Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 68. Dia menggenggam persahabatan.


__ADS_3

Langkah Laras tidak bersemangat. Dipanggilnya bibi Am supaya menyimpan semua barang belanja yang telah dibeli. Ia memasuki kamar tanpa menghiraukan Vim di belakangnya.


Selesai membersihkan wajah ia memilih menenangkan diri di bawah bed cover tebal nan nyaman. Pertengkaran tadi masih terbayang di pelupuk mata. Kalimat-kalimat yang ia dengar masih terngiang ditelinga.


Vim membersihkan dirinya setelah Laras. Sesudah itu ia mengambil sebuah travel bag. Mengisi beberapa lembar pakaian miliknya dan melakukan hal yang sama dengan pakaian milik Laras. Laras dan Vim sama-sama bungkam.


"Sebaiknya kau di rumah saja besok. Siang kita berangkat." Suara Vim memecah keheningan.


"Ya." Jawab Laras singkat daripada tidak menjawab sama sekali. Ia tidak mengerti Vim akan mengajak berangkat kemana.


Ia tak memperhatikan sedikitpun apa yang sedang dikerjakan oleh Vim.


Cukup Edo mengalah pada keadaan ini mas. Jangan berprasangka buruk mencurigainya saat bersamaku. Kasihan dia.


"Kau sakit hmm??" Vim berjongkok di samping ranjang di hadapan Laras. Tangannya membelai rambut Laras.


"Sedikit pusing."


"Berobat? Sudah berapa kali ini aku mendengarmu mengeluh pusing. Kita ke dokter ya."


"Ng.. nggak mas. Cuma pusing biasa."


"Ayolah aku tidak mau liburan kita terganggu karena kau sakit." Vim memujuk Laras.


"Tolong deh mas aku ingin istirahat. Tidak mau ke mana-mana."


"Ya sudahlah. Kau belum mandi. Aku siapkan air panas ya." Vim mengingatkan Laras.


Hari telah sore tetapi Laras justru bersembunyi di balik selimut. Enggan membersihkan tubuhnya.


"Aku nggak ingin mandi." Jawaban Laras seperti anak kecil yang kesal pada ayahnya. Kekesalannya belum surut.


Laras menenggelamkan seluruh tubuh di bawah bed cover.


Pikirannya masih dirasuki perdebatan Vim dan Edo tadi siang.


"Bau dong!" Vim menyeletuk.


"Biarin. Untuk apa travel bag di situ. Mas kau mau kemana?" Tanya Laras saat netranya tanpa sengaja melihat travel bag di dekat meja rias.


"Ke suatu tempat untuk liburan. Hanya kita berdua. Besok kita berangkat."


"Jangan besok mas. Ada tugas yang harus diselesaikan."


"Ya sudah kalau begitu lusa berangkatnya. Siang setelah acara minum kopi bersama mitra." Vim setuju dengan Laras.


"Ya lusa saja mas."


"Kenapa menutup tubuh seperti ini?" Vim menarik bed cover tapi ditahan laras. Laras selalu kalah jika adu kekuatan dengan Vim.


"Kau kedingingan ya. Biar kuhangatkan." Ucap Vim santai. Kini ia telah berbaring tepat di belakang Laras. Ia selalu berhasil membuat Laras menyerah. Pada akhirnya Laras akan mengalah.


"Tidak. Tidak usah. Mmmm." Laras menggeliat menolak pelukan Vim namun sia-sia. Vim memeluk Laras lebih rapat lagi.


"Kau masih marah padaku hmm?"


"Tidak. Minggir mas aku belum mandi. Bau.. tahu nggak."


"Baumu membuatku menempel.

__ADS_1


Kau tahu, rasa cintaku yang besar membuatku tidak ingin berbagi dengan orang lain."


"Dan rasa cinta itu membuatmu tidak mempercayai sahabatmu sendiri." Sambung Laras.


"Kau sakit hati melihatku berdekatan dengan Aurora. Di saat kau bersama Edo, itu kurasakan." Bisik Vim. Wajahnya mulai menelusuri leher Laras.


"Kak Edo tidak akan merebutku darimu. Dia menggenggam persahabatan kalian. Jika ia menyintaiku adalah cinta yang tak pernah memiliki. Ia korbankan perasaannya mas dan itu demi kamu. Dan satu hal lagi ia sadar aku takkan meninggalkanmu. Berbeda dengan Aurora. Aurora sangat menginginkanmu." Laras berbicara panjang lebar.


"Aku tidak mau kehilanganmu Laras. Aku mencintaimu." Tangan Vim mulai menelusuri lekuk tubuh Laras yang masih terbungkus pakaian. Sesekali Laras menepikan tangan Vim tapi Vim tak perduli. Tangannya terus bergerilya.


"Aku tahu mas. Aku kasihan sama kak Edo. Kau persalahkan terus."


"Mulai besok nggak. Aku janji."


"Huuuhh..jika terbawa emosi, lupa deh janjinya." Sungut Laras.


"Kemari tatap mataku." Vim menarik pelan tubuh Laras agar menghadapnya. Mereka saling bersitatap.


"Aku bersungguh-sungguh." Katanya kemudian.


"Aku nggak ngomong mas main-main." Laras balas menatap Vim. Saling menatap tanpa berkedip. Laras tak mau menyerah memalingkan netranya.


"Kau belahan jiwa. Tak kubiarkan orang lain merebutmu."


"Aku tahu."


Tatapan Vim dalam menembus manik mata Laras. Menggetarkan hati Laras dan menggoyahkan pertahanannya hingga mata Laras mengedip akhirnya. Ia melengos.


"Hahahaha.." Vim tertawa renyah.


"Begitukah caramu menarik perhatian adik kelasmu? Dengan tatapanmu itu?"


"Siapa bilang? Tanpa kutatap mereka sudah tertarik padaku kok. Hanya kau saja yang tidak pernah menyadari termasuk perhatianku padamu."


Sebuah kecupan dari Vim mendarat di bibir Laras.


"Aku tidak tahu mas. Kamu nggak pernah ngomong dan perlakuanmu padaku sama dengan perlakuanmu pada almarhum. Perlakuan seorang kakak kepada adiknya."


Vim mengerti yang dimaksud Laras adalah almarhum Vano.


"Sebab yang kau perhatikan cuma Vano dan Vano."


"Benar tapi sekarang tidak lagi.


Seluruh perhatianku buatmu."


"Benarkah?"


"Hmmm."


Kedipan di layar ponsel membuat Vim melirik ke arah HP milik Laras. Berulangkali nada notifikasi masuk memberi isyarat pesan telah sampai pada alamat yang dituju.


"HP mu berkedip terus. Pesan dari siapa?" Tanya Vim ingin tahu.


Laras meraih ponsel yang ia letakkan dibalik punggungnya dan membaca pesan masuk.


"Ini dari teman sekolah dulu. Deni menginfokan reuni. Mengajakku untuk ikut mengurus persiapan reuni."


"Tidak ada orang lain yang bisa mengurusnya?"

__ADS_1


Vim menambah bantalnya menjadi dua tingkat. Gejolak dalam dada mulai surut. Kekecewaan terpancar di wajahnya. Tangannya bersidekap di dada dan wajahnya menjadi dingin.


"Mereka memintaku mengurus kaos angkatan kami. Boleh ya mas aku ikut mengurus angkatanku." Laras meminta


persetujuan.


"Temanmu itu banyak. Berikan saja pada mereka."


"Yaahh gimana dong kalau aku tidak terlibat. Aku kan aktivis sekolah. Mereka mencariku." Laras memberikan alasan.


"Sekalian aku nitip kaos seragam sama mas ya buat dipesan." Laras menyium pipi Vim. Misinya meminta ijin harus berhasil.


"Desainnya mana?"


"Ada di HP ku. Dua Minggu selesai kan mas?"


"Hmmm."


Kini Laras menyandarkan kepalanya di dada Vim. Dari dalam sana terdengar jantung Vim berdetak teratur. Vim membiarkan tangan Laras bermain di dadanya. Hatinya tenang.


Menganggap Laras sedang ingin bermanja padanya.


"Jangan takut aku tidak menyalahgunakan kesempatan yang mas berikan padaku." Seolah mengerti kekhawatiran Vim, Laras berusah memujuk Vim. Tangannya mengusap Dada Vim.


"Hangat sekali tubuhmu. Kau sakit ya mas?" Laras mendongakkan kepala memandang Vim.


"Hangat minta penyaluran." Jawab Vim santai. Laras mendelik dan mencebik.


"Looh kenapa?"


"Berikan persetujuan lalu_" Kata Laras lagi.


"Berikan kepuasan lalu kau kuijinkan." Vim memotong ucapan Laras.


"Haaa??? Iiiiihh kok gitu?"


"Iya tiga ronde saja." Vim memainkan alisnya. Senyum kemenangan merekah.


Dalam keadaan diri seperti ini bagaimana bisa hingga tiga ronde pikir Laras. Ia pasti kelelahan.


"Baik satu kali." Laras menawar.


"Tidak. Tidak."


"Satu kali karena tubuhku tidak fit." Laras mengambil jarak dari Vim.


"Oke bisa di lain hari. Jangan menjauh begitu."


"Ini aku mendekat."


"Kurang dekat." Protes Vim.


Laras semakin merapat pada Vim. Tubuh Vim kembali menghangat. Vim tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menghujani Laras dengan kecupan dan elusan. Seisi kamar menjadi saksi bisu keintiman mereka selanjutnya.


💖💖💖


Maaf baru bisa update sedikit...readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak di sini. Suka, komen, hadiah dan vote kalau benar-benar suka atau bintang lima.

__ADS_1


Trims 💕


__ADS_2