
Menjelang siang Ayah, Ibu Laras beserta mertuanya telah meninggalkan hotel tempat acara berlangsung tadi malam. Laras dan Vim tetap berada di sana satu malam lagi. Vim tidak berencana menghabiskan waktu mereka di hotel dalam seminggu ini. Mengingat bukan waktu yang tepat meninggalkan pekerjaan yang sedang butuh perhatian Vim. Jadi Vim memilih beristirahat di rumah dengan tetap mengontrol tanggung jawab pekerjaannya dari rumah.
"Mas kita sarapan dulu ya."
Laras mengajak Vim ke dalam. Diikuti Vim. Tadi makanan diantar pelayan hotel saat Laras baru beberapa menit bangun dari tidur.
Menjadi kebiasaan Vim makan sedikit jika pagi hari.
"Sudah mas?"
Vim mengangguk.
"Sedikit sekali."
"Kau habiskan saja."
Vim hanya menghabiskan sepotong roti, omelet telor dan susu. Sedangkan daging asap sengaja ditinggalkan Vim agar dimakan Laras. Laras memilih minuman coklat panas kesukaannya.
Meskipun berusaha tidak tertarik dengan pesan yang dikirim oleh Edo, tetap saja pikiran Vim mengarah ke situ. Apa yang sudah Aurora ceritakan pada Edo.Vim menepis dugaan yang bermain di kepala.
Vim menatap Laras. Dia sudah menghabiskan semua makanan tadi. Vim tersenyum geli.
"Kau lapar ya?"
"Sangat mas."
"Tak kusangka perutmu muat banyak. Aku heran kenapa badanmu segitu-gitu saja sedangkan nafsu makanmu luar biasa."
"Mas makanan ini sudah dibeli. Mubazir kan kalau dibuang. Mahal lagi." Itu perhitungan Laras.
"Ckckck."
"Habis. Aku mandi ya mas."
"Berdua??"
"Nggak. Aku dulu."
Tak lama berselang pintu kamar terdengar dibuka. Vim langsung menatap tajam ke arah pintu. Berani-beraninya dia...
"Hollaa pengantin baru. Bagaimana keadaan kalian?"
"Busyet. Kirain siapa."
Di depannya Edo masuk dengan santai. Wajahnya kelihatan penuh semangat.
"Kemana dia?"
Edo celingukan mencari Laras..
"Apa urusanmu!"
"Ck. Slow geng. Pesanku tidak kau balas."
"Tidak penting."
"Dia menanyakan kau. Bagaimana keadaan kau dan banyak hal lagi."
Dia yang dimaksud Edo adalah Aurora.
"Dan kau menjawabnya."
"Tidak semua. Termasuk nomor teleponmu. Aku tak sengaja bertemu dengan Aurora di bank. Katanya kartu ATM nya hilang."
Vim tidak serius menanggapi. Perasaannya sudah tawar terhadap Aurora. Dia sedang berusaha menyingkirkan Aurora dari hatinya untuk kemudian diganti dengan Laras. Laras yang pernah duluan mengisi angan-
angannya. Cinta pertamanya.
"Eee ada tamu."
Suara Laras menyela. Laras keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti warna dan corak.
"Sayang kau harum sekali. Kemari mendekat padaku."
"Hhhhh."
Edo yang mendengar rayuan Vim memalingkan wajah ke samping.
Ekor mata Vim melirik Edo.
"Sudah nggak usah tunjukkan kemesraan kalian. Aku sangat paham, kalian pengantin baru."
"Makanya buruan nikah bro."
Vim tergelak. Senang melihat Edo senewen.
"Mau yang seperti Laras. Wajah dan semuanya sama seperti Laras."
Garis bibir Edo tertarik ke atas. Senyumnya tak kalah menarik dari senyum Vim. Laras mengambil tempat di samping Vim.
"Mana ada bro. Bahkan kembarpun serupa tapi tetap ada perbedaan."
"Jadi menurutmu?"
"Laras milikku." Ujar Vim mantap.
Edo menyunggingkan senyuman . Dia tahu Vim takut Edo merampas Laras darinya. Kalaupun menjadi milik Edo mungkin situasinya tidak seperti ini. Saat ini mereka berdua tampak bahagia di mata Edo.
"Aku kerja dulu."
"Yeah."
Edo berpamitan. Melambaikan tangannya pada Laras dan dibalas dengan anggukan oleh Laras.
"Lihatlah dia memang slengean."
__ADS_1
"Lucu ya mas. Dia itu humble. Bagaimana dengan Kak Dion?"
Vim tampak tidak senang Laras memuji Edo.
"Dion tidak slengean tidak juga kaku." Jelas Vim.
"Kau jadi mendaftar kuliah Ras?"
Pembicaraan dialihkan oleh Vim. Laras ragu untuk menjawab. Ia perlu meminta ijin terlebih dahulu dari Vim.
"Kalau mas menyetujui, tetapi.."
"Tetapi apa?" Tanya Vim penasaran.
"Tetapi tabunganku belum cukup untuk membayar semuanya."
Uang tabungan itu sepertinya takkan pernah cukup untuk Laras membayar biaya kuliah. Sebentar lagi Vim akan membawa Laras pindah dari rumah Ibu Maharani. Berarti Laras tidak akan mendapat uang lagi dari hasil bekerja membantu Ibu Maharani.
"Janji Mami padamu kuambil alih. Dengan syarat tidak ke mana-
mana."
Wajah Laras berubah sumringah. Senang mendapat dukungan suaminya.
"Berarti aku boleh kuliah??"
"Boleh. Bagiku tidak masalah dengan dirimu saat ini. Maksudku begini-begini saja atau meneruskan pendidikanmu. Karena sudah menjadi impianmu, aku mendukungmu."
"Terima kasih mas.!!"
Laras tampak kegirangan. Serta merta merangkul Vim dan memberi kecupan di pipi.
Spontanitas beberapa detik saja sebab Laras segera sadar dengan perbuatannya dan merasa malu. Laras melepas rangkulannya.
Wajahnya bersemu merah muda. Kontras dengan kulitnya yang putih.
"Maaf mas. Aku tidak sengaja."
"Kenapa harus minta maaf. Kau istriku. Kau berhak atas diriku. Bahkan aku mau lebih dari itu."
Laras merasakan panas di wajahnya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus mendengar kata-kata Vim.
"Supaya kau tidak terlalu lelah, sebaiknya kau kuliah dari rumah saja. Kita lihat-lihat dulu ya."
"Aku ikut saja mas. Pilihkan saja."
"Kau mau memilih apa."
"Ilmu Ekonomi. Aku suka itu."
"Baik."
Vim menunjukkan web sebuah universitas.
"Nanti pendaftaran buka, kita daftar."
Posisi Laras yang sangat dekat di samping Vim, tak urung membangkitkan hasrat kelelakian
nya. Hasrat ingin memeluk Laras, mengasihi Laras dan membelai setiap bagian kulit Laras yang bagi Vim adalah magnet. Selalu menarik-narik Vim agar selalu berdekatan dengan Laras.
Laras tersadar begitu menyentuh hangatnya kulit lengan Vim tanpa sengaja. Ia hendak menyandarkan kembali tubuhnya ke sandaran sofa. Posisi yang sangat dekat membuat wajah Vim hampir menyentuh pipi Laras.
"Mas ngapain?" Selidik Laras.
"Mengagumimu."
"Sudah kan?"
"Belum puas."
Saat yang tepat. Suasana yang hangat ini digunakan Laras menanyakan tentang Aurora.
Dia mengharapkan Vim bersikap terbuka.
"Mas aku boleh bertanya nggak?" Tanya Laras hati-hati.
"Boleh dengan syarat."
Syarat lagi kayak sedang gencatan senjata.
"Apa syaratnya."
"Kiss kanan, kiri dan di sini."
Vim menempelkan telunjuknya ke bibir dan bersikap tenang. Dada Laras yang bergemuruh hebat.
Mana pernah aku memulai duluan.
"Ya sudah kalau nggak mau."
Kiss pipi kanan. Kiss pipi kiri. Terakhir Laras menempelkan bibirnya di bibir Vim sekilas. Teramat cepat. Vim bahagia.
"Mau nanya apa?"
"Mas, Aurora itu pacarmu yang ke berapa?"
"Kedua." Suara Vim datar dan wajahnya tanpa ekspresi.
Aurora kedua berarti aku yang ketiga? Atau ke empat, ke lima?
"Cantik sekali ya mas."
"Kau lebih cantik."
"Boleh aku tahu kisahmu dengan Aurora mas? Sedikit saja tidak apa."
__ADS_1
Vim diam tapi sedetik kemudian terlintas dalam benaknya alangkah baiknya kalau Laras memang harus tahu masa lalu Vim.
"Boleh. Kau mau tahu ya."
"Banget."
"Aku dan Laras tidak pernah sekelas saat sekolah di SMA tapi kami sama-sama pengurus OSIS. Aku adalah ketua dan Laras sebagai bendahara. Tadinya kami berteman biasa saja namun karena kegiatan tersebut yang membuat kami sering berjumpa, akhirnya aku tertarik pada Laras.
Sebenarnya sebelum menyukai Aurora, aku menyukai seorang gadis tapi rasanya tidak mungkin menjadi nyata sebab gadis itu disukai orang lain."
Vim menarik nafas. Laras memperhatikan wajah Vim. Wajah yang seketika memancarkan luka yang amat sangat. Laras menunggu cerita Vim selanjutnya.
"Enam tahun lamanya kami menjalin cerita indah, satu hari setelah wisuda ia pergi meninggal
kanku begitu saja. Pergi dengan alasan menuruti keinginan papa
nya agar menikah dengan pilihan papanya. Aku sudah wisuda seminggu sebelum ia wisuda."
"Mas tidak menghubunginya?"
"Kucoba tapi nomor hp nya tidak pernah aktif dan mereka sekeluarga pindah ke kota lain."
"Mas kehilangan?"
"Sangat. Dan setelah beberapa bulan ditinggalkan, aku merasa orang paling bodoh karena meratapi kepergiannya, padahal di sana mungkin dia sudah bahagia."
"Begitu ya."
Waktu itu yang Laras tahu Vim itu suka keluyuran malam dan desas desusnya ditinggal nikah oleh pacarnya. Ibu bercerita sewaktu pulang dari rumah Ibu Maharani kala itu. Hampir semua mengetahui, Vim anak baik dengan segudang prestasi menjadi seorang Vim yang kehilangan kontrol terhadapdirinya sendiri.
Tidak mau perduli dengan kehidupan dan masa depan hingga Pak Dewantara menyadarkan Vim.
"Aku hanya mendengar berita slentingan." Laras menyela.
"Tentu saja berita menyebar dari mulut ke mulut dan mami tak pernah malu untuk meminta do'a pada semua yang bekerja di rumah agar ikut mendo'akanku.
Kau tahu rasanya, dua orang yang kuharapkan tapi keduanya tak bisa kugenggam. Menyakitkan!"
Vim bangkit mengambil sebotol air mineral dan meneguknya. Menyegarkan tenggorokan Vim dan sedikit menenangkan batinnya yang sedikit terusik menceritakan kisahnya.
"Banyak wanita-wanita lain di sekelilingmu mas."
Laras ingin tahu apa yang akan dikatakan Vim.
"Sebanyak itu pula aku tak memiliki rasa pada mereka."
Hmmm. Lalu padaku apa yang dirasakannya.
"Satu lagi, tadi mas katakan sebelum menyukai Aurora, mas menyukai seseorang. Siapa dia?"
"Oom..oom Vim! Yok beli esklim oom!"
Belum sempat Vim memberikan jawaban tapi ponakannya-Arika-
masuk menguak pintu. Dengan langkah riangnya menuju Vim.
"Holaa..ponakan oom!"
Vim menangkap Arika dan mengangkatnya tinggi. Menahan
nya dalam gendongan.
"Sama siapa ke sini?"
"Daddy oom."
"Mommy?"
Arika menggeleng.
"Daddy ajjah."
"Hai cantik..kangen sama oom ya??" Tanya Laras lembut dan memegang pipi Arika.
Arika terus memperlihatkan wajah bahagianya. Merasa senang diperhatikan dan dimanja. Viky ayah Arika masuk.
"Dia menanyakan kau. Entah sudah berapa kali. Terakhir minta di antar ke hotel menemuimu."
Viky menggeleng-gelengkan kepala teringat tingkah Arika.
"Kau ke sini anak cantik. Mommy sama siapa?" Vim pura-pura bertanya.
"Mommy sama eyang di lumah. Ayo oom..kapan makan esklim."
Rengek Arika.
"Apakah kau tidak pernah makan es krim di sana?"
Ekor mata Vim melirik ke arah Viky, tersenyum lebar mendapati abangnya membulatkan kedua matanya dari tempat duduknya.
"Pelnah..mommy malah Alika makan esklim banyak.."
"Besok kita beli yang banyak ya? Besok oom sudah pulang."
"Sekarang oom."
"Arika." Suara Viky memanggil Arika.
"Arika cantik ikut tante yuuk."
Laras mengambil Arika dari gendongan Vim. Lagi jarak yang hanya dua jengkal antara Vim dan Laras mampu membuat Vim ingin menarik Laras, andai saja tidak ada Arika.
Laras membawa Arika ke balkon. Dari sana ia menunjukkan pada Arika pemandangan kota yang megah dan ramai. Arika antusias mendengarkan kata-kata Laras.
Selamat membaca.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di sini.