
"Mas bangun, kita pulang hari ini."
"Ehmm...ngantuk sayang."
"Ya sudah kita pulang besok saja."
"Nggak bisa. Aku ke Kharisma Cipta besok."
"Makanya bangun. Ayo bangun!"
Laras menggelitik pinggang Vim.
"Ahaahaa...geli! Laras Hemmmh." Mata Vim melotot. Laras balas melotot dan berkacak pinggang.
"Persis nenek sihir!"
"Nenek sihir cantik kan? Mirip nenek sihir saja mas suka.
Weeew!"
"Aku tertipu. Nenek sihir menjelma muda hahaaa..." Goda Vim.
"Biar mas menjadi kakek sihir hahahaha."
"Kakek sihir ini tidak jahat. Sangat baik hati terutama dengan daun muda."
"Nah kan... kakek sihir mulai nakal ya. Baru sembuh memikirkan gadis-gadis cantik." Laras mencubit kecil lengan Vim. Vim tertawa sembari mengusap pura-pura kesakitan.
"Waduuh jarimu kayak ujung gunting Laras."
"Ini cubitan sayang...sayangku. Mandi dong. Apa mau dimandikan?"
"Mau. Mau banget!" Jawab Vim cepat. Jangan sia-siakan kesempatan apalagi dengan istri. (Weeeeeh)
Laras memalingkan wajah. Pura-pura tak mendengar ucapan Vim padahal suara Vim lumayan keras.
"Loh mau kemana sayang?!" Vim mendudukkan diri.
"Mandi." Jawab Laras santai.
Vim turun dari bed dan mengejar Laras. Bisiknya di telinga Laras, "Ikut. Mandikan aku."
"Iidiiih mau ngalahin Vian??"
"Vian sudah berkali-kali. Aku belum." Senyum Vim nakal.
"Baiklah tapi_"
"Nggak tapi-tapi."
Vim menahan Laras sehingga Laras tak bisa bergerak maju.
"Iya sayang. Kita mandi. Mas duluan aku tunggu di sini."
"Laah kok gitu." Vim protes Laras cuma duduk di atas toilet.
Vim membuka pakaiannya. Tubuhnya yang bagus terlihat sempurna di mata Laras. Hanya CD (****** *****) yang melekat di bagian bawah tubuh Vim.
"Itu sudah kusiapkan airnya Mas. Mandilah."
"Dan aku mandi ditonton, gitu?"
Laras mengangguk.
"Tidak. Bukan gitu keinginanku. Buka pakaianmu."
"Nggak mau."
"Laras...."
"Aku malu."
Vim tercengang mendengar penuturan Laras.
"Sudah berapa lama kita menikah, kau ucapkan itu sekarang. Laras, aku suamimu. Sangat hafal setiap senti bagian tubuhmu. Kau masih malu??"
"Masih pagi mas."
"Memang tidak boleh pagi-pagi? Nggak aku nggak minta lebih. Ayo lepas bajumu."
Vim memutar tubuhnya membelakangi Laras. Memberikan Laras waktu .
"Satu, dua...hitungan terakhir aku bisa mengangkatmu."
"Baiklah. Baiklah Tuan besar."
"Sudah lama tidak seperti ini. Hanya ingin lebih dekat denganmu setelah berapa lama berjauhan. Sudah amat sih."
"Iya mas."
"Sudah belum??"
"Belum. Sabar dong...."
Di luar kamar mandi bibi datang bersama Vian. Mendapati kamar kosong tiada orang dengan pintu terbuka lebar.
"Non, Bibi mau masuk!"
Tiada jawaban. Bibi berbalik arah. Mungkin tuan asuhannya sedang menghirup udara pagi di sekitar villa.
"Vian bersama bibi. Aku mau mengambil Vian."
Laras dan Vim selesai mandi. Laras keluar lebih dulu.
"Vian aman dengan bibi."
__ADS_1
"Sejak tadi mas."
"Biarkan saja. Papinya juga butuh perhatian."
"Kan sudah tadi."
"Belum cukup."
"Tenang saja mas. Stok perhatianku masih banyak kok."
"Laras... selama kau kerja, apa yang telah Roni lakukan padamu?"
Laras berhenti melipat selimut milik Vian demi mendengar kalimat Vim barusan.
"Tidak ada yang aneh tetapi dia masih menginginkanku."
"Masih penasaran dia. Jauhi dia Laras."
"Aku tidak bekerja dengannya lagi Mas. Akhir-akhir ini gelagatnya aneh-aneh saja."
"Apa tidak ada pilihan lain selain bekerja dengannya?"
"Kenapa mas baru bertanya sekarang?"
"Karena aku tak mau membuat pikiranmu tambah ruwet, Laras."
"Pilihan yang ada nggak memberikan penghasilan yang besar buat menutupi kewajiban kita di bank. Sekarang usahaku sia-sia. Rumah akan dilelang."
"Itu tidak akan terjadi sayang. Akan kuusahakan rumah itu tidak jatuh ke tangan orang lain."
"Bisakah mas?"
"Try sayang. Usahakan dan hasilnya kita pasrahkan saja."
"Kok gitu? Rumah kita jangan sampai terlego."
"Iya, iya. Ngomong-ngomong aku lapar." Vim memegang perutnya.
"Yuuuk kita sarapan," ajak Laras.
"Bukan sarapan lagi ini. Hampir makan siang."
"Mas sih minta melulu."
"Kemarin-kemarin aku tidak meminta bagianku."
Vim menarik kursi dan duduk. Laras menyajikan makanan.
"Kenapa ikan asin?" Tanya Vim
"Rasanya sangat asin dan kau tahu_"
"Mas tidak suka. Makan yang lain saja ya. Yang ini dan yang ini."
Laras mengambilkan Vim daging matang dan ayam suwir pedas.
"Mengapa ikan itu asin?"
"Jika tidak asin, bukan ikan asin namanya. Mas coba ya?"
"Tidak. Aku seperti makan garam saja."
"Mas ingat sayur tauge. Nah itu dicampur ikan asin juga."
"Tapi tidak terasa asin. Kalau benar asin, aku tidak memakannya."
"Kita pulang setelah ini?"
"Ya. Ambillah Vian."
Laras mengangguk. Cukup sudah berada di villa. Rumah menunggu kedatangan mereka. Menanti dipenuhi dengan canda tawa mereka.
"Aku ambil Vian ya mas. Bibi akan membereskan meja ini." Laras mencari bibi di luar.
Vim dan Pak Uun memeriksa mobil. Kemudian Vim berbicara pada pengurus villa sekaligus sebagai tukang masak Vim selama di villa.
"Saya pamit ya Pak. Tolong dirawat villa ini dengan baik."
"Baik Tuan. Tuan jangan khawatir."
Laras dan Vian di dalam kamar. Vian tertidur sehingga Laras leluasa menyiapkan barang yang mereka bawa kemarin.
Beres. Setengah jam kemudian Laras selesai berbenah. Mengganti pakaian dan menggendong Vian kembali.
Semuanya siap sedia pulang ke rumah. Bibi mengangkat dua tas dari kamar Vim sedangkan pak Uun membawa tas pakaian milik Vim.
"Mobil siap Tuan. Kita bisa berangkat sekarang."
"Lanjut. Masuklah sayang dan kau juga, boy." Vim menowel pipi Vian. Senyum Vian tersungging malu-malu.
"Kamu ngerti papi bicara?" Laras menyium pipi Vian.
"Jalan Pak." Perintah Vim.
Bruuummm.
Pengurus villa yang tertinggal di sana. Menjalankan amanah mengurus villa majikannya. Membersihkan dan merawat villa tempat berkumpulnya keluarga besar Dewantara, papinya Vim.
...ΩΩΩ...
"Kamu sama papi sebentar ya, mami rapikan kamarmu." Lagi Laras mengecup pipi Vian yang lembut.
"Sayang...tolong pegang Vian. Aku menyiapkan kamarnya. Waktu ke villa, belum sempat dirapikan," pinta Laras kepada Vim. Vim meraih Vian. Tak lupa bibirnya mampir ke pipi Laras.
"Ya ampun sempat-sempatnya sih mas!"
__ADS_1
"Ungkapan rasa bahagia bisa kapan saja." Vim beralasan.
"Sini anak papi. Kau pasti bosan ikut mami kan? Anak baik!" Vim melambungkan Vian dengan tetap memegang erat. Vian terkekeh.
"Dia takkan pernah bosan denganku," celetuk Laras.
"Mana mungkin Vian tidak mencari ibunya. Dia dengan mudah berhenti menangis jika aku mengambilnya," ucap Laras sebelum pergi.
"Mana mungkin dia tidak mencari ayahnya, karena aku yang akan mengajarinya bagaimana menjadi lelaki sesungguhnya."
Vian terkekeh tubuhnya diangkat tinggi lagi oleh Vim.
"Lihat! dia setuju dengan ucapanku."
"Perasaan mas saja itu."
Kata Vim berikutnya, "Kau belum pernah berenang di kolam itu, bukan? Sekarang ikut dengan papi ya."
Vim membuka pakaian Vian. Tangan kirinya memeluk Vian dan tangan kanan berada di bawah paha Vian. Perlahan Vim turun ke kolam, berdiri di pinggir kolam renang lalu menyelupkan bagian bawah kaki Vian ke air. Sesaat Vian terkejut tetapi detik berikutnya merasakan sejuknya air. Vian menggerakkan kaki dan percikan air mengenai pahanya.
"Lagi?" Vim menyelupkan kaki hingga sebagian paha Vian ke air. Anak itu terkejut lagi tapi kemudian diam menikmati segarnya air.
"Enak bukan? Cepatlah besar, papi akan mengajarimu berenang."
Tidak berapa lama Laras datang dan menggelengkan kepala. Ayah dan anak sama saja suka bermain air.
"Sayang, Vian masih kecil! Besar nanti bisa diajari renang."
"Ini perkenalan sayang! Biar tidak takut dengan air. Kita belikan Vian kolam renang kecil ya." Seru Vim.
"Yang menurut mas baik saja. Waktunya Vian mandi, sayang."
"Mami sudah memanggil nak."
Vim menyerahkan Vian kepada Laras dan berkata, "Papinya tidak dimandikan?"
"Waaah... papi ketagihan dimandikan ya."
"Kalau mami nggak nolak mandikan sih."
"Nggak sekarang ah. Aku mau mengurus Vian dulu. Jagoan mami, ayo mandi!"
Laras membawa Vian ke kamar mandi di kamarnya. Memasukkan ke dalam bak mandi kecil. Melumuri shampo dan juga sabun. Laras menjadi terbiasa mengurus bayi mungil itu.
Tubuh Vian tebaring dalam bungkusan handuk besar di atas ranjang. Hanya kepala dan wajah saja yang kelihatan.
"Ganteng sudah mandi. Pakai baju terus kita makan." Laras mengajak Vian bicara. Tangannya mulai cekatan memakaikan Vian baju.
"Sudah selesai?" Vim menghampiri. Berbaring miring memperhatikan Laras mengurus Vian. Dia begitu sempurna di mata Vim. Keibuannya muncul ketika bersama Vian.
"Sudah wangi. Mas tidak mandi?"
"Tunggu dimandikan."
"Astaga...mau 'kali sih."
"Mau dong apalagi kau yang memandikan."
"Huuuh kok enak." Membayangkan akhirnya yang tidak enak bagi Laras. Mandi bersama tiap hari dan berakhir pada keintiman. Setiap hari?
"Enak banget," kata Vim.
"Apanya yang enak? Tiap hari tugasku memandikan dua bayi. Begitu?"
Bagian depan pakaian Laras yang turun membuat Vim tersenyum nakal. Laras yang menyadari hal tersebut segera melihat dadanya dan refleks memegang tepian leher agar tidak menjuntai ke bawah.
"Mesum!" Laras sewot.
"Mesum sama istri wajar saja. Ada larangan? Nggak ada sayang haha...."
"Giliran mas mandi. Vian jangan digendong karena mas belum mandi!"
"Waaaw galak."
"Galak saja suka. Hehehe..Vian sudah bersih sayang."
"Jadi aku mandi nih?" Vim minta persetujuan.
"Ehm...tunggu Vian dulu. Aku mengambil makanan Vian lalu mas boleh mandi."
"Baik madam."
"Diam di sini sama papi ya. Cuuup." Kecupan sayang buat Vian. Harum semerbak bau bayi menebar di ruangan itu. Laras berjalan ke dapur.
"Vian kau tentu lapar karena bermain air. Makan yang banyak dan tidurlah dengan nyenyak huum." Vim memandang Vian.
Biarpun Vian tidak mengerti namun Vim sering mengajak Vian berkomunikasi. Ia ingin Vian juga dekat dengannya, bukan hanya dekat dengan Laras saja.
Laras meletakkan Vian di atas kursi khusus untuk bayi. Semacam baby Walker tapi tidak bisa bergerak. Sendok demi sendok bubur bercampur sayuran dan lauk yang telah dihaluskan masuk ke mulut Vian.
"Lahap sekali, "ujar Vim.
"Bagus ini, yang. Lagi enak makan kelihatannya."
"Biar tidurnya pulas. Aku mandi ya."
"Iya mas."
Vim mandi cepat kilat. Dirinya bersih bisa menggantikan Laras menjaga Vian. Laras belum mandi juga.
"Gantian aku mandi mas."
"Pergilah."
Dan Vim membiarkan Vian asyik dengan mainan di depannya. Vim sendiri memandangi ponselnya. Info pelelangan telah muncul. Dua hari lagi dan dia berpacu dengan waktu sebelum rumah mereka menjadi milik orang lain.
__ADS_1
...🌿🍄🌿🍄...
***Like, komen, fav, gift, vote atau bintang lima. Terima kasih. 💐