
Laras meminta kepada Dion dan Edo agar tidak memenuhi permintaan Vim untuk menjual tanah mereka. Tanah yang dibeli Vim dari hasil kerja keras. Begitupun papi, mami dan semua kerabat mereka, sudah dihubungi oleh Laras. Laras bertekad mempertahankan milik mereka.
Untungnya buat Laras, papi tidak mengijinkan Vim memegang gadget selama Vim sakit sehingga Vim tidak berhubungan dengan dunia luar. Tidak bisa menjual aset milik mereka kepada teman-temannya. Ini tidak adil buat Vim tapi Vim harus istirahat. Maksud baik papi yaitu supaya Vim tidak bertambah stres memikirkan usahanya. Membaca dan mendengar berita dari orang lain hanya akan menambah beban pikiran Vim saja.
"Pasang iklan untuk tanah kita, Laras. Waktu kita tidak banyak," pinta Vim.
Laras tidak langsung mengiyakan. Ia menjawab, "Masih ada jalan lain daripada menjual tanah kita mas. Aku tidak setuju tanah itu dijual."
Sama halnya dengan Laras, Vim berkeras hati tetap pada pendirian menjual tanah tersebut. Laras mempertahankan tanah itu.
"Laras ini untuk kepentingan kita, untuk membantumu." Vim menekan kalimatnya. Memandang Laras iba. Sesungguhnya ia memikirkan Laras tapi dia sendiri berat hati menerima belas kasihan orang lain.
"Tabungan kita masih ada. Aku bisa mencari jalan lain mas."
Laras berusaha menahan nada bicara agar tidak terdengar tinggi. Dalam keadaan sakit begini, Vim sangat sensitif dan mudah tersinggung.
Tidak. Aku tidak berniat menjual sedikit pun aset yang kita miliki.
"Keras kepala!" Vim mendengus kesal. Ia membuang muka ke depan.
"Giliranku harus bergerak mas. Selama ini aku diam dan mas bekerja keras." Air mata Laras mulai mengambang.
"Itu sudah kewajibanku Laras. Tidak perlu kau perhitungkan."
"Ijinkan aku bekerja, mas...."
"Tidak! Tidak Laras."
Bekerja membuatmu lelah, Laras. Aku takkan tega melihatmu kepayahan mencari nafkah. Maafkan aku Laras. Aku tidak berguna.
Vim nelangsa (sedih). Wajah Vim tidak menghadap Laras sejak tadi. Ia menyembunyikan raut sedihnya dari Laras.
"Mas...biarkan aku mengambil peran. Aku tidak keberatan."
Diam tanpa kata. Vim tak ingin berkomentar atas ucapan Laras. Dengan begitu Laras mengerti dengan sendirinya bahwa Vim tidak mau melanjutkan pembicaraan lagi.
Keadaan perusahaan hampir di ujung tanduk. Berjalan terseok-seok menunggu kejatuhan. Dion dan papi berusaha keras agar tak gulung tikar alias benar-benar tutup usaha. Vadli dan Viky menyuntikkan bantuan dana ke perusahaan Vim. Para pekerja di bagian tertentu yang masih dipertahankan. Hanya di bagian tertentu produksi masih berjalan.
Pendapatan dari perusahaan Vim tidak bisa diharapkan. Usaha berjalan walaupun lambat dan patut disyukuri proses produksi masih berlangsung.
Tak bisa dihindarkan tabungan lama kelamaan berkurang diambil untuk keperluan berobat dan kebutuhan sehari-hari. Toko Laras sedikit membantu tapi tak bisa menopang seluruh kebutuhan.
"Ririn, Nila...kalian tetaplah di sini. Menjalankan toko ini. Aku tidak bisa mendampingi kalian," kata Laras suatu waktu saat ia berkunjung ke toko.
"Dengan senang hati Laras. Kami betah di sini. Gimana nggak betah, owner nya baik sekali." Ririn tersenyum.
Ucapan Ririn menghibur Laras. Ia tak meragukan kemampuan temannya ini. Ririn dan Nila bisa dipercaya oleh Laras.
"Karena keadaan aku harus berusaha lebih keras. Aku ingin bekerja."
"Apa?!" Ririn dan Nila tertegun.
"Sama seperti kalian, aku ingin bekerja. Do'akan aku mendapat pekerjaan yang gajinya beesaaar, yaa?" Laras melingkarkan kedua tangannya.
"Oh haha... baik...baiklah Laras. Do'aku menyertaimu," ujar Ririn sambil tertawa kecil.
"Do'aku juga kak. Semoga keadaan ini cepat pergi ya kak," kata Nila, polos.
"Terima kasih Nila. Terima kasih Ririn. Butuh waktu untuk ini. Mencari pekerjaan tidak mudah." Laras menunduk. Kesedihan tersirat di wajah ayu itu.
"Maaf Laras. Mas Vim kenalannya banyak. Bisa menghubungi mereka. Mungkin mereka bisa menolong kalian," saran Ririn.
__ADS_1
Laras menggeleng cepat. Vim banyak teman, itu dulu ketika musibah ini belum datang. Sekarang teman-temannya menjauh satu persatu seiring kebangkrutannya.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku takut mas Vim berpikiran yang bukan-bukan jika mendengar aku menghubungi teman-temannya. Dia sangat sensitif sekarang."
"Pasti Laras. Rasa percaya dirinya menurun. Aku ikut prihatin, Ras."
"Inilah yang harus kulalui, Rin."
"Sabar ya Ras. Berdo'a supaya semua ini cepat kembali seperti biasa. Mas Vim bisa sembuh."
"Terima kasih Rin. Aku pulang dulu ya."
"Iya Ras. Hati-hati."
Temannya ini meskipun rumah Laras dekat dari toko, tak lupa menyelipkan ucapan hati-hati kepada Laras. Laras menjalankan motor, pulang ke rumah.
Baru saja Laras memasuki pintu pagar, Pak Uun datang dengan tergopoh-gopoh memanggi Laras.
"Non! Non dari mana aja non?! Cepat non! Den Vim_"
"Mas Vim...mas Vim kenapa pak? Kenapa??"
Laras bingung melihat pak Uun yang juga sedang bingung.
"Ayo non. Cepat. Den bagus Vian sama bibi di belakang."
"Iya Pak. Sabar. Jangan sampai kita tersandung ya."
Ada apa dengan mas Vim. Laras bertanya dalam hati. Enggan membuat pak Uun tambah gugup.
Praaaangg!!
Terdengar hantaman sebuah benda pada benda yang lain. Bunyinya keras jelas terdengar dari lantai bawah. Laras setengah berlari menaiki anak tangga. Suara itu berasal dari kamar Laras dan Vim.
"Mas Viiiim!!! Mas, berhenti! Aaawww!" Laras menutup kedua telinga tatkala tangan Vim menggeser semua barang milik Laras dari atas meja rias. Menimbulkan bunyi benturan. Barang-barang berjatuhan, berserakan di lantai. Tubuh Laras gemetar. Kaca rias pecah. Hair dryer Laras tergeletak di depan cermin rias. Vim sukses memecahkan kaca rias Laras.
"Mas! Mengucap mas! Mas.. sabar." Bahu Laras terguncang. Air mata tak tertahankan lagi. Laras terduduk sembari menangis di tengah pintu menyaksikan Vim mengacaukan isi kamar.
Keadaan sungguh kacau. Laras memanggil Vim berulang kali. Vim tidak mendengarkan Laras. Vim dikuasai amarah. Barang yang berada dalam jangkauan Vim dilemparkan kembali.
Brruuuk. Kursi di depan meja rias digulingkan Vim.
"Pergi kalian!! Tinggalkan aku sendiri!!"
"Mas berhenti! Dengarkan aku...." Laras merintih.
"Mas ingat mas. Ingat aku dan Vian!"
"Aku tidak sempurna lagi. Sebaiknya kau tinggalkan aku!!"
Vim membelakangi Laras dan pak Uun. Laras maju selangkah namun ditahan pak Uun.
"Tinggalkan aku...." Vim merintih.
"Biarkan den Vim tenang dulu non. Bapak takut non kenapa-kenapa kalau mendekat ke den Vim."
Laras meyakinkan pak Uun. Dia berkata, "Tidak ada apa-apa Pak. Barang-barang pecah itu membahayakan."
Kemudian Laras maju dan memujuk Vim. Ia memegang tangan Vim dengan lembut. Digenggamnya dan berucap, "Mas...aku tetap di sini dan akan tetap di sini sampai kapanpun. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Laras teringat janji mereka berdua. Selalu bersama sampai maut memisahkan. Untuk itu tak sedikitpun dalam angan Laras meninggalkan Vim. Terlebih Vim dalam keadaan begini.
__ADS_1
Vim menepis tangan Laras. Suaranya parau mengucapkan kata-kata, "Pergilah Laras. Carilah kebahagiaanmu. Aku tidak ada artinya lagi...." Sampai di sini bahu Vim berguncang hebat. Air mata jatuh tanpa tertahan. Kepala Vim tertunduk dalam. Ia bagaikan ksatria kalah perang. Pak Uun termangu melihat tuan mudanya.
Laras tak kuasa menahan tangis. Perih, sakit melihat keadaan Vim. Siapa pun akan menangis melihat kekasih hati sedang lara yang sangat dalam bahkan mendekati depresi.
"Aku takkan pergi. Tidak. Di sini tempat dan rumahku. Jangan usir aku mas...hiiiks."
Laras bersimpuh di depan Vim. Air mata bergantian mengalir tanpa bisa ditahan.
"Biarkan aku di sini mas. Merawatmu sampai kapanpun."
"Tidak. Kau bodoh Laras. Kau bisa meraih kebahagiaan mu!"
"Aku cukup bahagia bersamamu mas."
"Setelah ini tidak Laras, karena aku tidak bisa memberimu semua yang terbaik! Dengarkan aku Laras! Aku lelaki cacat. Tidak bisa memberimu nafkah!!"
Suara Vim menggelegar. Laras tersentak. Pak Uun berjaga jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Kalau begitu mas harus sembuh supaya mas bisa memberiku nafkah lagi. Mas akan sembuh."
"Sembuh butuh waktu Laras dan selama itu kau tersiksa bersamaku."
"Itu menurutmu. Aku tidak berpikir seperti itu," bantah Laras.
"Lambat laun kau akan lelah."
"Tidak akan. Kita pernah berjanji selalu bersama. Mas ingat kan?"
"Keadaan sekarang berbeda. Mengapa kau keras kepala Laras?"
"Karena aku mencintaimu."
Vim mengusap kasar wajahnya.
"Lupakan soal cinta, Laras. Ini tentang kebahagiaanmu!"
"Aku bahagia!"
"Bohong!"
"Selama ini aku bahagia dan duka ini hanya kerikil kecil yang sedang mengganggu perjalanan kita. Mas harus yakin bisa berjalan lagi. Mas harus bangun. Kita ada Vian yang harus kita besarkan mas...."
Suasana hening sebentar. Setelahnya papi datang memasuki kamar dengan rasa ingin tahu.
"Ada apa ini. Kenapa?" Tanya papi.
"Kau kenapa Vim? Bi Am menelpon papi. Katanya kau mengamuk. Benar begitu?"
Baik Laras atau Vim enggan menjawab. Pak Dewantara meminta pak Uun membersihkan kamar. Pak Dewantara dan pak Uun membawa meja rias ke luar kamar. Cermin rias Laras hancur di bagian tengah. Toples dan semua barang terbuat dari kaca disingkirkan dari sana agar tidak membahayakan nanti. Tidak ada satupun barang pecah belah yang tertinggal. Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Dikhawatirkan akan menimbulkan korban. Entah Vim sendiri ataupun Laras sebagai korban.
Vim hampir depresi. Pak Dewantara menelpon Vadli menceritakan perkembangan Vim Sebagai anak pertama, kepada Vadlilah pak Dewantara menyampaikan perkembangan yang terjadi dalam keluarga mereka. Termasuk tentang perkembangan usaha pak Dewantara. Vadli akan memberikan masukan atau tanggapan atas cerita papinya itu.
Malam itu pak Dewantara tidur di kamar Vim. Menemani Vim dan memberi penghiburan. Mami Maharani tidak diberitahukan tentang peristiwa ini. Sejak Vim sakit, kesehatan mami Maharani sering mengalami penurunan. Keadaan Vim mengguncang batinnya. Ia memikirkan anak kesayangannya dan juga Laras. Pak Dewantara tak menyangka kebahagiaan anak-anaknya itu terusik dan rumah tangga mereka mendapatkan ujian berat.
...πΏππΏπ...
Bersambung..
Gimana kisah Laras dan Vim selanjutnya, ikutin terus yaa..
Makasih readers. ππ·
__ADS_1
~~like, komen, gift, vote dan bintang lima. Jangan lupa...