Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 6. Ke luar kota berdua.


__ADS_3

Tiga bulan sejak kepergian Vano, Laras akhirnya bisa menata hatinya kembali, menjadi pribadi yang lebih ikhlas menerima semua yang telah digariskan Tuhan.


Laras sudah mulai menginjakkan kaki di rumah Ibu Maharani untuk kembali membantu Ibu Maharani. Sesekali Vano terasa hadir di pelupuk mata setiap Laras melewati bagian-bagian rumah itu.


Dimulai pagi itu Laras mengerja-


kan tugas-tugas sampai hari hampir sore. Kesibukan bisa membuat Laras melupakan


kesedihan di hati.


Kamar tidur Vano tidak pernah berkunci. Tadi Laras masuk ke kamar Vano dan meletakkan sketsa diri Vano yang pernah dibuat oleh Laras. Meletakkannya di meja kerja Vano dan membiar-


kan sketsa itu tidak tertutup kain putih seperti perabotan lainnya.


"Istirahatlah dengan tenang, doaku selalu menyertaimu."


Laras mengusap sketsa itu dan


meninggalkannya di sana.


"Kau sudah kembali ke sini?"


Sebuah suara membuat Laras menoleh dan itu adalah suara Vim.


"Yah. Ada yang bisa kubantu?"


Laras balik bertanya. Menelisik mata Vim yang kali ini terlihat bersahabat. Bersahabat atau tidak Laras sudah meminta pada Ibu Maharani agar Laras diboleh-


kan pulang saja setiap hari, lalu keesokan hari Laras akan membantu bekerja di rumah itu kembali. Tidak lagi dua puluh empat jam berada di rumah itu.


Bagaimanapun Laras harus pelan-pelan merelakan dan melupakan Vano. Walaupun tidak seluruhnya bisa dilupakan tapi Laras harus agar ia bisa melangkah untuk masa depannya kelak seperti keinginan orang tua


nya. Dengan berkurangnya waktu Laras di rumah itu sedikit demi sedikit bisa mengalihkan sebagian ingatan Laras akan Vano.


Ibu Maharani menyayangi Laras seperti anaknya sendiri, apalagi ketiadaan Vim si anak bungsu membuat Ibu Maharani benar-


benar sayang sama Laras.


"Tidak ada. Aku hanya menyapamu saja."


"Vim mami minta bantuanmu Vim. Bisa Vim?"


"Bantu apa mi? Akan kubantu jika bisa dibantu."


Ibu Maharani hadir di antara Vim dan Vano.


"Tolong antarkan kain-kain ini ke rumah Ibu Rara . Sebenarnya dibutuhkan hari ini, oleh karena itu barang ini ditunggu oleh beliau dan terpaksa dikirim hari ini juga.


Besok akan digunakan oleh pemesannya."


"Boleh mi. Jam empat berangkat dan jam lima atau jam enam tiba di sana. Semoga tidak macet."


"Ya bersiaplah. Jangan lupa periksa dulu kendaraanmu."

__ADS_1


"Baik kanjeng mami tapi tunggu dulu. Apakah aku boleh mengajak


Laras menemaniku?"


"Kalau Laras tidak keberatan. Tanyakan saja pada Laras."


"Bagaimana Laras. Kau mau ikut denganku? Mau ya?"


Vim bertanya setengah memujuk.


Bagi Vim ini tidak hanya sekedar jalan-jalan mengantarkan barang dagangan mami melainkan dengan membawa Laras, Vim berharap perjalanan nantinya bisa menghilangkan kesedihan Laras.


"Berangkatnya sudah sore, Kita pulang atau menginap di sana?"


"Sepertinya menginap Laras. Malam ini malam liburan, jalanan lebih ramai dari biasanya. Aku tidak mau kelamaan di jalan malam hari. Kau jangan takut, di sana banyak hotel bagus tempat menginap."


Akhirnya mereka berangkat berdua. Vim mengemudikan mobil sendiri karena jarak yang akan ditempuh tidaklah jauh sekali.


Sore yang cerah sangat bagus buat jalan-jalan sore. Anggap saja jalan-jalan sore menurut Vim.


Tadi sebelum berangkat Bibik kepala pembantu membawakan sekilo kacang rebus yang dimasukkan ke dalam wadah. Kebetulan kacang baru selesai direbus sehingga masih hangat.


"Kupaslah kacang rebus itu dan makanlah supaya kau tidak bosan. Kau hanya diam saja dari tadi."


Laras menoleh ke kanan melirik Vim. Ya Laras merasa berjarak sama Vim. Watak Vim yang sedikit keras kepala dan dingin membuat Laras takut padanya. Namun sejak beberapa bulan ini Vim berubah. Pandangannya tidak lagi meremehkan Laras. Mungkin Vim hanya kasihan pada Laras yang telah kehilangan Vano.


"Sepertinya kau tidak suka kacang rebus. Kalau begitu kupas kacang rebus itu dan berikan padaku."


"Bukan begitu. Aku suka kacang rebus tapi aku sedang tidak ingin."


"Kemarikan. Masukkan ke mulutku." pinta Vim.


"Hah?? tapi kau sedang mengemudi. Bagaimana bisa aku .."


"Bisa, pelan-pelan. Kau kan tidak menutup pandanganku. Masukkan ke mulutku. Sekarang, aku lapar."


Laras mengikuti kemauan Vim sebelum Vim menjadi marah.


Beberapa butir kacang rebus sudah dilahap Vim. Laras mengupas kulit kacang lagi dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Menyuap Vim dengan kacang rebus.


"Aku sudah kenyang. Kau makanlah dan habiskan."


Laras mengangguk. Sebaiknya menurut saja. Langit senja mulai kelihatan. Ronanya lebih banyak berwarna pink. Laras mengedar- pandangannya ke samping me-


lalui kaca pintu mobil. Mereka memasuki perkotaan.


"Sebentar lagi kita tiba di kawasan perumahan." Vim berkata.


Mobil berbelok kanan dan sampai


lah mereka di depan pagar kokoh nan tinggi. Vim melongokkan kepala ke lobang persegi yang menghubungkan dengan seseorang.


"Selamat sore. Saya mau bertemu dengan Ibu Rara Pak."

__ADS_1


"Sebentar." Jawab orang itu yang tak lain adalah Satpam.


Tak berapa lama pintu pagar terbuka lebar, mobil Vim meluncur masuk ke halaman yang luas tersebut. Di sana Vim dan Laras sudah ditunggu oleh Ibu Rara. Sesuai tujuan kedatangan mereka, Vim memberikan barang yang dititipkan oleh mami mereka.


"Terima kasih."


Senyum Ibu Rara mengembang


merasa puas barang pesanannya lengkap diterima. Obrolan pun terjadi antara Vim dan Ibu Rara. Laras lebih banyak menyimak saja.


"Kalian akan menginap di sini bukan nak Vim?"


"Ya bu tapi maaf saya dan Laras mau berjalan-jalan dulu."


"Oh silahkan..silahkan kalau begitu. Nanti pulang kemari ya."


"Terima kasih bu. Kami pergi dulu."


Vim mengarahkan mobilnya menuju pusat kota berhenti pada suatu titik di tempat parkir. Dia mengajak Laras berjalan menyusuri trotoar tanpa merasa risih. Banyak pengunjung melaku


kan hal yang sama seperti halnya mereka.


"Kau ingin belanja Laras? Katakan nanti aku akan membayarnya?"


"Tidak. Berjalan begini sudah membuatku senang. Terima kasih sudah mengajakku ke sini."


"Kau suka?"


"Suka. Ramai sekali ya mas."


"Besok hari libur nasional karena itu suasana lebih ramai dari biasanya. Kita ke situ dulu ya, perutku terasa lapar."


Mereka makan malam berdua di tempat yang agak ramai.


Dibandingkan dengan tempat yang lain di situ tidak terlalu penuh dengan pengunjung.


Sampai di sini Laras menemukan sisi lain dari seorang Vim. Jauh dari kesan sok, dingin dan angkuh. Kebalikannya sikap Vim pada Laras menghangat, bersahabat dan melindungi. Lihatlah dari tadi berjalan bersisian, tangan Laras selalu digenggam oleh Vim sekolah tak ingin Laras lepas dari sisinya.


Bisakah dia merasakan sinyal ini bahwa aku bukanlah Vim yang kemarin suka membentaknya, tetapi Vim yang ingin melindungi


nya. Tuhan izinkan aku memilikinya.


Vim mengagumi mata dengan bulu mata yang lentik di sebelah


nya. Gunung es itu telah mencair karena Laras. Tidak lagi arogan seperti biasanya. Yang ada dibenak Vim saat ini hanya ingin melindungi Laras. Membuatnya merasa selalu aman dan nyaman.


Tubuhnya yang kecil bagi Vim selalu harus dilindungi.


"Apakah kau merasakan tetesan kecil hujan mas?"


"Tidak sama sekali. Tidak ada hujan." Balas Vim.


"Tapi ada ditanganku. Lihat ini sebentar lagi mau hujan."

__ADS_1


Laras menunjukkan bagian punggung tangannya yang sedikit basah kejatuhan tetesan hujan.


__ADS_2