rin. Eh sarapan yok, ini aku bawa roti. Ambillah."


"Makasih Laras. Aku selesaikan ini dulu."


"Kau mau yang mana. Pilih saja." Ujar Laras setelah Ririn duduk.


"Mau keju atasnya atau mau yang abon?"


"Rasa apa saja Ras. Asalkan rasa hatimu padaku selalu baik."


"Haha iya..iya."


" Rin kamu sudah punya pacar?"


"Kami putus sejak aku nggak kuliah lagi. Aku yang mutusin."


"Loooh kok diputusin. Dia masih suka?"


"Entahlah aku mulai ragu sejak dua minggu ia tak menampakkan diri dan menghubungiku. Ku telpon dan sudahi semuanya. Ini lebih baik Ras."


"Semoga mendapatkan ganti yang lebih baik nantinya."


"Aamiin. Kamu beruntung Laras punya suami yang sukses. Selamat ya, semoga cepat dapat bayi mungil."


"Aamiin. Aku pun nggak menyangka Rin.Tadinya kukira Vano yang akan mengisi hidupku tapi Tuhan memberikan Vim padaku. Vano sudah nggak ada."


"Kulihat dia sayang padamu. Aduuuh tatapannya padamu itu loh, tak kuat."


"Bisa aja sih."Laras mendorong bahu Ririn pelan.


"Ganteng, baik dan dompetnya tebal.Wuuiiih carikan aku satu Laras."


"Hahahaha..serius nih?"


Ririn mengangguk sembari tertawa. Dia hanya bercanda.


"Laras mana ada lelaki dari keluarga berada yang mau denganku. Lihatlah pacarku saja meninggalkanku." Ririn pesimis.


Menghabiskan roti terakhir tangan.


"Hei Rin. Memangnya aku siapa


Lihat ayah ibuku, bahkan menyekolahkanku saja tidak mampu. Percayalah ada Tuhan yang menentukan jalan hidup kita. Berdoa Rin."


"Iya Laras. Do'akan aku ya Ras."


"Tentu. Duduklah disini. Aku mengerjakan tugas di sana ya."


Laras memberikan petunjuk apa saja yang harus diisi Ririn di file yang ada di komputer. Menyangkut data barang yang diterima dan dijual.


Ririn mengangguk tetapi kemudian pamit ke belakang. Laras menanti Ririn.


"Permisi." Suara seorang lelaki menyapa Laras.


"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu. Anda mencari sesuatu?"


"Saya ke sini setelah melihat iklan di media sosial. Mencari sandal untuk remaja putri."


"Silahkan dilihat dan dipilih tuan. Banyak model di sini. Yang ini mungkin tuan berkenan."


Laras mengambil sepasang sandal berhak sedang dan menunjukkan kepada calon pembeli. Lelaki muda seumuran dengan Vim.


Ririn telah berada kembali di tempatnya. Karena Laras telah melayani pembeli, ia hanya menunggu di tempatnya.

__ADS_1


"Ini boleh juga. Berapa harganya."


"Ini harganya tuan." Laras menunjukkan banderol harga.


"Tolong bungkus ya. Bisa dibungkus kado nggak?"


"Bisa tuan. Kami akan menyiapkan sandal ini untuk dibungkus."


"Baiklah tolong bungkus dan beri pita ya."


"Baik. Silahkan pilih kertas kadonya tuan." Kata Laras lagi.


"Tolong pilihkan. Perempuan biasanya lebih pintar urusan kado. Ini adalah hadiah buat ponaan saya."


"Oh baiklah. Saya pilihkan kertas kadonya tuan."


Akhirnya Laras memilih sebuah kertas kado untuk membungkus sandal tadi dan mengambil sebuah pita yang telah dibentuk menjadi bunga. Menyerahkan barang tersebut kepada Ririn.


"Ririn tolong dibungkus ya."


"Baik Laras."


Ririn mencari kotak dan membungkus sesuai arahan Laras.


"Bolehkah saya minta nomor telepon anda? Suatu saat saya memesan sesuatu lewat anda saja."


"Boleh tuan. Ini kartu nama saya."


"Terima kasih."


Lumayan buat langganan toko, batin Laras. Selesai dibungkus Laras memberikan barang tadi kepada pembelinya. Sang pembeli tersenyum puas.


"Terima kasih tuan sudah membeli dagangan kami. Semoga suka."


"Sama-sama. Jangan formal begitu. Panggil saja saya Herdi."


"Baik. Terima kasih. Salam kenal Herdi."


"Ya. Saya permisi."


Laras kembali menekuni tugasnya hingga selesai. Pembeli yang datang sekedar melihat atau berniat membeli dilayani Ririn dengan ramah.


Ririn mengambil kain yang ditunjuk oleh Laras. Laras menyebutkan jumlah harga dan Ririn yang akan membuatkan nota.


Sebuah pesanan dengan harga yang lumayan. Karena motif kain panjang dilukis dengan tangan harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang dicetak menggunakan alat.


"Ririn motor milik toko bisa kamu pakai setiap hari. Pakai saja pulang dan pergi toko."


"Dengan senang hati Laras."


"Eh iya Rin kalau hari libur toko kita tutup. Kita istirahat."


"Baiklah sayangku."


"Kapan kamu main ke rumah ku?"


"Kapan ya? Sebaiknya kapan? Aku terserah pemilik rumah saja soalnya takut mengganggu."


"Nggak ah Rin. Pintu rumahku terbuka untuk tamu setiap saat."


Ririn berpikir memilih hari. Ingin mengetahui kediaman Laras juga.


"Gini saja. Hari ini mampir sebentar ya. Biar tahu saja letak rumahku." Akhirnya Laras yang menentukan.


"Oke deh. Ikut aja akunya."


"Siiiip."


Gembira mendengar ucapan Laras, Ririn menerima kunci motor.


Mereka berdua memantau ponsel masing-masing. Pekerjaan yang santai.


Laras menangkap sebuah nama di layar hp. Nama pembeli tadi pagi.


Si pemuda yang mencari kado buat sang ponaan.Herdi.


'Terima kasih atas pilihan sandalnya, ponakanku sangat suka.' Katanya dari jarak jauh. Entah dari mana dia menuliskan pesan untuk Laras.

__ADS_1


'Sama-sama. Lain kesempatan pesan lagi ya. Kain boleh loh buat acara spesial.' Balas Laras.


'Mau buat acara spesial tapi belum ada calon.'


'Semoga cepat ketemu calon ya. Calon apa nih?"


'Calon istri.'


'Owh. Oke Herdi sampai di sini dulu ya.'


'Oke. Jumpa lagi.'


Eeehmm dia tadi tidak kukenalkan dengan Ririn. Siapa tahu berjodoh.


Pintu toko telah ditutup. Laras dan Ririn bersiap-siap pulang. Laras menaiki motornya dan Ririn menaiki motor inventaris toko. Sebenarnya motor milik Vim juga, hanya saja Laras meminta izin pada Vim agar dibolehkan menggunakan motor itu untuk keperluan toko Laras. Mereka menuju ke rumah Laras.


Ririn takjub melihat rumah besar itu.


"Bagus banget rumah kalian Laras."


"Hasil kerja keras mas Vim, Rin. Aku cuma numpang ajah."


"Kan milikmu juga akhirnya. Milik berdua. Syukurlah Laras. Semoga kalian berbahagia selamanya."


"Makasih. Minum airnya dan ini ice cream."


"Ibu sehat Rin?"


"Iya sehat. Ibu menerima katering kecil-kecilan. Setiap hari ada tetangga yang bantu masak namanya mbak Ina. Anak-anak kos di depan rumah katering sama Ibu."


"Syukurlah kalau gitu."


"Ras aku nggak lama-lama. Sudah sore. Kamu harus bersiap menyambut Vim kan."


"Gampang kalau itu. Aku nggak mandi pun Vim masih mau cium kok."


"Hahahaha. Ya iyalah istrinya cantik begini. Udahan ya aku pulang dulu."


Mereka cium pipi kiri dan kanan masing-masing berpisah untuk besok bertemu lagi.


...🌺🌺🌺...


Keesokan paginya..


"Jas lengkap Laras. Aku pertemuan hari ini."


"Baik mas."


Laras mengambil pakaian yang disebut Vim lalu turun ke dapur menyiapkan sarapan. Vim tidak akan makan nasi saat pagi hari. Memudahkan Laras menyediakan sarapan setiap harinya. Roti, selai ataupun telur sebagai temannya si roti.


Vim menyium kening Laras. Lembut dan hati-hati.


"Kutitipkan hatiku padamu."


Laras membalas dengan mengecup bibir Vim sekilas.


"Cepat sekali." Vim protes.


"Malu dilihat bibi."


"Bibi nggak ke sini. Lagi kiss nya."


"Yeeeey. Sudah ah. Ntar macet mas terlambat pertemuan."


"Ya sudah aku berangkat."


Suatu masa sebelum berangkat ke luar kota seorang teman bisnis menawarkan sebuah proyek iklan besar produk bermutu kepada Dion. Dion yang semula tidak menaruh perhatian pada tawaran sang teman akhirnya menyetujui usulan koleganya itu. Dia mengajak Vim dalam proyek tersebut hingga terbentuklah Vion Advertising. Untuk seterusnya Vim mengajukan sebuah nama Aldi sebagai pelaksana di lapangan yang akan mengajukan konsep awal. Dari pihak Dion mengirimkan Aurora yang akan membuat konsep iklan dan seterusnya petinggi perusahaan yang akan menentukan konsep mana yang akan diterima.


Vim sudah sangat rapi dalam balutan jas kerjanya. Ia tidak terlalu suka mengenakan jas kecuali menghadiri pertemuan bisnis dan rapat. Lebih senang mengenakan kemeja kerja setiap hari. Di ruang kerjanya tersimpan dalam lemari beberapa jas yang siap dipakai jika ia membutuhkannya saat di kantor.


"Pagi Tuan. Pertemuan pukul sepuluh lima belas menit."


"Pagi. Baik Joel."


Vim berusaha profesional. Menempatkan semua pada urusan bisnis semata. Jikalau bertemu dengan Aurora tidak lebih dari urusan kerja. Itu menjadi tekadnya. Baginya cukup Laras memberikan kepuasan meskipun wanita-wanita cantik terpampang di depan mata siap memberikan hiburan sesaat nan memabukkan.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


Lanjut di episode berikutnya...


Jangan lupa tinggalkan jejak di sini.


__ADS_2